Sweet

1804 Words
Kiran memegangi dua paper bag berisikan plakat penghargaan yang akan dibagikan malam ini tepat disaat Tiara meneleponnya berulang kali dan terpaksa ia harus berhenti sejenak dan menjawab panggilan tersebut. " Iya halo..." ujar Kiran sambil menjepitkan ponsel tersebut di pundak dan telinganya dan kembali berjalan untuk mencari taksi online yang telah ia pesan sebelumnya. " Udah di rumah?" tanya Tiara. " Belum. Aku ada acara kantor di Hotel Pyrus malam ini. Jadi aku mungkin pulang agak telat. Kamu udah di rumah?" " Belum. Aku baru mau jalan. Padahal aku mau ngajak kamu makan diluar" " Tiara, kamu lupa ya soal penghematan?" " Ya ampun Ki, cuma makan bakso doang nggak akan bikin kita rugi. Lagian udah puluhan purnama kita tuh nggak makan bakso tapi nggak bisa juga beli mobil kan?" " Udah ah, nanti kita ngobrol di rumah aja. Aku lagi ribet banget" ujar Kiran. " Iya iya... Aku tungguin di rumah. Cepet pulang ya" " Oke. Bye" jawab Kiran singkat dan hendak menyimpan ponselnya kembali tepat disaat sebuah sepeda motor menarik ponsel dan tas miliknya dengan cepat dan kasar hingga membuat tubuhnya jatuh tersungkur di jalanan dengan keras. *** " Kiran..." seru Lena ketika melihat Kiran yang duduk di depan sebuah mini market depan kantor polisi sambil mengibaskan tangannya ke lutut. " Lena..." " Kamu nggak apa-apa?" tanya Lena nampak khawatir. " Nggak apa- apa. Hanya sedikit tergores. Ini plakat kamu. Untungnya nggak ada yang rusak." jawab Kiran menyodorkan dua paper bag yang ada di sampingnya. " Duh, Ki... Makasih banyak. Aku bener- bener minta maaf jadi merepotkan kamu" " Udahlah. Nggak apa- apa. Kamu buruan ke hotel. Nanti kamu bisa telat." " Tapi kamu?" " Aku udah telepon teman aku. Dia yang akan jemput kesini." " Yakin kamu nggak apa- apa?" " Yakinlah... Udah sana buruan." " Ya udah biar aku kasih kamu ongkos tak---" ucap Lena sambil mencoba membuka tasnya dengan kerepotan. " Nggak usah... Nggak usah. Teman aku bakalan ke sini kok. Aku cuma mau pinjam hape kamu aja buat telepon kakak aku. Bisa?" " Bisa... Bisa. Tentu aja. Ini" jawab Lena mengulurkan ponsel miliknya. Kiran lalu menekan nomor ponsel Tiara yang langsung dijawab oleh gadis tersebut. " Halo, Tiara... Ini aku, Kiran" " Loh, Kiran? Ini hape siapa?" " Teman kantor. Tadi aku di copet orang. Tapi aku baik- baik aja" " Apa? Dimana? Kamu dimana? Aku jemput kamu sekarang!" tanya Tiara panik. " Nggak usah. Aku nggak apa- apa. Aku juga udah telepon Alan untuk jemput aku. Kamu nggak usah khawatir." " Kamu yakin?" " Iya... Udah ya, aku tutup dulu." " Ya udah. Hati- hati ya sayang. Aku tunggu di rumah. Aku baru aja sampai." ujar Tiara lesu. " Iya... Bye" Kiran lalu memberikan ponsel milik Lena yang sedang melirik jam tangannya. " Nih, Len... Makasih ya" " Ki, maaf banget aku nggak nganterin kamu. Aku takut telat sampai hotel." ucap Lena dengan tidak enak hati. " Nggak apa- apalah... Udah kamu pergi sana. Udah mau gelap. Aku bentar lagi juga di jemput disini kok" jawab Kiran tulus. " Ya udah. Aku pergi ka Ki... Makasih.. Makasih banget..." " Iya... Udah sana pergi" Kiran lalu melambaikan tangannya ketika Lena juga melambaikan tangannyadan berjalan menjauh menuju dimana taksi onlinenya terparkir. Kiran lalu kembali menatap lutut, siku dan telapak tangannya yang terluka. Meski tidak begitu parah, tapi terasa cukup perih. " Alan tolong jangan lama datangnya" gumam Kiran yang kini melihat jika blazer yang ia pakai sedikit robek di bagian siku. " Kayaknya aku nggak bisa datang ke acara kantor malam ini. Ya udahlah... Besok aja aku nyari alasan ke pak Bian" ucap Kiran sambil mendengus. *** Lena sedang baru saja kembali dari toilet tepat disaat Abian baru saja memasuki ballroom tempat acara mereka akan berlangsung. " Pak Bian, selamat malam" sapa Lena dengan sopan. " Malam. Bagaimana persiapannya?" " Baik pak. Semua sudah hampir selesai." " Pak Refan dimana?" " Ada di belakang panggung pak mengecek semuanya." " Ivy?" " Ada di belakang juga pak" Abian lalu mengedarkan pandangannya melihat beberapa karyawannya bersama pihak hotel yang nampak sibuk mempersiapkan beberapa hal. " Kiran mana?" " Ng... Kiran... Kiran mungkin tidak bisa datang pak" jawab Lena gugup dan langsung membuat ekpresi wajah Abian menjadi serius. " Apa maksud kamu tidak bisa datang? Bukannya tadi sudah saya suruh dia untuk datang?" " Ng... Itu pak... Kiran... Kiran tadi kecelakaan" " Apa? Kecelakaan? Kecelakaan bagaimana maksud kamu?" tanya Abian terkejut namun masih tetap menjaga wibawanya. " Itu pak... Tadi Kiran pergi mengambil plakat karena mobil pengantaran mereka rusak di tengah jalan" " Lalu?" tanya Abian serius. " Lalu di jalan mau kesini, dia di jambret orang pak" " Tapi dia baik- baik saja pak. Dia masih ada di kantor polisi waktu dia telepon ke kantor supaya saya datang ambil plakatnya." Wajah Abian langsung berubah marah dan kesal pada Lena saat ini. " Jadi maksud kamu, saat di kantor ada banyak sekali laki- laki berkeliaran, malah Kiran yang pergi mengambil plakat itu? Siapa yang menyuruh dia?" " Di... Dia sendiri pak" Abian lalu berkacak pinggang dengan marah mendengar semua ucapan Lena saat ini dan hal itu membuat Lena semakin gugup dan takut. " Dia sendiri? Dia sendiri kamu bilang? Dan kamu dengan entengnya mengambil plakat itu dan tidak membawa dia?" tanya Abian sinis lalu berjalan sedikit menjauh sambil menekan nomor telepon Kiran untuk mengetahui keadaannya. Lena yang sadar jika Abian sedang mencoba menghubungi Kiran dengan gugup mendekati Abian dengan perlahan. " Maaf pak, bapak tidak bisa menelepon Kiran karena tas dan hapenya di curi orang." " Apa? Dan kamu baru kasi tahu hal ini sekarang?" tanya Abian semakin marah. " Maaf pak" " Sekarang panggil Refan. Cepat!" seru Abian kesal. Lena lalu berjalan cepat menuju belakang panggung untuk mencari Refan dengan perasaan yang ketakutan akan kesalahannya yang meminta Kiran mengambil plakat dan tidak membawa Kiran sekalian karena tadi ia benar- benar tergesa- gesa. Tak lama kemudian Refan dan Lena datang mendekati Abian dengan Abian yang juga berjalan cepat ke arah mereka. " Pak Abian, ada apa?" tanya Refan penasaran karena Lena nampak sangat gugup. " Kamu lanjutkan acara. Kamu yang akan kasih pidato dan kalau saya belum kembali, kamu yang akan ngasih penghargaannya. Lakukan seperti yang seharusnya." " Tapi kenapa Bi? Kamu mau kemana?" tanya Refan heran. " Kerjakan pekerjaan kalian dengan baik. Terutama kamu!" ucap Abian tegas dengan menunjuk kepada Lena dengan tatapan tajam lalu berjalan cepat keluar dari ballroom tersebut. " Ada apa sih?" tanya Refan pada Lena yang hanya bisa menunduk lesu. *** Abian lalu memarkirkan kendaraannya dan dengan cepat berjalan ke arah mini market depan kantor polisi yang Lena sebutkan tadi dan berharap Kiran masih ada disana. Dari kejauhan ia melihat gadis berambut panjang tersebut kini sedang duduk menunggu seorang diri dengan sebuah minuman kemasan di tangannya sambil sesekali mengusap lututnya yang kini di verban kecil. Abian lalu semakin mempercepat langkahnya mendekati Kiran. " Kiran!" seru Abian yang langsung membuat Kiran menoleh dan terkejut. " Pak..." " Ayo kita ke rumah sakit" ucap Abian. " Nggak usah pak. Nggak perlu. Saya tidak apa- apa. Bapak kenapa kesini?" tanya Kiran heran akan kehadiran Abian saat ini. " Apa ada larangan untuk seorang atasan memperhatikan keselamatan karyawannya?" ujar Abian sekenanya karena ia juga tidak punya alasan mengapa ia bisa ada di tempat ini. " Ayo cepat" lanjut Abian lagi. " Nggak usah pak. Saya baik- baik saja. Nggak perlu" bantah Kiran lagi sambil mencoba menutupi lutut dan telapak tangannya. Abian lalu menatap Kiran dengan kesal karena nampaknya ia tidak bisa memaksa gadis tersebut untuk ikut dengannya ke rumah sakit. " Kamu benar- benar keras kepala!" ucapnya yang hanya membuat Kiran menoleh ke arah lain dan meminum minumannya hingga habis. Kiran yang nampak kesulitan mencoba berdiri untuk membuang botol minumannya ke tempat sampah sontak membuat Abian refleks untuk membantunya dan memegangi lengannya. Tentu hal ini membuat Kiran sedikit segan. “ Makasih pak" ucapnya ketika telah berdiri dengan baik dan Abian mengambil botol tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. " Siapa yang menyuruh kamu untuk mengambil plakat?" tanya Abian. " Tidak ada pak. Saya yang pergi atas kemauan sendiri." jawab Kiran lalu mengambil karet rambut di saku blazernya dan mulai mengikat rambutnya. Hal yang membuat Abian berdehem kecil. " Ini yang terjadi kalau kamu mengerjakan yang bukan pekerjaan kamu tanpa kasih tahu ke saya. Dan mengambil plakat bukan tugas kamu kan?" " Iya pak. Tapi saya pergi karena saya yang mau pak. Tidak ada yang minta saya kesana jadi ini bukan salah siapa- siapa. Bapak juga tidak perlu marah sama siapapun." " Kamu selalu memutuskan mengerjakan semua sendiri. Saya bisa pak, akan saya kerjakan pak, tentu saja pak." " Memang akan saya kerjakan pak. Tapi saya tidak tahu kalau hari ini akan di copet. Tahu begitu, saya pasti lebih hati- hati" jawab Kiran jujur. Abian menarik napas karena sadar ia tidak seharusnya memarahi Kiran saat ini. Terlebih saat ia melihat luka di telapak tangan gadis tersebut. " Kiran, kamu baik- baik saja?" tanyanya dengan nada suara yang lebih lembut. " Iya pak." " Ya sudah. Ayo, biar saya antar kamu pulang." " Tidak usah pak. Saya---" " Kiran!" seru seorang pria yang berlari kecil mendekati mereka berdua. " Aku kaget banget suruh jemput disini. Maaf ya aku telat baca pesan kamu. Soalnya aku nggak kenal nomor yang kamu pakai" ucap pria tersebut ketika sudah berdiri tepat di samping Kiran. " Kamu nggak apa- apa kan?" sambungnya lagi sambil memegangi pundak Kiran. Hal yang membuat Abian salah tingkah dan tidak senang. " Iya aku nggak apa- apa. Alan, isi tas dan hape aku di curi orang. Bisa nggak kamu bayarin minuman sama verban aku di dalam?" " Tentu aja. Kamu tunggu ya" jawab Alan sambil mengusap lembut punggung Kiran yang membuat Abian meliriknya dengan sinis. Alan lalu berjalan santai masuk ke dalam mini market tersebut tanpa sadar jika mata elang dari Abian sejak tadi mengintai gerakannya. " Pak, Alan tetangga saya. Pemilik rumah sewa yang saya tempati. Saya tadi sudah telepon dia untuk menjemput saya. Maksud saya, saya tidak mau merepotkan bapak." " Baik. Saya mengerti. Selamat malam" ujar Abian singkat dengan nada sedikit kesal. " Terima kasih pak" ujar Kiran saat Abian mulai berbalik meninggalkannya. " Tidak masalah. Dan besok kamu bisa datang terlambat. Tapi hanya berlaku untuk besok!" ucap Abian sebelum kembali melanjutkan langkahnya. " Terima kasih pak" balas Kiran dengan tersenyum. Kiran lalu menatap punggung Abian yang berjalan menuju kendaraannya dan entah mengapa ia merasakan sesuatu yang aneh melihat pria tersebut menoleh padanya meski sesaat dan dengan tanpa sadar ia malah melambaikan tangannya pada atasannya tersebut. (" Pak Bian kenapa kesini? Bukannya dia harusnya ada di hotel?") batin Kiran yang langsung terbuyarkan ketika Alan sudah berdiri di sampingnya. Tak jauh berbeda dengan Abian yang kini menatap Kiran dari kaca spion mobilnya dan tersenyum kecil mengingat ini pertama kalinya Kiran tersenyum kepadanya. (" Dia manis") batin Abian sebelum mulai menjalankan kendaraannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD