POV ZIA - ANAKKU
“Apa-apaan ini?” bentak Mas Alif sambil melempar ponselku ke arahku.
Aku mengelak sehingga ponsel itu mengenai dinding dan berbalik arah ke lantai. Aku melihat ponsel yang kini layarnya pecah. Entahlah, sepertinya ada yang salah dengan diriku. Aku sama sekali tidak takut, sedih atau merasa bersalah menghadapi kemarahan Mas Alif. Tetapi aku juga tidak ingin membela diriku sendiri. Tidak ada pembenaran dari semua yang sudah kulakukan.
“Kenapa diam?!” suara Mas Alif semakin tinggi dan kali ini aku sejenak memalingkan wajahku.
Aku menatap pintu kamar yang terbuka, khawatir suara tinggi mas Alif akan membangunkan Thufail, anak laki-lakiku yang baru 8 bulan. Ternyata benar, tak lama, bayiku menangis.
“Kita belum selesai,” desis Mas Alif di telingaku saat aku berjalan melewatinya.
Aku mendatangi Thufail dan menenangkannya agar tertidur kembali. Kutepuk-tepuk punggungnya sambil menggumamkan nada entah lagu apa. Thufail yang terkejut tak kunjung diam seperti biasanya, sehingga aku memiringkan tubuhnya dan menyusui bayi mungilku itu. Berkecamuk di benakku permintaan maaf pada anak laki-lakiku. Benar kata orang-orang dulu, jika orangtuanya bertengkar, anak akan merasakan ketidaknyamanan. Anakku tidak hanya menangis karena terkejut, tetapi juga karena merasakan kegundahan hati orangtuanya.
Saat dia mulai tenang, aku mengecup dahinya pelan. Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar dan Mas Alif berdiri di ambang pintu. Matanya tajam menatap aku dan anakku yang saling berpelukan.
“Sudah sejak kapan kalian berhubungan?” tanyanya datar.
“Kamu bisa melihat percakapan kami di ponselku, aku tidak pernah menghapusnya,” jawabku tenang.
“Aku jijik membacanya,” jawabnya.
Aku hanya mencibirkan satu sisi bibirku mendangar jawabannya. Dia berbalik tapi kemudian kembali menatap kami tajam. Mendekat dan mengamati Thufail yang lelap di pelukanku. Sesaat aku takut dia melakukan hal yang berlebihan, namun untungnya dia hanya bertanya.
“Anak siapa dia?”
Kali ini aku yang terkejut dengan pertanyaannya. Mataku membeliak dengan pertanyaan keji yang dia utarakan. Meskipun begitu aku segera bisa menguasai emosiku.
“Dia anakku,” jawabku.
“Anakku atau bukan?”
“Anakmu atau bukan dia tetap anakku.”
“Pergi dari rumah ini, kalau aku bisa membuktikan bahwa dia bukan anakku.”
“Kamu yang pergi dari sini, apa kamu lupa ini rumah siapa?”
Entah sudah keterlaluan atau tidak, aku tidak ingin mengendalikan diriku lagi. Mas Alif juga harus segera menginsyafi dirinya selama ini. Aku tak lagi menatapnya sejak aku mengatainya. Tak tahu sekarang dia marah, sadar diri, kecewa atau apa. Dia hanya menutup pintu dengan keras. Membuat tubuh bayiku sedikit bergetar. Jantungku juga berdetak lebih keras karena terkejut.
“Astagfrullah,” ucapku lirih.
Deru motor terdengar keras dan menandakan kemarahannya. Melambatnya suara motor itu membuatku mengerti Mas Alif sudah menjauh dan pergi dari rumah. Aku melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 22.00 WIB. Perlahan, aku menghindari tubuh Thufail dan keluar dari kamar. Aku mengunci pintu rumah lalu masuk dan melihat bahwa ponsel yang tadinya terbanting sudah tidak ada di tempatnya. Mas Alif membawanya.
Aku masuk ke kamar dan mengambil laptop dari dalam tas kerjaku. Menyalakannya dalam gelap dan membuka media sosialku untuk menghubungi Mas Edo. Untungnya kebetulan dia juga berada dalam jaringan. Sebelum aku menyapanya, aku pastikan akun ini tidak login pada ponselku yang dibawa Mas Alif.
“Mas, suamiku mulai tahu hubungan kita, hati-hati ya, dia membawa pergi ponselku,” ketikkku.
“Benar-benar tahu?” balasnya.
“Hanya tahu,” jawabku.
“Iya aku akan berhati-hati.”
“Lindungi keluargamu juga.”
“Iya, aku tahu, bagaimana denganmu, kamu baik-baik saja?”
“Iya, aku baik.”
“Dia tidak memukulmu?”
“Tidak, hanya melempar ponselku.”
“Fai tidur?” tanyanya.
Dia bahkan punya panggilan sayang untuk anakku.
“Iya, tadi sempat terkejut, sekarang sudah tenang.”
“Kunci pintu, kamu juga harus istirahat.”
“Kalau ada yang menghubungimu dari nomor tidak dikenal, abaikan saja ya?”
“Aku tahu cara menjaga diriku, kamu tidak perlu khawatir, istirahat saja.”
Setelah berbalas salam, kami lalu memutus sambungan. Aku menghilangkan jejak login dari perangkatku. Kuamati Thufail yang kata orang wajahnya mirip denganku. Entah aku bersyukur atau justru takut dengan parasnya. Kalau sampai hubungan antara aku dan ayahnya berakhir, bukankah akan sangat nyaman jika dia mirip denganku saja. Walaupun itu artinya seumur hidupnya dia akan diragukan oleh ayahnya.
Sesak baru terasa di dadaku. Setelah beberapa menit ketegaranku menghadapi Mas Alif, sekarang sakit hati baru menghujam. Tuduhan sekeji itu tega dia lontarkan padaku. Sehina itukah sudah perkiraannya padaku?
Di samping tubuh mungil Thufail aku menahan isakku. Meski air mata sudah tak terbendung, aku mencoba tak bersuara sama sekali. Ludah demi ludah kutelan. Bahkan air mata yang melewati sudut bibir pun sampai ke kerongkongan.
Wajah Thufail sudah semakin tenang, matanya yang sedikit terbuka saat tertidur kupandangi. Iris coklat yang terlihat hitam di kegelapan itu seolah sedang mengikuti pandanganku padanya. Sesekali kakinya masih mengejang seperti terkejut. Aku segera menepuk-nepuk dadanya yang bernafas naik turun. Selama dia lahir sampai hari ini, bisa dihitung dengan jari saat-saat ayahnya menggendongnya. Apalagi jika saat ini dia sedang mencurigai keabsahan DNA-nya, akankah semua lebih buruk.
“Maafkan bunda ya nak?” lirihku.
Setidaknya dia anak laki-laki yang jikapun tidak diakui sampai kapan pun, dia tidak perlu mencari ayahnya. Dia hanya akan menikah cukup dengan restuku. Ah, apa yang sedang kupikirkan. Dia masih bayi dalam susuanku. Pun belum tentu ayahnya tidak memaafkan aku. Bagaimana pun, aku hanya ingin dia belajar. Aku hanya ingin dia menyesali yang sudah-sudah dan kami akan berbenah bersama. Setelahnya, kami akan hidup dalam bahagia, tak apa jika sesekali bertengkar, tapi…
“Eggghh,” Thufail mengigau.
Kali ini sesungging senyum terlihat dari bibir dan matanya yang melengkung. Itu menjadi sesuatu yang juga melegakanku.
“Lupakan apa yang kamu dengar nak,” kataku dalam hati.
Bayiku itu lalu memunggungiku. Aku memindah guling ke hadapannya. Memastikan dia tidak akan terjatuh karena terhalang guling. Dia mendekap gulingnya sendiri, membawanya dalam pelukan ke manapun dia menghadap. Itu pun juga mirip aku kan? Jadi selain DNA, apalagi yang akan sama dengan ayahnya?
Dengan atau tanpa ayahnya tidak pernah terlalu berbeda pada malamku. Terlebih sejak kehadiran Thufail, rasanya duniaku sudah sangat baik-baik saja. Seolah jika ayahnya tak lagi sudi denganku, aku pun tidak akan berharap lebih padanya.
Aku mengecupnya lembut. Berkali-kali. Aku berharap itu akan semakin menenangkannya. Sama seperti perasaanku yang perlahan sudah mulai abai dengan yang baru saja terjadi. Kudekatkan tubuhku padanya. Bukan dia yang sedang kuhangatkan. Tapi aku yang sedang membutuhkan detak jantungnya untuk menenangkanku. Mataku mulai menutup dengan irama nafasnya yang lembut tapi cepat. Dengan dengkurannya yang halus tapi tergesa. Perlahan, nafasku pun melembut dan kurasa…