POV ZIA - DINGIN

1076 Words
Aku terbangun setelah mendengar lamat-lamat lantunan tarhim dari musholla di depan rumah. Seolah telah menjadi gerak wajib, aku menepuk bantal di samping Thufail mencoba membangunkan Mas Alif. Sampai aku sadar bahwa dia pergi dan aku mengunci pintu semalam. Itu juga membuatku tersadar bahwa ponselku masih di tangannya. Aku melihat ke luar kamar, di dinding depan kamar kamarku, sebuah jam menunjukkan pukul 04.05 WIB. Kutinggalkan Thufail yang masih lelap di tempat tidur. Aku bergegas ke kamar mandi mengambil wudhu. Saat aku kembali, aku mendengar ketukan di pintu. Ah, Mas Alif tahu aku sudah bangun. Mungkinkah dia semalam mengetuk pintu tapi aku terlalu lelap? Tapi aku tidak pernah selelap itu, aku selalu terbangun saat dia mengetuk pintu tengah malam. Aku berjalan ke arah pintu dan membuka kunci. Ibu berdiri dengan mengenakan mukena polosnya. Sebuah tarikan napas berat dilakukannya begitu melihatku membuka pintu. Ah, aku lupa berkaca. Apakah ibu melihat mataku bengkak? Atau sembab? “Ibu mendengar kalian ribut semalam,” kata ibu begitu beliau masuk dan aku menutup kembali pintu. Tanpa kupersilakan, ibu duduk di kursi kayu dan memintaku duduk di sampingnya. Aku menyusulnya, menuruti keinginannya. Aku hanya menunduk, tidak berani menatap ibu. Dengan terdiam, ibu mengelus pahaku. Membuat dadaku kembali sesak dan sangat ingin menumpahkan tangisku. Tapi tidak tahu mengapa, di balik lara yang luar biasa, ada keangkuhan untuk menangisi yang sudah-sudah. “Kamu gak apa-apa?” tanya ibu lagi. “Mboten (tidak) Buk,” jawabku. “Ada apa lagi?” Aku diam, banyak kesalahan Mas Alif yang aku tutupi dari ibu, tapi kali ini adalah kesalahanku bukan? Jadi apakah sebaiknya aku mengakui kesalahanku? “Masih tidak ingin cerita?” selidik ibu. “Aku gak apa-apa kok ibu, hanya pertengkaran seperti yang sudah-sudah,” jawabku. “Kalau menurutmu Alif memang tidak bisa berubah, kamu boleh minta pisah Nduk (panggilan untuk anak perempuan:nak), jangan dipaksa, ibu ga tega lihat kamu terus-terusan sedih begitu.” “Nggih (iya) bu,” jawabku. “Ya sudah, ibu mau sholat dulu, nanti kalau Alif pulang, coba suruh ke rumah bapak, biar ibu dan bapak bantu kamu menegur Alif,” tegas ibu. “Nggih.” Ibu kemudian bangkit dan keluar dari rumah tanpa menungguku membukakan pintu untuk beliau. Meskipun demikian, aku melihatnya menyeberang jalan dengan mengangkat sedikit mukenanya agar tidak terkena jalan. Kututup kembali pintu dan mengerjakan sholat shubuh setelah terdengar iqomat. Masih dengan mukena yang menempel di badan, aku berkaca. Syukurlah mataku tidak bengkak, setidaknya nanti di kantor, aku tidak akan menerima banyak pertanyaan. Aku kembali ke tempat tidur. Tidak ada Mas Alif, aku tidak perlu membuat kopi pagi-pagi ataupun menyiapkan sarapan untuknya. Kutepuk-tepuk lengan Thufail sembari mendengar lantunan bacaan al-qur’an dari musholla. Sesekali ayat-ayat Allah itu kuikuti pelan-pelan. Tidak bisa tidak, aku ingat biasanya suamiku akan pulang dari musholla dan mulai meminum kopinya di meja ruang tengah yang terlihat dari kamar ini. Aku menoleh ke meja itu dan kosong. Tidak ada Mas Alif apalagi kopinya. Ini pertama kali Mas Alif tidak pulang, biasanya selarut apapun, dia pasti pulang. Aku tidak tahu dia ada di mana, apakah pulang ke rumah orangtuanya, ataukah ke mana. Saat perlahan sinar matahari masuk ke celah-celah ventilasi, barulah aku melepas mukenaku. Aku membuka tirai dan cendela, membiarkan udara sejuk masuk. Thufail juga sudah mulai menggeliat-geliat saat merasakan semilir angin yang segar. Aku tersenyum melihatnya berbalik arah dan sekarang tidur dalam keadaan tengkurap. Sebelum aku membangunkannya aku bersiap di dapur, membuat bubur lunak dari beberapa bahan makanan untuknya, membaginya untuk beberapa kali makan. Setelah itu baru kembali ke kamar dan menciuminya. Kupanggil-panggil namanya dengan lembut. “Thufail, anaknya Mama, bangun yuk sayang.” Tidak sulit membangunkan Thufail kali ini. Mungkin karena semalaman tidak terbangun untuk menyusu, sehingga kali ini dia merasa haus. Saat perlahan dia membuka mata, tangannya menggapai-gapai tanganku. Aku membiarkannya menikmati ASI yang sebenarnya tidak hanya dia yang butuh, aku pun merasakan lega jika dia melakukannya. “Cucunya simbah sudah bangun?” terdengar suara ibu mengintip di ambang pintu. “Sudah Mbah,” jawabku sembari tersenyum. Kugendong Thufail dan menepuk punggungnya agar segera bersendawa. Setelah dia bersendawa, ibu segera mengatur selendang di pundaknya dan meminta Thufail dariku. “Ayo, ayo ikut Mbah ayo, uluh-uluh putune Mbah sing ganteng dewe (aduh-aduh cucunya nenek yang paling ganteng),” ujar ibuku sambil sesungging senyum menghias di bibirnya. Thufail berpindah tangan. Setelah dia berada di gendongan ibu, aku pun mandi dan bersiap bekerja. Aku masih duduk di depan kaca rias saat kudengar motor Mas Alif terdengar. “Loh, Papa pulang,” suara ibu juga terdengar membenarkan dugaanku. Tidak terdengar percakapan lagi antar ketiganya. Mungkin suara Thufail terlalu lembut saat mengoceh, atau kedatangannya papanya bukan suatu kabar gembira baginya pagi ini. Entahlah. Mas Alif masuk kamar tanpa bersuara. Langsung membuka lemari, mengeluarkan ransel dari rak paling bawah lalu memasukkan beberapa seragam dan bajunya. Aku hanya menelan ludah melihat kekerasannya kali ini. “Berapa banyak kesalahanmu yang kumaafkan, tapi kali ini, sekalipun tiada ampun bagiku,” protesku dalam hati. Aku melihat setiap gerak-geriknya dari pantulan kaca riasku. Termasuk saat mataku menatap pemandangan tidak menyenangkan itu. Mas Alif membuka bajunya dan aku melihat memar merah di dadanya. Aku tidak pernah melakukannya, dia juga tidak, tapi aku tidak sebodoh itu untuk tidak tahu itu bekas apa. Kenapa kesalahanku harus kamu balas dengan kontan Mas? Sudah menyerahkah kamu padaku? Bibirku terasa kelu ingin bertanya, tiba-tiba aku bodoh merangkai kalimat. Aku melihatnya melempar ponselku yang pecah ke tempat tidur. Kemudian dia menyandang ranselnya dan pergi lagi. Aku setengah berlari ingin menahannya. Aku baru tersadar dan mengingat pesan ibu. Tapi saat aku baru akan mengatakannya, aku melihat Mas Alif ditahan oleh ibu. “Mau pergi lagi Lif?” sapa ibu. “Nggih buk,” jawabnya. Dia yang tadinya akan langsung menaiki motornya, akhirnya menghampirku ibu dan anakku. Dia yang biasanya akan dengan senang meminta Thufail dari ibu, kini memandang Thufail dengan ragu. Mas Alif hanya mengambil tangan ibu dan mencium punggung tangannya. “Nanti kalau pulang kerja, ke rumah bapak ya Lif?” pinta ibu. Aku melepas napas yang tertahan entah sejak kapan. Pesan itu disampaikan sendiri oleh ibu, seolah tahu anaknya tidak sanggup berkata-kata. Ibu melirik padaku. Aku membuang pandanganku dan berbalik masuk ke dalam rumah. “Nggih bu,” jawab Mas Alif. Seperti tahu apa yang akan dibicarakan bapak dan ibu, Mas Alif tidak lagi berkomentar, hanya menyalakan mesin dan memutar motornya. Pergi meninggalkan halaman rumah kami. Kuambil ponselku dan kunyalakan. Banyak pesan masuk setelah ponselku kunyalakan. Artinya selama membawanya, Mas Alif mematikan ponselku. Dia tidak memeriksa, atau mencari tahu isinya. “Bagus!” gumamku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD