2. Robert Elliot Hamilton

1710 Words
Star Night Club, New York ‘’Tuan, ada masalah dengan pengiriman barang kita di Brazil. Polisi dan Badan Anti Narkotika berhasil mengagalkan transaksi kita dengan Paul. Beberapa anak buah kita berhasil diringkus. Apa yang harus saya lakukan? Bereskan atau selamatkan? Segera menunggu perintah, Tuan.’’ Seorang pria bertubuh tegap tinggi berdiri di ujung ruangan VIP sebuah Club Malam paling ramai di New York. Desahan seorang wanita terdengar memenuhi ruangan, pria itu menatap datar wanita berpakaian minim yang duduk manja di atas paha seorang pria, yang masih asyik mencumbu dadanya dengan rakus. Tangan dan mulutnya seolah berlomba-lomba mencari kepuasan. ‘’Tuan,’’ panggil pria itu lagi, namun tak berhasil mengusik kegiatan dua insan manusia itu yang sedang dimabuk gairah. Robert masih asyik mengulum d**a wanita yang berada di pangkuanya dengan rakus, seolah takut jika besok dirinya tak bisa lagi merasakan bagimana nikmatnya. ‘’Robert!’’ panggil pria bernama David itu lagi, kali ini dengan nada intonasi yang lebih tegas. ‘’Kau boleh pergi!’’ ucap Robert dengan tiba-tiba, menghentikan kegiatanya tak kala sudah mendengar panggilan kode merah dari David, itu tandanya jika keadaan memang sedang benar-benar serius. ‘’Tuan, kau yakin tak mau melanjutkanya sampai ke inti? Aku sudah sangat basah,” ucap wanita itu dengan sensual dan manja, seolah ingin membangkitkan kembali gairah Robert yang hilang tiba-tiba karena panggilan David. ‘’Keluar sebelum aku berubah pikiran, dan membunuhmu!’’ ucap Robert dingin. Robert langsung mengubah ekspresi wajahnya dalam sepersekian detik, yang membuat wanita itu terburu-buru untuk pergi sebelum Robert menepati ucapan-nya. Wanita itu sudah sangat mengenal sosok Robert sebagai pemilik tempatnya bekerja ini, dan Robert adalah sosok yang tak pernah mengingkari ucapanya, termasuk membunuh. Bukan hal tabu jika Robert sering melenyapkan beberapa orang di dalam Clubnya ini. Setelah memastikan jika wanita tadi telah pergi, Robert memberi isyarat pada David untuk duduk. David menyerahkan sebotol hand sanitizer pada Robert. Sudah menjadi kebiasaan Robert, jika dirinya akan membersihkan mulutnya setelah b******u dengan para jalang di Club Malamnya. ‘’Apakah mereka orang-orang terbaik? Berapa lama sejak mereka bergabung?’’ tanya Robert seraya membersihkan tanganya dengan gel sanitizer yang tadi diberikan oleh David. ‘’Kebanyakan dari mereka masih orang baru dan sebagian baru lulus dalam 1 bulan, namun mereka adalah orang-orang yang berpengalaman, tidak terlalu buruk. Dan ….’’ David terlihat menghentikan ucapanya yang membuat Robert menaikkan alisnya. ‘’Katakan,’’ titah Rober datar. ‘’Edgar ada dalam misi ini, dan dia tertangkap.’’ Edgar adalah orang kepercayaan Robert layaknya David. David sedikit ragu ingin menyampaikan pesan ini pada Robert, karena takut jika Robert akan maah. ‘’Aku tak menghawatirkan Edgar, aku yakin dia bisa meloloskan dirinya sendiri. Bebaskan mereka, berikan berapapun pada para polisi rakus itu. Lalu seperti biasa,’’ jelas Robert seraya mengembalikan botol hand sanitizer itu pada David. ‘’Baik, Tuan.’’ David segera pergi setelah mendapat perintah dari Robert. Robert menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, melipat tangannya serta menumpu kakinya, sembari menatap dingin kearah pintu yang baru saja di tutup oleh David. ‘’Kau fikir aku tak tau?’’ seringaian tajam di bibir Robert membuat siapapun yang melihatnya pasti memilih untuk pergi dari pada mati. Robert meraih ponselnya yang berada di atas meja, menghubungi sesorang yang sudah dikenalnya dengan sangat baik. ‘’Vincent,’’ sapa Robert tak kala teleponya sudah tersambung. ‘’…” ‘’Apa kau mengenal Paul Fernandes?” tanya Robert seraya meraih martininya, dan menyesapnya dengan perlahan, merasakan bagaimana cairan itu seolah membakar tenggorokanya. ‘’…’’ ‘’Aku menginginkan bagian tubuhnya, menurutmu apa yang bisa kau berikan untukku? Aku menginginkanya besok pagi berada di ruanganku,” ucap Robert dengan seringaian iblisnya. ‘’…’’ ‘’Jangan membuatku kecewa Vincent, aku mempercayaimu. Oh dan ya, aku bisa memberikanmu masukan. Aku rasa, lidah merupakan aksesoris yang indah akhir-akhir ini. Karena manusia sering kali bermain-main dengan ucapanya.’’ Tanpa mendengarkan bagaimana jawaban lawan bicaranya, seperti biasa Robert lalu menghentikan panggilanya secara sepihak. ‘’Kau hanya tidak tau sedang berurusan dengan siapa, Paul.’’ Tatapan tajam itu lalu diiringi dengan seringaian mematikan. Dialah Robert Elliot Hamilton, Ceo dari Hamilton International Group (HIG) Perusahaan di bidang Otomotif terbesar yang berasal dari Italia, sekarang ini mulai melebarkan sayap di kancah Internasional dan mulai merambah ke pasar Amerika dan Eropa. Kantor pusatnya sendiri berada di Sisislia, Italia. Semenjak Robert resmi menjadi pemimpin HIG menggantikan Gilbert Hamilton—Daddynya, produk-produk andalan seperti mobil sportnya sangat laris di pasaran dan mulai merambah ke wilayah pasar Asia untuk produk motor sportnya. Dunia tau, bahwa Robert Elliot Hamilton adalah seorang Billionaire asal Italia, dan merupakan Ceo dari Hamilton International Group, tetapi mereka tak pernah tau jika Robert jugalah sang penguasa Dunia gelap underground Italia. Dialah pemimpin klan Cosa Nostra dan juga perdagangan senjata adalah bisnis utama dari keluarga Hamilton. Berdirinya Hamilton International Group adalah untuk pengalihan stigma masyarakat, dari mana hasil kekayaan keluarga Hamilton, jika mereka bukanlah seorang pengusaha atau sejenisnya namun menjadi keluarga yang tercatat menempati posisi paling kaya di Italia, maka akan menimbulkan kecurigaan di masyarakat, itulah sebabnya mengapa mereka mendirikan Perusahaan semu untuk menutupi betapa hitam dan kejamnya pekerjaan mereka yang sebenarnya selama ini. Cosa Nostra merupakan klan besar yang sekarang menduduki posisi pertama klan paling di segani dan di takuti oleh para musuhnya di seluruh Italia, konsistensinya mulai terdengar dan di buktikan bahkan sampai ke daratan Eropa. Tak ada yang berani meremehkan atau bahkan mencari masalah pada klan besar ini, berada di dalam wilayahnya tentu harus berhati-hati jika tak ingin salah langkah dan mati dengan sia-sia. Cosa Nostra satu-satunya klan yang berada di antara Amerika dan Rusia, tanpa memilih kubu mana yang akan mereka pilih. Sebab Cosa Nostra memiliki pabrik dan gudang senjata yang mensuplai barang mentah untuk bahan bagi militer kedua kubu tersebut. Pabrik Cosa Nostra-lah yang membuat, dan masing-masing dari Amerika dan Rusia yang akan merakitnya sendiri. Teknologi yang di miliki Robert beserta klan-nya di nilai belum ada yang mampu menandingi dalam menciptakan senjata-senjata yang ada di Dunia. Pabrik senjata ini sendiri di dirikan oleh Adam Hamilton—Kakek Buyut Robert. Jadi bisa dibilang jika keluarga Hamilton-lah pendiri Cosa Nostra, meskipun pada akhirnya Cosa Nostra bukan hanya di pimpin dari keluarga Hamilton saja, melainkan bersama para pendiri besar lainya yang rela menggabungkan klan mereka untuk menjadi satu bersama klan Cosa Nostra, itulah mengapa Cosa Nostra yang awalnya hanya pembuat senjata, sekarang bisa menjadi klan besar yang menguasai Dunia Undergroud Italia. Robert selaku pemimpin utama Cosa Nostra sekarang, meskipun baru memimpin selama 5 tahun, namun Robert berhasil membawa Cosa Nostra dan juga Hamilton International Group menjadi semakin sukses dan besar seperti sekarang. Robert yang begitu tegas dan keras ini tak pernah ragu untuk membunuh lawanya yang di anggap hanya seperti hama. Robert yang dulu hanya seorang pemuda yang hangat dan ceria, yang begitu keras menolak keras terlahir dari keluarga hitam Hamilton, yang bersumpah tak akan ikut serta menjalankan bisnis hitam keluarganya itu, sekarang telah berubah menjadi Robert yang sangat ambisius, kejam dan tak tersentuh. Semua itu berawal dari sebuah peristiwa yang selalu dia coba untuk lupakan setiap harinya, bayangan kilasan peristiwa yang selalu menghiasi malamnya sejak 5 tahun terakhir ini. Tok ... tok … tok Suara ketukan pintu menginterupsi khayalan Robert tentang betapa puas saat dirinya akan mendapatkan lidah Paul Fernades esok hari. “Tuan, kita sudah berhasil mendapatkan informasi dari penyebab gagalnya pengiriman,” lapor David dengan wajah datarnya. ‘’Aku sudah tau.’’ David tak lagi terkejut jika Tuan-nya ini seperti cenayang yang tau segala hal di luar nalar manusia. ‘’Apa yang akan anda lakukan pada Paul?’’ tanya David. ‘’Vincent akan mengurusnya, hanya menunggu paket apa yang akan dia kirimkan besok,’’ jawab Robert dingin. ‘’Baik Tuan, apakah anda ingin pulang sekarang?’’ tanya David lagi yang melihat jika Robert nampak lelah. ‘’Tidak, aku belum mendapatkan pelepasanku. Bawakan aku satu,’’ ucap Robert sembari kembali meneguk martininya. ‘’Hanya untuk mengingatkan jika besok anda akan bertemu dengan Galaxy Gallery untuk rencana pembukaan Showroom di Manhattan,’’ jelas David. ‘’Aku tak akan lama, kau bisa pergi sekarang.’’ David menunduk hormat dan berlalu dari hadapan Robert, untuk segera mencarikan wanita yang belum pernah having s*x bersama Robert. Seperti orang kaya kebanyakan di luar sana, mereka selalu tak mau menggunakan wanita yang pernah mereka gunakan sekali, tak masalah jika tak perawan yang terpenting adalah tidak menggunakan satu orang berkali-kali. -o0o- Mansion Hamilton, New York. Hari libur bagi Robert bukanlah hari dimana kamu bisa bermalas-malasan dan hanya seharian berbaring di ranjang kamarmu, Robert menghabiskan hari liburnya dengan berolahraga. Sedari kecil, Robert sangat menyukai olahraga, pemain sepak bola adalah cita-citanya sejak kecil sama seperti para bocah kebanyakan. Dan biasanya, David-lah yang akan menemaninya berolahraga, namun karena masalah gagalnya pengiriman kemarin sehingga membuat David sedikit kerepotan dan terpaksa Robert harus berolahraga sendirian. ‘’Tuan, kita gagal mendapatkan tanah di Stamford, Addison Group telah memenangkan harga penawaran. Mereka akan segera membangun Hotel di sana.’’ David datang menghampirinya di saat ia tengah berolahraga. Robert sangat membenci hal ini sebenarnya, waktunya yang tak ingin di ganggu adalah saat dia akan mencapai klimaks dan saat dirinya sedang berolahraga. Namun karena tanah di Stamford adalah obsesi Robert akhir-akhir ini, maka David tak bisa untuk menunda-nunda memberikan laporanya. Bahkan mata David masih focus pada tabletnya saat memberikan laporan yang baru satu menit lalu diterimanya. ‘’Berapa yang mereka tawarkan?’’ tanya Robert dengan ekspresi menggelap. ‘’$35.000.000, Tuan.’’ David menjawab Robert masih dengan matanya yang menyusuri laporan di tablet yang dibawanya. ‘’Mereka cukup berani ternyata, baiklah aku akan melepaskanya untuk kali ini. Menangkan tender lain untuk pabrik kita. Aku ingin segera membangun pabrik di Amerika, aku tak mau tau bagiamana caranya!’’ Robert memandang David dengan tajam. ‘’Baik Tuan,’’ jawab David datar. Sudah bukan hal baru bagi David jika menghadapi Robert yang tengah marah atau kasar, dirinya sudah terlalu sering mengalami mood Robert yang selalu berubah-ubah. ‘’Siapa dibalik Addison Group?’’ tanya Robert saat David akan melangkah meninggalkanya. ‘’Putra sulung Arthur Addison, Nelson Richard Addison,’’ jelas David dan menunjukan foto Nelson yang berada di tabletnya. ‘’Apakah aku mengenalnya?’’ tanya Robert penasaran. ‘’Tidak Tuan, HIG belum pernah melakukan kerja sama dengan Addison Group, karena mereka berada pada sektor property,” jelas David dengan nada datar seperti biasanya. ‘’Cari tau semua tentangnya, aku mau laporanya berada di mejaku sore ini!’’ perintah Robert tegas. David memberikan hormat dan berlalu meninggalkan Robert. -o0o-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD