bc

Dipaksa Menikah Dengan CEO Lumpuh

book_age18+
34
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
friends to lovers
billionairess
lighthearted
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Citra Kirana, harus menerima pernikahan dengan calon suami yang ternyata lumpuh. Mereka menikah atas persetujuan kedua orang tuanya, bahkan diawal pernikahan Sang mempelai pria membuat Kirana kesal sampai ingin melempar bola ke wajah suaminya.

"Kamu sudah tahu konsekuensi menikah denganku?"

"Sudah, dan kamu juga harus tahu konsekuensi menikah denganku."

chap-preview
Free preview
Suami lumpuh.
Happy reading. "Kamu sudah siap?" tanya seseorang dari ambang pintu. Kirana menoleh, di sana berdiri Ratih ibu tirinya sejak 15 tahun lalu. Wanita itu tersenyum lembut, seolah-olah dirinya adalah ibu yang paling menyayangi Kirana di dunia. Namun Kirana tahu betul siapa Ratih sebenarnya, sejak ayahnya menikahi wanita itu 15 tahun lalu, hidup Kirana berubah menjadi neraka. Ratih selalu bersikap manis di depan ayahnya, tetapi berubah kejam ketika tidak ada siapa pun yang melihat. Beruntung ayahnya selalu melindunginya, namun kini ayahnya telah tiada. Dan Ratih tidak perlu lagi berpura-pura baik saat berada di rumah, bahkan ia pernah membuat Kirana jatuh dari lantai 2. Dan, semuanya Ratih lakukan hanya untuk membuat Kirana pergi secepatnya dari rumah ini. "Sudah," jawab Kirana pelan. Ratih melangkah mendekat lalu menggenggam tangan Kirana. "Ayo turun! Suamimu sudah menunggu, sebentar lagi kamu akan pergi meninggalkan rumah ini. Dan, aku berharap kamu nggak akan kembali lagi." "Ini rumahku, warisan dari Papa. Kamu nggak berhak memilih semuanya," jawab Kirana pelan. "Kirana, suamimu itu seorang CEO Valdero Grup. Harta kekayaan Arsen begitu banyak, jadi kamu nggak perlu semua ini." Ratih yang biasanya dingin kini begitu perhatian sejak pagi tadi, meski begitu, Kirana tahu alasan di balik perubahan sikap tersebut. Di dalam ruang keluarga, banyak tamu yang telah hadir. Tetangga, kerabat, rekan bisnis almarhum ayahnya, hingga tokoh masyarakat semua hadir untuk menyaksikan pernikahan Kirana. Ratih yang kini menjadi orang tua tunggal untuk Kirana, harus menjaga citranya di depan orang banyak. Wanita itu tidak mungkin menunjukkan wajah aslinya di depan mereka semua. "Cepat! Jalanmu terlalu lama, mereka sudah menunggu mu sejak tadi." Ratih bahkan membantu membenarkan ujung gaun pengantin Kirana, sikap yang membuat beberapa pelayan di rumah ini terkejut. Mereka semua tahu bagaimana perlakuan Ratih sebenarnya terhadap Kirana selama ini, begitu jahat kepada Kirana. Saat menuruni tangga, senyum Ratih semakin lebar. Ia merangkul bahu Kirana dengan penuh kasih sayang. "Kamu cantik sekali hari ini, Nak," ucapnya dengan suara yang cukup keras agar para tamu mendengar. Beberapa tamu langsung tersenyum haru. "Masya Allah, Bu Ratih memang sayang sekali sama Kirana." "Iya, jarang ada ibu tiri sebaik itu." "Beruntung sekali Kirana mempunyai ibu tiri baik seperti Ratih." Mendengar pujian-pujian itu, Ratih pura-pura tersipu malu. Sedangkan Kirana hanya menundukkan kepala, dadanya terasa sesak. Andai para tamu tahu kenyataan yang sebenarnya, bahwa wanita yang sedang merangkulnya itu adalah orang yang paling ingin menyingkirkannya dari rumah. Sesampainya di ruang keluarga, semua mata langsung tertuju kepada Kirana. Gaun putih yang dikenakannya membuatnya tampak begitu anggun. Di depan sana, seorang pria menunggunya. Pria yang beberapa menit lalu telah mengucapkan ijab kabul dengan lancar. "Mulai hari ini kamu harus menjadi istri yang baik. Jangan mengecewakan suamimu," katanya lembut. Ratih tampak seperti ibu yang sedang memberikan nasihat penuh cinta kepada putrinya, hanya Kirana yang menyadari tekanan kuat pada jemarinya. "Ah, sakit." Ratih sengaja mencengkeram tangannya hingga terasa sakit, lalu dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya, Ratih berbisik pelan di telinga Kirana. "Hari ini kamu masih bisa tersenyum, nikmati selagi bisa. Setelah ini kamu menikmati bagaimana menjadi istri Arsen Bima Valdero. "Lepaskan, tanganku." "Kirana, cepat duduk di samping suamimu," ujar Ratih dengan suara lembut. Kirana mendekat, setelah ijab kabul selesai. Ia duduk disamping pria yang baru beberapa menit lalu menjadi suaminya. "Apa dibawah lantai itu terlalu mempesona dibandingkan dengan wajahku?" *** Ucapan selamat dan doa dari para tamu terus mengalir. Kamera para fotografer tak henti-hentinya mengabadikan setiap momen yang dianggap membahagiakan itu. Namun bagi Kirana, semuanya terasa seperti mimpi yang begitu asing. Sejak tadi ia hanya mengikuti arahan panitia acara tanpa benar-benar memperhatikan pria yang kini telah sah menjadi suaminya. Pernikahan ini terjadi begitu cepat, bahkan hingga akad selesai, Kirana belum sempat berbicara langsung dengan pria tersebut. Saat seorang pembawa acara mempersilakan pengantin duduk berdampingan di pelaminan, Kirana berjalan perlahan mendekati suaminya. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti, matanya membelalak, napasnya tercekat. Baru saat ini, ia menyadari sesuatu yang sejak tadi tidak pernah diberitahukan kepadanya. Pria itu yang saat ini telah menjadi suaminya duduk di atas kursi roda, kedua kakinya tertutup selimut tipis berwarna hitam. "Ini..." Matanya menatap kursi roda itu beberapa kali seolah tidak percaya, selama ini ia hanya tahu nama calon suaminya adalah Arsen Bima Valdero "Kirana, kenapa?" tanya salah seorang kerabat yang melihat wajah pucatnya. Kirana buru-buru menggeleng. "Tidak apa-apa." Ia memaksa tersenyum meski hatinya berantakan, dengan langkah kaku, Kirana akhirnya duduk di samping Arsen. Suaminya sama sekali tidak menoleh, wajah tampannya terlihat dingin dan angkuh.Sorot matanya lurus ke depan, seolah ia sudah terbiasa menerima tatapan kasihan dari orang-orang. Kirana menggenggam jemarinya sendiri, plerlahan ia mulai memahami mengapa keluarga Arsen mau menerima pernikahan ini dengan sangat mudah. "Kenapa diam? Kamu baru tahu kalau aku lumpuh?" Kirana menoleh, suaminya masih menatap ke depan. Jelas pria itulah yang berbicara. Arsen tersenyum tipis, tetapi senyum itu terlihat pahit. "Ekspresimu sama seperti semua wanita yang pernah dijodohkan denganku." Degh. "Aku..." "Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun." Suara Arsen terdengar datar. "Aku sudah terbiasa." Kalimat itu membuat Kirana terdiam, entah kenapa, ada rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Bukan karena kondisi Arsen yang lumpuh, melainkan karena cara pria itu mengatakannya. Seolah ia sudah terlalu sering disakiti oleh orang lain. "Aku benar-benar tidak tahu," ucapnya pelan. Untuk pertama kalinya Arsen menoleh, tatapan mereka bertemu. Mata pria itu tajam, tetapi menyimpan luka yang dalam. "Aku percaya." "Kamu percaya sama aku?" Arsen kembali mengalihkan pandangannya. "Karena kalau kamu tahu sejak awal, mungkin kamu tidak akan berdiri di sini menjadi istri seorang pria lumpuh sepertiku." "Maaf, aku nggak bermaksud melukai perasaan mu. Mas Arsen," kata Kirana. "Kamu sudah menjadi istriku sekarang, dan setelah ini kamu akan menerima kondisi apapun dariku." Perkataan itu membuat Kirana membeku, ia benar-benar tidak mengerti situasi yang ada di depannya. Di sisi lain ruangan, Ratih memperhatikan mereka dengan senyum puas. Dalam pikirannya, kehidupan Kirana telah berakhir hari ini, ia tidak perlu melihat Kirana di dalam rumah mewah warisan suaminya. Ratih bahkan sebentar lagi akan menjadi kaya raya tanpa gangguan Kirana "Rumah ini, mobil, bahkan isi brankas yang ada di dalam kamar Kirana akan menjadi milikmu. Sebentar lagi aku akan kaya raya," ucap Ratih dalam hatinya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
23.8K
bc

TERNODA

read
204.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.4K
bc

Kali kedua

read
223.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook