Smile

1225 Words
" Makan apaan?" tanya Tiara ketika baru membuka pintu kamarnya dan mendapati Kiran sedang sarapan. " Roti bakar. Itu buat kamu." jawab Kiran sambil menunjuk ke arah piring yang ada di hadapannya. " Kamu nggak sakit apa- apa lagi? Kenapa nggak ijin istirahat aja sih? Lagian kan kecelakaan itu gara- gara mereka juga" ucap Tiara yang kini duduk di hadapan adiknya. " Iya... Tapi aku udah lebih enakan daripada kemarin. Dan juga... Ti, ada sesuatu yang terjadi" tutur Kiran ragu. " Apaan?" tanya Tiara serius. " Bentar... Aku mau tunjukin sesuatu" jawab Kiran lalu langsung berlari kecil menuju kamar tidurnya sementara Tiara kembali melanjutkan menikmati sarapannya. Kiran kini telah berdiri di samping meja makan kecil mereka dengan menenteng tas dan blazer baru pemberian dari Abian. " Ini..." ucap Kiran yang membuat Tiara menoleh dan langsung bangkit dari duduknya dengan tatapan takjub tak percaya. Tiara mengambil tas yang dipegang oleh Kiran dan menutup mulutnya dengan telapak tangan seolah tak percaya. " Punya kamu?" tanyanya hampir tersedak. Ia lalu meneguk air putih di sampingnya dan kembali menatap tas mahal tersebut dengan mata yang membelalak takjub. Kiran mengangguk dengan cepat. " Pak Abian ngasih ini sebagai ganti tas aku yang hilang" " Serius?" tanya Tiara lagi. Ia lalu membuka tas tersebut dan menemukan sebuah dompet dan juga kotak ponsel baru milik Kiran. " Ini juga?" sambung Tiara lagi yang di angguki kembali oleh Kiran. " Ki, dompet ini tuh keluaran terbaru." " Masa sih?" " Ck... Gimana sih kamu! Ya ampun Ki, blazernya bagus banget. Coba kamu pakai. Pasti cantik banget" ucap Tiara bersemangat sambil memakaikan blazer tersebutnke tubuh adiknya yang malah terlihat canggung. " Cantik banget Ki... Skarang coba pakai sama tasnya." lanjut Tiara lagi sambil menyalipkan tali tas tersebut ke pundak Kiran. " Pas banget Ki. Kamu kelihatan cantik banget" puji Tiara tanpa henti. " Tadinya aku nggak mau nerima ini. Tapi pak Bian bersikeras kalau aku pantas dapetin ganti rugi atas apa yang aku alami pas kerja." " Well, dia bener kan?" " Tapi ini mahal banget, Ti..." " Idih... Kan bukan pakai duit kamu juga! Lagian kamu pantas kok dapetin ini. Mereka harus tahu nilai kamu. Jangan terlalu sering merendah Ki, nanti kamu di manfaatin orang" " Apaan sih. Udah ah, aku berangkat dulu" ucap Kiran lalu memeluk Tiara dan mengecup pipinya. " Ki, aku pulang telat ya nanti malam" " Kenapa? Bukannya semalam kamu udah lembur karena banyak pelanggan?" tanya Kiran sambil merapihkan rambut panjangnya. " Aku... Aku ada janji makan malam sama teman" jawab Tiara gugup. " Siapa? Teman yang mana?" " Ya teman aku!" " Kak, teman kamu yang mana sih yang nggak aku kenal? Kamu mau makan malam sama siapa?" tanya Kiran sinis. " Sama... Sama Aufar" jawab Tiara akhirnya. " Aufar? Ti, aku kan udah bilang kalau Aufar tuh nggak baik. Kamu udah lama jalan sama dia tapi selalu ngajak kamu ketemuan malam- malam, umpet- umpetan, kadang hilang nggak ada kabar..." " Ki, kamu udah telat. Udah sana pergi aja. Yang jelas aku udah ijin ya sama kamu." Kiran menggelengkan kepalanya karena tahu ia tak bisa menghalangi keinginan Tiara saat ini. " Ya udah. Tapi kamu jangan pulang malam banget ya. Hape kamu jangan sampai nggak aktif. Dan hati- hati.." ucap Kiran akhirnya. " Iya sayangku, ibu tiriku..." goda Tiara. *** " Baik. Saya rasa cukup sekian pertemuan kita hari ini. Kalian bisa menyerahkan laporan kalian pada Ivy sebelum sore hari." ucap Abian tegas sebelum ia berdiri dari kursinya yang juga diikuti oleh Lena, Kiran, dan karyawan lainnya. " Jam berapa meeting saya dengan pihak advertising?" tanya Abian pada Lena. " Jam 7 pak. Saya akan langsung kesana" jawab Lena yang berdiri di samping Kiran yang masih merapikan kursi duduknya. " Kamu tidak perlu ikut. Kiran, minta alamat tempat pertemuannya dan pelajari materinya. Kamu ikut saya" ujar Bian singkat dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut. " Kenapa saya? Apa ada masalah?" tanya Kiran pada Lena. " Pak Bian masih marah sama aku gara2 soal plakat itu. " jawab Lena sendu. " Loh kenapa? Itu kan bukan salah kamu. Lagian aku sendiri yang mau lakuin itu." " Mau hujan badai sekalipun, bagi pak Bian, nggak ada alasan untuk seseorang tidak melakukan apa yang menjadi tanggung jawab pekerjaannya." ucap Lena masih nampak lesu. " Ya ampun... Tapi nggak selamanya harus gitu kan? Orang macam apa yang nuntut karyawannya kayak gitu. Lagian kan itu sesuatu yang nggak bisa kita perkirakan. Pak Bian gimana sih! Egois banget." protes Kiran. " Terserahlah... Masih bagus aku nggak di pecat." ucap Lena. " Ya nggak bakalan lah..." " Semoga aja..." *** " Maaf saya sudah merepotkan bapak di jam segini" ucap Kiran memecah keheningan di dalam mobil milik Abian. " Nggak masalah. Saya juga nggak mungkin membiarkan kamu pulang sendirian jam segini." jawab Abian sambil menyetir dengan serius. Kiran mengangguk perlahan dan berpikir mungkin ini waktu yang tepat untuk membahas masalah Lena. " Mmm... Pak, apa bisa bapak tidak marah sama Lena lagi soal plakat tempo hari?" tanya Kiran sedikit segan dan membuat Abian meliriknya sesaat dengan serius. " Lalu kamu saya gimana? Kasih dia piala?" tanya Abian sinis. " Ya bukan piala juga sih pak. Tapi paling tidak bapak bisa lupakan masalah itu saja dan maafkan Lena." " Lupa? Saya buka tipikal orang yang mudah lupa dan memaafkan kesalahan seseorang. Terlebih lagi dalam hal tanggung jawab pekerjaannya." " Well, tapi melupakan dan memaafkan itu bisa bikin semuanya lebih mudah pak. Lebih enak. Bapak harus mencobanya." tutur Kiran dengan lembut dan hanya ditanggapi Abian dengan diam sesaat. " Oke. Kalau gitu, mari kita coba" ucap Abian akhirnya yang langsung membuat Kiran terkejut. " Apa? Jadi bapak tidak akan marah sama saya karena bilang hal ini ke bapak?" Abian lalu melirik Kiran dengan sedikit mengangkat kedua bahunya. " Mau kamu apa sih? Ya kalau kamu mau, saya bisa marahin kamu..." " Tidak... Tidak pak... Maaf maaf... Saya akan tutup mulut" sela Kiran dengan cepat sambil membuat gerakan mengunci bibirny dengan tangan meski ia sedikit tertawa karena bahagia. Abian yang melihat tingkah Kiran pun juga ikut tertawa meski masih tetap menyetir mobil mewahnya. Kiran lalu menoleh dan mendapati jika ini pertama kalinya ia melihat seorang Abian tertawa dan itu membuatnya terlihat semakin tampan. " Kenapa?" tanya Abian karena sadar Kiran menatapnya dengan pandangan yang terlihat aneh namun wajahnya nampak bahagia dan semakin cantik. " Tidak ada pak." " Pasti ada. Apa yang kamu pikirkan? Cepat bilang atau saya nggak akan antar kamu pulang" ucap Abian. Kiran lalu kembali menoleh pada Abian dan mengulum senyumnya. " Bapak sekarang ketawa. Ng... Maksud saya, itu berarti tidak ada masalah dengan otot muka Pak Bian." " Kenapa kamu merasa otot muka saya bermasalah?" tanya Abian mengulum senyumnya. Entah mengapa ejekan dari Kiran barusan malah terdengar menyenangkan di telinganya. " Ya karena pak Bian tidak punya ekpresi lain selain serius." jawab Kiran dengan jujur dan malah membuat Abian makin tersenyum. " Apa kamu sadar siapa saya?" canda Abian. " Maaf pak Bian... Maaf... Saya akan diam sekarang" ucap Kiran menahan senyumnya. " Saya juga senang. Malam ini pertama kalinya kamu menyebut nama saya saat kita ngobrol." " Masa iya pak?" tanya Kiran serius tidak menyadari hal tersebut. " Iya. Sudah, jangan berisik kalau kamu nggak mau saya turunkan disini" potong Abian yang membuat Kiran mengangguk patuh dan menyandarkan kepalanya pada kaca jendela dengan tersenyum simpul. Sama halnya dengan Abian yang juga mengulum senyumannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD