Kendrick memperhatikan Gretha di depan pintu sang putra. Dia ingin melihat kata-kata Gretha yang baru beberapa menit lalu mengajarinya.
“Ayo kita lihat, apa dia benar-benar bisa membuat Kyler tidak merajuk? Heh, dia pikir Kyler itu tipe anak-anak biasa di luar sana?” Kendrick menatap Gretha dengan wajah meremehkan.
Gretha sendiri mulai mengetuk pintu kamar Kyler dengan pelan.
“Jangan ganggu aku!”
Suara teriakan Kyler terdengar keluar. Kamar itu sengaja tak dibuat kedap suara oleh Kendrick.
Kendrick pun tersenyum mengejek. Dia memiringkan kepalanya dan terus memperhatikan Gretha.
“Tuan Muda. Ini saya, Gretha. Boleh saya masuk sebentar?”
“Aku ingin sendiri, pergi semuanya. Kalian tidak ada yang mengerti aku.”
Gretha menarik napas pelan. “Jadi, Anda tidak membutuhkan saya? Kalau begitu, berarti saya boleh pulang dan tidak usah berada di tempat ini, ya? Baiklah kalau begitu. Saya izin pamit, Tuan Muda.”
Kendrick berdecih mendengar kalimat Gretha. “Apa dia sekarang sedang mengagungkan dirinya sendiri? Apa dia pikir Kyler akan takut hanya karena itu? Ck.”
Kendrick bergerak mendekat ke arah Gretha dengan wajah arogannya. “Pergilah dari sini, jangan ganggu dia lagi. Tingkah kau ini hanya akan membuat Kyler semakin marah. Kau tidak usah sok menjadi paling tahu akan putra saya. Kau hanya orang baru. Pergi ke kamarmu sekarang.”
Gretha kembali menarik napas pelan. Dia menunduk dan tak ingin berdebat, akhirnya memilih membalikkan tubuh untuk pergi.
Cklek ...
“Masuk.”
Kendrick terkejut ketika tiba-tiba pintu kamar Kyler terbuka. Sang putra juga bergerak ke arah Gretha, menarik perempuan itu masuk ke dalam kamarnya.
“Kyler, Papa ak ....”
“Aku sedang tidak ingin bicara sama Papa.”
Kendrick tercengang. Pintu kamar itu kembali tertutup, Kyler benar-benar memberi izin Gretha untuk masuk dan membiarkan dirinya di sana.
“Apa ini? Aku adalah ayahnya,” gumam Kendrick tak percaya.
“Ekhm, maaf, Tuan. Mungkin apa yang dikatakan oleh Nona Gretha benar. Pembawaan seorang perempuan dan laki-laki berbeda.”
Kendrick menatap tangan kanannya. Dia menatap pintu kamar sang putra.
Memang dirinya merasa cukup kesal karena Kyler lebih memilih Gretha di banding dirinya. Namun, di sisi lain, Kendrick juga menjadi lega sekaligus tenang, sebab kini Kyler seakan benar-benar memiliki teman selain dirinya.
“Ayo ke ruangan. Saya ingin melihat apa yang mereka lakukan di dalam.”
“Tapi, Tuan. Jika Tuan Muda tahu itu, dia pasti akan semakin marah.”
“Makanya jangan sampai tahu, jika nanti ketahuan, tinggal dimatikan.” Kendrick bersuara di sela langkah kakinya ke arah kamar.
Mungkin sikap manis, hangat dan lemah-lembut Gretha yang membuat Kyler begitu nyaman bersamanya. Tak butuh waktu lama bagi Gretha, dia berhasil membujuk Kyler untuk makan malam.
“Mulai sekarang, jika sedang marah, jangan mengurung diri di kamar sendirian, ya, Tuan Muda. Panggil saja saya, atau datang ke tempat saya. Amarah, sedih, kecewa dan semua permasalah di hati itu akan sulit diredam tanpa adanya pelukan. Tuan Muda paham sekarang? Pelukan hangat seseorang, berpengaruh besar untuk suasana hati.”
Kyler menatap Gretha dengan wajah polosnya. Meski masih terkesan datar, binar mata Kyler memperlihatkan dia memang seorang anak butuh perhatian seorang ibu.
“Apa aku boleh mengganggumu setiap hari dan setiap saat ketika aku seperti ini?”
Gretha tersenyum hangat. “Tentu saja, saya akan selalu ada untuk Tuan Muda. Panggil saya jika Tuan Muda butuh, bila ketika itu saya tidak sedang bersama Anda. Saya pasti akan langsung datang.”
“Jadi kau benar-benar akan di sini? Daddy tidak membohongiku?”
Gretha diam sesaat, sebelum kembali tersenyum. Perlahan gadis kecil itu mengangguk pelan.
“Iya, saya akan selalu di sini, untuk Anda.”
Seketika senyum Kyler terbit. Anak kecil yang selama ini tak pernah tersenyum, kini tersenyum sangat senang.
“Kalau begitu sekarang aku ingin dibacakan dongeng. Apa kau bisa, Gretha?”
“Tentu saja, Tuan Muda ingin dongeng apa?” Gretha menanggapinya dengan senyum antusias.
Dua insan itu nampak sama-sama menikmati masa kebersamaan mereka, meski baru bertemu. Selesai makan malam, Gretha benar-benar menceritakan dongeng untuk Kyler, sampai anak laki-laki itu tertidur.
Gretha sudah biasa mendengar dongeng dari mendiang ibunya. Jadi dia sudah banyak hapal cerita dongeng, nyatanya itu sangat berguna untuk pekerjaan barunya.
Klek ...
Gretha terkejut saat dirinya baru keluar dari kamar Kyler. Ternyata Kendrick sudah berdiri tepat di depan pintu kamar tersebut.
Kendrick menatap Gretha dengan mata tajam itu. Ekspresinya dingin dan arogan seperti biasa.
Gretha menunduk, setiap kali melihat wajah Kendrick, Gretha dibuat merinding. “Malam, Tuan. Tuan Muda sudah tidur.”
“Ternyata kau cukup bagus. Tapi jangan besar kepala. Jangan kau pikir karena Kyler menyukaimu dan menganggapmu sebagai seorang ibu. Maka kau akan menjadi spesial di sini. Kau tetap seorang babysitter, ingat itu baik-baik. Saya tidak suka orang yang melunjak.”
Gretha mengerutkan keningnya mendengar kalimat Kendrick, dia sungguh tak paham.
“Apa maksud Anda, Tuan?”
Kendrick menatap intens wajah polos Gretha yang memandangnya dengan ekspresi bertanya. Pria itu berdecak singkat.
“Intinya tetap kerjakan pekerjaanmu dengan benar.”
Gretha menatap kepergian Kendrick dari sana dengan ekspresi tak paham. Gadis itu mengedikkan bahunya acuh, kemudian bergerak ke arah kamar.
“Hufft ....” Gretha menatap langit-langit kamar mewah itu dengan wajah polosnya.
Tak sampai satu hari bekerja di sana. Hanya beberapa jam, tetapi cukup berkesan bagi Gretha.
“Mungkin ini semua jalan yang sudah diberikan Tuhan untukku. Selama ini aku selalu bertekat untuk membuat orang-orang bahagia dengan segala apa yang aku kerjakan. Aku senang bekerja di toko bunga, karena dengan bunga-bunga dariku, orang-orang banyak bahagia dan tersenyum. Itulah kenapa aku mencintai pekerjaan itu. Tapi sekarang ... sepertinya Tuhan menyuruhku membuat seseorang bahagia, tetapi dengan cara lain.”
Perlahan Gretha duduk. Dia menunduk menatap liontin pada kalung yang digunakannya saat ini.
“Ibu, kali ini aku ada misi lain. Ternyata ada seorang anak kecil yang membutuhkan aku di sini. Dia membutuhkan aku untuk bahagia, kasihan dia. Aku akan tetap bertahan di sini, demi membuat Kyler merasakan bahagia.”
Gretha berbicara demikian, seakan dirinya sedang berbicara dengan sang ibu. Sebab kalung itu memang pemberian terakhir dari mending ibunya sebelum meninggal dunia.
Sepasang mata memperhatikan pergerakan Gretha sedari tadi. Mata tajam Kendrick menatap setiap gerak-gerik Gretha dari layar tablet miliknya dari ruangan kerja.
“Apa yang dia bicarakan? Dia bicara dengan kalung? Apa itu kalung semacam alat komunikasi dengan seseorang ... jangan-jangan dia benar-benar mata-mata? Kalung itu, kau harus mencari tahu masalah kalung itu besok.”
“Saya rasa tidak begitu, Tuan. Mungkin itu hanya kalung biasa, say ....”
“Sejak kapan kau membantah perintah saya?”
“Maaf, Tuan. Akan saya laksanakan, dan besok akan saya laporkan.”
Kendrick kembali menatap dingin ke arah Gretha yang kini tiba-tiba membuka baju.
Mata Kendrick melotot saat dua bola yang tadi sempat disebutnya baru tumbuh, ternyata begitu berisi.
“s**t!” Kendrick langsung mematikan tabletnya.
Tangan kanan Kendrick mengulum bibir menahan tawa melihat tingkah sang majikan.