Jalan Lain?

1518 Words

"Duduklah!" Satu kata yang terucap dari bibir Abdi ketika melihat Vanya masuk. Gadis itu tampak tegang karena ini kali pertama ia memasuki ruang kerja Abdi di luar jam kantor. "Saya ingin meminta maaf. Dan rasanya cukup berat bagi saya untuk menyampaikan ini semua." Vanya membeku. Melihat air wajah Abdi yang tegang saja sudah membuat jantung Vanya ingin melompat dari rongganya. Sekarang, kata maaf pun terlontar. Wajar saja segala organ vital Vanya berhenti bekerja. "Ma-maaf, Pak. Saya … saya tidak paham dengan ucapan Bapak. Bapak minta maaf atas apa, ya?" Vanya akhirnya sanggup membuka suara, deteksi cukup lama menanti. Menunggu Abdi menyelesaikan ucapannya, tapi itu tak kunjung terjadi karena pria itu justru menarik nafas dalam-dalam. Melirik jam yang menggantung di dinding dan me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD