Empty Words. Full Capacity

1659 Words
Tidak seharusnya begini, bahkan di film-film komedi, tidak ada kekacauan yang seperti ini. Pay mengambil alih kemudi, di sampingnya Willi tengah asyik mengunyah permen karet dan tak peduli dengan keadaan disekitarnya. Di bangku tengah, Kun dan Bonita duduk mengapit seorang lelaki yang sudah tak sadarkan diri, kepalanya terkulai ke sandaran kursi. Lalu di bangku belakang, ada lelaki dan perempuan yang duduk saling berjauhan, meskipun yang terjadi sebenarnya adalah, si wanita yang tak ingin didekati sang lelaki. “s**t happens.” Kun tertawa melihat isi vw kombi-nya. Tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Seharusnya hanya ada dirinya dan Bonita. Tetapi mereka ketambahan tidak hanya satu, tapi empat orang plus satu target yang seenaknya saja tidur tanpa ikut serta memikirkan mobil yang semakin sesak oleh kriminil-kriminil kecil yang tak sengaja terbawa ke dalam situasi membingungkan. “Hey, you! Yes! you stupid!” Suara bentakan menghapus pikiran carut-marut di kepala Bonita. Satu jari telunjuk berkutek merah menyala menjulur melewati bahunya. Di belakangnya, dua pasang mata melotot, tapi bukan kepadanya tapi sinar kemarahan itu menembus kepala Pay. “Dasar i***t kepala batu! Turunin gue nggak!!!” Pay menekan pedal gas lebih dalam. “f**k youuu!!!” Pay tidak peduli. Semakin keras makian itu, semakin laju pula mobilnya. “Hai, Mbak Parisy yang manis?” Lelaki di sebelahnya mungkin yang paling gila diantara mereka, ia bahkan tak ambil pusing ketika si kutek merah memelototinya. Sebelah tangannya menjulur menggapai, rasa sakit ketika tas si perempuan menghantam jemarinya justru membuat tawanya semakin keras. Kun berbalik cepat, menatap si lelaki dengan tajam lalu meraih tangan cabulnya pelan namun menyakitkan. Mungkin satu pitingan cukup membuat otot kejang-kejang dan lelaki gila itu hanya bisa mengaduh kesakitan sembari meminta Kun melepaskannya. “Hanya ingin akrab, kawan. Apa salahnya?” “Aku bukan kawanmu” desis Kun. “You bahkan bukan manusia! Culik perempuan yang lemah dan tak berdaya hanya untuk uang?! You lebih bastard dari si kurang ajar ini!!!” Raut wajah Kun langsung berubah lembek ketika diumpat perempuan yang baru saja diselamatkannya tak menyangka akan disembur air panas alih alih diberi ucapan terimakasih. Si c***l menertawainya. Bonita mengurut pelipisnya yang cenat-cenut. “Kami tidak menculikmu. Kau sendiri yang naik ke dalam mobil,” katanya tegas kepada si mulut pedas. “I didn’t!!! tadi ada yang dorong aku masuk!” tolaknya. Kedua tangan bersedekap, mata melenting kesana kemari, mencoba menunjukkan sikap defensif yang justru ditangkap orang lain sebagai usaha menutupi sebuah kebohongan. Si lelaki c***l menyela amarahnya. “Asal kau tahu, cantik, abang paling senang dorong-dorongan, dorong kamu sampai mentok ke dinding, hehehe.” “f**k off! you mutherfucker!!!” Kun geleng-geleng kepala. Ia kembali duduk dan bersiul-siul di kursinya mencoba mengalahkan raungan si kutek merah. Saat ini ia tak bisa mengendalikan keadaan ataupun orang. Terkecuali Willy, mereka semua adalah manusia dewasa dan kebetulan sekali ia tak punya senjata api yang bisa digunakannya untuk mengancam agar mereka diam. Yang bisa dilakukannya adalah diam dan menenangkan pikiran karena rencana mereka butuh kepala dingin agar semuanya bisa berjalan lancar biar ia terbebas dari orang-orang sinting yang kini mengelilinginya. Kecuali Bonita. Ia masih punya banyak urusan dengan wanita itu. Mobil berbelok masuk ke sebuah jalan sempit. Pay seorang pengemudi yang lihai ia dengan mudah melewati ranjau-ranjau jalanan yang tersebar secara sporadis di kota sebesar Jakarta. Gerobak bubur ayam. Odong-odong yang parkir sembarangan. Anak-anak yang berlarian dan ibu-ibu yang membentuk lingkaran arisan ghibah tanpa peduli dimana mereka berdiri. Tak lama kemudian, mereka seperti kehilangan keramaian, karena jalan tanah yang mereka lewati sangatlah sepi. Di kiri mereka ada sehamparan tanah kosong yang ditumbuhi tanaman liar, sedangkan di sebelah kiri tampak sebuah bangunan tua terbengkalai dengan dinding keropos yang menghitam. Kun memindai dari kaca jendela. “Apa kita pendatang illegal?” “Kayaknya enggak, Om. Pabrik ini sudah lama bangkrut,” jawab Pay. Kun mengalihkan pandangannya pada Bonita. “Yakin tempatnya di sini?” “Iya,” ucap Boni. “Sesuai alamat yang dikirim Layla kepadaku.” Akhirnya mereka berhenti. Pay memarkir vw kombi tepat di depan pagar besi yang berkarat. Situasinya sangatlah horror meskipun mereka tengah berada di tengah-tengah kota namun serasa dikungkung rimba. Rumput tumbuh menggila, tumbuhan merambat kesana kemari. Pohon-pohon mati namun lebih banyak lagi meninggi dan merimbun dengan liarnya. Ah kalau dari dalam pabrik tua keluar sesosok manusia gila dengan kapak ditangan dan siapa menebas apa saja termasuk leher manusia, Kun mungkin akan mudah memahaminya. Bonita dan Kun keluar terlebih dahulu. Mereka melihat-lihat disekeliling sembari menunggu orang yang akan mengambil Joey dari tangan mereka. Tak lama Pay bergabung, menyender di kepala mobil dan menyalakan sebatang rokok. Kun mengajak Bonita menjauh, ia ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu sebelum semuanya berakhir. “Kenapa kau?” Bonita melepaskan lengannya disaat mereka sudah berada di luar jangkauan pendengaran Pay. Kun menjulang di hadapannya, menunduk menatapnya. Keduanya nyaris merapat dan Bonita mati-matian untuk meredakan gemuruh hatinya. “Kau tidak lupa kan dengan janjimu tempo hari?” Boni semakin gugup. “Soal apa?” “Ah. Ini soal kau yang akan memenuhi semua permintaanku jika aku membantumu menculik si k*****t itu.” “k*****t? Apa kau kenal si Joey ini?” Kun menyelanya. “Lupakan. Jadi bagaimana Bonita sayang, apa aku bisa menyebutkan permintaanku sekarang?” “Sekarang?!” Bonita nyaris histeris. Kun menyeringai lalu mengangguk. “Kalau semuanya beres lalu kita pulang ke rumahku, kau dan aku resmi berpacaran. Kau jadi kekasihku.” Bonita menutup mulutnya tak percaya. Apa-apaan ini? Ia tak mengharapkan Kun untuk mengisenginya seperti ini. “Apa kau bercanda?” “No, sweetheart. No.” “Aku…aku…” Bonita jadi gagap. Suara gaduh membuat ketegangan luruh seketika. Di belakang mereka Pay tengah bergelut dengan seseorang di atas rumput lapangan kosong, si anak muda tengah menindih si kutek merah yang berteriak marah dengan tangan-tangan yang tak berhenti mencakar. “Lepasin!!!” Kun setengah berlari menghampiri keduanya sedangkan Bonita memarahi Willy yang tertawa-tawa bersama si c***l menyaksikan pergulatan di depan mereka. Badan Pay hampir sebesar Kun meskipun tak berotot banyak tapi tetap saja membuat Kun kewalahan melerainya. Si kutek merah juga tak membantu sama sekali, setiap kali Pay terlepas, ia akan kembali dicakar dan dijambaknya. Semua kemarahan dan sumpah serapah beradu di udara terbawa oleh angin kemudian terselip diantara pohon dan rerumputan yang kuning mengering. Pay meludah ke tanah sesaat ia telah ditarik Kun menjauh dari si mulut pedas. Anak muda itu berteriak melepaskan kekesalannya sebelum menjambak rambutnya sendiri dan memaki udara kosong. Si perempuan lawan berkelahinya berdiri sempoyongan, rambut hitam panjangnya kusut, pakaiannya yang mini lebih kusut lagi, tapi makiannya masih tertata rapi. “Anjing lo ya! Tak punya malu lawan wanita! Dasar k****l busuk!!!” Pay membalikkan badan dan kembali berderap ke depan, namun Kun berhasil menawannya. “Cukup.” Kata Kun pelan dan dalam. Langkah Pay surut seketika. “Nona, hmmm…entah siapa namamu tapi tolong pergi dari sini,” usir Kun tenang. Bonita dan Pay langsung bereaksi. “Nggak bisa. Nanti dia lapor polisi,” teriak Bonita Pay ikutan tak rela, “Tadi dia berusaha kabur, Om dan aku tadi cegah dia.” “Kalaupun dia lapor polisi pasti nggak ada yang bakalan percaya. Dia nggak kenal kita dan di stasiun tv tadi kita melewati titik buta, nggak ada satupun cctv yang berhasil ngerekam, lagian, dia sendiri yang masuk ke dalam mobil saat kita kabur tadi. Polisi nggak akan sebodoh itu mempercayai wanita gila ini,” terang Kun panjang lebar. “Apa?! You said I’m crazy? Shut up b***h!!!” Si kutek merah menghentakkan kaki lalu mengambil tas kecilnya yang terjatuh ke tanah sebelum pergi dengan muntahan kata-kata. “Gue laporin lo semua ke polisi!!! Gue penjarain biar lo pada mampus!!!” Langkahnya masih goyang ketika pergi dengan segala harga diri dan kesombongan yang masih tersisa. Kun, Bonita dan Pay hanya bisa menarik napas kesal dan membiarkan perempuan itu pergi. “Kita harus segera pergi sebelum ada polisi yang percaya dan menangkap kita semua di sini. Kapan orang-orang itu datang?” Kun mengambil keputusan. Bonita sibuk melihat-lihat poselnya yang tak kunjung bordering. “Seharusnya Layla sudah telpon, tapi…” “OH, Willy sayang. Sudah lama kita tak bertemu.” Si lelaki c***l bangku belakang mengembangkan kedua lengannya, berharapa Willy terharu dan memeluknya. Tetapi si anak malah tak mengubris, ia berjalan kembali kearah mobil dan masuk ke bangku depan. “Jangan menganggunya, sialan!” hardik Bonita Kun kaget. “Kalian kenal?” Belum sempat Bonita menjawab, ponselnya bordering. “Gimana, Bu? Mana orang-orangnya Ibu?” hening sejenak. “Apa? Malang? Lha, katanya sampai di sini saja? Kenapa saya harus nganter dia ke Malang? Malang jauh, Bu.” Hening kembali. “Nggak bisa gitu, Bu. Buka begitu perjanjian kita. Halo? Halo? Bu? Bu Layla? Bu? Halo?...Oi b******k?!!!” Telepon terputus. Raut stres memenuhi keseluruhan wajah Bonita. Kun cemas tapi tak berani bertanya lagipula ia masih penasaran apa hubungan Boni dengan lelaki c***l bangku belakang itu. Tiba-tiba Boni menegakkan kepalanya dan menghadapi Kun. Pelan-pelan air matanya turun. “Kun, kita harus ke Malang sekarang. Joey harus sampai si sana besok.” Boni menangis, Kun gelagapan. “Willy? Sini anak manis?” Si lelaki c***l masih memanggil-manggil. Kun masih belum mencerna permintaan Bonita yang kini menangis semakin keras. Pay berdiri dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana, merokok akar alang-alang dan menyaksikan pementasan drama di hadapannya. “Malang? Hari ini juga?” “Iya, hiks. Tolong, Kun.” “Willy? “Malang?” “Iya?” “Willy manis, sini sama papa.” Kun habis sabar. “Diam! Dasar p*****l kurang ajar!!!” Bonita mengkeret lalu terdiam mendengar suara Kun yang menggelegar. Ia tak menangis lagi, sisa air matanya jatuh satu-satu. Dipandanginya Kun yang kini memasang tinju dan muka galak kepada si lelaki c***l bangku belakang. “Dia memang papanya Willy, Kun. Si b******k ini mantan suamiku.” Bonita menjelaskannya takut-takut. “APA?!” “What?!!!” Pay lebih kaget lagi. Bergantian ia memandangi si lelaki c***l, Kun dan anak yang kini duduk di kursi depan vw kobi bewarna kuning terang. Kun dua kali kena tembak di kepala, namun ia tak mati-mati juga. ***********************************************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD