4. Disappointed For The First Time

1905 Words
Robert mengikuti langkah Queen yang berjalan di depannya. Saat akan memasuki ruangan Queen, Robert memberikan isyarat pada David untuk menunggu saja di depan pintu seperti biasa, tidak perlu mengikutinya masuk. Saat memasuki ruangan Queen untuk pertama kali, Robert menyusuri seisi ruangan kerja Queen dengan pandangan datar. Queen mempersilahkan Robert untuk duduk di sofanya lalu di susul dengan Queen yang duduk di sampingnya. "Robert, aku sungguh terkejut saat melihatmu tadi. Wah ... kamu terlihat sangat berbeda sekarang, kamu terlihat semakin tampan. Aku sampai hampir tidak mengenalimu tadi.’’ Tanpa tahu malu, dengan riangnya Queen memeluk tubuh Robert dari samping. ‘’Sudah berapa lama ya kita tidak bertemu? 5 tahun mungkin, aku sangat merindukanmu Robert,’’ ucap Queen masih tetap dengan posisi memeluk Robert. Sedangkan Robert masih saja tetap bungkam, tidak menimpali ocehan Queen sejak tadi. "Maaf atas apa yang dilakukan karyawanku tadi. Kami akan mengganti rugi semua total kerugianmu, wah jas mahalmu sampai kotor." Queen melepaskan pelukannya tak kala melihat noda red wine yang mengotori jas Robert yang berwarna cream itu, sehingga sangat nampak bekas tumpahan wine, Queen berjalan ke arah meja kerjanya untuk mengambil tisu lalu mengusap noda wine di jas Robert. Robert masih saja bungkam dan hanya menatap apa yang dilakukan oleh Queen tanpa menolaknya. "Robert," Panggil Queen sembari menatap raut datar Robert. "... " Queen menatap Robert heran karena sejak tadi Robert hanya diam tak menimpali ucapanya sedikitpun. "Kenapa hanya diam?" tanya Queen lagi. ‘’…’’ ‘’Apakah kamu begitu marah akan perbuatan pegawaiku? Aku mewakilinya untuk meminta maaf,’’ Ucap Queen merasa bersalah, jauh di dalam hantinya Queen pun khawatir dengan ekspresi yang sedari tadi di tunjukan oleh Robert. Apakah dia harus semarah ini. ‘’…’’ ‘’Maaf jika kamu menganggapku berfikir sepele tentang kejadian tadi, sungguh aku tidak bermaksud begitu. Maaf jika kamu tersinggung dengan perbuatan karyawanku tadi, aku mewakilinya untuk meminta maaf sekali lagi. Aku harap kamu tidak akan memperpanjang masalah ini dan menyulitkan langkahnya di kemudian hari seperti ancamanmu tadi, maafkanlah pegawaiku. Aku sungguh akan mengganti rugi seluruh kerugianmu, termasuk jas mahalmu ini,’’ lanjut Queen dengan menatap Robert penuh harap, Queen takut jika Robert berfikir dirinya akan sangat membela pegawainya padahal jelas pelayan itu bersalah, hanya karena mereka teman maka Queen akan meminta keringanan. Karena dilihat dari ekspresi Robert sejak tadi, maka tidak salah jika Queen berfikir seperti itu. ‘’…’’ ‘’Jadi kamu benar-benar marah?’’ cicit Queen dengan ekspresi takut. "Apakah setiap lelaki yang kamu temui, kamu selalu memeluknya seperti tadi?" tanya Robert dengan muka sinis. Queen yang tak mengerti akan ucapan Robert hanya mengerutkan keningnya. Sebab ucapan Robert sangat jauh berbeda dengan konteks yang dia pertanyakan. Karena di sini, mereka sedang membahas soal masalah antara Robert dan pegawainya, bukan membahas tentang memeluk seorang pria. ‘’Apa maksudmu?’’ tanya Queen dengan raut bingung, namun Robert hanya berdecih dengan tatapan mata meremehkan. ‘’Apa hubunganya permintaan maafku dengan aku yang memeluk pria Robert? Aku sungguh tidak mengerti,’’ tanya Queen penasaran. ‘’Jangan berpura-pura bodoh!’’ desis Robert tajam. ‘’Apakah kamu mempermasalahkan aku yang baru saja memelukmu? Jadi kamu sedari tadi diam karena kamu marah padaku? Karena aku memelukmu?’’ Queen menatap Robert dengan pandangan aneh, tidak mengerti akan sahabatnya ini, sedangkan Robert kembali bungkam. "Kamu adalah temanku, aku sudah lama tidak bertemu denganmu maka tentu saja aku akan memelukmu ketika melihatmu lagi. Bukankah sudah menjadi hal yang biasa jika aku memelukmu? Ini bukan sesuatu hal yang tabu di antara kita Robert. Apa kamu merasa tidak nyaman karena aku memelukmu tadi? Maafkan aku jika aku terlalu antusias saat bertemu denganmu lagi." Queen menatap Robert dengan ekspresi sedih. ‘’…’’ Robert kembali terdiam, tak menimpali ucapan Queen. Netranya kembali sibuk menyusuri seisi ruang kerja Queen. ‘’Aku sudah meminta maaf, haruskah kamu terus membisu seperti ini? Setahuku aku tidak memiliki sahabat yang bisu!’’ kesal Queen karena Robert yang terus mengabaikanya. ‘’Robert! Aku akan benar-benar marah jika kamu terus seperti ini!’’ ‘’Aku sungguh merindukanmu Robert, aku tetap akan memelukmu walaupun kamu tidak suka, aku tidak peduli!’’ tegas Queen lalu kembali memeluk  tubuh Robert sesukanya. "Apakah kamu menjadi seorang w************n sekarang?" Queen melepaskan pelukannya. Dia menatap seringaian sinis Robert dengan tatapan semakin bingung. "Apa maksudmu Robert?’’ ‘’Aku tau kamu faham apa maksudku,’’ ‘’Apakah aku tidak salah dengar? Kau mengataiku murahan?’’ tanya Queen sembari menunjuk dirinya sendiri. ‘’Apa kamu sangat marah hanya karena aku memelukmu sehingga kamu berbicara seperti itu padaku? Apakah aku semenjijikan itu sebagai seorang wanita di matamu?" Queen tak pernah menyangka jika di dunia ini akan ada yang mengatainya sebagai seorang w************n, tentu saja ucapan Robert itu sangat membuatnya tersinggung. "Apakah seorang Manager di sebuah restoran juga menjual tubuhnya untuk tamu?" tanya Robert dengan menatap tajam tepat di depan muka Queen, Robert menatap sinis pada Queen lalu menatap tubuh Queen dari ujung rambut sampai ujung kaki. Robert kembali mengalihkan tatapan matanya tepat ke arah Queen dengan tersenyum sinis. Queen yang tak mengerti pun langsung menatap tubuhnya seperti yang di lakukan Robert barusan. ‘’Kata-katamu sangat keterlaluan untuk pertemuan pertama kita setelah 5 tahun berlalu, Robert!’’ "Lihatlah, tidakkah sebaiknya kamu pakai bikini saja?" Queen semakin tak mengerti kemana arah pembicaran Robert. Biar bagaimanapun, Queen tetap seorang wanita sehingga pasti dirinya merasa kecewa karena ucapan Robert yang begitu menghinanya. ‘’Apakah seperti ini pandanganmu terhadapku setelah 5 tahun kita tidak bertemu? Apakah aku sehina itu di matamu Robert? Kamu mengataiku murahan, menjual diri pada para tamu? Katakan apalagi yang ada di otakmu itu untuk menggambarkan bagaimana buruknya aku,’’ ucap Queen dengan kecewa, tanpa bisa dicegah mata Queen berkaca-kaca. Namun sekuat tenaga Queen menahan laju air matanya, karena dirinya tidak mau Robert akan semakin menang karena berhasil menjatuhkan harga dirinya. ‘’Lihat apa yang kamu kenakan,’’ Ucap Robert dengan santai, menatap remeh kearah Queen dengan tangan bersedekap di d**a. ‘’Memang kenapa dengan baju yang aku kenakan? Ini baju rancangan designer terkenal Robert,’’ Jawab Queen membela diri. Tak terima dengan tuduhan Robert yang tak mendasar. Robert adalah seorang pria, jadi mana paham dia soal urusan fashion wanita? ‘’Seperti itu kamu sebut baju?’’ tanya Robert lagi semakin sarkas. ‘’Memang kenapa dengan apa yang aku kenakan? Mungkin kamu seorang pria jadi tidak mengerti fashion wanita, namun dengan ketidak tahuanmu itu soal fashion wanita tidak menjadikanmu berhak untuk menjudge pakaianku dengan sehina itu.‘’ Queen tak mau kalah, merasa sangat tidak terima karena Robert sudah begitu menghinanya, dan itu sudah sangat keterlaluan. ‘’Mungkin apa yang kamu katakan benar, jika pakaian yang kamu gunakan ini memang sedang trend, atau mungkin memang di rancang oleh seorang designer terkenal seperti katamu. Namun perlu kamu tau, kamu menggunakan pakaian dengan bahan yang sangat tipis, dan apakah ini musim panas sehingga kamu harus menggunakan pakaian dengan bahan seperti itu? Terlebih kamu memperlihatkan pakaian dalammu dengan sangat nyata. Lalu salahkan aku jika menyebutmu ingin menjual diri pada para tamu?’’ Robert tersenyum, namun tak ada ketulusan di sana. Yang ada senyum sinis penuh cemoohan. ‘’Jika kamu merasa apa yang aku kenakan salah, tapi haruskah kamu ingatkan aku dengan cara sekejam ini? Kamu temanku Robert, oh tidak ... kamu bahkan sahabatku. Apakah seseorang akan memperlakukan sahabatnya seperti kamu memperlakukan aku? Terlebih aku seorang perempuan, tidakkah kamu tau jika apa yang kamu katakan itu sangat menyakitiku?’’ setets air mata Queen luruh mengaliri pipinya, dengan segera Queen segera menghapusnya dengan kasar. ‘’Kamu berfikir jika apa yang kamu kenakan pantas untuk digunakan oleh seorang Manager untuk bekerja? Aku tidak bisa membayangkan berapa banyak pria yang sudah menonton belahan dadamu itu. Aku yakin kamu baru di dunia bisnis, jadi keprofesionalanmu masih di pertanyakan, jadi jangan sok mengguruiku soal hal yang kamu sebut fashion itu. Karena jaman sekarang, sudah bukan hanya wanita yang mengerti soal fashion, pria pun mengerti.’’ Robert semakin menunjukan seringaiannya. Robert terlihat begitu puas saat melihat Queen yang menggenggam jemarinya kuat, tanda jika dia sangat berusaha untuk menahan emosinya. ‘’Baiklah aku buta fashion, apa kamu puas!’’ sarkas Queen mnenatap Robert dengan tajam. ‘’Memang bisa dikatakan kamu buta fashion, kamu sedang bekerja bukan sedang di club malam. Dress codemu tidak cocok,’’ sindir Robert lagi. ‘’Aku tidak tau, Robert yang sekarang ini sedang memberikan kejutan padaku, sedang ngeprank, atau inilah sosok Robert yang sekarang, yang jelas kamu sudah melukai harga diriku.’’ Queen menatap Robert dengan sendu. ‘’Aku tidak pernah berubah, inilah diriku yang sebenarnya. Kamu hanya belum mengenalku saja,’’ jawab Robert dengan santai. ‘’Haruskah kamu bersikap seperti ini padaku? Di saat pertemuan kita yang pertama setelah sekian lama? Jika aku sudah menyinggungmu maka aku minta maaf, tapi sudah cukup untuk kamu menghinaku.’’ Queen tidak mampu lagi untuk menahan emosinya, ingin rasanya Queen untuk menampar pipi Robert sekarang juga. ‘’Aku bahkan tidak pernah berharap bertemu lagi denganmu,’’ jawab Robert cepat. Dan jawaban Robert membuat retakan di hati Queen semakin parah. Queen mencelos mendengar Robert yang menjawab dengan mudahnya. ‘’Apakah aku memiliki sebuah dosa yang tidak sengaja kepadamu di masa lalu? Hingga kamu bisa menjadi begitu berubah seperti ini padaku?’’ Queen tak lagi bisa menutupi kekecewaanya pada sikap Robert yang sekarang. ‘’Haruskah aku menjawabnya?’’ jawab Robert dengan tertawa meremehkan, seolah apa yang baru saja dirinya katakan itu adalah sebuah hal yang lucu. ‘’Apakah ini lucu bagimu, Robert?’’ ‘’Tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk sikapku padamu!’’ sarkas Robert setelah berhenti tertawa. ‘’Aku fikir kita bisa berteman dekat seperti dulu lagi, aku fikir kamu akan senang saat melihatku seperti aku yang begitu senang karena bisa bertemu kembali denganmu, namun ternyata aku terlalu besar kepala hingga berfikir seperti itu. Maaf jika di pertemuan pertama kita harus di awali dengan insiden yang tidak menyenangkan, aku dengan tulus meminta maaf untuk itu. Tapi Robert,aku tidak pernah menyangka jika kamu akan seberubah ini, fisik dan sikapmu.’’ Setetes air mata Queen terjatuh, dengan cepat Queen mengusapnya. Karena dirinya tidak mau terlihat lemah di hadapan Robert, sebab itu bisa menjadi alasan Robert untuk semakin menghinanya. "Asistenku benar, aku hanya membuang waktuku di sini," jawab Robert dengan mudahnya lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan Queen begitu saja dengan kata-kata pedasnya. Sebelum Robert meraih handle pintu, Robert menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik badan untuk menatap Queen yang sedang mengusap air matanya. ‘’Oh ya, aku akan menyelesaikan kasus ini dengan jalur hukum. Aku bukan orang sebaik itu, memaafkan kesalahan seseorang dengan mudah!’’ lalu Robert membuka pintu, dan menghilang dari pandangan mata Queen. Seperginya Robert, air mata Queen luruh dengan deras, karena Robert sudah tidak ada maka Queen tak lagi menahan laju air matanya. Sikap Robert benar-benar telah melukai hatinya, Queen tidak pernah menyangka jika Robert akan berubah menjadi seperti ini. Maka biarlah Queen menangis untuk sekarang. Namun di masa yang akan datang, Queen tidak akan mau lagi menangis untuk Robert, sudah cukup Queen sakit hati hari ini, Queen hanya ingin melampiaskan segalanya hari ini dengan air mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD