Sherena meneguk ludahnya dengan susah payah. Saat melihat Viona memamerkan sehelai baju berwarna hitam. Seketika gadis itu tidak sanggup bernafas, apalagi bergerak saat Viona menyerahkan baju tersebut.
Tidak-tidak. Itu bukan baju, tapi lebih mirip jaring nelayan yang dibentuk menjadi sebuah mini dress.
"Katanya mau bikin anak secara modern biar bisa memberi kedua orang tuamu cucu. Biar kamu nggak harus memakai pakaian feminim seperti ini lagi. Lalu, kenapa kamu malah diam seperti ayam yang habis menelan karet gelang?" sindir Viona saat berdiri tepat di hadapan Sherena.
"Itu Kakak tahu aku mau bikin anak. Bukannya diajarin tapi, malah ngasih jala ikan begini." Dengan kesal, Sherena menyentuh lingerie hitam yang ada di tangan Viona.
Tidak lupa. Sherena juga bergidik saat membayangkan tubuh rampingnya ada di dalam sana. Bisa dipastikan lingerie tersebut tidak akan mampu menjalankan tugasnya sebagai pakaian.
"Jaring?" Viona mengerjap.
"Iya, jaring. Itu baju yang Kakak pegang Lebih cocok dijadikan jaring untuk menangkap ikan daripada aku pake, Kak. Lagian, Kakak aneh-aneh saja. Katanya mau ngasih tahu bagaimana caranya membuat anak secara modern. Bukannya malah memperlihatkan pakaian yang tidak layak pakai ini."
"Nggak layak pakai bagaimana?" Viona langsung duduk di samping Sherena. "Sheren, dengar. Justru ini yang akan menunjang penampilan kamu agar bisa membuat anak secara modern. Yakinlah."
"Bisa menunjang bagaimana, Kak?"
"Ck, bagaimana, ya, caranya agar kamu paham." Viona berpikir sejenak. "Begini saja. Kamu tunggu di rumah saja. Nanti Kakak akan kirim baju haram ini ke rumah kamu. Lengkap dengan beberapa barang penunjang lainnya. Nanti, setelah barang itu sampai, kamu segera gunakan untuk tidur. Kakak yakin, setelah kamu mengenakan pakaian itu, naluri kamu dan Abdi akan sama-sama menuntun kalian untuk menciptakan sebuah kehidupan baru."
"Aku tidak percaya," sanggah Sherena. "Yang ada Abdi akan tertawa saat melihat aku mengenakan pakaian itu."
"Tidak, Abdi tidak akan pernah menertawakan kamu. Dia pasti akan suka dan bisa jadi jatuh cinta padamu, Ren. Percayalah. Kakak sendiri sudah membuktikan keampuhan baju haram ini."
"Benarkah?"
Viona mengangguk cepat. "Kamu tahu, bukan? Betapa Miko sangat mencintai Dita. Tapi semua itu tidak lagi berbekas semenjak Kakak sering menggunakan baju haram ini." Dengan mata yang berbinar, Viona meyakinkan Sherena tentang apa yang ia alami selama ini.
Viona juga menceritakan bagaimana indahnya menjalani hidup dalam berumah tangga yang akur dan harmonis. Membuat Sherena juga menginginkan hal tersebut.
Pasti sangat menyenangkan bisa menjadi partner hidup untuk suami. Tapi, apakah benar suami yang dimaksud Viona itu adalah Abdi? Sedangkan mereka berdua seperti kucing dan tikus.
Viona juga wanita yang sangat cantik. Modis dan lemah lembut. Tentu saja Miko jatuh cinta dan bisa menerimanya sebagai seorang istri, meskipun hubungan mereka bermula dari sebuah kecelakaan. Tapi setidaknya ada momen tersendiri yang membuat mereka bisa seharmonis ini sekarang.
"Lingerienya kenapa dimasukin lagi ke lemari?" tanya Miko begitu ia masuk ke kamar dan melihat Sherena menata kembali lingerie yang sempat dibongkar untuk menambah pengetahuan Sherena.
Kini Sherena sudah pulang, tentunya lingerie tersebut harus kembali pada tempatnya.
Namun, saat Viona ingin menyimpannya, Miko sudah keburu melihat apa yang Ia lakukan. Seketika suaminya mendekat dan menahan pintu lemari agar tak tertutup.
"Tentu saja dimasukin, Mik. Aku sudah selesai memberikan teori kepada Sherena. Jadi untuk apa lagi lingerie ini di luar?" sahut Viona, seraya menutup pintu yang ditahan oleh Miko.
"Habis memberi teori, biasanya ada praktek di laboratorium. Untuk membuktikan apakah teori yang bersangkutan itu benar,"
tutur Miko dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
"Mau praktek?" balas Viona. Melingkarkan tangannya di tengkuk Miko. "Bukannya kamu tidak suka banyak bekerja? Kamu sukanya yang polos biar bisa langsung hap!"
"Tapi sepertinya hari ini aku ingin sedikit bermain denganmu. Sudah lama sekali tidak pernah melihatmu memakai baju haram ini. Bolehkah?"
"Tentu saja, Sayang. Apapun untukmu. Aku akan memberikannya. Sekarang kamu mandi dan aku akan memasak makan malam untuk kita dan lanjut beres-beres. Setelah itu, tunggu aku di ruang kerjamu. Aku akan memberikan kejutan yang amat besar padamu."
"Aku tunggu," tutur Miko singkat. Sebelum menyesap sekilas kedua belah bibir Viona. Sebelum ia beranjak ke kamar mandi.
Begitu Miko pergi Viona pun mengulas senyum. Tidak menyangka bisa mendapat dan menaklukkan Miko meskipun dengan cara yang salah. Ia pasrah menyerahkan diri secara utuh kepada Miko yang sedang mabuk, tepat beberapa jam sebelum akad nikahnya dengan Abdi dilangsungkan.
***
"Duluan paket kak Vio yang datang daripada aku," gumam Sherena ketika seorang asisten rumah tangganya memberikan dua buah paket. Satu paket berukuran lumayan besar dan satu berukuran kecil. Segera ia membawa paket tersebut ke kamar.
Begitu Sherena sampai di kamar, ia cukup lega karena Abdi sedang berada di kamar mandi. Suara gemericik air, Sherena sudah tahu apa yang suaminya lakukan di dalam sana. Segera saja gadis itu memanfaatkan keberadaan Abdi di kamar mandi untuk menyembunyikan paket yang bertuliskan, paket lengkap gaya modern.
"Tapi kalau bisa dengan jalan lain, itu semua sepertinya tidak diperlukan sama sekali," gumam Sherena. Mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Segera ia duduk di tepi ranjang untuk mencari tahu bagaimana caranya memiliki anak tanpa bersentuhan dengan Abdi.
Terang saja ada beberapa cara yang terdapat di dalam internet. Bagaimana caranya seorang wanita bisa mendapatkan buah hati, tanpa ada hubungan suami-istri. Sherena sempat mengulas senyum saat bayi tabung muncul sebagai pilihan pertama dengan keberhasilan yang sangat besar.
Namun, dengan biaya yang sangat fantastis. Nyaris menyentuh satu milyar rupiah, mulai dari pemeriksaan sel telur dan sel spermaa.
"Ck, ini jual ginjal aku sama Abdi nggak akan cukup buat bayar." Sherena menggelengkan kepalanya. Sepertinya bayi tabung bukan pilihan saat ini.
Lanjut, ia mencari artikel selanjutnya. Seperti biasa, kata kuncinya untuk memiliki anak tanpa berhubungan dengan suami.
"A-APA? Sewa rahim? Gila, Abdi nikah lagi, itu mah bukan anakku namanya," gerutu Sherena. Ia melemparkan ponsel ke atas kasur, saat tak menemukan lagi cara yang tepat.
Bayi tabung, ia bisa hidup melarat dengan satu ginjal. Itu pun belum tentu berhasil, karena dari artikel yang dibaca masih ada kemungkinan gagal.
Menikah lagi, Sherena tidak mungkin membiarkan Abdi menikah lagi. Sedangkan sang ayah menginginkan keturunan darinya. Kalau hanya anak Abdi, itu tidak bisa dikatakan sebagai cucu ayahnya.
"Haruskah aku mencari tutorial untuk bikin anak sekalian? Aku tahunya tata cara pembuahan bukan pembuatan!" Sherena menggembungkan pipinya. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana caranya membuat anak dalam artian yang sesungguhnya.
Untuk sekedar teori pembuahan sudah ia pelajari sedikit saat sekolah menengah atas. Tapi hanya sekilas mengingat itu bukan jurusannya.
"Ganti baju dulu kali, ya, nanti. Coba baju haram dari kak Vio dulu. Katanya habis make itu naluri aku dan Abdi akan bekerja dengan baik," gumam Sherena dalam hati. Akhirnya ia menyerah dan ikut dengan saran Viona.
Segera ia beranjak ke lemari untuk mengambil salah satu lingerie secara asal, saat tak lagi mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.
"Kamu sudah pulang?"
Abdi segera berbasa-basi ketika melihat Sherena ada di kamar.
Sherena mengangguk. "Kamu tunggu aku disini sampai selesai mandi. Ada yang ingin aku bicarakan tentang cucu untuk papa," tutur Sherena sebelum masuk ke kamar mandi.
"Membicarakan apa, Ren? Penting, nggak? Aku ada janji sama Vano …," teriak Abdi dari balik pintu kamar mandi.
"Penting sekali!" sahut Sherena dari dalam sana.
"Ya, baiklah." Abdi menghela nafas panjang. Ia akan bersiap menghadapi Sherena yang akan membahas tentang cucu untuk sang ayah. Mau atau tidak, wajah Abdi harus tebal karena Sherena yang tidak pernah menggunakan filter di mulutnya.
"Astaga … astaga. A-apa ini?" Mata Sherena membulat sempurna. Saat membuka lingerie yang masih terbungkus sempurna dengan plastik. Ia tertegun melihat lingerie yang lebih tidak layak dibandingkan milik Viona.
Dengan susah payah ia meneguk ludah. Ternyata pilihan untuk mengambil model non jaring adalah salah besar. Karena ia mendapatkan lingerie satin dengan tali setipis rambut. Dengan belahan yang sampai menyentuh perut dan panjang jauh di atas lutut. Hanya satu setengah jengkal dari pinggang.
"Ini gila, sih." Sherena menggigit bibir bawahnya. Katanya lingerie sudah dilengkapi dalaman. Mana? Yang ada hanya tali yang dibuat seperti segitiga. Yang tak berguna sama sekali untuk menutupinya di bawah sana.
Namun, tetap saja Sherena menggunakan lingerie tersebut, meski dadanya sudah kembang kempis karena sulit bernafas.
Tidak cukup sampai disitu. Sherena juga mengoles lipstik merah menyala yang ada di antara paket tadi. Sedikit saja, ia mengoleskan lipstik tersebut di bibirnya yang merah muda.
"Oke, Sherena. Kita mulai." Beberapa kali gadis itu menarik nafas dalam-dalam. Keringat dingin mulai mengucur saat tangannya terulur untuk menekan handle pintu.
"Sherena?" gumam Abdi, pelan. Jemarinya yang tengah menari di atas keyboard laptop seketika berhenti. Melihat Sherena yang keluar dengan hanya mengenakan lingerie satin merah muda yang sangat minim bahan itu. Seketika darahnya mendidih dengan wajah yang menegang.
"Ayo bikin anak!" ajak Sherena polos. Berjalan mendekat ke arah Abdi tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Bi-bibikin anak?" Abdi mengerjap.
Sherena mengangguk cepat. "Ayo kita bikin. Papa mau cucu."
"Ta-tapi …."
Sumpah demi apapun, ingin rasanya Abdi menarik tengkuk Sherena dan memagut kasar kedua belah bibirnya yang merah merona.
"Ayolah, aku tidak ingin kena marah terus sama papaku."
Abai dengan kondisinya yang telah tumpah kemana-mana, Sherena malah merangkak naik ke ranjang. Membuat Abdi nyaris lupa bagaimana caranya untuk bernafas.
"A-aku …." Abdi meringis. Saat Sherena membidik bibirnya sebagai sasaran pertama. Sungguh tidak lucu jika benar Sherena yang melancarkan aksi duluan.
Mata Sherena terpejam. Saat nalurinya mendorong agar ia memiringkan kepalanya. Mendekatkan bibirnya dengan Abdi dan ….
Plak!!
"Aduh ….!" Abdi tersentak. Meringis saat tamparan Sherena mendarat di pipinya saat bibir mereka bertemu.
"Kok di geplak? Kan kamu yang mau bikin anak?" tanya Abdi polos.
"Bukan masalah bikin anak," balas Sherena. Meraih handuk basah yang berada tidak jauh darinya. "Ini handuk siapa?"
"Aku," sahut Abdi.
"Kenapa ditaruh disini? Jadi lembab kan kasurnya. Kamu tahukan tempat handuk itu di mana?" Menyerahkan handuk kepada Abdi. Ini adalah kasus yang kesekian kalinya karena ia lupa meletakkan handuk ke tempat yang telah tersedia.
"Iya, iya, maaf aku salah. Perkara handuk ini saja. Jadi batal kan, bikin anak," gerutu Abdi. Meraih handuk dari tangan Sherena.
"Ya, makanya kamu itu kalau habis mandi itu simpan handuk di tempatnya. Bukan diatas ranjang begini. Kamu itu sudah sering aku bilang. Tapi …."
"Aku mau ke tempat Vano. Ngomel-ngomelnya nanti saja." Abdi segera melengos pergi begitu selesai meletakkan handuk di tempatnya.
"Loh, loh, Abdi … ini bikin anaknya gimana? Abdi!" seru Sherena, seraya mengejar Abdi yang telah hilang di balik pintu kamar. Sayangnya ia tidak bisa mengejar hingga dapat karena hanya mengenakan lingerie saja.
"Nggak, aku nggak mau bikin anak," teriak Abdi dari ujung tangga.
"Iishh … Abdi!!" rengek Sherena. "Kamu, sih, Ren. Anak orang main digeplak aja. Jadi kabur-kaburan gitu anak orang." Sambungnya dalam hati. Pasrah hari ini batal membuat anak seperti yang diinginkan.