5. Calon ibu bos

1119 Words
Beberapa minggu telah berlalu. Saat ini Zeze dan Ajun berdiri di depan sebuah bengkel sederhana dengan penampilan baru dan gaya khas anak muda. Setelah mengatakan untuk merenovasi bengkel milik Ajun, gadis itu mengeluarkan semua isi tabungannya untuk memperbaiki semuanya sesuai keinginannya.   Sudut bibirnya terangkat, ia benar-benar puas dengan hasil renovasi bengkel itu dan tentunya membuat bengkel yang tidak pernah dilirik itu dipadati oleh para pecinta motor.   “Gue benar-benar nggak nyangka kalau bengkel gue bisa seramai ini,” Ajun akhirnya buka suara.   “Hmmm..., tapi duit tabungan gue habis, Jun! Dan lo harus nyari jadwal buat balapan, paling tidak gue punya uang buat bayar uang kuliah gue bulan ini,” katanya dengan mata yang masih memandang lurus pada bengkel tersebut.   “Masalah itu lo nggak usah khawatir! Banyak jadwal yang mau balapan sama lo, dan tentunya mereka bisa bikin lo kaya dalam beberapa malam saja.”   Zeze hanya mengangguk. Entah kenapa ia merasa lelah dan akhirnya memutuskan untuk masuk dan beristirahat pada ruangan yang telah ia desain seperti ruang istirahatnya dan Ajun.   Gadis itu benar-benar terlelap dan sama sekali tidak menghiraukan apa yang saat ini terjadi. Beberapa orang yang belum mengenali Zeze, terus saja bertanya-tanya siapa cantik itu dan apa hubungannya dengan Ajun. Selepas Zeze menghilang dibalik pintu, suasana di depan bengkel tiba-tiba menjadi riuh, tentu saja karena tidak ada orang yang percaya jika gadis cantik itu sangat liar jika ada di jalanan. Seorang pria cukup terkejut saat mengetahui siapa gadis itu sebenarnya, tapi tidak sedikit dari mereka yang hanya mencibir dan mengejek Zeze.   “Gue nggak percaya kalau cewek kaya dia bisa pake motor. Lo lihat, bahkan dia sama sekali tidak terlihat seperti seorang joki,” sergah pria dengan gaya pongahnya.   “Jangan remehkan Zeze karena tubuhnya yang ramping dan wajah cantiknya! Lo bisa-bisa malu kalau sampai berani nantangain dia,” timpal Ajun dengan santai.   Reno yang sudah ada di sana sengaja lebih mendekat dan terus mencari cara bagaimana ia menggali informasi mengenai gadis yang sudah berani menolak sahabat sekaligus bosnya itu.   “Maaf, apa semua boleh menantangnya? Atau hanya orang-orang tertentu saja?” tiba-tiba ia melayangkan pertanyaan dan tentu saja membuat semua orang menolah, begitu juga dengan Ajun.   Tidak sembarangan, melihat penampilan Reno yang seperti kalangan atas, tentu membuat Ajun hati-hati. Bisa saja Reno adalah seorang polisi yang sedang mencari informasi mengenai balapan liar yang marak terjadi.   Merasa tidak diberi kepercayaan, Reno akhirnya memperkenalkan diri sebagai seorang pecinta motor dan tertarik utuk melawan Zeze. “Saya punya anak didik dan sepertinya gadis yang kamu bicarakan tadi cocok untuk jadi lawannya,” jelas Reno lebih meyakinkan.   “Zeze! Nama gadis itu adalah Zeze. Tapi apa yang akan Zeze dapatkan jika ia berhasil menang?” Ajun tidak gegabah, ia tidak mungkin membiarkan Zeze tidak mendapatkan apapun setelah ia melakukan balapan. Tentu saja ada harga yang harus diberikan untuk kemenangannya itu.   “Apa saja! Uang, motor dan apapun yang ia minta akan aku berikan. Bagaimana?”   “Tunggu! Tapi kalau Zeze kalah?” Ajun merasa ini terlalu berlebihan.   “Kalian tidak harus membayar apapun! Tapi semua itu akan dibahas jika memang Zeze menerima tawaran ini,” Reno berusaha bernegosiasi dengan benar. Ia tidak ingin melakukan kesalahan. Karena jika tidak, Marvin akan memotong gaji sesuka hatinya.   “Ini kartu nama ku! Telepon saja aku jika kalian akan menerima tawaranku ini.” Setelah itu Reno memilih pergi dan segera menghubungi Marvin, meskipun ia ragu jika orang yang akan melawan Zeze bisa menang.   Ajun menerima kartu nama milik Reno, keningnya berkerut saat melihat kartu nama yang ada ditangannya. Tapi semua keputusan tetap akan ada ditangan Zeze, ia hanya menjadi perantara saja untuk gadis itu. Ia menyipan kaartu tersebut dan kembali sibuk dnegan beberapa motor yang harus ia periksa.   ***   Reno saat ini sudah sampai disebuah gedung yang menjulang tinggi, mewah dan berkelas, dimana saat ini Marvin sudah menunggu kabar baik darinya.   Sama seperti yang lainnya. Jika di lingkungan kantor, Reno selalu bersikap profesional dan memanggil Marvin sebagai bos. Tapi saat keduanya sudah ada dalam lingkungan bermain mereka, tentu saja batasan seperti ini hilang dan mereka sama-sama melakukan kegilaan. Club malam, minum, wanita dan sama-sama berakhir pada adegan ranjang yang begitu panas dan liar.   Tok, tok, tok... “Masuk!” sahut Marvin dengan mata yang fokus pada layar laptopnya.   “Selamat siang bos! Rasanya aku masih tidak percaya jika gadis yang aku temui adalah calon ibu bos,” kata Reno dengan mendaratkan bokongnya dikursi, tepat didepan meja kerja Marvin.   Mendengar hal itu, Marvin lantas memiringkan kepalanya sedikit dan melihat wajah lelah Reno. Tidak lama setelah itu ia memutuskan untuk menutup pekerjaannya dan menatap Reno tajam.   “Jadi bagaimana? Apa kamu sudah bertemu atau bicara dengannya?” Marvin terlihat antusias, hanya saja wajahnya tetap datar tanpa senyum.   “Ini...” Reno memberikan ponselnya yang menyala, tentu saja dengan foto Zeze yang sengaja ia curi dari jauh. Full body, dan dari posisi yang pas.   Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tepat dihadapan Reno. Keningnya sedikit berkerut saat tanpa sengaja ia menggeser layar ponsel tersebut.   “s**t!! Apa kau mengabadikan setiap wanita di sana dengan cara seperti ini, huh? Aku benar-benar terkejut!” Marvin geleng kepala saat melihat foto seorang wanita tanpa sehelai benangpun tergeletak dengan begitu menggoda.   “Fokus pada foto pertama! Jangan melihat yang lain,” Reno merebut ponselnya dan akhirnya memilih untuk mengirimkan foto Zeze langsung pada ponsel Marvin.   “Ck! Ternyata kau sangat takut jika aku melihat isi galeri mu itu, hahaha...” Marvin tertawa lepas. Sedangkan Reno, pria itu hanya mendengus kesal karena ulahnya itu ketahuan oleh Marvin.   Marvin kembali fokus pada perbincangan awalnya mengenai Zeze. Ia kembali memandangi gadis itu, melihat setiap inci wajahnya dari layar ponselnya, tapi bibirnya tentu saja mulai menilai gadis itu secara langsung.   “Gadis yang cantik! Aku yakin dadanya masih sangat keras, tapi sayangnya aku tidak berminat. Dia terlalu kecil!” katanya sedikit mengejek, namun dalam hatinya ada rasa penasaran bagaimana sikap gadis ini saat bertemu dengan pria setampan dirinya. “Kapan aku bisa bertemu dengannya?”   “Aku tidak tahu! Aku masih belum mendapat persetujuan dari pria bernama Ajun, tapi aku yakin dia akan menerima tawaran kita. Tidak sengaja aku mendengar, jika gadis itu sedang membutuhkan uang untuk membayar kuliah.”   “Bagus! Selamat datang dalam kehidupanku yang kejam Zeze Angelin,” gumamnya dihadapan Reno.   “Jangan terlalu percaya diri, Vin! Aku dengar gadis itu luar biasa jika sudah di jalanan. Liar!” Reno memberikan ekspresi yang kuat, bahkan terlihat seakan ia tahu bagaimana Zeze sebenarnya. Tapi hal itu sama sekali tidak berpengaruh pada Marvin. Pria dingin itu sama sekali tidak akan terganggu dengan sikap liar Zeze di jalanan. Tapi yang Marvin inginkan hanya satu, membuat Zeze menyadari kesalahannya karena telah berani menolak seorang Marvin.   “Semoga saja gadis itu juga liar di atas ranjang.”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD