POV ZIA - BOM WAKTU

1098 Words
Dia tampak melihati saja ponsel yang kini ada di tanganku, aku tahu dia tidak bodoh, tapi aku juga ingin tahu apakah dia akan kembali membuat kegaduhan. Kami sama-sama terdiam dalam kegamangan. Setelah bernapas panjang, dia mencoba tersenyum. “Kamu merusak ponselku kemarin, aku juga butuh ponsel untuk bekerja,” dalihku akhirnya. “Iya, maaf, harusnya aku yang membelikanmu ponsel baru kan?” tukasnya setelah menaikkan salah satu sudut bibirnya. “Tidak masalah siapa yang beli, asal aku sudah punya pengganti ponsel.” Dia terlihat mengangkat kedua alisnya lalu memilih kembali merebahkan tubuhnya. Kali ini di sisi lain tempat tidur. Sehingga Thufail ada di tengah-tengah kami. Kembali menyimpan bom waktu, kami sama-sama tertidur malam itu. Dalam satu ranjang lagi, menghirup udara yang sama lagi, meskipun aku bisa menjamin, perasaan kami, tidak akan bisa sama lagi. Dia dengan tuduhannya, dan aku dengan dakwaanku untuknya. ---***--- Kokok ayam bersahutan dengan suara Kang Sofyan, sepupuku yang tinggal di depan rumah. Dia bersama bapak yang selalu bergantian sebagai muadzin dan imam sholat di musholla kecil keluarga kami. Entah apakah otakku telah tersetel dengan otomatis, tapi aku bangun dan segera menyalakan kompor untuk merebus seteko air. Kutuang dua sendok kopi dan sesendok gula pada sebuah cangkir bergambar ayam jago. Sembari mengikat rambut sebahuku, aku masuk ke kamar berniat membangunkan Mas Alif. Tapi kulihat dia sudah siap dengan sarung dan baju kokonya. Dua sajadah ditata di lantai. Aku bersandar pada pintu kamar kami. “Sholat di rumah Mas?” tanyaku. “Iya, kutunggu, cepat sedikit.” Aku kembali ke dapur memastikan air sudah mendidih dan bisa kugunakan untuk menyeduh kopi. Aroma kopi segera menguar dan sejenak menenangkanku yang bahkan tidak meminumnya. Aku mengambil wudhu sebelum akhirnya berjamaah dengan Mas Alif. Dua rakat singkat yang terasa lama. Bacaan surat ikhlas di rakat kedua membuatku menarik napas panjang. “Ikhlaskan! Ikhlaskan!” begitulah isi pikiranku. Ketika dua aamiin panjang saling terucap lirih. Aku baru saja akan melepas mukena yang kukenakan, tetapi Mas Alif mendahuluiku. Dia meletakkan kepalanya di pangkuanku. Dalam kekakuan yang tidak biasa, aku membelai rambut ikalnya. Dari bibirnya terlantun sholawat nabi yang dilagukan. “Ma,” panggilnya. “Ya?” “Aku tidak ingin kehilangan kamu ataupun Thufail, bisakah kamu jangan keterlaluan?” Aku menghentikan gerakan tanganku yang memainkan helai-helai rambutnya. “Keterlaluan?” “Aku harusnya tidak usah menjelaskan hukumnya perempuan menjalin hubungan dengan laki-laki lain yang sudah sama-sama memiliki pasangan.” Aku mengepalkan tanganku. Bersiap untuk mengungkit-ungkit kesalahannya yang kuketahui. Termasuk tentang noda merah di dadanya. “Kamu sendiri apa yang kamu lakukan?” tanyaku sambal menunjuk noda merah di balik baju kokonya. “I..i..ni, hanya gatal, tidak seperti yang kamu pikirkan,” jawabannya yang terbata-bata sudah membuatku tahu isi hatinya yang sebenarnya. “Iya, sudah, terserah Mas saja,” kataku. “Awas!” aku memindahkan kepalanya dengan kasar dan segera berdiri. Kembali ke dapur untuk membawa secangkir kopinya dan kuletakkan di meja tengah. Setelahnya aku membuatkan sarapan baik untuknya ataupun Thufail. Selagi memasak, aku mendengar langkah mendekat yang membuatku memalingkan tubuhku. “Nduk,” panggil Bapak sambil mendekat. “Nggih Pak,” sahutku. “Masih sakit pipimu?” “Mboten Pak,” jawabku jujur. Kali ini aku memunggungi beliau dan tetap mengaduk sayur sop yang kubuat. Ada sesak di d**a jika mengingat kerasnya beliau menegurku semalam. “Maaf ya Nduk, Bapak terlalu kasar sama kamu, Bapak cuma..,” aku menyela permintaan maaf Bapak. “Zia paham kok Pak, Bapak cuma ga rela, anak kesayangan Bapak menjadi perempuan gatal kan? Bapak tidak mau anak bapak ini merusak harga diri,” kataku. “Syukur kalau kamu paham maksud bapak,” terasa tangan bapak mengelus punggungku. Aku menghadap dan menatap matanya. Kuberikan sesungging senyum alih-alih pengobat sakit hatiku. Beliau membalas senyumku. Menepuk bahuku sebelum berlalu meninggalkan rumahku. “Aku mau mandi dulu, handukku mana?” tanya Mas Alif. “Di gantunganlah mas, di mana lagi emangnya,” jawabku sambil menunjuk gantungan handuk di dinding dekat kamar mandi. Terlihat dia masuk ke kamar mandi dengan membawa ponselnya. Aku tahu itu akan terlihat wajar karena sekarang sepertinya hal yang lumrah membawa ponsel saat buang air besar sebelum mandi. Tapi, jika jadi aku, tentunya tidak akan lagi lumrah. Ponsel Mas Alif mengeluarkan suara notif messenger berkali-kali yang terdengar dari luar kamar mandi. Aku menahan amarahku. Berlaku seperti tidak pernah ada masalah. Hati dan perilakuku semakin terlatih untuk berpura-pura seperti tidak tahu menahu. Aku mengintip anakku yang masih tertidur pulas bahkan saat ibu datang. “Masih tidur Zi?” tanya ibu. “Masih bu, balas dendam sepertinya, tadi malam juga hanya terbangun dua kali,” kataku. “Bapakmu dari sini?” tatapan ibu seperti sedang mencari tahu apa yang dikatakan bapak padaku. “Nggih bu,” jawabku. “Ngomong apa?” tepat seperti tebakanku. “Minta maaf untuk yang tadi malam,” jawabku. “Lalu kamu sudah memaafkan?” “Bukannya harusnya Zia yang minta maaf karena sudah membebani bapak ibu dengan perkara seperti itu? Kalau Zia yang bersalah, kenapa harus Bapak yang minta maaf?” Ibu menarik tanganku. Membawaku masuk ke kamar kosong yang ada di rumahku. “Kamu anakku yang paling cerdas Nduk, kenapa sampai lalai begitu? Siapa laki-laki itu?” “Suatu saat ibu akan tahu penyebab Zia seperti ini bu, tapi tidak sekarang,” jawabku sembari memaksa selengkung senyum. “Sudahi Nduk, tidak apa jika ibu tidak kenal atau tidak tahu alasan dari tindakanmu, hanya ibu minta, jangan jadi perusak pagar ayu, apalagi pagar ayumu sendiri, jangan sampai dilangkahi orang lain, ngerti?” Aku mengangguk. Seteguk ludah melewati kerongkongan yang mendadak terasa lebih sempit. Terlihat Mas Alif melewati kamar dan masuk ke kamarku. Ibu memintaku menyiapkan keperluan kerja Mas Alif. Aku menurutinya. Kupilihkan seragam dan juga kaos kaki yang bisa dipakainya hari ini. “Baju kotormu masih di rumah Ibu?” tanyaku pada suamiku. “Sudah kucuci, tapi iya, masih di sana,” jawabnya sembari mengenakan kemejanyaa. “Kamu atau aku yang mengambil?” “Biar nanti kuambil kalau sudah pulang kerja.” Aku juga menarik sebuah blouse juga celana panjang dengan warna senada yang akan kugunakan untuk berangkat ke kantor hari ini. Kutarik jilbab dari tumpukannya yang semakin hari semakin tinggi. “Aku berangkat kerja dulu,” pamit Mas Alif sembari mengulurkan tangannya padaku. Kucium punggung tangannya dan melihatnya berlalu dengan motornya. Punggungnya sudah jauh lebih berisi dari pertama kali aku melihatnya. Kukira dia bahagia denganku, perempuan yang diinginkannya. “Kamu juga cepat bersiap, sudah jam setengah tujuh,” peringat ibu. Tanpa menyahut, aku membiarkan ibu menunggui Thufail yang masih pulas. Sesekali berpindah posisi ataupun menggeliat tetapi dengan mata yang masih tertutup. Jika bukan karena lelaki kecil itu, aku mungkin akan memilih membuang suamiku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD