" Jujur, ini pertama kalinya bapak kelihatan tertekan." ucap Kiran dengan jujur sambil membereskan bekas makanan Abian karena ia sendiri tidak merasa lapar.
Ia meletakkannya di sisi lain meja tamu Abian lalu kembali duduk berhadapan dengan sang atasan.
" Dan pastinya kamu bahagia. Ngaku aja..." ujar Abian sinis.
" Iya pak. Tapi bukan bahagia karena bapak merasa bersalah soal kejadian tadi. Tapi lebih ke untuk bapak sendiri. Ternyata bapak tidak... Yeah..." ucap Kiran tersenyum manis dan membuat Abian menatapnya lembut.
" Kejam? Saya tahu orang- orang menganggap saya seperti itu"
Kiran mengangguk dengan ragu masih dengan tersenyum.
" Bapak itu... Seperti orang yang suka sama binatang tapi tidak berniat untuk memelihara karena tahu kalau mereka akan mati suatu saat nanti." ucap Kiran dengan teori absurd nya yang entah datang darimana.
" Seperti orang yang takut bahagia hanya karena tidak ingin jatuh dan terpuruk suatu saat. Bapak seperti itu, menurut saya"
Abian lalu menatap Kiran penuh makna. Tidak pernah ada yang mengatakan hal ini kepadanya. Hal yang memang selama ini ia rasakan.
" Padahal nyatanya, sedih dan menangis itu alamiah. Sama seperti saat kita bahagia dan tertawa." lanjut Kiran hati- hati.
" Teori kamu juga?" ejek Abian.
" Tapi saya benar kan pak? Setiap kali bapak sedih, kecewa, cemas, bapak selalu bereaksi dengan marah- marah. Dan ba---" ucapan Kiran berhenti karena sadar ia sudah terlalu banyak bicara dan kini Abian nampak menatapnya dengan serius meski ia tak tahu apa yang atasannya sedang pikirkan.
" Apa saya bikin kamu kewalahan?" tanya Abian lembut dan memajukan sedikit tubuhnya yang sejak tadi duduk bersandar.
Kiran nampak menimbang- nimbang harus menjawab apa.
" Well, kalau harus saya kasih nilai sampai 10, saya akan kasih bapak nilai 19."
Abian nampak mengerutkan keningnya.
" Come on... Yang benar aja..."
" Sebenarnya saya mau kasih bapak nilai 20. Tapi saya kurangi jadi 19 karena sepertinya bapak berpotensi jadi baik. Dan semua bisa terjadi kan? Apalagi sekarang bapak sudah bisa senyum, bisa---"
Abian lalu tertawa mendengarnya dan Kiran pun menghentikan ucapannya karena ikut tersenyum. Ia lega karena kini sang atasan sudah nampak lebih baik atas kejadian hari ini.
Tawa Abian terhenti karena sadar Kiran berhasil membuatnya merasa lebih baik dan terhibur. Terlebih lagi gadis itu terlihat sangat cantik saat sedang tersenyum seperti saat ini.
" Ng... Pak Sinan akan baik- baik saja, dan Abian juga akan baik- baik saja." ucap Kiran tulus dan membuat Abian menatapnya intens namun lembut.
" Makasih. Really..." jawab Abian lembut.
" Sama- sama pak. Kalau begitu, saya pamit dulu."
" Oh ya. Besok sebelum ke kantor, saya akan mampir ke rumah sakit. Kalau bisa, kamu pesan---"
" Tadi saya sudah mengirim karangan bunga untuk pak Sinan dan menuliskan semoga cepat sembuh atas nama bapak."
Abian mengangguk paham.
" Bagus karena kamu mulai mengikuti pola kecepatan kerja saya"
" Yahh... Sebut saja saya mulai mengenal bapak." ujar Kiran sopan.
" Kamu hanya belum melihat semuanya. Saya tidak semudah yang kamu bisa atasi."
" Semoga saya masih bisa tetap bertahan pak"
" Oke. Selamat malam Kiran"
" Selamat malam pak Bian"
***
Abian sedang menerima panggilan telepon dari salah satu rekan bisnisnya sambil berjalan keluar dari lift sepulang dari rumah sakit. Ia nampak serius dan membalas salam beberapa karyawannya dengan anggukan sopan ketika pandangannya terhenti pada sosok seorang wanita yang menjatuhkan beberapa tumpukan berkas hingga membuat isinya berserakan di lantai dan membuat langkahnya terhenti.
" Dia siapa?" tanya Abian setelah memutuskan panggilan teleponnya dan bertanya kepada salah satu karyawan yang melintas di dekatnya.
" Oh, dia ibu Elly, pak. Asistennya mbak Kiran yang baru"
Seketika Abian nampak tidak senang terlebih lagi wanita berusia 40 tahunan tersebut nampak kesulitan untuk berjongkok dan memungut kertas- kertas miliknya.
" Ada lagi pak?" tanya karyawan tadi
" Tidak ada. Kamu boleh kembali bekerja"
" Baik pak."
Abian lalu berjalan dengan cepat menuju ruangannya dengan wajah yang nampak marah.
" Kiran, ke ruangan saya sekarang! Urgent!" ucapnya ketika berada tepat di deretan kubikel milik Kiran dan masih terus berjalan dengan gagah ke ruangannya.
" Apa lagi sih?" ucap Kiran sendiri lalu mengikuti sang atasan dengan langkah yang cepat.
" Selamat pagi pak" ucap Kiran ketika sudah berada di ruangan Abian yang juga baru masuk dan meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja.
Ia kemudian meletakkan kedua tangannya di atas meja masih dengan posisi berdiri.
" Pagi. Kiran, apa kamu tahu apa arti kata asisten?" tanya Abian serius.
" Ma... Maaf pak. Tapi saya tidak mengerti... Ada apa?" ucap Kiran ragu.
" Bukannya sudah saya kasih tahu untuk cari asisten yang qualified dan bisa membantu kamu? Benar kan?" tanya Abian serius.
" Iya pak. Saya sudah menemukan asisten"
" Oke. Saya sudah lihat"
" Lalu pak?" tanya Kiran karena masih tidak mengerti kemarahan Abian.
" Lalu apa yabg kamu mengerti soal karyawan yang qualified?"
Kiran dengan cepat berpikir maksud dari Abian dan kini ia mulai paham.
" Begini pak. Ibu Elly punya anak yang sakit. Suaminya sudah meninggal. Dia sangat butuh pekerjaan ini. Dan lagipula pekerjaan ini tidak terlalu sulit. Kalau bukan kita yang membantu dan kasih dia kesempatan, siapa lagi pak? Bagaimana dia bisa merawat anaknya?"
" Kiran, disini bukan lembaga amal atau dinas sosial. Ini tempat bekerja. Kamu nggak bisa membawa siapa saja orang- orang yang kamu kasihani. Apa untungnya sikap kamu yang terbawa perasaan kayak gini? Apa?! Sikap kamu ini hanya membuat kamu melakukan kesalahan. Contohnya ya ini" tutur Abian kesal dengan tangan menunjuk ke arah pintu ruangannya yang itu artinya adalah ibu Elly.
" Lalu saya harus bagaimana? Apa saya harus pura- pura tidak peka dan tidak berperasaan seperti bapak? Berpura- pura tidak merasakan apapun, tidak peduli apapun hanya karena takut terluka atau takut dirugikan?" jawab Kiran ikut tersulut emosinya.
Abian lalu menatap Kiran dengan dalam.
" Kamu sudah melewati batas" ucap Abian serius.
" Bapak selalu takut menolong orang lain. Tapi saya tahu bapak bukan orang yang seperti itu."
Abian menatap dalam pada mata indah besar milik Kiran yang selalu berani menatap matanya dengan berani. Ia tetap bertahan dengan pikiran dan teorinya tentang Abian.
" Kamu pikir kamu siapa? Kamu pikir sebaik apa kamu kenal sama saya? Gimana bisa kamu mengomentari dan menilai saya? Saya paham kamu seorang wanita muda berprinsip yang adil dan jujur. Tapi saya atasan kamu. Saya yang akan memutuskan batasan- batasan diantara kita."
Kiran menatap Abian semakin kesal. Jelas jika mereka berdua tidak saling memahami maksud satu sama lain.
" Dan kamu tahu, saya bukan teman kamu." lanjut Abian dengan tegas.
Kiran lalu menganggukkan kepalanya dengan menahan emosi. Ia tahu ia tidak bisa melawan Abian. Terlebih lagi, apa yang pria tersebut ucapkan memang benar.
" Tentu saja pak. Lagipula, bapak tidak mungkin menjadi teman saya."
" Silahkan renungkan kesalahan kamu. Dan pikirkan ucapan saya. Kamu akan mengerti suatu saat"
" Tidak perlu pak. Saya sudah mengerti semua maksud bapak tadi" ucap Kiran dengan tegas lalu berjalan menuju pintu ruangan Abian sambil menahan kesalnya.
" Saya belum bilang kamu boleh pergi"
Kiran menoleh sesaat.
" Saya tahu." jawab Kiran singkat lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Abian yang hanya bisa mengusap wajahnya dan menghembuskan nafas dengan kasar.
***
" Mbak Kiran, mbak dimarahin bapak ya?" tanya ibu Elly tiba- tiba ketika melihat Kiran duduk di kursi kerjanya namun hanya terlihat melamun dengan wajah yang sembab. Kiran sekuat tenaga menahan air matanya di depan Abian sejak tadi namun kini air mata itu perlahan turun di sudut matanya.
" Bu Elly..." ucap Kiran yang air matanya kini tertumpah dengan bebas hingga membuat ibu Elly memeluknya dengan penuh kelembutan.
" Mbak Kiran kenapa? Ada apa?" tanya ibu Elly sedikit panik melihat Kiran membalas pelukannya dengan erat.
" Ssshhh... Mbak mau cerita?" tanya ibu Elly lembut sambil mengusap rambut panjang Kiran dengan penuh rasa keibuan. Kiran pun hanya menggeleng dan nampak nyaman memeluk pinggang ibu Elly dengan manja.
Tepat disaat itu, Abian dan Refan berjalan melewati kubikel Kiran dan melihat pemandangan tersebut.
" Lama kelamaan kantor ini seperti tempat syuting telenovela." ucap Abian sinis sambil berjalan.
" Tapi kenapa dia nangis?" tanya Refan.
" Aku nggak suka perempuan yang menangis!" jawab Abian tegas.
" Kamu apain dia? Kamu pecat dia?" tanya Refan masih penasaran.
" Tidak"
" Lalu? Apa dia minta resign? Ada apa sih?"
" Tidak ada yang bisa meninggalkan perusahaan ini kalau saya tidak mengijinkannya, pak Refan." ucap Abian sambil mempercepat langkahnya menuju lift.
" Iya... Iya udah tahu"