Abian sedang berada di sebuah club bersama Refan dan istrinya yang tentu bersahabat dengan Winny sambil asik bercakap- cakap tentang beberapa hal.
" Kamu lihat mereka berdua, kalau mereka udah ngobrol, aku udah nggak akan ada artinya lagi." ujar Refan yang sejak tadi merasa diacuhkan oleh sang istri yang tidak menjawab pertanyaannya.
" Biarin aja. Lagian kenapa nggak ngasih tahu kalau Winny juga ada?" bisik Abian.
" Sorry..." jawab Refan tersenyum usil.
" Sekali lagi loe kayak gini, gue bakalan nggak mau lagi keluar sama loe!"
" Easy boss... Relax... Calm down..." ejek Refan yang langsung mendapat tatapan sinis dari Abian yang meneguk minumannya.
Abian lalu mengedarkan pandangan sekitarnya dan merasa sudah sangat bosan ketika tatapan matanya tertuju pada seorang gadis berambut panjang dengan warna coklat tua pekat nampak sedang duduk dengan beberapa orang wanita.
Abian semakin memperhatikan wanita tersebut yang kini sedang memakai dress kantoran motif kotak-kotak hijau tua hingga diatas lututnya dan itu mengingatkannya pada sosok wanita yang sejak tadi mengganggu pikirannya hingga memutuskan menerima ajakan Refan saat ini.
" Tunggu sebentar" ucap Abian langsung berdiri yang membuat Refan, Lisa istrinya, dan juga Winny nampak terkejut dan heran.
" Mau kemana?" tanya mereka hampir bersamaan namun tetap tidak membuat Abian menghentikan langkahnya.
Abian lalu menghentikan langkahnya tepat di balik punggung wanita yang sedang asik duduk bersama teman- temannya dan dengan ragu sedikit menyentuh pundaknya dengan sopan.
Wanita tersebut lalu menoleh dan menatap Abian dengan heran.
" Ada apa ya?" tanya wanita tersebut.
" Oh maaf, saya kira teman saya" jawab Abian singkat dan langsung memutar tubuhnya dan berjalan kembali ke mejanya semula sebelum wanita tersebut salah paham.
" Ada apa sih, Bi?" tanya Winny heran menatap Abian dan wanita tadi secara bergantian.
" Aku salah orang" jawab Abian singkat.
" Sorry, aku duluan ya. Ref, sampai ketemu besok. Win, Lis... Aku duluan." lanjut Abian lalu mengambil jaket miliknya dan berjalan meninggalkan mereka bertiga yang tanpa Abian sadari membuat Winny menatap ke arah wanita tadi dengan sinis.
***
Kiran duduk bersandar di tempat tidurnya sambil memikirkan kejadian pagi tadi di kantornya yang kini ia sesali.
" Ya ampun Kiran... Memangnya kamu kenapa sih nggak bisa diam aja? Memangnya kamu rugi apa kalau tutup mulut aja? Sok tau banget! Sekarang kamu bahkan nggak tahu apa masih punya kerjaan atau nggak. Gimana kalau pak Bian bener- bener tersinggung dengan omongan dan tingkah kamu hari ini? Aaaargghhhhh..." ucap Kiran seorang diri.
Disaat yang sama di tempat yang lainnya, Abian juga nampak menyesali kejadian tersebut dan terus memikirkan ucapan Kiran padanya. Abian lalu menepikan mobil yang ia kendarai dan mengambil ponselnya untuk menelepon wanita tersebut secepatnya.
Kiran yang melihat nama Abian yang muncul di layar ponselnya langsung mengangkatnya dengan hati- hati.
" Halo" sapa Abian.
" Ha... Halo pak"
" Kiran, saya nggak suka cara kamu!" ucap Abian tegas.
" Yang... Yang mana pak? Apa yang saya lakukan?" tanya Kiran sopan.
" Menutup pintu dengan keras, bersikap semau kamu dan pergi begitu saja. Itu sangat nggak sopan!" Abian mengungkapkan perasaan yang sejak tadi mengganggunya.
" Pak Abian, saya tahu saya salah." ujar Kiran menyesal.
"Saya minta maaf. Tapi saat bapak bicara begitu soal seorang perempuan yang sedang berjuang sendiri---"
" Kamu masih membahas masalah itu! Kenapa saya harus peduli soal ibu itu?!" Abian mulai kesal lagi karena Kiran kembali mengungkit masalah ibu Elly.
Kiran hanya terdiam mendengar nada bicara Abian yang mulai terdengar meninggi. Ia sadar jika seharusnya ia tidak membela diri dulu saat ia baru saja meminta maaf kepada Abian atas ketidaksopanannya. Terlebih lagi Abian adalah atasannya.
Abian sendiri menyadari jika Kiran terdiam dan membuatnya juga menyesal telah meninggikan suaranya.
" Dengar, masalah asisten kamu itu tanggung jawab kamu sepenuhnya. Tapi saya tidak akan mau menerima kesalahan kecil apapun dari kamu, terlebih dari asisten kamu. Dan kita tidak akan pernah membahas ini lagi." tutur Abian melembut dan membuat mata Kiran seketika berbinar karena bahagia. Ia tahu maksud pembicaraan Abian saat ini.
" Baik, Pak Bian. Saya tidak akan membuat bapak menyesali hal ini." ujar Kiran girang dengan wajah bahagia. Dan mendengar itu, hati Abian pun ikut melega.
" Kita lihat saja nanti"
" Pak Abian..." panggil Kiran dengan sopan.
" Ya..."
" Terima kasih. Terima kasih banyak. Terima kasih sudah memaafkan saya."
Tanpa sadar ucapan Kiran tersebut membuat Abian nampak tersipu malu.
" Besok datang lebih cepat. Jangan sampai terlambat" ucap Abian akhirnya untuk menutupi kecanggungannya.
" Tentu pak. Selamat malam, pak Bian"
" Selamat malam." ucap Abian yang langsung menggelengkan kepala dengan mengulum senyumannya. Begitu cepat moodnya berubah hanya karena sang karyawan baru.
***
" Lalu berkas yang saya minta?" tanya Abian pada Ivy yang nampak sedang mengetikkan sesuatu di layar laptopnya.
" Ini berkas utamanya pak. File pendukungnya ada di meja saya dan sudah saya minta untuk dibawa kesini." jawab Kiran ketika Ivy nampak sibuk mencari data yang Abian minta dalam pertemuan mereka.
" Kalian sudah membaca file ini sebelum saya. Kalian sudah mempelajarinya sebelum file ini sampai ke meja saya! Tapi kenapa, kenapa sampai hari ini, proyek ini bahkan belum bergerak? Kenapa bisa ada penundaan? Kalian follow up atau tidak?" ujar Abian marah.
" Pak, perkiraan penundaan hanya dua hari karena jalanan menuju proyek sedang banyak pohon tumbang."
" Apa? Perkiraan? Hanya dua hari?!" semprot Abian pada salah satu karyawan yang dibawah tanggung jawab Refan.
" Refan, kamu briefing kembali anak buah kamu. Saya tidak suka orang yang menganggap remeh penundaan pekerjaannya. Saya menggaji dia bukan untuk santai hanya dalam dua hari"
Sang karyawan langsung tertunduk akan tatapan dan ucapan menohok dari Abian.
" Jangan khawatir pak, selama dua hari itu akan saya follow up dan kalau perlu saya akan suruh orang untuk kesana" ujar Refan menenangkan Abian yang memang paling tidak menyukai jika seseorang menganggap remeh kepanikannya.
Tok Tok
" Masuk!" seru Abian.
Ibu Elly lalu membuka pintu dan berdiri di balik pintu tersebut dengan beberapa tumpukan ordner di kedua tangannya.
" Saya... Ini file yang diminta" ucap Ibu Elly gugup karena sadar atmosfir ketegangan di dalam ruangan tersebut.
" Oh, itu file saya pak." seru Kiran yang langsung memberikan isyarat pada Ibu Elly untuk mendekat dan meletakkannya di atas meja karena pada saat ini Ivy juga sedang menunjukkan sesuatu di layar laptopnya sebelum ia mencetaknya.
Ibu Elly lalu melangkah dengan cepat dan meletakkan tumpukan ordner tersebut di samping Kiran dengan gugup karena mata Abian bagai mengikuti setiap gerakannya.
" Makasih, bu" ucap Kiran.
" Kalau sudah selesai silahkan---"
Karena gugup dan terkejut dengan suara Abian yang tiba- tiba, ibu Elly mempercepat gerakannya hingga tidak sengaja menyentuh gelas kopi milik Kiran dan membuat isinya tertumpah ke atas file yang baru saja Ivy cetak.
" Astaga..." ucap Ivy terkejut dan membuat Kiran sontak berdiri dan mengambil tissue untuk membersihkan kopi tersebut sebelum membasahi file yang lainnya.
" Maaf mbak... Maaf..." ucap Ibu Elly panik.
" Nggak apa- apa bu. Biar saya aja" jawab Kiran sambil menatap sekilas kepada Abian yang kini nampak sangat marah dan membanting berkas yang sejak tadi ada di tangannya ke atas meja dan membuat Kiran tersontak kaget.
" Kamu ke ruangan saya!" ucap Abian menatap Kiran dengan tegas lalu berjalan meninggalkan ruangan tersebut sambil menahan amarah.
Kiran lalu mengikuti Abian dengan cepat dan mempersiapkan dirinya untuk mendapatkan luapan amarah atasannya tersebut.
" Kiran, apa yang sudah saya bilang sama kamu? Ibu itu tidak cocok disini!. Tapi apa kamu bilang? Pak Abian, kita harus ngasih dia kesempatan." tutur Abian sambil berkacak pinggang dengan serius dan Kiran hanya mendengarkan atasannya tersebut.
"Saya nggak pernah ngasih kesempatan sama orang yang saya anggap nggak kompeten, tapi anehnya saya malah dengerin kata- kata kamu. Dan kamu lihat sekarang apa yang terjadi? Saya benar!"
" Tapi pak, asisten saya hanya numpahin kopi. Bukan mencuri apapun. Dan tadi dia juga hanya ketakutan sama pak Bian." jawab Kiran dengan sopan.
" Jadi saya harus nunggu seseorang mencuri dulu baru bisa saya pecat? Pemikiran macam apa itu?!"
" Bapak benar. Sangat benar. Tapi ibu Elly juga sudah berusaha keras, pak..."
" Berarti dia akan berusaha terus menerus. Kenapa? Karena dia nggak cocok disini."
" Tapi pak..."
" Kiran, saya sudah bilang, saya tidak menerima kesalahan kecil apapun dari asisten kamu. Karena sejak awal dia memang sudah tidak memenuhi syarat. Kita tidak bisa mempekerjakan orang yang tidak bisa bekerja. Kamu hanya menyiksa dia dan merugikan perusahaan. Dan ini adalah tanggung jawab kamu" tutur Abian lalu duduk di kursi kerjanya sambil membuka beberapa email penting.
" Apa bapak akan memecat ibu Elly?" tanya Kiran ragu.
" Tidak. Saya nggak akan memecat asisten kamu" jawab Abian sambil terus menatap layar komputernya.
Mendengar hal tersebut Kiran mengembuskan nafas perlahan karena lega.
" Tapi orang yang menerima dia yang akan memecat dia"
" Tapi pak... Bagaimana bisa saya mecat ibu itu pak?" ucap Kiran serius.
" Sama seperti cara kamu menerima dia kemarin. Dan ini sebagai pelajaran untuk kamu kalau keputusan dari perasaan yang tidak pada tempatnya itu bisa berakibat buruk."
" Ini hari terakhir saya melihat asisten kamu itu di kantor saya". sambung Abian dengan tegas.
" Baik pak"
" Kamu boleh pergi. Ingatkan saya untuk meeting nanti siang"
Kiran mengangguk lalu berjalan meninggalkan Abian.
***
" Mbak Kiran butuh sesuatu?" tanya ibu Elly sesaat setelah menerima pesan dari Kiran yang memintanya untuk datang.
" Nggak bu. Boleh saya bicara sebentar?" tanya Kiran dengan sopan. Jujur ia tidak tahu harus berbicara mulai dari mana.
" Ada apa mbak? Saya bikin salah lagi?"
" Bukan bu. Bukan begitu. Ibu duduk dulu." ujar Kiran sambil menarik kursi di sampingnya.
" Mbak dimarahin bapak lagi ya? Saya minta maaf soal tadi mbak. Saya benar- benar nggak sengaja. Pak Abian pasti marah besar." tanya Ibu Elly menebak ekspresi sendu dari Kiran.
" Nggak bu. Nggak apa- apa. Filenya bisa di cetak ulang kok."
" Syukurlah kalau gitu mbak"
" Bu... Ng... Hanya saja, mungkin kita tidak bisa lagi bekerja sama. Saya dengan berat hati harus melepaskan ibu. Saya minta maaf." ucap Kiran dengan tidak enak hati dan hal ini langsung membuat ibu Elly nampak lesu.
" Tapi ini bukan salah ibu. Bukan sama sekali. Ini salah saya. Saya membebani ibu terlalu banyak pekerjaan dan malah bikin ibu kerepotan. Saya minta maaf, bu"
" Tapi saya janji saya akan bertanggung jawab. Saya akan mencarikan ibu pekerjaan yang baru. Saya janji, bu"
Ibu Elly mencoba tersenyum dengan bijak dan mengangguk paham akan keadaan Kiran yang mungkin juga serba salah.
" Ini bukan salah mbak, kok. Malahan mbak Kiran sudah ngasih saya kesempatan dan mungkin hanya memang bukan rejeki saya."
" Maafin saya bu..."
" Udah, mbak. Nggak apa- apa. Boleh saya peluk mbak Kiran sebelum saya pulang?"
" Boleh, bu... Tentu aja boleh" ucap Kiran meneteskan air mata. Sungguh ia tidak tega dengan ibu Elly namun Abian juga benar jika ia terlalu memaksakan pekerjaan ini untuk wanita paruh baya tersebut.