Guilty

1350 Words
Kiran mengerutkan keningnya melihat Lena yang sedang sibuk membereskan meja kerja miliknya dengan raut wajah yang nampak sedih dan tidak sadar dengan kehadiran Kiran di sampingnya. " Len... Mau kemana? Kenapa meja kerja kamu kayak gini?" tanya Kiran heran. " Aku dipindahin ke kantor cabang lain Ki" jawab Lena sendu masih sambil memasukkan barang pribadinya ke dalam kotak besar. " Pindah? Kenapa? Kok tiba- tiba?" tanya Kiran lagi. " Aku bisa apa?" ujar Lena pasrah. Kiran lalu sadar jika ini pasti keputusan Abian lagi yang masih belum melupakan dan memaafkan Lena masalah plakat tempo hari. Kiran kemudian meletakkan tas miliknya lalu berjalan ke arah ruang kerja Abian dengan langkah cepat. Ia bahkan tidak memperdulikan sapaan Ivy yang melambai kepadanya dan langsung masuk ke dalam ruangan Abian tanpa mengetuk terlebih dahulu. " Kenapa bapak memindahkan Lena?" tanya Kiran langsung pada Abian yang nampak sedang mencari sebuah berkas di laci meja kerjanya. " Saya nggak dengar kamu mengetuk pintu" ucapnya. " Maaf. Tapi kenapa bapak memindahkan Lena? " ujar Kiran langsung pada intinya. " Iya, saya memang memindahkan dia di cabang yang ada di luar kota." jawab Abian santai kini ia membuka sebuah file masih tanpa menoleh pada Kiran yang kini berdiri di depan meja kerjanya. " Tapi kenapa pak?" Abian lalu mengangkat wajahnya menatap Kiran yang nampak kesal. " Apanya yang kenapa?" tanya Abian serius yang langsung membuat Kiran gugup. " Tapi saya kira bapak bilang...." " Bilang apa?" tanya Abian tegas. " Tapi bapak bilang kalau bapak akan..." " Akan apa? Saya tidak mecat dia dan hanya mindahin dia ke cabang lain, menurut saya itu sudah sangat bagus. Dia memindahkan tanggung jawabnya sama orang lain dan itu menyebabkan orang lain jadi celaka. Apa yang kamu harapkan akan saya lakukan sama dia?" ujar Abian serius. " Tapi itu bukan kesalahan dia pak" " Kesalahan dia adalah karena mendengarkan kamu. Di perusahaan ini, hanya ucapan dan perintah saya yang harus kalian dengarkan. Itu yang harus kamu pelajari secepatnya. Dan lihat akibat dari apa yang sudah kamu lakukan" Kiran menatap Abian yang kini kembali menatap pada berkasnya dengan tatapan tak percaya. " Luar biasa" gumam Kiran menggelengkan kepalanya menatap Abian. " Nggak usah berlebihan. Dan karena sekarang Lena tidak ada, semua tugas dia menjadi tanggung jawab kamu. Cari satu orang asisten yang bisa memudahkan kamu bekerja. Silahkan ke bagian HR, informasikan kamu mencari asisten, dan kamu bisa mencarinya juga memilihnya sendiri. Waktu kamu hanya dua hari. Jadi lusa, kamu harus sudah punya asisten. Saya nggak mau pekerjaan kamu berantakan hanya karena hal- hal kecil." jelas Abian tegas. Kiran menatap Abian dengan kesal seolah ia masih tidak bisa menerima keputusan atasannya tersebut. " Baik, pak. Saya mengerti" jawab Kiran serius. " Baik. Kamu boleh pergi" Kiran bahkan tidak pamit dan berkata apapun lagi. Ia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan cepat keluar dari ruangan Abian yang terus menatapnya. *** " Kesalahan bapak, bapak tidak menyelesaikan proyek bapak sesuai jadwal dan tidak sebaik yang saya harapkan. Itu yang pertama. Kedua, ilustrasi bapak sangat tidak profesional dan hanya seperti buatan anak sekolah dasar. Apa hanya seperti ini bapak menghargai proyek penting ini?" marah Abian pada pak Sinan, kepala bagian konstruksi yang menangani salah satu proyek penting perusahaan Abian. Kiran dan Refan saling melirik melihat reaksi Abian yang nampak sangat marah pada pria berusia 50 tahunan tersebut. Pak Sinan sendiri nampak pucat mendengar kemarahan atasannya tersebut. " Pak Abian, sebenarnya saya---" " Saya belum selesai!" " Dan dengan tidak bersalahnya anda menyuruh kurir untuk mengantarkan ini kepada klien dan pergi berlibur. Daaan, anda tidak bisa dihubungi selama 2 hari. Dua hari pak Sinan! Dimana letak follow up proyek ini? Hah?! Tidak ada! Memangnya anda siapa? Ada urusan apa yang lebih penting?! Anda tahu berapa milyar kerugian saya? Belum lagi dengan nama baik perusahaan saya? Apa nama baik kalian yang akan tercemar? Bukan! Apa gaji kalian yang akan saya tahan untuk menutupi kerugian saya? Bukan! Saya yang akan menanggung akibat ketidak bertanggung jawaban kalian. Nama baik saya dan perusahaan saya yang akan rusak!" ujar Abian dengan sangat marah. " Maaf pak, tapi saya akan bertanggung jawab dan memperbaiki kesalahan saya secepatnya" sahut pak Sinan gugup. " Secepatnya? Secepatnya yang anda katakan itu sudah berakhir kemarin saat anda sedang asik berjemur di pantai". jawab Abian sinis. Pak Sinan kini memegangi dadanya sambil nampak menahan rasa sakit. " Pak Sinan... Bapak baik- baik saja?" tanya Kiran yang duduk tepat di samping pria bertubuh gemuk tersebut. Semua orang nampak memperhatikan pak Sinan saat ini. " Meskipun bapak kurang sehat, itu tidak akan memperbaiki apapun pak" ucap Abian yang langsung mendapat tatapan sini dari Kiran. Dan itu tepat disaat pak Sinan memegangi dadanya semakin kuat dan langsung terjatuh dari kursinya. Kiran pun sontak berdiri dari kursinya dan menolong pria tersebut. Ia lalu berlutut di samping pak Sinan dan memeriksa detak jantungnya. " Pak, pak sinan... Bapak baik- baik aja?" tanya Kiran panik yang kini dibantu oleh Refan dan beberapa orang lainnya. Abian sendiri hanya berdiri di samping meja besar tersebut dengan angkuh memperhatikan para karyawan di dalam ruangan meeting tersebut sibuk membantu Pak Sinan untuk dibawa ke rumah sakit setelah salah satu dari mereka menelepon ambulance. Kiran lalu menoleh sesaat pada Abian yang hanya memperhatikan mereka dengan serius sebelum ia kembali ke meja besar tersebut dan membereskan barang pribadi milik pak Sinan tanpa mengucapkan apapun lagi pada Abian hingga tak lama kemudian para petugas ambulance datang untuk mengangkat tubuh pak Sinan dengan brankar. Beberapa karyawan masih nampak kembali duduk di kursi mereka masing- masing dengan gugup karena mungkin saja sang atasan masih ingin melanjutkan pertemuan mereka. Namun menit selanjutnya Abian malah meninggalkan ruangan tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi dan membuat karyawan lainnya nampak lega. *** Kiran mematikan lampu kerja di atas mejanya dan bersiap untuk pulang setelah lembur karena hari ini ia sibuk dengan urusan mencari asisten untuknya. Kiran berjalan menuju lift saat ia berpikir mungkin saja Abian masih ada di ruangannya. Karena sejak kejadian tadi siang, Abian tidak pernah keluar dari ruangannya dan meminta Ivy untuk tidak membiarkan siapapun untuk masuk. Semua pertemuannya juga telah ia tunda untuk hari ini. Kiran lalu berbalik arah dan kembali berjalan menuju ruang kerja Abian dan mengetuk pintu ruanggan atasannya tersebut untuk meminta ijin masuk jika saja pria itu masih berada di dalam ruangannya. Kiran lalu membuka pintu tersebut dan mendapati Abian yang sedang duduk dengan memegang segelas kopi di kursi kerjanya sambil menatap ke jendela kaca besar ruangannya tersebut. " Boleh masuk pak?" tanya Kiran. " Kamu kan sudah masuk" jawab Abian menoleh sesaat dan Kiran pun menutup pintu dan melangkah masuk. " Kamu boleh pulang. Ini sudah malam." ucap Abian lagi masih menatap keluar jendela. Kiran lalu melangkah mendekat pada Abian dengan sungkan. " Saya hanya mau melihat keadaan pak Bian sebelum pulang" Mendengar hal tersebut, Abian lalu menoleh pada Kiran dengan tatapan yang lembut. " Ng.. Kalau bapak merasa bersalah atas kejadian tadi---" " Saya nggak merasa bersalah. Kenapa kamu mikir begitu?" potong Abian. " Mmm... Dengan usia dan berat badan pak Sinan, ditambah lagi beliau perokok berat yang katanya bisa merokok beberapa bungkus dalam sehari, hal ini memang tidak bisa dihindari pak." jelas Kiran dengan sopan. " Pak Refan juga sudah menelepon istrinya. Beliau sudah lebih baik dan akan dipasangi ring di jantungnya." lanjut Kiran. " Saya tahu." ucap Abian singkat lalu meneguk kopi miliknya. " Apa bapak butuh sesuatu?" tanya Kiran dengan hati- hati. " Tidak ada." " Bapak sudah makan?" " Saya nggak lapar" Hening sesaat dan Kiran nampak salah tingkah karena Abian hanya terdiam dan menatap pemandangan kota diluar jendelanya. " Ng... Kalau begitu, saya... Saya pamit pulang pak." Abian hanya menoleh dan mengangguk pelan. " Pak Bian... Bapak jangan sedih. Ini bukan kesalahan bapak. Dan tidak ada yang menyalahkan bapak." ucap Kiran lalu mulai melangkah perlahan keluar dari ruangan Abian yang menatapnya dengan sendu. (" Please stay Kiran...") batin Abian menatap Kiran yang terus melangkah menjauhinya. " Kiran..." panggilnya yang membuat Kiran menoleh kembali. " Iya pak" " Jangan pergi dulu. Temani saya makan malam disini. Bisa?" ucap Abian dengan lembut dan diangguki sopan oleh Kiran. " Bisa pak. Tentu saja." jawab Kiran tersenyum lembut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD