He's Different

1728 Words
Abian baru saja membuka laptop miliknya untuk melihat beberapa materi meetingnya untuk esok hari. Ia juga telah mengurungkan niatnya untuk kembali ke hotel dan lebih memilih untuk pulang dan beristirahat. " Pak Bian, saya pamit pulang dulu" ucap ibu Rima, asisten yang Abian pekerjakan untuk membersihkan apartement miliknya setiap dua hari sekali karena ia juga tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di apartementnya. " Baik bu. Terima kasih" jawab Abian sopan. Tiba- tiba mereka berdua dikejutkan dengan suara bel di pintu depan yang berbunyi berulang kali. " Biar saya buka dulu pak" " Makasih bu." jawab Abian lalu kembali fokus ke layar laptopnya meski ia juga heran siapa yang bertamu saat malam hari begini. Ibu Rima lalu berjalan untuk membuka pintu apartement Abian dan akhirnya mendapati sosok seorang wanita cantik dengan tubuh yang tinggi dan langsing bak seorang foto model. " Bian mana?" tanyanya sambil langsung berjalan masuk ke dalam apartement Abian bahkan sebelum ibu Rima mempersilahkannya. Namun itu adalah hal biasa bagi ibu Rima. " Ada di dalam mbak Winny. Sebentar saya panggilkan" " Tidak usah. Biar saya sendiri" ucapnya angkuh dan berjalan menuju ruang kerja Abian. Winny lalu mengetuk pintu kaca ruang kerja Abian dan langsung masuk begitu ia melihat pria tersebut kini telah menoleh kepadanya. " Maaf pak, apa butuh sesuatu?" tanya Ibu Rima yang berdiri di belakang Winny dan mengikutinya. " Tidak bu. Ibu Rima bisa pulang. Terima kasih" jawab Abian dengan sopan. " Baik, pak. Permisi. Selamat malam" pamit ibu Rima sambil sedikit menunduk sopan. " Ada apa?" tanya Abian langsung pada Winny sambil berdiri dan berjalan untuk mengambil segelas air putih. " Apa aku harus punya alasan untuk kesini?" tanya Winny sinis namun Abian menanggapinya dengan senyum miring. " Aku kangen kamu. Kamu kayak menghilang selama ini. Kamu bahkan udah lama datangnya tapi sama sekali nggak pernah hubungin aku." rengek Winny manja sambil memeluk pinggang Abian dari belakang. Abian lalu melirik ke bawah dan menepuk lembut tangan Winny lalu melepaskannya dengan sopan lalu kembali ke meja kerjanya. " Aku sibuk. Sangat sibuk" jawab Abian santai lalu membaca sesuatu di layar laptop miliknya. " Kalau sama aku, kamu memang selalu sibuk." protes Winny. " Kamu kenapa? Bisa nggak sih kita tidak membahas ini seolah kita ini sepasang kekasih?" " Maksud kamu apa? Apa maksud kamu kita bukan sepasang kekasih?" " Win, please... Kita udah sepakat soal ini. Kita tidak pernah terikat hubungan apapun. Aku sudah bilang itu dengan jelas sama kamu. Dan kamu nggak masalah kan?" " Bi... Lalu aku ini apa? Pacar yang hanya bisa temanin kamu ke pesta? Pacar yang temanin kamu di weekend aja? Aku bisa lakuin apapun yang kamu mau Bian. Asalkan kamu juga mau memperjelas hubungan kita. Bukan kayak sekarang, kamu punya dunia sendiri yang nggak ada satupun orang yang bisa memasukinya." tutur Winny mengeluarkan isi hatinya. Bian lalu menghela napas panjang menutup laptop di hadapannya dan berjalan mendekati Winny yang nampak sedih.Ia lalu menuntun Winny untuk duduk di sofa ruang tengah apartementnya. " Win, maaf kalau kamu merasa aku seperti itu. Tapi sejak awal kamu tahu betul kalau aku belum mau terikat hubungan apapun dengan siapapun. " ujar Abian menangkup tangan Winny dengan lembut. " Tapi sampai kapan Bi? Aku tuh capek dianggap pacar bertahun- tahun kamu. Tiap aku ketemu orang- orang, mereka selalu tanya kapan kita menikah, udah terlalu lama sama- sama tapi belum menikah, nggak enak banget lo Bi dengernya" keluh Winny. " Ya kalau gitu kamu jangan ketemu sama orang- orang kayak gitu" jawab Abian dengan entengnya. " Bian... Bukan itu masalahnya!" " Lalu? Kamu tahu kalau kita tidak pernah membicarakan pernikahan. Aku udah tekankan itu sejak awal kan?" " Tapi Bi... Aku cinta sama kamu" rengek Winny karena melihat Abian mulai terusik dengan tuntutannya. " Tapi aku bukan orang yang bisa ngasih apa yang kamu mau" " Jadi maksud kamu kita akan begini- begini aja?" " Win, kita tidak perlu melanjutkan perdebatan ini. Kita tidak perlu melanjutkan atau menghentikan apapun. Apa yang kita lewati, apa yang kita lakukan, semua tidak dalam ikatan hubungan apapun. Tanpa paksaan sama sekali. Dan kalau sekarang kamu bersikap seolah aku b******n yang memanfaatkan kamu, aku minta maaf. Aku sangat minta maaf. Dan aku sama sekali tidak pernah memaksa kamu atau siapapun untuk mengikuti jalan pikiran aku. Jadi apa yang kita lakukan, kita lakukan karena kita sadar dan kita menginhinkan hal itu" ucap Abian menegaskan. " Tapi Bi... Aku sayang banget sama kamu" ucap Winny memelas. " Aku juga peduli sama kamu. Tapi tidak yang seperti kamu mau. Dan lebih baik kita tidak melanjutkan hubungan kita lebih jauh. Kamu berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Lebih baik kamu pul---" Winny lalu dengan agresifnya mencium bibir Abian penuh hasrat. " Win..." ucap Abian di sela ciuman kasar namun seksi dari Winny dengan mencoba menahan dirinya agar tidak terpengaruh dan tidak membalas ciuman dan sentuhan menggoda gadis seksi tersebut. " Bi... Please, for the last time... Please just once... Please..." Bisik Winny dengan seksi sambil mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas pangkuan Abian dan dengan satu gerakan cepat, ia mengangkat gaun pendeknya ke atas untuk memamerkan keindahan tubuhnya dan memeluk Abian dengan erat. *** Kiran berjalan mendekati meja kerjanya dan terkejut ketika melihat ada sebuah kotak hitam besar dengan pita berwarna merah tepat di depan layar komputernya. Ia lalu membaca kartu yang tertera di atasnya dan semakin heran karena kartu tersebut bertuliskan namanya. Kiran kemudian membukanya perlahan dan menemukan sebuah tas kantor hitam bermerk ternama dengan harga yang hampir setara dengan tiga bulan upah kerjanya. Ia juga menemukan sebuah ponsel baru di dalamnya yang tentu saja jauh lebih baik dari ponsel miliknya yang telah dicuri. Dan satu lagi, sebuah blazer berwarna hitam yang terlihat sangat bagus. Kiran semakin mengerutkan kening karena tidak merasa memiliki barang tersebut hingga ia kembali mencari kartu ucapan tadi dan membuka bagian dalam kartu tersebut. " Semoga cepat sembuh" AGM Kiran lalu berpikir sejenak dan sadar jika ini pasti pemberian dari Abian. Ia lalu menutup kotak tersebut dan melangkah cepat untuk menuju ke ruangan atasannya. Kiran tidak melihat Ivy berada di mejanya hingga ia langsung untuk mengetuk pintu Abian dan berharap semoga pria tersebut ada di dalam ruangannya. " Masuk" ujar Abian dari dalam ruangannya. Kiran kemudian membuka pintu ruangan Abian yang nampaknya sedang berbincang dengan salah seorang karyawan yang sedang meminta tanda tangan darinya. " Ada lagi?" tanya Abian pada karyawan tersebut. " Tidak ada pak. Terima kasih. Saya permisi" ucapnya. Abian mengangguk dan melirik Kiran yang membalas senyum karyawan pria tersebut dan masih berdiri di dekat pintu ruangannya. " Ada apa? Gimana keadaan kamu?" tanya Abian begitu karyawan tadi menutup pintunya. " Baik pak. Itu... Soal paket yang ada di atas meja saya. Saya rasa itu tidak perlu pak. Saya tidak bisa menerimanya. Bapak tidak perlu membelikan itu untuk saya." ucap Kiran dengan sopan. " Saya nggak membelikan apapun untuk kamu" bantah Abian dengan santai. " Tapi itu..." " Tentu saja itu bukan hadiah dari saya. Maksud saya, kamu kecelakaan saat menjalankan tugas kantor. Kamu kehilangan barang- barang berharga kamu. Tas, dompet, ponsel. Jadi sudah sepantasnya kantor mengganti rugi atas itu. Dan ini berlaku untuk semua karyawan. Bukan kamu saja. Jadi ini bukan sesuatu yang istimewa." jelas Abian sambil meminum kopi di hadapannya. " Iya, saya mengerti pak. Tapi hanya saja, barang- barang ini sangat mahal. Saya benar- benar tidak bisa menerimanya. Ini benar- benar tidak perlu pak" " Biar saya yang memutuskan itu. Lagipula, hanya itu yang bisa saya dapatkan tadi malam jadi saya tidak sempat memilih." ucap Abian menatap Kiran dengan tajam dan membuat Kiran salah tingkah. " Ng... Ka... Kalau begitu, terserah bapak saja" " Bagus" Ucap Abian puas. " Oh ya, nomor hape kamu yang baru ada di dalam kotaknya. Itu nomor telepon milik kantor dan saya sudah mengatur nomor telepon saya di panggilan cepat nomor 1 kamu. Dan juga nama teratas di kontak kamu." lanjut Abian serius. Ia berharap Kiran mengerti maksudnya yang mengharuskan gadis tersebut menjadikannya orang pertama yang akan ia hubungi jika mengalami kesulitan atau dalam keadaan darurat lainnya. " Baik pak. Kalau begitu, saya ucapkan terima kasih banyak" jawab Kiran akhirnya karena ia merasa Abian semakin membuatnya merasa terintimidasi. " Oke. Kamu boleh kembali ke meja kamu" ucap Abian yang langsung dijawab anggukan sopan oleh Kiran dan langsung berjalan keluar dari ruangan tersebut untuk menuju ke toilet. Sesampainya di toilet, Kiran membasuh wajahnya berulang kali lalu mengusapnya dengan tissue sambil mengibaskan tangan ke wajah cantiknya seolah ingin meredamkan sensasi panas di wajahnya. (" Ya Tuhan, kenapa aku ngerasa pak Bian nggak seperti biasanya. Kenapa aku jadi ngerasa aneh kalau di dekat pak Bian. Sadar Kiran, sadar...") batin Kiran sambil menatap wajahnya di depan cermin. *** Abian menyeka wajahnya dengan handuk kecil dan meminum air minumnya dengan cepat ketika ia melihat Winny kini berjalan mendekatinya dengan pakaian olah raga yang membuat berbagai pasang mata pria menoleh kepadanya. " Bian..." panggilnya pada Abian. " Win, ngapain kamu disini?" tanya Abian heran. " Aku baru aja daftar disini. Aku lihat disini juga lebih lengkap dari tempat aku yang dulu. Jadi nanti aku bisa sekalian latihan dan ngobrol sama kamu. Gimana?" ujar Winny bersemangat. " Nggak masalah. Tapi kamu yakin datang untuk olahraga di jam segini?" " Emang kenapa? Kamu juga milih latihannya jam segini kan? Apa salahnya?" Abian tertawa mengejek mendengar ucapan Winny. " Aku milih latihan jam segini karena aku harus kerja pagi- pagi banget." " Ya... Terserah aku dong. Aku kan pengen kita sering ketemu" " Oke. Terserah kamu. Aku mau pulang dulu. Aku udah selesai" " Gimana kalau kita makan dulu?" " Jam segini? Tidak, terima kasih" tolak Abian sambil mengemas barang miliknya. " Kalau ngopi?" Abian berdiri tegak di depan Winny lalu sedikit memajukan wajahnya lebih dekat pada wanita cantik tersebut. " Aku punya banyak kerjaan besok pagi. Aku harus pulang sekarang dan istirahat. And please, jangan ngulangin apa yang coba kamu lakuin semalam. It's over" Ucap Abian pelan dan dengan nada yang sopan sambio mengusap lembut pundak Winny. Ia tahu betul apa yang sedang Winny coba untuk lakukan. Abian lalu berbalik dan berjalan menjauhi Winny yang nampak marah dan kesal dengan penolakan Abian. Abian memang bukanlah pria yang bersikap romantis, terlebih lagi mereka juga tidak bisa dikatakan berpacaran karena Abian memang telah menekankan hal itu sejak awal. Meski begitu, Abian tidak pernah menolaknya walaupun ia sendiri juga sadar jika Abian tidak pernah mencintainya. " Kamu berubah Abian. Pasti ada orang lain. Pasti..." ucap Winny meyakinkan dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD