Mr Perfect

1240 Words
" Jadi gimana tadi?" tanya Tiara sambil menikmati segelas teh hangat dengan menemani Kiran menghabiskan makan malamnya. " Ya aku masih tetap di posisi aku yang dulu. Hanya beda bos aja. Tapi nggak tahu aku harus senang atau sedih. Ya secara aku kerja dengan orang- orang baru, bos baru, aturan baru, tekanan yang baru" jelas Kiran. " Masih hari pertama udah tertekan. Emang bos nya galak? Umur berapa? Ganteng nggak? Gajinya berapa?" tanya Tiara mencoba menghibur Kiran karena ia sangat mengenal sang adik yang selalu memikirkan apapun dengan berlebihan. Kiran lalu langsung meletakkan sendok makannya di piring, meneguk air minumnya, dan memajukan wajahnya lebih dekat dengan Tiara. " Dia... Dia rewel. Rewel banget. Dia galak. Dia angkuh. Dia tegas. Pokoknya dia, dia... Sangat mengintimidasi. Kamu ingat dulu kamu pernah jadi pengasuh dan kamu bilang anaknya rewel dan susah banget dijagain? Ini tuh 5 kali lipatnya. Nggak ada ramah- ramahnya sama sekali. Bener- bener to the point" " Oh ya?" " Iya... Aku jadi gugup tiap dia ngomong" ucap Kiran yang lebih seperti gumaman sambil kembali mengaduk makanannya. " Udah tua?" tanya Tiara asal sambil mencuci gelas minumnya. " Nggak sih. Sekitar 30 mungkin. Untung gajinya lebih besar dari yang aku dapetin kemarin." jawab Kiran acuh. " Oh ya? Dia ganteng gak?" Seketika Kiran merasa gugup mendengar pertanyaan Tiara barusan yang seperti sebuah tuduhan baginya. " Ganteng nggak?" tanya Tiara lagi yang kini kembali duduk di hadapan Kiran dengan wajah iseng penasarannya. " Apaan sih... Yaaa, biasa aja sih. Dia... Dia blasteran. Bayangin aja sendiri." jawab Kiran lalu dengan gugup mengangkat piringnya ke bak cuci piring. " Kamu gimana tadi di restoran?" tanya Kiran mengalihkan pembicaraan. " Biasa aja. Aku masih belum ketemu ama orang kaya yang bisa ngasih aku American Breakfast kayak yang aku mau setiap hari. Jadi aku masih harus sabar dengan sarapan nasi goreng dan teh hangat buatan kamu dulu" jawab Tiara dengan gaya yang ia buat- buat. " Mama pasti bangga sama impian kamu kak. Sangat mulia dan membanggakan." ejek Kiran yang langsung mendapat lemparan pelan bantal kursi kecil dari sang kakak. *** " Mbak Kiran, ini kenapa jadi banyak banget wartawan?" tanya pak Sihar sang pemilik lahan perkebunan. " Maaf pak, saya berganti atasan. Dan bos saya sekarang sepertinya cukup terkenal." " Ganti bos?" tanya Pak Sihar pria paruh baya yang nampak sangat kebapakan. " Iya pak. Kantor saya sekarang udah dibeli sama perusahaan lain. Nah itu bos saya sudah datang. Permisi pak" " Iya mbak, silahkan." Kiran lalu berjalan setengah berlari mendekati Abian yang baru saja turun dari mobil sedan hitam mewahnya sambil melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung miliknya. " Selamat pagi, pak Abian." sapa Kiran dengan sopan. " Selamat pagi. " ucap Abian bahkan tanpa menoleh pada Kiran dan langsung berjalan melewati para wartawan yang ada dihadapannya dan hanya melambai sesaat sambil mendekat ke arah Pak Sihar. " Selamat pagi Kiran" sapa Refan dengan ramah. " Pagi pak Refan." jawab Kiran yang langsung berjalan mengikuti Refan dan Abian. " Pak Abian, bisa kami ambil gambarnya?" tanya salah seorang wartawan. " Silahkan teman- teman. Wawancara akan diadakan di sebelah sana" ucap Refan sambil menunjuk ke arah dimana pak Sihar tengah berdiri dan kini bersalaman dengan Abian. " Pak Abian, ini pak Sihar pemilik lahan. Pak Sihar, ini atasan saya pak Abian dan ini pak Refan." jelas Kiran dengan sedikit kesulitan karena berusaha mengikuti langkah kaki panjang kedua pria tersebut. " Selamat pagi. Senang bisa bertemu bapak" ujar Abian. " Saya juga pak" jawab pak Sihar yang tentu lebih terdengar ramah dibanding dari Abian. " Pak Abian, bisa kami foto sambil menanam bibit pertamanya?" tanya seorang wartawan lagi yang membuat Abian dan Refan saling memandang. " Tentu saja. Mbak Kiran bisa membantu kami?" tanya Refan dengan tanggap. " Tentu pak. Silahkan lewat sini." jawab Kiran yang langsung berjalan melewati Abian dan tanpa sungkan mengambil sebuah bibit pohon untuk ia keluarkan dari pot kecil dengan menepuk sisinya dengan perlahan agar lebih mudah dilepaskan. Abian yang mengamati apa yang Kiran lakukan dan juga langsung mengikuti melakukan hal yang sama bahkan tanpa ragu ikut berjongkok di tanah seperti yang juga Kiran lakukan. Tanpa Kiran sadari, Abian memperhatikan bagaimana Kiran sama sekali tidak ragu mengotori tangan dan celana panjang yang ia kenakan untuk melakukan pekerjaan tersebut. Ia bahkan nampak terlihat santai dan mahir dalam hal ini. " Apa nama pohon ini pak? Bisa jelaskan alasan kalian memilih pohon ini untuk taman yang akan dibuat?" " Mbak Kiran, silahkan..." ucap Refan menanggapi isyarat Abian yang menginginkan Kiran sendiri yang menjawab pertanyaan wartawan tersebut. " Ng... Baik pak." jawab Kiran sambil menepuk kedua telapak tangannya untuk membersihkan sisa tanah yang melekat. Hal yang kembali menjadi perhatian di mata Abian. " Bibit yang tadi kami tanam, namanya Cemara lilin. Cocok ditanam di iklim seperti ini. Pohonnya juga bisa mencapai ketinggian 20 meter tanpa menghalangi bangunan sekitar karena arah pertumbuhannya akan lurus ke atas. Dan menurut penelitian seorang ahli psikologi, pohon cemara juga bagus untuk meredakan stress. Anda tahu sendiri sekarang banyak orang yang terkena penyakit mental tanpa mereka sadari." jelas Kiran yang dalam hati sedikit ingin menyindir sang atasan dan membuat semua orang tersenyum dan tertawa kecil kecuali Abian. " Selain itu, saya juga suka aja melihat pohon cemara lilin seperti ini. Karena saat tinggi nanti, mereka akan terlihat seperti orang yang berdiri berdampingan dengan waktu yang lama. Saat ada perayaan pun, bisa digunakan untuk dekorasi yang cantik dan rapih." " Tapi selain Cemara lilin ini, kami juga menanam bibit pohon Trembesi sebagai pohon induk dan pohon peneduh di beberapa titik. " jelas Kiran panjang lebar. Abian lalu kembali memberi isyarat pada Refan untuk menghentikan para wartawan. " Baik teman- teman, mari saya dan pak Sihar membantu menjawab pertanyaan- pertanyaan kalian" ujar Refan dengan sopan sambil menuntun para wartawan ke tempat lain untuk menjauh dari Abian yang tidak begitu menyukai media. Setelah hanya tertinggal mereka berdua, Kiran lalu mengikat rambut panjangnya dengan cepat dan kembali berjongkok untuk melanjutkan menanam bibit pohon tersebut. Ia lalu dengan santainya mengeruk sedikit tanah dengan tangannya agar lebih mudah baginya memasukkan bibit pohon itu ke dalam tanah sambil sesekali melihat ke arah Refan dan para wartawan yang tentu semua gerakannya tanpa ia sadari tidak luput dari perhatian Abian. Ketika melihat para wartawan telah memasuki mobil mereka masing- masing, Kiran lalu sedikit berbisik pada Abian yang kini sudah hampir menyelesaikan pekerjaannya. " Pak, wartawannya sudah pergi. Bapak bisa berhenti, biar saya yang selesaikan." ucap Kiran. " Saya tidak pernah tidak menyelesaikan apa yang saya kerjakan" jawab Abian tegas. " Tapi saya kira bapak nggak mau melakukan ini" " Kalau saya tidak mau, saya tidak akan datang, jongkok, dan kotor- kotoran disini. Saya hanya melakukan apa yang saya mau" jawab Abian ketus. " Bapak kenapa sih harus marah- marah?" tanya Kiran kesal. " Apa?" tanya Abian ketus tak percaya dengan ucapan Kiran barusan. " Ng... Saya... Soalnya bapak kelihatan nggak suka padahal saya cuma mau bantuin bapak. Maaf pak" ucap Kiran lesu karena sadar ia baru saja bertindak tidak sopan dengan atasan barunya. Kiran lalu berdiri untuk mengambil penyiram tanaman dan hendak menyiram bibit pohon yang ia tanam tepat ketika Abian telah berdiri dan berjalan menjauhinya. " Ayo" seru Abian singkat dan tegas. " Kemana pak?" " Apa ini tempat kerja kamu?" tanya Abian ketus sambil memakai kacamata hitamnya dan berjalan menuju mobilnya meninggalkan Kiran yang kesal dengan tingkahnya. " Ya Tuhan... Orang macam apa ini?!" gumam Kiran dengan kesal dan mengikuti langkah Abian dengan cepat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD