Setelah tawar menawar bersama Ajun, akhirnya Zeze menemukan titik terang dan ia terpaksa harus menyewa kamar kost yang tidak jauh dari kamar kost milik Ajun.
Tapi semakin lama ia sendiri, perempuan itu merasa ada yang salah dengan dirinya. Selama ini ia hidup bersama keluarga dan dalam sekejap mata ia harus ada dalam satu ruangan sendiri, tanpa ada televisi ataupun radio hanya sekedar untuk mendengar musik dan celoteh dari orang-orang yang jauh di sana.
Perutnya yang belum terisi sejak pagi, membuat sebuah suara memalukan terdengar jika saja ada yang mendengarnya. Dengan cepat ia bergegas keluar dari kamar kostnya dan mencari makanan apapun yang bisa mengganjal perutnya.
“Kayanya kalau gue ngajakin si Ajun, seru juga,” gumamnya saat sedang mengunci pintu.
“Mau kemana lo?” suara Ajun berhasil membuat Zeze terkejut dan langsung mengarahkan kaki jenjangnya untuk berjaga-jaga. “Wehhh... Santai dong, ini gue Zeze...” Ajun menoyor kening perempua itu dan mengangkat dua buah kantung plastik yang berisi makanan.
Mata perempuan itu seketika berbinar, tidak sia-sia ia memiliki sahabat seperti Ajun, karena secara tidak langsung pria itu bisa mengerti dirinya.
“Lo emang teman baik gue, Jun! Thanks ya..., gue udah laper banget.”
“Gak usah sok manja! Cepat makan, gue punya kerjaan buat lo.”
Zeze hanya memutar bola matanya malas, tapi dengan cepat ia menyantap makanan yang kini ada ditangannya. Ia makan dengan begitu lahapnya, bahkan terlihat seperti orang yang tidak mendapat makanan selama beberapa hari.
Mulai hari ini, Zeze harus bisa melakukannya sendiri dan ini bukanlah masalah baginya. “Kenyangnya..., istirahat bentar ya?” ia memberikan wajah yang memelas, terkesan bermanja.
“Nggak bisa Ze, gue harus ke bengkel ambil motor buat lo. Lagipula lo nggak punya kerjaan kan hari ini?”
Zeze nampak menimbang-nimbang perkataan Ajun. Ia melirik ke dalam kamar kostnya, sepi dan akhirnya membuat perempuan itu memilih untuk ikut bersama Ajun. Pikirannya berkelana jauh, membayangkan bagaiaman situasi orang tuanya saat berkata harus membatalkan perjodohan.
“Ayo pergi,” Zeze tersenyum dan langsung duduk di motor pria itu.
***
Sementara disebuah restoran mewah, saat ini dua keluarga itu sedang duduk bersama dengan situasi yang sangat tidak nyaman. Bagaimana tidak, keluarga Anggoro termasuk Marvin saat ini seakan menghakimi Krisna dan Melisa.
“Ahahaha..., Kris, kenapa wajahmu tegang seperti itu?” Anggoro tertawa dan kemudian menepuk bahu sahabatnya pelan. “Zeze baru saja berusia dua puluh tahun, wajar saja jika dia menolak. Jadi bagaimana Marvin, belum bertemu dengan mu saja, calon istrimu sudah kabur? Hahaha...” ledek Anggoro pada putranya.
“Ck! Semua terserah Papa saja. Aku permisi,” Marvin langsung berpamitan pada semua orang dan ia kembali mengajak asisten pribadinya pergi. “Reno, ayo pergi!! Sore ini aku ada metting penting.”
Pada akhirnya di meja itu hanya tersisa para orang tua. Anggoro yang tidak mempermasalah penolakan Zeze-putri sahabatnya itu hanya tersenyum dan meminta Krisna untuk bersikap santai. Pun dengan istrinya Karina, yang tidak ingin ambil pusing, setidaknya kalau anak mereka berjodoh tidak akan lari kemana.
“Saya benar-benar merasa tidak enak dengan Nak Marvin,” kata Melisa setengah menunduk, “Nak Marvin pasti sangat tersinggung karena Zeze pergi dari rumah.”
“Tidak usah di pikirkan, sikap Marvin memang seperti itu dan hal itulah yang menjadi alasan kenapa sampai usianya 30 tahun, ia masih sendiri.”
Karina tertawa lepas, sikap dingin putranya memang selalu berhasil membuat orang lain segan padanya, bahkan beberapa wanita yang sudah setuju menikah dengannya mundur, tidak tahan dengan sikapnya itu.
Semua sifat Marvin sangat berbeda jauh dengan Zeze. Gadis itu cenderung cerewet dan ceria, bahkan ia tidak suka pada orang kaku dan menyebalkan seperti Marvin.
“Sepertinya kami harus pulang,” Krisna akhirnya kembali buka suara. Ia merasa benar-benar malu dengan Anggoro, melihat betapa pengertian sahabatnya itu dengan sikap putrinya sungguh keterlaluan dimatanya.
“Tidak bisa Kris, Mel. Kita harus makan bersama dulu, setelah itu kalian baru bisa pergi dari tempat ini. Mengenai perjodohan ini, jangan terlalu kalian pikirkan, toh kita bisa menundanya, bukan?”
Krisna dan Melisa akhirnya mengangguk dan ada persaan tenang saat mendengar perkataan Anggoro. Setidaknya ia bisa mencari cara untuk kembali membujuk Zeze dan kembali mengulang perjodohan ini.
Seorang ayah ingin yang terbaik untuk anaknya, begitu juga dengan Krisna yang ingin putrinya bahagia dan hidup bersama orang yang tepat seperti Marvin.
***
Setelah meninggalkan restoran tersebut, Marvin benar-benar pergi ke kantor dan menyelesaikan urusannya. Tapi bukan hanya itu, pria itu juga menyelesaikan sebuah masalah yang sangat mengganggunya.
Penolakan yang diberikan gadis bernama lengkap Zeze Angelin berhasil menyita pikirannya. Merasa terhina dengan sikap gadis kecil itu, membuat Marvin akhirnya ingin menyusun rencana, setidaknya ia akan membuat gadis itu bertekuk lutut dan meminta maaf.
Begitu banyaknya wanita yang selalu mendekatinya setiap waktu, tapi ia sama sekali tidak pernah memberikan harapan dan lebih sering membuat mereka enyah dengan sikap dingin dan mulut pedasnya.
“Reno, masuk!!” panggilnya melalui sebuah intercome.
“Baik, Pak.”
Tidak berselang lama seorang pria bertubuh tinggi memakai pakaian yang begitu rapih masuk dan berjalan mendekati meja kerja Marvin. Pria itu tidak lain adalah Reno. Tanpa menunggu perintah Marvin, Reno langsung duduk dan bicara dengan santai, setidaknya ia tahu jika saat ini Marvin bukan ingin membahas pekerjaan.
Sejak sekolah menengah ia mengenal sahabat sekaligus bos nya itu, tentu ia tahu setiap hal dan sifat dari Marvin yang terkadang begitu menyebalkan.
“Ada apa bos?” tanya Reno sedikit meledek, “Jangan bilang kalau kamu ingin membahas masalah penolakan gadis itu,” lagi ia meledek Marvin tanpa celah.
“Cih! Kau selalu saja tahu apa yang aku pikirkan.”
Reno tertawa keras, jangan pernah menyebut namanya Reno jika ia tidak tahu bagaimana cara berpikir Marvin. Semua hal kecil mengenai Marvin, ia sangat mengetahuinya, bahkan kelakuan nakal pria itu semua ia ketahui tanpa ada yang terlewatkan.
Melihat senyum ejekan dari Reno, Marvin lantas menyandarkan punggungnya dan memutar kursi kebesarannya, sampai akhirnya ia kembali berhadapan dan langsung meletakan kedua tangannya di atas meja. Nampak serius.
Marvin nampak mengetukkan tangannya di meja, membuat susunan irama yang mengusik Reno. Karena hari ini Zeze tidak menghadiri pertemuan pertama dan melarikan diri, Reno tidak bisa memberi saran apapun, kecuali mempertemukan keduanya.
“Jangan banyak berpikir! Cari saja gadis itu, setelah itu baru kamu putuskan sendiri akan berbuat apa padanya,” ujar Reno dengan santai.
“Ide mu bagus juga. Kalau begitu cari dia, setelah itu aku akan membuat gadis kecil itu menyesal telah menolak seorang Marvin Anggoro.”