Setahun setelah jadi sarjana ...
Rutinitas harianku masih sama pagi ini seperti pagi sebelumnya, bangun tidur, mandi dan persiapan untuk berangkat kerja. Jarak yang lumayan jauh dari rumah sederhanaku dengan tempat kerja memaksaku harus berangkat lebih pagi. Tak jarang aku melewatkan sarapan kala dikejar waktu agar tidak terlambat sampai ke kantor. Aku tentu saja tidak mau sampai dipecat jika sering datang telat. Sejak menerima ijazah aku memang tidak menerima kiriman uang lagi dari tante Astari. Tidak apa-apa juga sih, karena bahkan sebelum aku lulus kuliah aku sudah berusaha mencari tambahan uang sendiri dengan menerima jasa laundry kiloan di rumah. Tidak kukerjakan sendiri tapi bersama nek Romlah, adik mendiang nenekku yang juga hidup sebatang kara karena tidak pernah menikah. Sebenarnya kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Aku hanya pernah kenal namanya saja. Pertemuan kami terjadi saat aku kembali pulang kampung dan berniat menjual tanah dan rumah gubuk peninggalan Ayah dan nenekku. Nek Romlah yang kebetulan punya tanah juga di dekat rumah kami tiba -tiba saja mengajukan diri untuk ikut menjual tanahnya yang juga tidak seberapa jika aku bersedia menampung dirinya. Wanita tua itu beralasan tidak mau kembali ke perantauan karena sudah tua dan tidak sanggup lagi bekerja kasar di pabrik. Aku jelas terenyuh mendengar kisahnya. Lebih terharu lagi saat merasa kalau Tuhan sengaja mengirimnya padaku agar aku tidak merasa sendirian lagi. Benar saja, kami begitu cepat akrab dan saling menggantungkan hidup.
" Sarapan dulu, nanti masuk angin lagi." ucapan bernada omelan dari nek Romlah menyambutku di meja makan. Di depanku sudah terhidang nasi goreng kampung kesukaanku. Padahal aku sudah sering mengingatkan nenek untuk tidak usah repot- repot ke dapur pagi hari tapi dia tetap saja melakukannya meskipun dia sendiri tidak pernah sarapan kecuali cuma minum teh saja. Aku tahu dia melakukannya demi aku yang punya kebiasaan sebaliknya, telat makan sebentar saja langsung masuk angin. Tahu gampang masuk angin tak membuatku lebih teratur, aku masih saja sering melewatkan sarapan karena diburu waktu. Kebiasaan burukku itu dipicu karena selalu tidur lagi setelah subuhan. Mataku tidak bisa diajak kompromi karena sering begadang setelah marathon nonton drakor.
" bawa bekal aja." ucapku sebelum meminum seteguk teh dari cangkir besar nek Romlah.
Tanpa bicara nek Romlah mengeluarkan kotak bekal dari lemari dan memindahkan nasi goreng dari piring ke kotak tersebut.
" Nanti pasti dingin dan kurang enak." omelnya membuatku tersenyum.
" Enak kok, masakan nenek kan selalu enak." ucapku merayu.
Nek Romlah cemberut sadar sedang kugoda.
" Benaran .... Dira suka aja nggak ada bedanya saat hangat maupun dingin." ucapku jujur yang tentu saja membuat nenekku tersenyum senang.
" Sudah, jangan bicara terus nanti terlambat lagi... sudah dibangunin berulang kali kok ya nggak bangun- bangun."
Aku cuma tersenyum menanggapinya. Jika orang lain benci saat diomeli oleh orang tua ataupun orang terdekatnya aku tidak merasa demikian. Selain karena selama ini selalu merasa kesepian, aku juga senang saat ada yang peduli padaku. Aku sadar kalau omelan nek Romlah semata demi kebaikan diriku sendiri. Untuk ukuran wanita yang tidak pernah menikah dan punya anak, sifat keibuannya sangat kental sekali. Darinya aku mendapatkan sosok Ibu dan nenek sekaligus. Nek Romlah bahkan tak jarang menyuapiku saat aku sedang malas makan. Bisa hidup dengannya membuat hidupku terasa lengkap. Kini, aku merasa tidak ada lagi yang kurang dalam hidupku. Punya rumah sendiri meski sangat sederhana, punya pekerjaan tetap dan yang paling penting punya sosok yang bisa kusebut keluarga, yang senantiasa menantiku saat pulang kerumah.
Setelah aku bekerja di kantoran, kami tidak menerima jasa cuci baju lagi. Penghasilanku sangat cukup untuk menghidupi kami berdua, bahkan selalu ada sisa uang yang bisa kami tabung karena kami merasa tidak perlu merubah gaya hidup walaupun tabunganku sudah lumayan meningkat setiap bulannya. Untuk mengisi kekosongan waktunya,nek Romlah membuat keripik dan kue kering yang dia titipkan di dua toko yang ada disekitaran perumahan. Hasilnya sangat membantu untuk membeli lauk pauk harian kami. Rejeki selalu saja datang saat kita terus berusaha menjemputnya. Aku juga tidak gengsi untuk membawa cemilan buatan nek Romlah ke kantor jika ada teman kantorku yang pesan.
" Nek, ingat kan kalau pesanan kue kak Wati mau diambil nanti siang? " tanyaku mengingatkan sebelum keluar rumah. Atasanku di kantor akan mengadakan syukuran kehamilan anak keduanya makanya dia memesan kue dariku setelah beberapa kali memesan dalam ukuran kecil.
" Ingat...cepat berangkat sana."
" Oke la." jawabku cepat sambil mengambil tangannya untuk aku salami," Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam... hati-hati."
#
Kantor tempatku bekerja bukanlah kantor besar yang terlalu sibuk tapi bukan juga kantor kecil yang cuma diisi oleh beberapa orang staf saja. Jumlah karyawannya mencapai ratusan orang tapi jarang berkumpul di tempat yang sama pada waktu yang sama. Seringnya lebih dari separuh karyawan menyebar ke berbagai proyek yang tersebar di seluruh penjuru kabupaten maupun provinsi. Hanya di waktu tertentu saja semuanya berkumpul dan saling bertegur sapa. Selebihnya di waktu normal begini hanya ada sekitar dua puluh orang termasuk manager dan kepala bagian yang berada di kantor. Suasana kantor masih lengang saat aku datang. Hanya ada beberapa orang saja yang sudah standbye di belakang meja kerjanya.
" Dira, sebelum berangkat ke acara kak Wati tolong selesaikan dulu laporan yang semalam diminta bos ya." pinta bang Sony padaku.
" Oke bang, langsung eksekusi." jawabku sambil menyalakan perangkat komputerku.
Sesantai itulah suasana dilingkungan kantor kami. Nyaris tidak pernah ada drama - drama seperti di layar kaca. Disini kami dibiasakan untuk saling bekerja sama dan memupuk suasana kekeluargaan. Untungnya semuanya tidak ada yang ingin menonjolkan diri dengan menjatuhkan orang lain. Masalah datang hanya dari pihak luar yang menjadi joinan dalam melaksanakan proyek bersama. Kalau konflik internal selalu bisa diselesaikan dengan cara yang baik mengingat yang punya perusahaan turut andil bekerja secara langsung dengan kami dan orangnya sangat santai sekali. Tidak jarang bos muda mengajak kami bekerja sambil ngobrol ringan ataupun makan bersama. Lembur di kantor tuh tidak jadi momok bagi para pekerja. Selain karena jarang terjadi, juga karena selalu disuguhi dengan makanan enak yang memanjakan lidah.
Selain tidak punya sifat ngebossy, bos muda juga sangat suka guyub dengan kami. Sifat dan sikapnya yang baik membuat kami bekerja dengan sepenuh hati. Khusus bagiku yang berjenis kelamin perempuan lebih longgar lagi. Tidak pernah ada kalimat bernada tinggi maupun kata kasar yang terucap dari mulutnya seperti yang pernah terlontar pada orang lain, itupun cuma sesekali yang kadar keteledorannya memang sulit untuk ditoleransi.
Tapi bagiku pribadi, karena mendapatkan perlakuan yang baik justru memacuku untuk lebih loyal lagi pada perusahaan.
" Dir, nanti berangkat bareng siapa? " tanya mbak Wulan dari mejanya yang ada di pojokan.
" Belum tahu, mbak." jawabku tanpa melepaskan fokus dari deretan angka- angka yang sedang aku input," mbak Ulan sama siapa?" tanyaku balik tahu motornya masih di bengkel.
" Belum tahu juga, kira -kira bos ikut nggak ya?"
Aku mengangkat bahu sebagai respon," Mungkin berangkat, mbak Fatia kan cukup dekat dengan kak Wati." mbak Fatia adalah isteri bos muda yang bernama Ferdinan. Berbeda dengan bos muda__ karena big bos kami adalah ayahnya Tuan Yudha, juga bos satu yang adalah anak sulung yang bernama Fabian yang jarang membawa pasangannya ke kantor, bos muda seringkali membawa isteri dan anak semata wayangnya. Tidak seperti bos muda yang gampang akrab dengan semua karyawannya, mbak Fatia__ begitu dia minta dipanggil, tidak akrab dengan semua orang. Bahkan dengan kami para wanita yang cuma berjumlah lima orang. Hanya dengan kak Wati saja dia akrab. Selain karena seumuran mungkin juga karena kak Wati yang jabatannya paling senior dibandingkan kami.
" mbak Ulan mau nebeng ya?" tanya Reina membaca arah pertanyaan mbak Wulan.
" Nggak usah nyari masalah. mending nanti kita nyari tebengan aja." Bukan mbak Wulan yang menjawab tapi mbok Karmi yang baru masuk mengantarkan kopi ke meja kami semua. Mbok Karmi bukanlah staff kantor seperti kami. Dia adalah pesuruh disini tapi seperti yang aku bilang tadi, di sini semuanya sangat kekeluargaan makanya mbok Karmi yang lebih tua bisa menasehati kami begitu saja.
" Soni, kamu bisa minjam mobil sama bos,kan?" tanya mbok Karmi sontak membuat kening kami berkerut.
" Bisa mbok." jawab Soni yakin.
" Masa kita naik pick up, mbok?" protes Rheina.
Lokasi kantor kami memang agak jauh dari pemukiman sehingga tidak ada angkutan umum yang lewat. Rumah kak Wati juga berada di perumahan yang baru dibangun jadi belum ada akses yang mudah kesana selain kendaraan pribadi.
" Kamu gengsi ya..?" tanya Yudi yang sejak tadi menyimak saja.
" Bukan gengsi ya, tapi panas." jawab Reina tidak terima tuduhan Yudi.
" Kitakan berangkat sore udah nggak panas lagi." mbok Karmi kekeh dengan argumennya.
" Dir, kita naik ojek aja yuk?" rengeknya padaku.
Bisa sih naik ojek tapi harus nelfon ke pangkalannya dulu dan itu pasti dikenakan biaya tambahan mana ke rumah kak Wati lumayan jauh.
" Bareng yang lain aja lah." jawabku mendapat reaksi berbeda dari Reina dan kubu yang lainnya.
" Ya kamu nggak asik... pelit amat sama diri sendiri." sindirnya yang kutanggapi dengan ketawa.
" Dira tuh nggak pelit tapi punya perhitungan, mikirin masa depan." bela bang Soni," memangnya kamu mau jadi b***k korporat seumur hidup?"
" Duh yang punya tabungan banyak sok menasehati," jawab Reina," memangnya siapa sih yang suka cod disini?"
Telak! bang Soni pasti kena telak dengan ucapan Reina yang tepat sasaran. Bang Soni memang sering banget belanja online dengan sistem cod dan tak jarang kami yang harus menalangi duluan disaat dia tugas keluar kantor bahkan di penghujung bulan tak jarang harus ditalangi sampai gajian. Semua kami pernah dimintai tolong olehnya. Beruntung dia belum menikah jadi tidak ada yang jadi korban karena kecanduannya tersebut.
" Ayuklah Dir..." Reina masih saja merengek padaku.
" nggak ah... enak bareng- bareng saja sambil cerita-cerita." tolakku yang sebenarnya tidak enak pada yang lain. Tak apalah naik mobil pick up sesekali sekalian merasakan pengalaman yang berbeda. Toh perginya rombongan juga.
" Jadi gimana? kamu tetap mau pesan ojek?"
" nggak," jawab Reina malas," terpaksa naik mobil bak palingan cuma disorakin bocah aja" rungutnya.
" Kalau kamu berani coba aja minta tebengan sama si bos." usul Yudi yang langsung mendapatkan delikan dari Reina dan mbok Karmi.
Kami semua tahu betapa sensinya hubungan keduanya. Sebenarnya masalahnya sepele saja tapi kadung jadi nggak enakan karena Reina yang centil suka godain bos muda dan sering diladenin oleh si bos karena keduanya memang sama- sama doyan bercanda. Tapi yang namanya seorang isteri pastinya tidak akan suka melihat suaminya terlalu dekat dengan wanita lain.
Begitulah suasana kerja yang aku jalanin setahun belakangan ini.... santai dan nyaris tak pernah ada masalah berarti sampai pada suatu waktu, ketenangan yang baru aku nikmatin harus terampas dengan datangnya berita dari negeri yang nun jauh disana... dari seseorang yang namanya sudah aku kuburkan dan tak mau aku ingat- ingat lagi...
Tante Astari datang menuntut balik semua uang yang telah dia berikan selama ini. Biaya yang telah dia keluarkan untuk menghidupiku sepanjang hampir delapan tahun belakangan...
Bersambung...