Abian menatap wajahnya di depan cermin sambil merapikan handuk yang melilit di pinggangnya masih dengan pikiran yang sejak tadi mengganggunya.
" Gadis keras kepala" gumamnya ketika wajah Kiran sewaktu memarahinya kembali muncul untuk kesekian kali.
Abian lalu berjalan mendekati lemarinya sambil mulai menyiapkan beberapa barang pelengkap penampilannya hari ini.
" Kita lihat, hari ini masalah apa lagi yang akan kamu buat" ucapnya lagi ketika sebuah pesan dari sekertaris masuk di ponselnya yang menginformasikan jika Kiran kini sudah berada di kantor utama perusahaan miliknya.
Tanpa Abian sadari ia sedikit menyunggingkan senyum membayangkan Kiran akan menjadi salah satu staff di kantor induk miliknya.
Sementara itu....
" Selamat pagi, ibu Kiran" sapa seorang wanita yang usianya kurang lebih hampir sama dengannya.
" Pagi. " jawab Kiran ramah.
" Maaf sudah menunggu. Nama saya Ivy, saya sekertaris pak Bian. Saya yang menelepon ibu kemarin. Saya ucapkan selamat bergabung." jelasnya tak kalah ramah.
" Oh... Iya, terima kasih."
" Kalau gitu, mari saya tunjukkan tempat ibu." ucap Ivy sambil menuntun Kiran ke suatu tempat yang tak begitu jauh dari posisi mereka.
" Ini meja kerja ibu Kiran. Di sebelah sana meja kerja saya tepat di depan ruang kerja pak Bian." jelas Ivy lagi sambil menunjuk ke arah berlawanan dengan mereka.
" Baik. Terima kasih"
" Kalau masih ada yang kurang jelas atau mau ibu tanyakan, saya siap membantu"
" Ng... Ada. Saya mau minta tolong."
" Apa itu bu?" tanya Ivy nampak tulus.
" Bisa panggil saya Kiran saja? Umur kita sepertinya nggak beda jauh kan?."
" Oh, itu... Terserah kamu aja. Saya juga nggak punya banyak teman di sini. Kamu tahu sendiri, jadi sekertaris bos itu lebih baik kalau kita nggak punya teman." ucap Ivy mewakili perasaannya selama ini.
Kiran hanya tersenyum dan ia tahu tidak mudah berhadapan dengan orang seperti Abian setiap harinya.
" Ya udah aku tinggal ya. Selamat bekerja" ujar Ivy lagi sambil melambaikan tangan pada Kiran menuju meja kerjanya.
Kiran lalu meletakkan tas miliknya pada meja yang telah Ivy tunjukkan tadi sambil sesekali menoleh dan tersenyum ramah pada beberapa rekan kerja yang duduk di sekitar kubikel miliknya dan mulai merapikan meja kerjanya.
Ia lalu memutuskan untuk berjalan menuju toilet untuk sedikit mencuci tangannya dan membuat segelas kopi di pantry setelah menata meja kerjanya sedemikian rupa.
Pandangannya lalu tertuju pada sebuah koran yang ada di dekatnya dimana ia melihat gambar Abian dan dirinya kemarin sewaktu menanam bibit pohon cemara tersebut.
Abian Gavin Mahadi Pemilik GM Group menanam bibit pohon pertama untuk proyek taman hijau terbuka
" Wah wah, lihat aja gayanya. Dia udah seperti 50 tahun terbiasa nanem pohon pohonan. Padahal kemarin dia bahkan nggak tahu sama sekali caranya." ucapnya sambil terus membaca isi berita tersebut dengan serius. Kiran bahkan tidak menyadari jika pria yang ia bicarakan dengan dirinya sendiri kini berada tepat di balik punggungnya dengan melipat kedua tangannya mendengarkan ocehan kecil sang staff baru.
" Menurut saya gambarnya bagus" sambung Bian yang langsung membuat Kiran sontak berbalik terkejut dan gugup. Terlebih lagi saat mata elang pria tersebut menatapnya dengan tajam.
" Eh... Umm... Iya pak" jawab Kiran mencoba menenangkan diri.
" Tadi kamu bilang apa?"
Kiran lalu memperlihatkan koran yang ia pegang pada Abian dengan hati- hati.
" Maksud saya, ini... Mmm... Bapak ada di halaman utama dan bapak kelihatan keren dan berpengalaman. Bapak kelihatan betul- betul peduli dengan lingkungan dan ini pasti bagus untuk image bapak." jelas Kiran sekenanya saja.
Abian lalu memajukan wajahnya lebih dekat dan membuat Kiran makin gugup dibuatnya.
" Terima kasih atas perhatian kamu, tapi jangan bicara terlalu banyak di jam kerja. Kembali ke meja kamu" ucap Abian langsung meninggalkan Kiran yang termangu.
" Sudah aku duga, dia pasti berulah" ujar Bian pada dirinya sendiri sambil menggelengkan kepala berjalan menuju ke ruangannya.
***
" Bapak ada tamu di ruangannya?" tanya Kiran pada Ivy yang nampak sibuk mengetik sesuatu pada layar komputernya.
" Eh, kamu... Nggak ada. Masuk aja. Pak Bian baru saja minta dibuatkan kopi. Baru mau saya antarkan ke dalam juga tapi kebetulan mau ngirim email ini dulu" jelas Ivy yang nampak repot.
" Kalau kamu mau bisa saya bawa masuk sekalian. Gimana?"
" Bener nggak apa- apa?"
" Ya nggak lah. Biar aku aja. Aku kan kebetulan mau masuk."
" Ya udah. Makasih ya."
Kiran hanya mengangguk tersenyum sambil mengambil nampan yang ada di samping meja Ivy dan membawanya bersama berkas yang akan ia serahkan pada Abian.
Tok Tok
" Masuk" ucap Abian masih sambil menatap layar komputernya.
Kiran lalu masuk dan meletakkan berkasnya di atas meja dan meletakkan gelas kopi Abian di hadapannya.
" Ini kopi bapak"
Abian lalu menoleh sekilas pada gelas kopi tersebut.
" Kenapa kamu yang bawa?"
" Oh itu tadi kebetulan saya mau masuk kesini dan Ivy lagi sibuk jadi sekalian saya bawa untuk bapak"
" Ini berkas yang harus bapak tanda tangani. Saya sudah kirimkan soft copynya di email bapak dan mbak Lena."
" Dimana yang harus saya tanda tangani?" tanya Abian masih dengan raut wajah seriusnya.
Kiran lalu melangkah lebih dekat ke samping Abian dan sedikit menunduk untuk membuka lembaran berkas di hadapan Bian saat ini.
" Ada beberapa sih pak. Disini..."
Bian lalu langsung menandatanganinya, dan Kiran kembali membuka lembaran yang lain.
Bian memejamkan matanya sesaat ketika mencium aroma parfum Kiran yang terasa manis di penciumannya.
" Disini juga pak"
" Oke"
" Ini juga pak"
Bian lalu kembali menandatanganinya.
" Dan disini yang terakhir"
" Apa kamu---" ucap Bian yang terpaksa harus terhenti karena disaat ia menoleh pada Kiran, gadis itupun ikut menoleh dan membuat pandangan mereka bertemu dan jarak wajah mereka menjadi lebih dekat.
" I... Iya pak"
Bian lalu secepatnya mengubah ekspresi wajahnya kepada Kiran yang juga nampak salah tingkah dan kini mengangkat tegak tubuhnya.
" Sisipkan laporan dari Ivy sebagai lampiran."
" Baik pak"
" Dan saya minta laporan logistik kantor kamu yang lama tiga tahun terakhir untuk saya periksa dan cocokkan ulang"
" Ng... Itu... Maaf pak, laporan itu belum selesai saya buat." jawab Kiran.
" Bukannya sudah saya bilang sebelumnya kalau saya mau data itu hari ini?"
" Iya pak. Tapi bapak juga minta laporan ini saya selesaikan pagi ini jadi saya..."
" Oke. Kalau begitu bagaimana kalau kita mencari dua karyawan lagi untuk menjadi asisten kamu. Jadi kamu bisa kerjakan laporan kamu tepat waktu. Bagaimana?" ucap Abian sinis.
Kiran menarik nafas dalam dan mencoba tidak mendebat atasannya karena ini memang kelalaiannya.
" Bapak tidak perlu khawatir, laporan saya akan selesai hari ini."
Abian hanya mengangkat sebelah alisnya lalu kembali berbalik menatap pada berkas dihadapannya.
" Hari ini kita ada meeting. Saat selesai nanti, sudah hampir sore dan itu artinya kamu tidak akan sempat menyelesaikan hari ini" ucap Abian terdengar meremehkan Kiran.
" Tapi hari berakhir sampai jam 12 malam pak."
Abian menarik napas dan menenangkan diri.
" Saya tau itu nona Kirana Amaya. Kalau begitu, kamu silahkan selesaikan laporan kamu hari ini juga. Dan saya mau semuanya sudah ada di meja saya besok pagi. Ini..." ujar Abian sinis sambil menyerahkan berkas yang telah selesai ia tandatangani kepada Kiran.
" Silahkan kembali ke meja kamu. Dan bersiap untuk meeting 30 menit lagi."
Kiran lalu menerima berkas tersebut dengan raut wajah kesal namun hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan Abian yang terus menatapnya.
" Kamu ngerti maksud saya tapi saya harap saya juga bisa mengerti kamu. Hufftt" misuh Kiran yang terdengar samar di telinga Abian namun ia tahu jika gadis tersebut sedang memprotesnya.
" Ada lagi?" tanya Abian iseng yang membuat Kiran berbalik dengan berat hati.
" Tidak ada pak"
" Jangan lupa tutup pintunya dan jangan suka bicara sendirian"
Kiran yang mendengar ucapan Abian hanya mengangguk namun dengan tangan yang mengepal menahan kekesalannya.
Berbeda dengan Abian yang kini tersenyum simpul setelah pintu ruangannya tertutup sempurna.