3. First Meet

1642 Words
Fifth Avenue Restaurant, Hanya dalam jangka waktu 6 bulan, Queen berhasil meruntuhkan Rosewood Hotel dan membangun ulang sebuah restoran impiannya. Restaurant ini terletak di jalan Fifth Avenue, sehingga menjadikan nama restoran ini sesuai nama jalannya, kurang kreatif memang namun ini adalah teknik marketing Queen supaya saat seseorang sedang melewati jalan Fifth Avenue maka orang itu akan mengingat nama restoran-nya. Queen menciptakan desain tempat dan menunya seorang diri, bahkan dia menggandeng seorang Chef bintang tiga Michellin, Gordon Ramsay sebagai Head Chefnya. Sangat simple namun terlihat elegant, ciri khas seorang Queen. Fifth Avenue Restaurant sendiri berdiri di atas gedung 5 lantai, yang terdiri dari 3 lantai sebagai restoran dan 2 lantai teratas sebagai ballroom yang dapat di sewa untuk kebutuhan pesta. Baru 3 bulan berdiri, Fifth Avenue Restaurant sudah memiliki banyak penggemar karena pelayanan yang memuaskan, masakan yang lezat dengan teknik platting yang memukau, terlebih lagi berada di tempat yang sangat strategis dan surganya belanja. "Miss, selama 3 hari kita telah kehabisan stock parmigiano regiano cheese, bagaimana jika kita membeli dari New York, saya memiliki rekomendasi seorang suplier dengan harga lebih murah. Tentu akan lebih menguntungkan untuk kita," Ucap Eveline, wanita yang menjadi asisten pribadi Queen "Rasa tak bisa dibandingkan dengan harga, aku telah mencoba berbagai keju di seluruh Dunia, parmesan produk Italia tetap yang terbaik. Aku tak mau hanya karena untuk menghemat cost control menjadikan aku menurunkan standar masakan. Segera hubungi pihak Real Food, kapan keju kita akan datang," jelas Queen, menatap Eveline dengan serius. "Saya telah menghubungi mereka dan pihak Real Food mengatakan jika barang masih proses fermentasi, dan baru bisa di kirim setelah 2 minggu. Mereka mengatakan memiliki masalah internal dengan pabrik." Queen lalu mengalihkan tatapan matanya dari depan laptop kembali ke arah Eveline. "Konfirmasikan pada Chef Ramsay, apakah dia bisa menunggu. Bertahan berapa lama dengan stock yang kita miliki sekarang. Jika pun memang stock kita terlalu menipis maka tanyakan rekomendasi produk parmesan terbaik selain milik kita. Aku tak perduli dengan harga, kualitas bahan masakan milikku haruslah yang berkualitas," Jelas Queen dengan tegas. "Baik Miss, akan saya tanyakan segera pada Chef Ramsay. Apakah ada lagi yang bisa saya lakukan untuk anda, Miss?" tanya Eveline. "Cukup Eve, kau bisa kembali." Baru saja Eveline akan membuka pintu, terdengar bunyi ketukan pintu dari luar. Tok … tok … tok "Ada apa?" Sapa Eveline setelah membuka pintu, dilihatnya seorang pelayan wanita yang berdiri gugup di depan pintu. "Selamat malam Nona Eveline, kita memiliki masalah dengan seorang tamu.’’ Lapor pelayan wanita itu dengan berbisik, Eveline sontak melirik kearah Queen sekilas, memastikan jika Queen tidak mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh pelayan ini. ‘’Kita bicarakan setelah ini!’’ ajak Eveline untuk segera keluar dari Ruangan Queen. Setelah keluar dari ruangan, barulah Eveline meminta penjelasan dari pelayan wanita tersebut. "Baik, sekarang jelaskan padaku apa yang terjadi." -o0o- Beberapa kali David menatap Roben dari balik kaca dashboard, karena sedari tadi Robert sama sekali tak mengalihkan fokusnya pada tablet yang sedang dia bawa. "Tuan, apakah anda ingin makan? Saya memiliki rekomendasi tempat yang enak di daerah ini. Apakah anda ingin mencoba?" David melihat selama perjalanan pulang, Robert hanya sibuk dengan tabletnya, dirinya terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga siang ini Robert melewatkan jam makan siangnya. "Boleh," jawab Robert tanpa mengalihkan fokus dari tabletnya. "Baik, Tuan," jawab David dengan menganggukkan kepalanya, walaupun dirinya yakin Robert tak melihatnya. Kesan pertama Robert ketika memasuki restoran yang di rekomendasikan oleh David adalah nyaman. Dia suka tempat ini, tempat ini sesuai dengan karakter dan seleranya. Walaupun terlihat sedang lumayan ramai, tapi tak masalah karena Robert menyukai interior tempat ini sehingga mungkin tak masalah untuk berbaur dengan orang-orang, padahal Robert sangat membenci menunggu dan keramaian. "VIP," ucap David pada Guest Relation Officer (GRO) yang menyambutnya "Maaf Tuan, ruang VIP kami sedang penuh. Apakah Tuan bersedia mengunakan tempat regular?" tanya GRO itu pada David dengan sopan. "Berikan pada kami VIP, berapun itu akan kubayar!" belum sempat GRO itu menjawab David, Robert sudah lebih dulu berjalan melewati mereka berdua yang sedang berdebat tak penting menurutnya. Tanpa di persilahkan, Robert mencari tempatnya sendiri di samping jendela kaca. David yang melihat mood Robert sedang bagus, maka dirinya tak mau mengambil resiko dengan memperpanjang masalah ini. David menatap GRO wanita di depanya itu dengan pandangan dingin dan tajamnya, lalu berjalan untuk menyusul Robert. "Apakah tak masalah anda duduk di sini? Di sini terlalu ramai,” tanya David dengan wajah datarnya seperti biasa. "Jangan banyak bicara dan segera memesan. Kau terlalu banyak membuang waktu!" ucap Robert dingin. David mengangkat tanganya untuk memberikan tanda jika dirinya akan segera memesan. Dengan sigap seorang pelayan wanita terlihat berjalan menuju kearahnya. "Selamat malam Tuan, perkenalkan nama saya Veronica dan saya yang akan melayani pesanan anda hari ini.’’ Pelayan itu menyerahkan dua buku menu untuk Robert dan David masing-masing "Penfolds 1951, Pan Seared Foie Gras, Tasmanian Salmon Steak. Sisanya terserah dia," tunjuk Robert kearah David dengan dagunya. Setelah memilih menunya hanya dalam 30 detik Robert kembali berkutat dengan tablet miliknya. Robert tak ambil pusing untuk memikirkan menu apa yang akan David pesan, meskipun itu yang lebih mahal dari miliknya sekalipun. Tak selang beberapa lama seorang pelayan datang untuk mengantarkan wine milik Robert, Robert yang mulai terkenal di Amerika dengan wajahnya yang melalang buana di berbagai majalah bisnis dan wawancara televisi membuat seorang pelayanpun tau siapa dirinya. Pelayan itu terlalu gemetar hanya dengan menatap seorang Robert dari jarak dekat. Ketika menuangkan wine dengan tangan kanannya, tanpa sengaja karena terlalu merasa berdebar, ujung botol wine itu secara tak sengaja menyenggol gelas wine di samping kanan Robert yang menyebabkan wine itu tumpah dan mengenai tablet milik Robert. Pelayan bernama Maria itu yang awalnya gemetar seperti jatuh cinta dengan Robert langsung berubah menjadi gemetar ketakutan melihat tatapan tajam dan dingin dari Robert. Maria sangat menyesali keputusanya yang memaksa Veronica untuk mengijinkan dirinya yang mengantarkan wine ini supaya dapat melihat seorang Robert Elliot Hamilton dari jarak dekat. "Apa yang kau lakukan bodoh!" David dengan sigap berdiri dan membersihkan tumpahan wine yang mengenai tablet Robert dengan sapu tangan miliknya. "Maafkan saya Tuan, saya sungguh tidak sengaja." Mata Maria sudah mulai berkaca-kaca karena ketakutan. Selain membayangkan apa yang akan terjadi dengannya karena sudah membuat seorang Robert marah, terlebih lagi dirinya tak akan sanggup untuk mengganti Red wine Penfolds 1951 yang baru saja tak sengaja dia tumpahkan itu. "Panggil bosmu!" bentak David tepat di depan muka Maria yang ketakutan. "Maafkan saya Tuan, tolong ampuni saya Tuan." Maria tak mampu lagi menahan laju air matanya. Dirinya sangat takut jika harus dipecat dan juga mengganti kerugian secara bersamaan. Maria hanya seorang pelayan miskin, bahkan gajinya selama setahun pun tak mampu untuk mengganti sebotol wine yang baru saja tidak sengaja dia tumpahkan itu, apalagi jika tablet mahal milik Robert itu harus ikut rusak juga, Maria tak sanggup untuk membayangkan nasibnya nanti jika semua bayangan buruk itu terjadi padanya. "CEPAT!" Maria semakin bergetar ketakutan mendengar teriakan David, sedangkan Robert sedari tadi belum mengeluarkan suaranya. Tetapi jika melihat dari tatapanya, bahkan jika tatapan dapat menewaskan seseorang maka David yakin pelayan tersebut pasti sudah mati oleh tatapan Robert. "Selamat malam Tuan, perkenalkan saya Eveline. Saya selaku penanggung jawab di restoran ini. Saya meminta maaf atas apa yang telah terjadi, maaf atas kelalaian salah satu staf kami yang menyebabkan anda terganggu dan mengalami kerugian materi. Kami dari Fifth Avenue Restaurant bersedia mengganti rugi segala kerugian anda." Eveline menunduk hormat sebagai permintaan maafnya. "Dimana bosmu!" tanya Robert dengan dingin, menatap ke arah Eveline. "Maaf Tuan, pemimpin kita sedang tidak berada di tempat. Saya yang akan bertanggung jawab atas segala kerugian yang anda alami." Eveline memberanikan diri menatap David dan juga Robert, melihat tatapan dingin Robert sedikit membuat nyalinya menciut. "Sampah!’’ ucap Robert dengan sarkas. Robert mengalihkan tatapannya pada Maria yang berdiri menunduk ketakutan di samping Eveline. "Maria, Welcome to the hell!" tambah Robert seraya menatap name tag pada baju Maria yang membuatnya semakin bergetar ketakutan. Eveline pun juga sedikit merasa terintimidasi pada ucapan Robert barusan. "Apa yang terjadi di sini?" Robert membalikan badan dan bersiap untuk segera pergi dari Restaurant ini, namun suara seseorang yang masih sangat segar di ingatanya berhasil membuatnya membeku seketika. "Maaf Miss, ini hanya keluhan tamu. Saya bisa mengatasinya," jawab Eveline untuk meyakinkan Queen untuk tak ikut campur. Namun ucapan Eveline tak mempengaruhi Queen sama sekali, karena tanpa Eveline tau jika Queen sebenarnya tadi mendengar laporan pelayan jika sedang ada masalah di floor , oleh sebab itu Queen mengikuti Eveline dan pelayan tadi dari belakang. Dan ternyata memang benar, jika masalah yang pelayan itu maksud memang cukup serius. "Selamat malam Tuan, saya Jeslyn selaku Manager di Fifth Avenue Restaurant apakah ada yang bisa saya bantu?" punggung Robert menegang mendengar nama itu. Sontak Robert membalikkan tubuhnya dan benar saja wanita bernama Jeslyn yang berdiri di depannya ini adalah Jeslyn yang sama yang pernah dia kenal dulu. Queen pun juga sempat kaget jika tamu yang mempunyai keluhan ini adalah Robert, teman kuliahnya dahulu. "Maaf Tuan, bisakah kita menyelesaikan masalah ini di ruangan saya?" tanya Queen sopan dengan tersenyum manis menatap Robert. Karena sejak tadi mereka menjadi pusat perhatian beberapa pelanggan lain yang merasa terganggu dengan keributan mereka. "Tidak perlu! Kami tak akan membuang--" belum sempat David melanjutkan kalimatnya, Robert sudah terlebih dahulu menyelanya. "Tunjukan jalannya!" perintah Robert dingin, menatap datar kearah Queen. Queen pun menganggukan kepalanya dan tersenyum tulus ke arah Robert. Queen berjalan terlebih dulu untuk memimpin jalan Robert menuju ruanganya. -o0o-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD