3. Ibu?

1109 Words
Sungguh melelahkan, Gretha berkeliling beberapa tempat penting di mansion Tyson. Tak cukup waktu satu hari untuk mengelilingi dan mengenal mansion mewah nan luas tersebut. Jadi untuk sekarang, Gretha hanya akan diperkenalkan tempat-tempat penting. Dalam lelahnya selesai berkeliling, kini Gretha harus menyambut tuan muda yang akan dia urus dan jaga. Gretha sudah mengingat namanya. Perempuan itu tinggal mengingat dan mempelajari semua hal lain tentang si tuan muda. “Selamat sore, Tuan Muda.” Gretha ikut menunduk ketika seorang anak kecil keluar dari dalam kamar. Anak laki-laki itu berjalan melewati mereka semua, tetapi terhenti tepat di depan Gretha. “Oh, jadi Daddy sudah menemukannya.” Suara anak laki-laki itu membuat Gretha mengangkat kepala. Dia mengerutkan keningnya beberapa saat, dan tersadar jika wajah anak kecil itu memang tak asing. “Kamu ... ah, kamu anak kecil yang tadi, ya?” celetuk Gretha dengan senyum cerianya. “Jaga sopan-santunmu!” Gretha terlonjak saat seorang kepala pelayan menegur Gretha. Perempuan itu langsung menunduk dan kembali bersikap kaku. Kyler melirik dingin si kepala pelayan yang tadi menegur Gretha. “Kau yang jaga suara. Kenapa berani membentaknya?” “M-maaf, Tuan Muda. Dia ....” Kalimat kepala pelayan perempuan itu terhenti saat Kyler kembali menatapnya tajam. Dia menunduk, mata tajam Kyler rasanya tak jauh berbeda dari mata tajam Kendrick. Gretha sendiri melirik Kyler dengan wajah ragu. Dia kini mulai paham dan sadar, jika anak kecil yang tadi dia beri payung dan bunga lili, ternyata anak tunggal dari Kendrick Tyson. “Jadi dia adalah seorang pangeran di kota ini. Aku sudah salah membantu orang, dia seorang sultan, pasti tak butuh payung dariku. Astaga, aku malu sekali.” Gretha berbiara di dalam hatinya ketika sadar jika anak kecil dihadapannya kini bukanlah orang sembarangan. “Ikut aku.” Gretha terkejut saat tiba-tiba tangan mungil Kyler menarik telapak tangan Gretha. Perempuan itu bergerak mengikuti pergerakan anak kecil nan imut tersebut. Meski mata Kyler sama tajamnya dengan sang ayah. Namun, wajahnya sangat imut dengan kedua pipi kemerahan. Imutnya Kyler itu pula yang membuat Gretha begitu tertarik kepada Kyler sedari awal melihat. Gretha memang manusia lemah-lembut, pecinta anak kecil, dia sedari dulu juga memang begitu mudah akrab dengan anak kecil. “Ayo kita berkenalan.” Kyler menghentikan langkahnya tepat di dalam sebuah ruangan bermain. Gretha sempat salah fokus akan luasnya ruangan bermain dengan berbagai alat bermain di sana. Dia menunduk dan melihat Kyler sedang mengulurkan tangan mungilnya. Gretha terkekeh gemas. Dia menyahut tangan mungil itu dan menggenggamnya dengan gemas. “Kyler Tyson. Panggil aku Kyler, namamu?” “Aku Gretha Carrisa, panggil saja Gretha. Pipimu ini dilihat semakin lama, malah makin merah, ya. Jadi gemas, hehe.” Gretha menunduk dan mengusap gemas kedua pipi Kyler. “Kamu akan bermain di sini sampai jam berapa?” tanya Kyler dengan suara masih sedikit cadel. Gretha terdiam. Dia kembali mengingat dan menyadari jika dirinya akan tinggal di sini dan menjaga Kyler. “Mulai sekarang dia akan tinggal di sini, Son. Dia akan bermain bersamamu sepanjang kamu mau. Dia akan mengikutimu ke mana pun kamu pergi. Apa kamu suka?” Suara berat seseorang mengejutkan Gretha. Dia menoleh ke belakang dan melihat kedatangan Kendrick. Gretha langsung menyingkir. Kendrick pun sempat memberikan tatapan tajam kepada Gretha yang langsung dibuat menunduk ngeri. “Benarkah begitu, Dad? Dia akan di sini bersama kita?” Mata Kyler nampak berbinar. “Yah, bukankah kamu ingin dia di sini setiap hari? Bermain bersama kamu di sini dan ke sekolah bersama? Dia akan bantu kamu mandi, makan, tidur, semua hal akan dia lakukan.” Kendrick menggendong putra kecilnya dan mencium pipi kemerahan itu singkat. Kyler mengangguk semangat. Dia menatap Gretha sambil tersenyum senang. “Jadi apa sekarang dia adalah ibuku!” Deg ... Semua orang di sana terkejut. Apalagi Kendrick melotot, dia menatap Gretha yang tak kalah membulatkan mata saat ini. Kendrick berdeham, dia kembali menatap sang putra. “Bukan, dia itu babysitter kamu.” Wajah Kyler yang tadinya sangat semangat. Kini kembali redup dan terlihat sedih. Hal itu membuat Kendrick terdiam. Gretha pun menjadi ragu, dia tak tega, tetapi dia juga tak berani bersuara di depan Kendrick. “Kata teman-temanku, ibu itu suka ajak kita main. Selalu bermain bersama, mandi ditemani ibu, makan ditemani ibu, tinggal bersaman ibu, ke sekolah bersama ibu, kalau mau tidur, dinyanyikan atau dibacakan dongeng oleh ibu. Jadi aku pikir, dia sudah menjadi ibuku karena dia tinggal di sini dan akan selalu bersamaku,” ucap Kyler membuat hati Kendrick sangat tertusuk. Rupanya peran Kendrick sedari kecil yang merangkap sebagai ayah dan ibu sekaligus, memang tak cukup untuk Kyler. Peran seorang ibu tetaplah dibutuhkan, apalagi pada usia anak masih begitu kecil. Gretha pun menunduk, dia merasakan apa dirasakan oleh Kyler saat ini. Sebenarnya, Gretha merasa lebih beruntung, bisa bersama ibunya sedari kecil, meski sekarang sudah berpisah alam. “Ekhm, bukan berarti dia tinggal di sini dan terus ada di samping kamu, bukan berarti dia ibu kamu, Son. Dia sama seperti mereka, maid di mansion ini, tetapi dia akan fokus untuk selalu bersama kamu. Kamu paham maksud Daddy?” Kyler menatap Kendrick dengan wajah polosnya. “Kenapa tidak jadikan saja dia ibuku, Dad? Kenapa harus dijadikan maid di sini? Ini ‘kan sudah terlalu banyak maid, aku tidak butuh maid, aku butuh ibu. Aku tidak menginginkan maid, tapi aku menginginkan ibu.” Kendrick pun terdiam. Dia menurunkan tubuh putranya yang memberontak ingin turun. “Daddy ....” Kalimat Kendrick terputus saat Kyler berlari ke arah kamarnya. Pria itu menghela napas sambil menunduk. Gretha pun menatap kepergian Kyler dengan wajah iba. Dia menoleh ke arah Kendrick dan menunduk pelan. “Saya akan mengikutinya, Tuan.” “Kyler tidak suka diganggu jika sedang merajuk. Maka biarkan saja.” Gretha menggeleng, perempuan itu tersenyum tipis. “Itu ‘lah perbedaan antara ibu dan ayah, Tuan.” Kendrick pun mengangkat kepalanya mendengar kalimat Gretha. Dia menatap gadis kecil itu dengan mata tajam tersebut. “Apa maksudmu?” Gretha menarik napas pelan. “Saya tahu Anda begitu mencintai putra Anda. Saya juga tahu jika mungkin Anda sudah berusaha untuk menjadi single parents yang baik. Jadi ayah sekaligus jadi ibu untuk Kyler. Tapi sebagaimana pun berusahanya seorang laki-laki untuk bisa menjadi ibu ... itu tetap tidak bisa. Akan berbeda, rasanya berbeda, pembawaannya berbeda, caranya berbeda.” Kendrick menatap Gretha dengan wajah dingin itu. Gadis kecil itu berbicara begitu lembut, senyum Gretha juga hangat meski sangat tipis. “Anda membiarkan Kyler merajuk tanpa membujuknya, karena dia pasti memberontak dan mengatakan tidak ingin diganggu. Tapi ... jiwa seorang anak seusia Kyler butuh perhatian lebih dari sekadar itu. Dia ingin dibujuk, meski mengatakan tidak ingin diganggu. Dia butuh pelukan dan kehangatan meski dibilang tidak suka diganggu. Dia butuh itu semua saat merajuk, kehangatan kita, perhatian kita, dan pengertian kita.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD