Mau bikin anak kalau sudah sembuh atau pulih usai mabuk. Kata-kata yang diucapkan Sherena sepanjang malam, di sela tangisannya karena rasa sakit yang amat sangat bersarang di kepalanya saat ini.
Gadis itu juga mengalami muntah yang tak pernah berhenti, hingga isi perutnya terkuras habis tak bersisa. Sampai-sampai Abdi turut khawatir dan cemas dengan kondisi Sherena saat ini.
Namun, setelah memanggil dokter ke rumah, kondisi Sherena mulai berangsur membaik. Meskipun masih terbaring di ranjang, dengan wajahnya yang pucat. Dahinya juga masih basah oleh keringat, pasca mendapatkan infus tadi pagi.
Abdi yang semalaman ini tak bisa menutup mata karena menjaga Sherena, memilih untuk istirahat sejenak. Merebahkan tubuhnya di sofa, dan berniat untuk memejamkan mata, meski hanya sekejap saja.
"Tidak, ini tidak mungkin!" pekik Sherena, persis sesaat setelah Abdi mulai hanyut dalam tidurnya. Gadis itu sudah duduk dan menepuk-nepuk kedua pipinya, memastikan apakah ini mimpi atau tidak.
Seingatnya, kemarin sore ia menghubungi Miko dan memaksanya untuk memberitahu di mana bisa menemukan minuman sejenis wine yang waktu itu membuat Miko bisa memiliki Viona secara utuh.
Miko mati-matian menolak. Sampai ia tak mampu menolak karena Sherena sudah berada di ruang kerjanya. Mencari sendiri di mana letak minuman yang mampu mencabut kesadaran dan akal sehat seseorang dalam kurun waktu tertentu.
Miko dan Viona pun telah meminta Sherena untuk tidak mengambil minuman tersebut. Tapi, akhirnya mereka berdua menyerah saat Sherena melangkah pergi dan mencari di tempat lain. Dengan bermodalkan ponsel yang ada di tangannya tentu saja akan memudahkan gadis itu mencari di tempat lain. Bahkan bisa lebih dari yang dimiliki Miko.
Takut Sherena mendapatkan minuman dengan kandungan alkohol tinggi, Miko akhirnya menyerahkan satu botol dengan kadar yang paling rendah. Meminta dan mengingatkan Sherena agar tidak meminumnya hingga habis, sendirian.
Miko juga menyampaikan dampak negatif dari minuman tersebut. Salah satunya hilang akal sehat. Parahnya akan merusak pencernaan dan kinerja jantung bagi yang belum terbiasa. Tapi diabaikan Sherena, sehingga ini yang terjadi.
"Abdi … ini kamu sudah selesai tanpa pemberitahuan apa gimana?" tanya Sherena seraya terisak. Tangannya meremas kuat selimut yang ia kenakan.
Abdi menghela nafas. Beringsut duduk dan menatap sang istri. "Apanya yang selesai? Sakitnya? Kalau kamu merasa sudah membaik itu artinya sakit kamu sudah selesai dan besok aku bisa masuk kantor."
"Sakit apa? Siapa yang sakit? Bukannya aku sehat? Aku hanya minum dan …." Sherena menjeda. Mengingat kembali apa yang terjadi, setelah setitik ingatan kembali.
Ia memiringkan kepalanya, saat ingat mengenakan sebuah lingerie jaring sebelum menenggak habis satu botol wine yang diberikan Miko. Karena malam itu katanya Miko minum banyak, sehingga ia melakukan itu juga.
Tidak lama setelah gelas terakhir ditenggak, pandangan Sherena terasa berputar dan tubuhnya terasa melayang di udara. Hingga melihat handle pintu turun, saat Abdi ingin masuk ke kamar.
Sherena ingat dengan jelas kalau mereka saling berganti saliva dan berakhir di atas ranjang.
Cepat gadis itu meraba tubuhnya. Melompat turun dari ranjang untuk merasakan sesuatu. Seperti yang ia baca di internet, setelah malam pertama, pengantin wanita akan merasa sakit di kedua pangkal pahanya. Sedangkan dirinya? Tidak sama sekali.
"Sebenci itukah kamu padaku?" Sherena melirik Abdi yang duduk bersandar di sofa.
"Benci bagaimana? Kalau aku benci, aku tidak akan pernah mau mengurusmu dan meninggalkan pekerjaanku di kantor." Abdi memijat pelipisnya. "Sheren, jangan lagi minum minuman yang tak pernah kamu sentuh jika tidak ingin sakit dan tidak sadarkan selama dua hari. Jangankan bikin anak, buat tidur dengan baik saja kamu tidak akan bisa."
"Kalau begitu, kenapa bukan kamu saja yang bikin sendiri? Bukannya malah mengganti pakaianku saja. Ah, aku jadi ragu padamu."
"Ragu kenapa?"
"Aku ragu kalau kamu itu tidak suka wanita. Sukanya pria. Buktinya kamu tidak tergoda sama sekali padaku. Padahal kamu sudah melihat tubuhku secara utuh."
"Jangan sembarangan berbicara. Aku normal, tidak seperti yang kamu katakan. Dan jangan percaya diri dulu. Karena bukan aku yang mengganti pakaianmu. Tapi Viona."
Sherena menggeleng. "Tidak mungkin kak Vio. Yang ada disini itu cuma kamu."
"Terserah kamu mau percaya atau tidak."
"Aku tidak ingin percaya begitu saja." Sherena melepaskan jarum infus yang masih tertancap di punggung tangannya.
Meski sakit, ia mencoba untuk menahan agar bisa membuktikan jika Abdi tidak berbohong.
"Kamu mau apa?" Abdi memasang kuda-kuda, untuk mengantisipasi pergerakan yang tiba-tiba saja.
"Nggak mau ngapa-ngapain, cuma mau buktiin sesuatu." Langkah Sherena yang amat berat dan gontai pun dimulai. Seiiring dengan detik yang berlalu, semakin membawanya mendekat kepada Abdi.
"Aku capek," keluhnya. Merebahkan tubuh lemahnya ke pangkuan suaminya itu.
Sigap Abdi menangkap tubuh Sherena, yang masih belum pulih sama sekali. Dasar, gadis itu saja yang ingin melakukan hal aneh.
"Sudah tahu kamu masih sakit. Tapi tetap saja keras kepala seperti ini. Kamu itu mau buktikan apa, sih?" cecar Abdi, siap untuk menggendong dan membawa Sherena kembali ke ranjang.
Namun, Sherena meremas tangan sofa untuk menjadikannya tempat berpegangan, agar Abdi tidak bisa bangkit.
"Disini saja."
"Kenapa disini? Memangnya kamu mau ngapain, sih?"
"Mau buktikan kalau kamu itu normal."
Mata nan sayu itu menatap Abdi dengan penuh permohonan yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata.
Sherena takut Abdi tidak normal, maka dari itu ia harus membuktikan terlebih dahulu. Hitung-hitung sambil menyelam minum air. Menguji kemampuan alat seraya memproduksi produk tentunya.
"Sudah aku katakan, kamu sembuh dulu baru kita bikin. Jadi nggak perlu uji coba begini."
"Tapi aku sudah sembuh."
"Kamu masih sakit, Sheren. Lihat, kamu masih pucat begini."
"Ini sakit. Bukan mabuk."
"Sama saja, Sheren."
"Beda. Mabuk tidak sadar, sakit itu nggak bikin kesadaran hilang."
"Iya, tahu. Tapi aku takut sakitmu bertambah parah. Karena membuat anak itu butuh waktu lama dan tenaga ekstra."
"Aku bisa dan sanggup. Kamunya saja yang tidak bisa, lihat. Katanya ini harusnya keras kalau normal." Mata Sherena menyipit dengan tangannya yang meremas Abdi di bawah sana.
"Sheren." Abdi tertegun. Pergerakan Sherena sungguh tiba-tiba dan tidak diduga sama sekali. Bisa-bisanya gadis itu meremas adiknya yang tidak bersalah itu.
"Sudah kuduga kamu itu tidak normal," keluh Sherena. Beringsut turun dari pangkuan Abdi. Kepalanya yang masih pusing membuat Sherena mendamba kasur dan bantal saat ini.
Namun, Abdi yang tidak terima dikatakan sebagai pria tidak normal tentu saja tak terima atas tuduhan tersebut. Sehingga ia meraih tengkuk Sherena dan memagut kedua belah bibirnya yang masih pucat itu.
Sherena diam. Tak membalas dan tak pula menolak. Desiran aneh telah menghilangkan akal dan kesadarannya. Ini lebih memabukkan dibandingkan sebotol wine.
"Kamu yakin ingin melihat seberapa normalnya suamimu ini?" Abdi menangkup kedua pipi Sherena.
Layaknya seorang gadis yang terkena hipnotis, Sherena mengangguk.
"Jangan lari jika kamu sudah melihat bagaimana aku yang asli."
Kedua alis Sherena bertaut. "Lari? Kenapa aku harus lari. Kamu lunak begitu."
"Lu-lunak?" Abdi tergugu. Lunak? Adiknya dikatakan seperti itu? Wah … ini adalah pencemaran nama baik.
"Iya. Kecil dan lunak. Begitu katanya kalau pria tidak normal. Dan barusan aku sendiri sudah merasakan. Mau ngelak gimana lagi?"
Abdi menghela nafas panjang. Kepalanya menggeleng pelan. "Aku akan membuatmu menarik semua ucapan yang tidak enak itu."
"Maksudmu?"
"Diam ditempat dan jangan banyak bicara."
Abdi melayangkan protes. Seraya membuka satu persatu kancing piyama yang dikenakan Sherena. Ia tahu Viona tidak mengenakan apa-apa untuk Sherena di dalam sana, agar mereka bisa melakukan malam pertama.
Entah kebetulan atau tidak. Gurauan Viona tadi sungguh berguna saat ini.
Bulu-bulu halus Sherena langsung berdiri ketika Abdi telah berhasil membuka dan menjatuhkan piyama tersebut ke lantai. Tanpa diduga Sherena pula, ia melakukan serangan yang tak terduga.
Disaat Sherena menutup kedua matanya dan sedikit membuka mulut untuk menyambut kedatangan Abdi, ia justru tersentak saat salah satu ujung yang belum tersentuh itu masuk ke dalam mulut sang suami.
Tubuh Sherena menegang. Sensasi seperti tersengat aliran listrik tegangan tinggi pun menyapa sekujur tubuhnya. Ia berani bersumpah demi apapun. Apa yang dilakukan Abdi saat ini, adalah rasa aneh tapi ternikmat yang pernah dirasakannya.
Sehingga naluri Sherena menuntun agar ia meremas kuat rambut tebal Abdi dan menekannya agar semakin dalam dan kuat.
Saling hanyut dan menikmati. Sherena tak sadar telah berbaring di sofa. Tanpa melepaskan Sherena dari mulutnya, Abdi melepaskan celana katun selutut yang ia kenakan. Langsung dengan penutup terakhir yang berbentuk segitiga itu. Sehingga adiknya yang tadi dikatakan lunak itu telah berdiri dengan gagah dan kekar. Siap mematahkan ucapan setengah sadar Sherena tadi.
"I-itu apa?" Sherena menegang. Saat pahanya disapa oleh sebuah benda keras. Entah apa, tapi ia yakin itu bukan kaki apalagi tangan Abdi.
Abai. Abdi hanya tersenyum tipis dan membiarkan Sherena mencari tahu sendiri benda apa yang menyapa pahanya.
Kesal disela kenikmatan yang menggebu Abdi tak mau menjawab pertanyaannya, Sherena sedikit bergeser. Menggapai dengan jari-jarinya yang lentik.
"A-abdi!?" pekik Sherena seraya mendorong Abdi hingga terjungkal ke belakang.
"Sheren! Astaga!" umpat Abdi. Mengusap bokongnya yang tiba-tiba saja sudah mendarat di atas lantai.
Baru saja merasakan kenikmatan yang tak sanggup diucapkan, ia harus terima kenyataan jika semuanya langsung usai. Berganti dengan bokongnya yang sakit, untung encok di pinggangnya tidak kambuh.
"Ma-maaf. Tapi … itu, itu apa? Itukan dia secara keseluruhan?" Sherena yang shock menunjuk Abdi yang mulai menyusut.
"Iya. Ini dia." Abdi bangkit dari lantai. Meraih celana dan mengenakan secara asal. "Kalau belum siap jangan minta yang aneh-aneh dulu. Karena semuanya tidak semudah yang kamu pikirkan." Meraih piyama Sherena yang ada di lantai.
Menekan hasratnya yang telah sampai di ubun-ubun, Abdi membantu Sherena mengenakan kembali piyama tersebut. Menggendong gadis itu ke ranjang, dan menyelimutinya.
"Aku hubungi dokter dulu buat periksa keadaan kamu." Menarik kedua sudut bibirnya dan mengusap pucuk kepala Sherena. Sebelum meraih ponsel dan menghubungi dokter yang menangani gadis itu.
Sherena yang masih shock hanya mampu tertegun. Diotaknya masih terbayang sensasi aneh tadi, yang membuatnya melambung tinggi. Tapi harus sirna karena melihat Abdi secara utuh.
"Sebesar itu? Ya, Tuhan … aku tak akan sanggup," keluh Sherena dalam hati. Ia mencuri-curi pandang pada Abdi di bawah sana. Dari luar celana katun itu tidak ada yang aneh sama sekali. Tapi, kenyataannya tak sesuai ekspektasi.