Hari ini, untuk pertama kalinya Reno melihat sisi lain dari Marvin. Ya, pria itu nampak berbeda, ia bahkan rela menyusun rencana dan mengeluarkan uang cukup banyak demi memuluskan rencanannya.
Selama ini Marvin cenderung tidak pernah peduli dengan para wanita yang selalu berlomba-lomba mendekatinya, bahkan rela menyerahkan tubuh mereka untuk di jamah oleh pria itu dengan suka rela.
“Aku ingin kabar baik secepatnya! Gadis kecil itu pasti tidak akan bisa lari jauh, karena dia akan kehabisan uang dan—cepat atau lambat dia akan kembali bukan?”
“Kamu memang betul Vin, tapi bagaimana kalau dia tidak cepat kembali?” pertanyaan Reno kembali membuat Marvin harus berpikir.
Pria itu menggeram kesal, bagaimana kalau dia tidak kembali? batinya kembali bermasalah hanya karena seorang gadis kecil yang sudah berani menolaknya.
“Segera cari tahu dimana ia berada! Jika perlu, dimana ia tinggal, apa yang ia lakukan dan dari mana ia bisa mendapatkan uang untuk bertahan hidup!” tegas Marvin.
Sedangkan Reno hanya bisa menahan tawa saat melihat sahabatnya itu begitu penasaran dengan sosok Zeze yang dikatakan oleh Anggoro sebagai gadis yang unik, dan dengan begitu yakinnya ia mengatakan jika Marvin tidak akan menolak gadis itu. Tapi yang terjadi saat ini, justru ia yang ditolak. Mengenaskan sekali.
***
“Sampai kapan kamu akan sendiri, hmm?” tanya Anggoro diruang kerja pribadinya, “Ingat Marvin! Usia mu sekarang sudah 30 tahun dan sudah sangat tepat untukmu memiliki seorang istri.”
Mendengar perkataan Anggoro, Marvin hanya berdecak dan kembali meraih gelas yang sudah terisi oleh wine. Pertanyaan seperti ini bukan baru kali ini mengganggu indra pendengarannya, tapi ini sudah yang kesekian kalinya.
Anggoro benar-benar ingin putra semata wayangnya itu menikah, dan ia akan bisa menikmati masa tuanya dengan menggendong seorang cucu dan bebas dari beban pekerjaan kantor yang membuat ia harus menghabiskan waktunya bersama orang lain.
“Ayolah Pa, baru 30 tahun! Aku hanya belum menemukan perempuan yang pantas untuk menjadi menantu kalian, jadi bersabarlah sedikit lagi,” Marvin berusaha untuk mengulur waktu, yang sejujurnya ia masih suka hidup sendiri, bebas tanpa ada aturan dari wanita disetiap ia terbangun dari tidurnya.
“Tidak! Untuk kali ini Papa tidak bisa percaya lagi padamu. Dua tahun yang lalu kamu juga berkata seperti ini, tapi sampai detik ini sama sekali tidak ada satu wanitapun yang berhasil kamu perkenalkan pada Papa dan Mama.” Anggoro langsung memutuskan harapan Marvin untuk hidup bebas. “Papa sudah menyiapkan satu gadis untukmu! Usianya baru 20 tahun. Dia gadis yang cantik, sangat sesuai dengan kriteriamu dan dia adalah gadis yang unik, sulit untuk mencari sepertinya lagi.”
Wine yang masih ada dalam mulutnya seketika menyebur begitu saja. ia terlalu terkejut dengan perkataan Anggoro. Gadis berusia 20 tahun? Papanya benar-benar gila, bagaimana bisa gadis yang pantas menjadi adiknya, harus ia nikahi dan sudah dapat dipastikan ia akan berbagi ranjang dengan gadis kecil itu.
“Wait! Apa Papa tidak bisa mencarikan aku perempuan dewasa, sampai harus mmeberikan aku seorang gadis kecil? Come on, Pa! Aku harus mendapatkan seorang istri, bukan seorang adik!”
Anggoro melihat dengan benar jika Marvin sangat serius menanggapi perkataannya, dan ini menjadi sebuah peluang besar untuknya agar putranya dan Zeze segera dipertemukan.
“Papa tidak mau tahu! Minggu depan, kamu harus bertemu dengan gadis itu. Setelah pertemuan itu, silahkan putuskan bagaimana pendapatmu. Tapi Papa berani bertaruh, jika pada akhirnya kamu tidak akan menolak,” Anggoro menghabiskan wine yang ada ditangannya, dan keluar begitu saja tanpa menunggu reaksi dari Marvin.
***
Sialnya, tanpa Marvin sadari, ia benar-benar sangat penasaran dengan gadis bernama lengkap Zeze Angelin itu. Sampai akhirnya ia menginginkan data lengkap perempuan itu.
Otaknya mulai bermain dengan segala hal, mulai dari hal baik, hingga hal buruk ia rencanakan untuk gadis yang belum pernah ia temui sama sekali.
“Jangan cuman senyum-senyum sendiri lo, pergi sana!! Bawa data lengkap dari perempuan itu dan jangan sampai ada hal yang terlewatkan. Meskipun itu hal kecil sekalipun.”
“Oke! Selamat menikmati rasa penasaran anda Tuan Marvin,” ledek Reno yang langsung berlari kelua dari ruangan tersebut.
“Sialan!!” Marvin melempar balpoint itu pada pintu yang sudah tertutup.
Ia menekankan pada dirinya sendiri, jika semua yang ia lakukan semata-mata hanya karena ingin membalaskan penghinaan yang telah Zeze lakukan. Penolakan ini benar-benar membuatnya terhina, karena diluar sana begitu banyak wanita yang mengincarnya sedangkan Zeze malah meninggalkannya begitu saja.
Tidak ingin terus memikirkan gadis kecil itu, Marvin akhirnya memilih untuk kembali ke apartemen mewahnya. Malam ini ia harus pergi dan berkelana untuk melepaskan kekesalannya. Klub malam, tempat itu nyatanya menjadi pilihan terbaik, karena jika ia memilih untuk kembali ke rumah, pasti saja Anggoro—Papanya—akan mengejeknya habis-habisan. Marvin tidak mungkin rela jika ia menjadi bahan ejekan, meskipun hal itu dilakukan oleh papanya sendiri.
“Awas saja kau gadis kecil! Aku yakin kau akan menyesal telah mempermalukan aku dengan cara kabur dan menolak perjodohan ini,” gumamnya dengan tatapan yang begitu bengis.
***
Sedangkan dilain tempat, saat ini Zeze sedang sibuk melihat-melihat lihat barang dan peralatan bengkel bersama Ajun. Pria itu benar-benar membuat Zeze bekerja dan mengotori tangannya dengan oli dan cairan hitam lainnya.
“Ze, ambilin kunci 10 dan 12,” titah Ajun, dan tidak lama ia kembali membawa apa yang diminta pria itu.
Zeze berjongkok dan melihat setiap hal yang Ajun lakukan. Wanita itu menatapnya penuh minat, seakan semuanya benar-benar menarik. Inilah hal unik yang Anggoro katakan. Pria pemilik perusahan besar itu tidak mungkin memilih Zeze sebagai menantunya, jika perempuan itu tidak sesuai dengan harapannya.
Mavin adalah pria dingin dan gial kerja. Sedangkan Zeze, gadis itu ceria dan menyukai hal yang sangat jarang disukai oleh kebanyakan kaum wanita.
“Jun! Udah berapa lama lo kerja di sini?” ia menatap sekeliling, dari tempat ini Zeze bisa menaksir jika bengkel ini sudah beroprasi cukup lama.
“Ini bengkel udah lama banget, dan turun temurun. Tapi sayangnya gue nggak punya banyak modal buat ngembangin bengkel ini,” jelas Ajun.
Bengkel ini memang sederhana, namun lokasinya yang sangat strategis membuat ide Zeze melesat cepat. Bahkan ia tidak segan untuk menghitung berapa biaya yang dibutuhkan untuk sedikit merapihkan bengkel tersebut. Gadis itu sangat yakin jika bengkel ini tidak akan sia-sia nantinya.
Zeze sangat yakin jika bengkel ini bisa lebih baik, karena selama ini ia tahu benar bagaimana motor yang keluar dari bengkel ini selalu mendapatkan kepuasan dan tidak pernah ada keluhan, setahunya. Ia memang tahu mengenai bengkel ini, namun ia tidak tahu jika ini adalah warisan turun termurun.
“Jun, gimana kalau bengkel ini kita renovasi!” serunya dengan menatap Ajun dari dekat.
“Modal dari mana Ze? Nggak usah aneh-aneh.”