Bab 3

1622 Words
Dira merasa masih dalam dunia mimpi sejak beberapa hari belakangan. Dimulai dari kedatangan Astari yang tiba- tiba hingga statusnya yang berganti sekejap mata. Acara pernikahan yang bak royal wedding sampai dirinya yang terduduk diam seperti orang linglung di sudut kamar di rumah peristirahatan keluarga wolverstone. Para tamu pernikahannya bahkan belum pulang semuanya saat dirinya dibawa menepi ke villa ini. Hunian yang tak kalah mewahnya dengan tempat berlangsungnya pesta yang memang diadakan dikediaman keluarga Wolverstone yang sebelumnya memang pernah dikunjungi oleh Dira saat tinggal bersama Astari dulu. Dira pernah terpaksa diajak oleh Astari kesana karena didesak oleh tante Dewi saat ada acara halal bi halal disana. Cuma sekali itu Dira kesana dan itupun cuma sampai ruang tamu saja. Berbeda dengan Laura yang langsung menghilang bersama Zachary ke bagian dalam rumah. Sebenarnya tante Dewi menyuruh anaknya, Zach,untuk mengajak Dira juga agar bisa bermain bersama mereka tapi raut penolakan dari keduanya membuat Dira sadar diri dengan menolak secara halus. Dira memilih duduk sendirian menunggu acara selesai. Dira kembali mengingat interaksi singkatnya selama ini dengan pria yang sekarang telah sah menjadi suaminya itu. Mereka tidak pernah berbicara sebelumnya. Hanya sapaan singkat yang mereka lakukan saat bertemu setiap kali ada acara entah di kedutaan ataupun di kediaman mereka sendiri. Zachary yang Dira ingat adalah pacar Laura. Hanya itu, makanya Dira tidak mau mengakrabkan diri dengan pria yang nota bene masih keturunan Indo tersebut. Meski Zachary bisa berbahasa Indonesia namun Dira tetap menyapanya dalam bahasa inggris agar Laura yang tidak mengerti jangan sampai tersinggung padanya. Pria itu juga melakukan hal yang serupa. Hanya mengucap "hai" atau sekedar melempar senyum tipis kala bertemu maka tidak heran kalau Dira tidak bisa menemukan clue yang tepat kenapa dia mau menikah dengan dirinya meski hanya sebagai pengganti semata. Tidak ada yang memberikan alasan yang sebenarnya sangat ingin Dira dengar tapi mungkin tidak ada satupun yang merasa perlu menjelaskan padanya. Dira merasa dirinya lebih menyedihkan daripada sebuah boneka.Ada tapi tidak dianggap hidup. Selanjutnya entah nasib seperti apa yang harus ia jalani. Jika selama ini Dira merasa merasa sudah sangat tidak berarti karena diabaikan oleh Ibunya sendiri kini rasanya dirinya semakin tidak ada harganya lagi. Dira menahan perasaannya lebih kuat lagi saat air matanya hampir menetes. Menangis hanya akan membuat dirinya semakin menyedihkan saja padahal tidak ada juga yang akan peduli. 'Dira, telan aja kesedihanmu' lafasnya dalam hati. Dira juga teringat pada neneknya yang terpaksa ia tinggalkan sendirian karena tidak mungkin untuk diajak melakukan perjalanan jauh. Wanita tua itu pasti sangat mengkhawatirkan keadaannya sekarang karena Dira tidak bisa membohongi tujuan kepergiaannya yang begitu mendadak. Suara pintu yang dibuka dan kembali ditutup memaksa Dira untuk menoleh. Pria itu, yang masih mengenakan tuksedo yang dipakainya sejak tadi pagi masuk dengan perlahan. Tatapannya terarah lurus pada Dira. Suasana canggung mulai terasa diantara mereka. Sejak kedatangan Dira, belum pernah sekalipun mereka berada didalam ruangan yang sama cuma berdua, selalu ada orang lain bersama mereka. Dipertemuan pertama, selain ada kedua orang tua Zachary ada juga tante Astari dan suaminya. Setelahnya selama fitting baju selalu ada orang dari Wo yang mendampingi. Keadaan tersebut justru disyukuri oleh Dira yang tidak tahu harus bersikap bagaimana dihadapan Zachary. Dibilang orang asing kurang tepat juga tapi sungguh Dira tidak mengenali orang seperti apa yang baru ia nikahi. " Aku mau ganti baju dulu, nanti kita bicara." ucap Zachary pelan. Dira mengangguk tak kalah pelannya. Mereka memang harus bicara. Dira sudah cukup sabar dalam menunggu penjelasan dari pria itu. Entah pernikahan seperti apa yang akan dia tawarkan padanya. Dira harus segera mengetahuinya agar dirinya setidaknya bisa sedikit bernafas lega dan tidur dengan benar. Sejak berita itu datang, dan Dira dipaksa menerima serta langsung terbang bersama Astari, tidak ada lagi tidur nyenyak dalam hidup Dira. Siang dan malam dilewatinya dengan sibuk berfikir keras yang membuat kepalanya nyaris berasap namun tetap saja tak ada jawaban yang ia dapatkan. Kurang dari lima belas menit, Zachary sudah kembali dari kamar mandi yang merangkap dengan closet. " Sebaiknya kita bicara disana," tunjuk Zachary pada sofa set yang ada di sudut kamar. Dira menurut saja. Dimanapun tidak masalah yang penting rasa penasarannya segera terjawab. " Jadi perjanjian seperti apa yang akan kamu tawarkan dalam pernikahan ini?" tanya Dira tanpa basa basi. Tidak mungkinkan tidak akan ada perjanjian didalamnya. Seorang pria mapan dari kalangan atas tidak mungkin akan menjalani sepanjang usianya dengan seorang wanita biasa seperti dirinya. Raut wajah Zachary sedikit berubah mendengarnya. Tampak tidak menduga akan ditanyai seperti itu dimalam pertama mereka. " sebenarnya aku juga ingin bertanya alasanmu kenapa pernikahan ini sampai terjadi. Tapi jika kamu merasa tidak perlu menjawabnya juga tidak apa-apa, cukup katakan saja apa yang harus aku lakukan selama kita menikah dan apa hak yang bisa ku terima." " Aku bisa menjawab semua pertanyaanmu. Tapi aku juga tidak mau melewatkan malam pertama kita hanya dengan bercerita saja." Kedua alis Dira berkerut. Tak menyangka jawaban seperti itu yang akan diterimanya. Jangan bilang kalau mereka akan melakukan ritual malam pertama seperti pasangan pengantin baru pada umumnya. " Hal yang perlu kamu lakukan sekarang adalah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana kita bisa keluar dari kekacauan ini." Zachary tersenyum," ternyata kamu cerewet juga, apa ini sisimu yang sebenarnya?" Wajar Zachary merasa heran karena selama ini Dira tidak pernah terlihat berbicara dengan siapapun. " Jangan mengalihkan pembicaraan," sebut Dira," tadi bukannya kamu yang menawarkan kita untuk bicara? dan kita memang perlu untuk bicara sekarang," " Kamu benar... kita memang akan membicarakan segalanya tapi tidak harus sekarang juga." Zachary sengaja memancing Dira agar wanita itu bisa sedikit membuka dirinya," kita punya banyak waktu untuk bicara,Dira. sepanjang pernikahan kita." Dira sempat tertegun saat mendengar Zachary menyebut namanya, rasanya ini pertama kalinya namanya disebut pria itu selain saat ijab kabul tadi pagi tentunya. " Sebenarnya kamu niat nggak sih?" Jelas sekali kalau Dira mudah terpancing emosinya tapi kenapa selama ini seperti selalu menahan diri? " kenapa semua orang bersekutu ingin mempermainkan hidupku? apa sebenarnya yang kalian sembunyikan??" " Sepertinya tantemu tidak menjelaskan dengan baik padamu." " Anggap saja begitu, oleh karena itu aku meminta penjelasan darimu? bukankah sangat aneh rasanya dizaman modern seperti ini masih saja terjadi pernikahan seperti yang kita alami ini... kau bahkan lebih lama hidup di negara maju ini ketimbang denganku." Zachary menarik nafas panjang. Nampaknya tidak akan mudah menjelaskan pada wanita yang baru berubah status menjadi isterinya ini. Wajar sekali jika dia menuntutnya sekarang. Pasti dia sudah bersabar hingga semua acara selesai. " Akan aku ceritakan dengan singkat dan jelas padamu, Nadira." " Aku siap mendengarkan lebih lama dari yang kau bayangkan." potong Dira cepat. " Aku yang tidak mau berlama-lama membahasnya." Dira bertanya lewat sorot matanya. " Kita tidak mungkin bercerita sepanjang malamkan? Kita ini pengantin baru." Pipi Dira tidak bisa tidak merona mendengarnya. Tapi.... " Apa kau tipe yang mau tidur dengan wanita yang tidak kau cintai?" tanya Dira penuh selidik," tentu saja bisa... kenapa juga aku mesti bertanya." Dira mengutuk pertanyaan bodohnya. " Kenapa kau gampang menyimpulkan sendiri? aku tidak sebejat itu. Aku ini masih memegang adab ketimuran dengan baik." Ucap Zachary tegas membuat Dira tertegun sejenak. " Membatalkan pernikahan ini tidak semudah yang kau bayangkan. Selain nama baik keluarga Wolverstone dan de Brigh yang akan hancur karena skandal yang pastinya akan digoreng terus-terusan banyak juga kerugian dari segi bisnis. Bukan hanya bisnis keluarga kami tapi juga reputasi serta status ibu kandungmu akan terus dipertanyakan." Dira menarik nafas panjang. Tentu saja Dira tahu kalau alasan dirinya terjebak disini juga untuk menyelamatkan ibunya. " kamu pasti sangat terkejut kalau dirimu tahu berapa banyak keuntungan yang telah diterima oleh keluarga de Brigh dengan adanya pernikahan ini. walaupun mungkin mereka bisa membayarnya dengan menjual semua aset mereka tapi tentu saja ibumu tidak akan mau." Dua kali Zachary menekankan tentang ibunya. Berarti Zachary sudah tahu kalau Astari adalah ibunya bukan tante. " skandal bisa menghancurkan segalanya." " karena itu kalian lebih memilih menghancurkan hidupku?" tanya Dira getir. " Bukan seperti itu..." sangkal Zachary cepat. " Lantas seperti apa?" desak Dira sambil melotot gusar. Zachary meraih tangan Dira untuk digenggam namun ditepis dengan cepat olehnya. Zachary sontak menyadari kesalahannya yang terbawa suasana untuk meyakinkan Dira. " Pernikahan kita mungkin tidak biasa tapi aku tetap masih percaya kalau jodoh sudah diatur dari atas sana." Dira menatap Zachary tak percaya. " Kita sudah menikah sekarang adalah takdir yang harus kita jalani dengan sebaik- baiknya jadi tidak bisakah kita bekerja sama untuk membuat hidup kita kedepannya menjadi lebih mudah." " maksudmu apa? lebih mudah buatmu bukan berarti mudah juga bagiku." " Aku ingin kita tidak berpura- pura menjalani pernikahan ini tapi sebaliknya. Mari kita lupakan alasan dibelakangnya dengan melihat kedepan saja." " Bukannya itu terdengar terlalu mudah? apa masuk akal bagimu? Harusnya dirimu lebih cocok untuk patah hati dan menolak kehadiranku disini." Zachary tersenyum tipis," aku ini orangnya sangat simple, kalau memang dia tidak mau bersamaku lagi masa iya aku paksa. Biarkan saja dia pergi, bagiku lebih penting untuk menjalani hubungan yang sudah pasti saja. Kita ini pasangan yang sah didepan agama dan negara." Sulit dipercaya apa yang diucapkan oleh Zachary adalah sebuah kebenaran yang datang dari hatinya namun tak urung memberikan harapan tersendiri bagi Dira. Mungkinkah Zachary memang jodoh yang memang sudah digariskan oleh Tuhan buatnya? Tetap saja sulit untuk dipercaya! " Aku berjanji untuk menjalani pernikahan kita sebagai mana mestinya, apakah kamu juga mau melakukan hal yang sama?" " Tapi apakah kita bisa melakukannya?" tanya Dira terdengar ambigu. " Maksudku hubungan kita ini." ralatnya cepat. Zachary kembali tersenyum tipis. Apa selama ini Zachary memang suka tersenyum dan seramah ini? " Tentu saja kita bisa kalau kita mau dan bersepakat." jawabnya," Aku bahkan merasa senang bisa mengenalmu lebih jauh. kamu ternyata juga tidak sependiam seperti yang kukira selama ini." Dira kembali tertegun. Benarkah dirinya seorang pendiam? Rasanya Dira bukanlah sosok pendiam hanya saja Dira cuma bisa banyak bicara pada orang terdekatnya saja. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD