Biasanya kalau orang-orang pergi menghadiri acara pernikahan pastinya menyantap menu yang telah disediakan, seraya berbincang hangat dengan tamu yang lain. Bersalaman dengan pengantin yang duduk di pelaminan dan melakukan sesi foto sebelum tamu meninggalkan lokasi pesta.
Namun, tidak bagi Sherena. Ia datang dan langsung mewawancarai kedua pengantin, apakah mengenal kedua orang tuanya atau tidak. Dan ternyata tidak.
Sherena tidak terkejut sama sekali. Karena ia hafal dengan nama belakang yang disandang oleh rekan bisnis sang ayah. Dan benar saja, yang memiliki hubungan dengan pengantin adalah Abdi. Suaminya yang begitu tampan tapi, menyebalkan lah yang menjadi rekan bisnis di pengantin pria.
Sungguh keterlaluan. Sherena sangat membenci yang namanya kebohongan. Sehingga Abdi harus mendapatkan balasan atas segala yang ia lakukan.
Hukuman pertama, Sherena langsung melengos pergi meninggalkan lokasi pesta setelah melakukan sesi foto dengan sepasang pengantin.
Tanpa ada kata Sherena meninggalkan Abdi yang masih berdiri di samping pengantin wanita. Sehingga ia terpaksa menyusul langkah Sherena untuk menanyakan apa yang membuatnya pergi.
"Aku diminta papa untuk datang ke rumah. Katanya papa sakit," ucap Sherena, seraya masuk ke dalam mobil.
"Papa sakit?"
Abdi membeo, sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sherena. Pasalnya, ia tidak mendengar kabar apapun dari sang ayah mertua.
Namun, Abdi tetap masuk ke mobil dan segera menancapkan gas menuju ke rumah kedua orang tua Sherena. Takut apa yang dikatakan Sherena itu benar adanya.
"Ka-katanya papa sakit?"
Abdi menatap ayah mertuanya yang sedang duduk di teras. Menikmati secangkir kopi, dengan ditemani istri tercintanya. Mereka berdua juga tampak sedang bergurau, dan saling melemparkan gurauan.
"Aku yang sakit hati dibohongi oleh kamu dan papa," ketus Sherena melepaskan high heels yang masih menempel di kakinya. Tidak ingin kakinya keseleo karena salah melangkah, Sherena memilih berjalan tanpa alas kaki, menuju ke teras rumah.
Abdi menghela nafas berat. Melihat Sherena yang amat keras dan sangat sulit untuk ditebak apa yang ingin istrinya itu lakukan. Ia hanya bisa pasrah jika terjadi perang dunia ketiga nantinya.
"Cieee … yang ngaku temenan sama ayah pengantin. Yang katanya mau ikut kondangan, tahunya lagi pacaran di teras rumah sama istri tersayang …."
Sherena menyindir. Duduk di kursi dengan menumpuk kaki kiri ke atas kaki kanan. Menatap dengan mata menyipit kepada kedua orangtuanya itu
"Taunya yang punya hajat temannya Abdi. Kenapa, sih? Pada bohongin aku seperti ini? Nggak kasihan apa sama aku yang harus memakai pakaian seperti ini? Aku sesak nafas karena dress ini."
Keluhan demi keluhan pun meluncur dari mulut Sherena. Ia juga menambahkan sindiran agar Abdi ikut tersentil karena ucapannya. Sumpah demi apapun, Sherena tidak suka diperlakukan seperti ini.
Dipaksa untuk berubah menjadi feminim, itu sama saja memintanya menjadi orang lain. Bukan dirinya.
"Sheren, dengar. Kamu itu sudah menikah, tanpa paksaan apalagi ancaman. Kamu meminta dengan sadar, tapi malah meletup-letup seperti ini. Sebagai seorang istri kamu itu harus tunduk dan patuh kepada perintah suami, selagi itu baik untuk kamu dan rumah tangga kalian tentunya."
Reihan, sang ayah menyambut sindiran Sherena dengan baik. Sungguh lawan yang sangat seimbang jika mereka sudah berdebat.
Bahkan perdebatan mereka hanya bisa membuat Abdi mengusap tengkuknya.. Tidak tahu bagaimana caranya untuk menghentikan perdebatan tersebut.
"Kamu lihat Abdi." Menunjuk Abdi yang baru saja mencium punggung tangannya. "Meskipun pernikahannya dengan Viona gagal, belum tentu dia patah hati. Belum tentu hidupnya lebih buruk daripada sekarang. Bisa saja ada yang mencintainya dalam dalam dan siap menjadi pengganti. Bukannya malah menikah dengan wanita jadi-jadian seperti kamu."
"Astaga …, Pa."
Sherena meringis. Ucapan sang ayah sudah amat keterlaluan. Wanita jadi-jadian? Yang benar saja.
"Apa? Benar, kan apa yang Papa kataka? Pernikahan kamu dan Abdi berlangsung atas paksaan dan keinginan kamu. Bukan malah sebaliknya, tapi kenapa kamu bersikap seakan ini semua adalah salahnya Abdi? Seolah Abdi yang memaksa kamu untuk menikah. Kamu harus sadar, kalau kamu lah yang memaksa!"
"Oh, Tuhan … mulut Papa. Pantas saja aku begini."
Sherena mengusap dadanya. Kepalanya menggeleng, tidak habis pikir diserang habis-habisan seperti sekarang. Sampai-sampai ia tidak lagi menemukan kata yang bisa digunakan untuk membela diri, karena itu benar adanya.
"Tuh, mulai … kalau sudah kalah langsung, deh bilang begitu. Tapi tidak sadar semua yang Papa katakan itu adalah sebuah kebenaran. Tapi tiba-tiba malah menjadi sosok yang paling terluka. Ck, ck, padahal disini kamu yang nyakitin Abdi."
Sherena diam. Melirik Abdi yang juga diam, semenjak kedatangan mereka.
"Jadi aku harus apa?"
Sherena menyerah. Wajahnya langsung memelas, memohon permintaan maaf.
"Jadilah istri yang baik, meskipun kamu ingin menjadi diri sendiri. Kamu juga harus berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan suami kamu, meskipun tidak langsung berubah seratus persen. Kamu bisa melakukannya secara bertahap, dan sedikit demi sedikit." Reihan meraih koran yang ada di meja. "Dan berikan Papa cucu, kalau kamu memang menyayangi Papa."
"Astaga, Pa!" Sherena terperanjat.
Punya anak? Untuk menjadi feminim saja aku tidak sanggup. Apalagi untuk punya anak.
"Ya, punya anak. Semua orang menikah tujuannya untuk memiliki anak dan hidup bahagia berdua. Tolong kamu loloskan, atau Papa tidak mau lagi melakukan rawat jalan."
"Pa …."
Sherena bangkit dari tempat duduknya. Bersimpuh di hadapan sang ayah. "Nggak bisa gitu dong, Pa. Masak langsung minta cucu ke aku sama Abdi? Nantilah, Pa. Tunggu kami saling mencintai dulu baru bikin anak. Lagipula aku tidak tahu bagaimana caranya bikin anak biar langsung jadi."
"Itu kamu tahu anak nggak langsung jadi. Maka dari itu Papa mintanya dari sekarang biar bisa dicicil."
"Rumah kali, Pa. Dicicil segala."
"Terserah kamu mau mengejek atau apa. Yang jelas malam ini kalian berdua harus mulai mencicil cucu untuk Papa."
"Gimana caranya, Pa?" tanya Sherena dengan polos, tanpa memberikan perumpamaan sama sekali.
Kata-katanya langsung meluncur begitu saja, tanpa diberi tugas filter terlebih dahulu. Membuat Abdi salah tingkah dengan kedua pipi yang bersemu merah.
"Ehem, tanyakan kepada ibumu."
Reihan melempar tanggung jawab jawaban kepada sang istri.
"Loh, kok Mama?"
"Ya, Mama lah. Masak Papa?"
"Nggak bisa gitu, Pa. Ini bisa dibicarakan dengan Abdi untuk program mereka."
"Nggak mungkin Abdi tahu,Ma. Dia aja belum pernah memiliki pasangan. Jadi belum tahu yang begituan."
Sherena membantah. Entah darimana ia tahu Abdi belum pernah memiliki pasangan, yang jelas kata-kata itu harus keluar agar tidak diminta lagi membuat anak dalam waktu dekat.
Bisa dibayangkan bagaimana merah padamnya wajah Abdi saat ini. Mendengar pembicaraan yang tak ada kiasan sama sekali.
"Kalau begitu, Mama akan hubungi Viona. Biar dia yang mengajari kamu bagaimana caranya bikin anak. Karena bikin anak versi jadul sama modern itu pasti berbeda." Sang ibu langsung bangkit. Masuk ke rumah untuk mengambil ponsel dan menghubungi Viona.
"Versi jadul dan modern?" Kedua alis Sherena bertaut. "Pa, memangnya ada, ya, yang begituan? Bukannya …."
"Lebih baik kamu pulang dan tunggu saja kabar dari Viona."
Secepat kita Reihan melipat koran dan beranjak pergi. Menyusul langkah dan sang istri yang lebih dahulu masuk ke rumah.
"Abdi …." Sherena menoleh horor kepada Abdi.
"Aku tunggu di mobil."
Tak jauh berbeda. Abdi juga beranjak pergi, takut Sherena membahas yang tidak-tidak.
"Ish. Ya, udahlah. Kak Viona memang jalan terbaik saat ini."
Acuh. Sherena pun bangkit dan mengekor di belakang Abdi.