"Mau dijemput apa gimana?" tanya Abdi begitu mobilnya menepi di depan gerbang sebuah kampus. Sherena yang ingin membuka pintu mobil, sontak saja batal melakukannya. "Kamu mau jemput?" Abdi mengangguk. "Tentu saja. Nggak ada salahnya aku jemput istri aku sendiri." "Ya … nggak salah, sih. Semalam bukannya kamu bilang mau pulang telat? Lagipula aku cuma satu kelas hari ini. Takutnya ganggu kerjaan kamu." "Benar. Pulang telat bukan berarti nggak bisa jemput kamu, Sheren. Aku bisa kok." Abdi mengusap tengkuknya. "Ah, tapi kalau kamu nggak mau dan ada kegiatan lain nggak masalah, sih." "Emm … nggak ada kegiatan lain, sih. Cuma aku memang pas pulang nanti mau mampir ke kantor kamu aja. Jadi nggak usah jemput. Aku bisa naik taxi nanti." Abdi mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu aku pamit ke k

