Hilir mudik di depan ranjang, akhirnya Sherena lelah juga.. Hingga ia duduk di tepi ranjang dan berpikir bagaimana caranya bisa segera memiliki anak.
Berpakaian minim seperti yang disarankan Viona sepertinya belum menghasilkan apa-apa, pasca insiden handuk basah beberapa jam yang lalu.
"Kalau begini caranya, sampai aku dan dia menua bersama tidak akan pernah bisa memiliki keturunan. Dianya lari terus setiap kali diajak bikin cucu untuk papa," keluh Sherena, menghempaskan tubuhnya di kasur yang empuk.
Bulu matanya yang lentik bertemu. Seiring dengan kerjapan kelopak matanya, menatap langit-langit kamar. Kamar yang ditempati bersama Abdi, setelah mereka berdua resmi menikah.
Sejenak Sherena berpikir apa yang bisa dilakukan agar bisa mengubah suasana rumah tangganya dengan Abdi. Kalau setiap hari beradu argumen terus, sampai Dora dan Nobita menikah mereka berdua akan tetap seperti kucing dan tikus.
Sherena menghela nafas panjang. Menggerakkan kedua kakinya, berpikir lagi dengan keras apa yang harus dilakukan. Membuka bagian otak terkecilnya agar bisa menemukan solusi yang tepat untuk permasalahan rumah tangga. Sampai di menit ke tiga puluh, kedua sudut bibirnya terangkat.
Saat otaknya bagian samping agak kekanan, menemukan jalan keluar. Cukup menggelikan, tapi tidak ada salahnya dicoba. Miko dan Viona saja bisa lolos, tentunya ia dan Abdi pun bisa.
Cepat Sherena beringsut turun dari ranjang. Berganti pakaian dengan kemeja longgar dan celana jeans selutut. Tidak lupa sebuah ponsel untuk menghubungi Miko, sebagai penunjuk jalan menuju tempat tujuan.
***
"Kalau boleh memilih aku akan meminta jomblo saja, Van." Abdi menyandarkan punggungnya di kursi. Wajahnya amat kusut seperti kertas yang baru saja diremas kuat.
Sangat putus asa dengan Sherena, Abdi kembali konsultasi kepada Vano, yang kini turut kesal padanya. Sedang asyik bertempur dengan Dita, Abdi malah mengetik pintu kamarnya seperti orang yang ingin menagih hutang.
Alhasil, Vano yang siap tempur kembali menyusut dan enggan menyapa Dita. Bayangkan, sekesal apa Vano sekarang? Sampai kepalanya berdenyut akibat hasrat yang dipaksa padam saat itu juga.
"Maaf, tidak ada kue basah. Yang ada hanya kue kering dan jus strawberry saja," tutur Dita seraya meletakkan dua gelas jus dan dua toples kue kering. Sebagai jamuan untuk menyambut kedatangan Abdi.
"Tidak apa-apa, Dita. Ini pun sudah lebih dari cukup. Lagipula, aku datang kesini bukan untuk menyusahkan kalian berdua," balas Abdi segera meraih gelas tinggi yang berisi jus strawberry tersebut.
Dita hanya mengulas senyum, atau jawaban yang diberikan Abdi.
"Katanya nggak mau nyusahin, tapi diminum juga. Dan kamu memang nggak nyusahin, tapi bikin orang lain kesal setengah mati. Pantas saja Sherena tidak pernah bisa akur denganmu," sindir Vino. Mencebikkan bibirnya, mengejek Abdi yang malah sibuk dengan jus dan kue kering.
"Nggak boleh gitu, Mas. Kamu dulu minta nasehat pernikahan kepada Abdi juga, kan, ya? Jadi ini adalah waktu yang tepat untuk membalas kebaikannya selama ini," sambung Dita seraya mengusap pundak Vano.
"Sayang, kok malah belain dia?"
Vano protes, tak terima sang istri berpihak pada Abdi.
"Nggak mihak siapa-siapa, Mas. Aku hanya mengingatkan masa lalu. Ya, sudah. Aku ke kamar dulu. Kalau sudah selesai tinggal susul aku." Dita berbisik di ujung kalimat. Agar Abdi tidak bisa mendengar apa yang ia katakan.
"Kamu memang pandai mencuri hatiku."
"Siapa yang nyuri? Kamu duluan kayaknya yang mulai?"
"Kamu deh perasaan."
"Kayaknya kamu yang duluan, Mas." Dita tidak mau kalah.
"Sayang …."
"Iya, tahu lagi sayang-sayangnya kalian berdua. Lagi romantisnya. Tapi jangan di depan aku kenapa? Sudah tahu aku juga ingin, tapi istriku selalu mengajak berkelahi. Bahkan tadi dia menampar pipiku hanya perkara handuk basah yang lupa aku pindahkan ke tempatnya," gerutu Abdi menghentikan momen manis yang ada di hadapannya.
Dita dan Vano kompak menoleh. Menatap Abdi dengan penuh rasa bingung.
"Handuk basah?" sahutnya bersamaan.
"Iya, hanya karena handuk basah dia menampar pipiku."
"Kok pipi?"
"Eh?"
"Nggak maksudku begini," Vano memutar arah duduknya, kembali menatap Abdi. "Kenapa perkara handuk basah bisa nampar pipi?"
"Kok gitu?" Abdi kebingungan sekarang.
"Ya, karena biasanya kalau aku lupa pulangin handuk ke tempatnya, Dita biasanya cuma ngomel atau melempar handuk itu balik padaku. Bukan yang tampar-tamparan gitu. Seingatku ada adegan tampar itu biasanya pas lagi maksa minta cium atau salah dalam berucap," Vano mengusap pipi kanannya, yang pernah dihinggapi tamparan Dita waktu itu.
Tepatnya saat hubungan mereka belum baik seperti sekarang. Dan Vano mengucapkan kata yang menyakitkan untuk Dita.
Tidak tahan, wajar Dita memberikan sebuah tamparan untuknya.
"Sepertinya ini masalah sangat pribadi. Silahkan dilanjut, aku pamit dulu," ucap Dita seraya mengusap tengkuknya. Saat melihat Abdi ingin menjawab, tapi malah melirik ke arahnya.
"Hati-hati, Sayang," tutur Vano pelan. Mengantarkan kepergian Dita hingga ambang pintu ruang kerjanya.
"Mas, jangan beri ide yang tidak-tidak!" ancam Dita sebelum pergi. Ia tidak ingin sang suami mengerjai Abdi yang sedang kebingungan menghadapi tingkah Sherena.
Takutnya salah satu dari mereka terluka, mengingat cerita Abdi ketika hari pertama mereka tidur satu ranjang. Nyaris saja gelas kaca terbang dan mendarat di kepala Abdi.
"Iya, aku tidak akan memberikan ide yang tidak-tidak. Tapi ide yang iya-iya agar kita bisa lanjut iya-iya yang tadi," goda Vano, yang dibalas dengan tatapan tajam oleh Dita.
Vano yang mendapatkan hadiah menggemaskan dari Dita hanya bisa terkekeh geli. Mengacak rambut panjang sang istri sebelum menutup pintu ruang kerjanya. Ia akan fokus mendengar cerita Abdi. Untuk saran, sepertinya Vano akan memberikannya lewat pesan singkat atau suara. Jujur saja, ia tidak pandai dalam mengambil hati gadis keras seperti Sherena. Karena Dita, istrinya, adalah sosok yang begitu lembut dan penyabar. Patuh dan tidak berani melawan apa yang ia katakan.
Cukup kecewa karena Vano tak banyak membantu, akhirnya Abdi pasrah dan pulang saja, setelah selesai makan malam bersama di rumah Vano. Tiba-tiba saja pria itu malas pulang ke rumah, semakin membuat Vano kesal saja.
Pasalnya, ini kali pertama Abdi bertahan lama di rumahnya. Dari sore hingga tepat pukul sepuluh malam. Siapa yang tidak merasa kesal?
Dan ini pun Abdi meminta izin untuk menginap satu malam saja. Tapi Vano terang-terangan mengusir, agar Abdi memperbaiki kesalahannya terhadap Sherena.
***
Lemah, lelah, letih, lesu, dan lunglai. Abdi menyeret langkahnya menuju kamar yang ada di lantai dua. Sesekali ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya sampai di ambang pintu. Menekan handel pintu dengan perasaan yang tiba-tiba saja tidak enak.
Tiba-tiba saja firasatnya mengatakan di dalam sana sudah ada kejutan yang disiapkan Sherena.
Satu, dua, tiga, Abdi membuka pintu dan menutup matanya. Detik kemudian matanya membulat sempurna, merasakan tangan halus Sherena menangkup kedua pipinya dan memagut dalam kedua belah bibirnya yang terbuka.
Abdi berusaha menolak, saat merasakan dan menghirup aroma tidak enak dari mulut Sherena.
"Sheren! Kamu mabuk?!" bentak Abdi dengan suara tinggi seraya mendorong tubuh ramping Sherena yang hanya dibalut lingerie berbentuk jaring. Mempertontonkan dengan jelas setiap lekuk dan bagian tubuh yang dimiliki.
"Nggak, aku nggak mabuk. Aku cuma minum sebotol untuk mencari keberanian agar bisa mengajakmu untuk bikin anak. Ayolah, Abdi … kita bikin anak," rengek Sherena, memeluk Abdi dengan erat.
"Nggak, aku nggak mau bikin anak kalau kamu mabuk begini."
"Kenapa nggak bisa?"
"Nanti kamu nggak hafal bagaimana caranya."
"Caranya?" Sherena mengerjap.
"Iya. Kalau mau bikin anak itu ada tutorialnya. Kalau nggak sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, kamu bisa tewas karena salah masuk."
"Aku tidak percaya. Masuk ya tinggal masuk," balas Sherena, dengan kesadaran yang tak seberapa.
"Nggak bisa. Kamu harus tunjukkan jalan masuk biar aku nggak nyasar."
"Jalan masuk?"
"Tuh, kan, kamu saja nggak sadar begini. Bagaimana mungkin bisa tuntun aku untuk masuk."
"Terus bagaimana?" rengek Sherena, memukul Abdi dengan tangannya.
"Kamu sadar dulu. Kalau sudah, kita bikin anak. Sekarang kamu tidur." Membawa Sherena ke dalam gendongannya. Dengan sangat hati-hati Abdi membandingkan Sherena dan menyelimuti agar tidak masuk angin.
"Temani aku sampai sehat. Biar bisa langsung bikin anak," gumam Sherena dengan menahan tengkuk Abdi. Tidak peduli Abdi sudah susah payah menahan diri karena terus menerus tidak sengaja membentur dirinya.
Bahkan, Sherena yang sibuk meracau tidak tahu betapa sesak dan sempitnya celana jeans Abdi di bawah sana.
"Aku belum mandi."
"Tidak apa-apa. Kamu tetap wangi, aku suka."
Abdi menghela nafas panjang. "Ya, sudah. Geser ke tengah."
Sherena menggeleng. "Nggak mau. Maunya tidur begini sambil meluk kamu."
"Ya, sudah," sahut Abdi pasrah. Menurut saja daripada mencari perkara.
"Abdi, benar, ya, kita nanti bikin anak?"
"Iya, nanti kita bikin."
Sherena memaksakan diri untuk membuka mata. Menatap Abdi yang begitu menderita dengan posisi mereka sekarang.
"Katanya kalau kita punya anak cinta itu bisa hadir dengan sendirinya?"
"Iya."
"Kamu mau kan bikinnya biar jatuh cinta ke aku?"
"Iya, Sheren."
"Kalau gitu …." Sherena menutup rapat matanya. Sebelum menyesap kedua belah bibir Abdi untuk yang kedua kalinya. Ia tak menyangka, rongga mulut Abdi mampu menghilangkan rasa tidak enak wine yang tadi ia tenggak.
Menikmati, Sherena langsung jatuh tertidur ketika Abdi mulai hanyut dan harus dipaksa berhenti dalam waktu bersamaan.
"Pantas saja Vano bad mood satu hari ini," keluh Abdi dalam hati, ketika merasakan apa yang Vano rasakan tadi sore.