Out Of The Blue

1563 Words
Kun itu manis… wajah tapi bukan mulutnya. Selama Bonita mengenalnya, ia belum pernah bertemu anak lelaki sesinis dan sekurang ajar Kun. Ia bisa sarkas saat ia harus berhadapan dengan seorang pecundang. Kun sangatlah kasar ketika bertemu manusia yang dibencinya meskipun itu tanpa ada alasan untuk membenci. Begitulah. Mungkin memang dengan cara itu dirinya melawan dunia. Tapi, itu Kun yang dulu. Lelaki yang kini duduk termenung merayapi dunia luar dengan matanya, terlihat sangat tenang dalam pandangan Bonita. Tidak terdengar lagi kalimat-kalimat menohok yang bisa menyinggung perasaan orang lain atau ucapan-ucapan tak perlu yang berpotensi memancing keributan. He’s old, umur dan kedewasaannya dan kenyataan tersebut membuat Bonita sedikit takjub. Begitulah hidup. Pahit manisnya berkontribusi mengubah seseorang. Jika Kun mengejutkan semua orang dengan aura positifnya, Boni justru berkebalikan darinya, ia mundur jauh ke belakang. VW kombi bewarna kuning cerah itu melaju dalam kecepatan sedang. Baron, si lelaki c***l yang tadi diakui Boni dan tak diakui Willy tadi sebagai mantan suami, menggantikan Pay mengemudi. Ia menyalakan radio yang menayangkan top ten koplo masa kini. Ia asyik berdendang dengan suaranya yang sumbang, sesekali bersiul jika ia tak hapal liriknya, namun lebih sering menggoda semua orang yang duduk di bangku penumpang. “Willy? Apa kau masih suka mencuri?” katanya kepada sang anak tanpa menengok ke samping. “Mencuri? Parah!” si kutek merah menyahut dengan nada penuh ejekan. Pay mendengus. “Iya, lo memang pecundang. gue rasa lo sudah tak punya harga diri lagi. Semua yang ada di diri lo itu gratisan.” Si anak muda terlalu jijik memandang gadis yang duduk di sebelahnya. Cibiran dan hinaan yang tadi dialamatkannya kepada si kutek merah rasanya belum cukup menutupi rasa kesalnya. “Lempar gue keluar kalau begitu, sialan!” “Percuma. Raga hidup lo itu sudah murah, kalau nanti berubah jadi setan, lo tetap gampangan.” “b*****t!” Sudut mulut Pay terangkat menyeringai. “You’re welcome,” balasnya. Bonita yang posisi duduknya belum berubah hanya bisa mendengar suara rebut di belakangnya. Baron yang memancing di air keruh tampak bersukacita dengan keberhasilannya menciptakan keributan baru. Willy kini bermain game di ponsel Kun, ia tak terpengaruh oleh badai yang menghantam, ombak menggila dan petir menyambar di langit yang gelap. Semua manusia dewasa itu hanya membuatnya pusing. “Apa dia adikmu?” tanya Bonita kepada Kun. Kun tertawa. “Orangtuaku tidak pernah membuat kesalahan besar sehingga manusia yang satu ini lahir. Bukan. Dia anak tetangga enam rumah di sebelah kanan.” Mulut Pay melengkung turun. “Gue penggemar oom ini, lady. Dia idolaku.” Satu tawa kasar lolos dari mulut si kutek merah. “Idola lo seperti dia? Hah! Pantas lo seperti ini.” “Shut up, b***h!” maki Pay “I’ll scratch you, b***h!” balas di kutek merah. Kun menoleh ke belakangnya. “Okay. You two…bitches. Bagaimana kalau kita saling tahu nama masing-masing. Nggak enak rasanya dipanggil l***e seharian.” Willy yang paling antusias. “Aku Willy. Umur enam tahun. Anaknya mama Bonita.” “Dan Papa Baron.” Si c***l yang ternyata bernama Baron ikut bersemangat. “Bukan. Dia bukan papaku,” sela Willy keki. “Hei, hei. Tidak baik begitu sama orangtua, manis.” “Namaku Willy, bukan manis.” Kekesalan Willy membuat Kun terheran-heran. Apa sebenarnya hubungan diantara mereka bertiga. Jika Bonita mengakui lelaki ini sebagai mantan suaminya, kenapa Willy malah bersikap asing dan sama sekali tak menyukainya? Apa Baron adalah papa tiri? Kun lalu berbaik hati memperkenalkan Bonita dan Pay yang enggan bermanis-manis. “Ini Bonita. Aku Kun. Boy yang gondrong ini bernama Faizul.” “Pay!” ralat Pay sedikit kesal. Si kutek merah tertawa mengejek. “Apa nggak salah? Bukannya Panjul itu kepalanya botak?” dan ia masih tertawa mendengar hinaannya sendiri. “Beda dong dengan gue. Bonjour, je ma pelle Paris. Nice to fuc…eh meet yaaa.” Kun tersenyum manis. “Hi, Paris. My name is Kun and I don’t speak croissant.” Tawa Paris makin melengking. Pay ingin mengalungkan kedua lengannya ke leher gadis itu, memitingnya sampai mati. Keinginan itu kemudian dipendamnya jauh-jauh, karena ia harus menemukan waktu yang tepat untuk mengeksekusinya. “Berapa lama kamu tunangan sama dia?” tanya Kun pada Joey yang sudah sadar dari biusnya namun masih melihat dua bayangan pada satu benda.Joey tak menjawab. Pandangan matanya nanar, kepalanya pengar dan yang lebih parah lagi, ia tidak tahu siapa orang-orang yang berada di dekatnya saat itu, bahkan ia belum percaya kalau Paris juga ada di sana. “What am I doing here?” lirihnya terdengar putus asa. ********************************************** Beberapa jam yang lalu…  “Apa harus pakai tompel?” kata Boni saat Kun masih sempat mematut dirinya di dinding kaca. “Menurut sejarah, enggak ada yang namanya tompel menambah nilai estetik sebuah wajah, yang ada malah sebaliknya,” kilah Kun sembari memastikan tompelnya menempel dengan sempurna. Boni menilai Kun dari atas ke bawah, bawah ke atas depan belakang. Lelaki itu hanya merubah sedikit area wajahnya sedangkan sisanya tetap mempertahankan bentuk asli, sehingga membuat sosoknya tampak tak proporsional, mengesankan usaha penyamarannya sia-sia belaka. Lihatlah wig kribo kaku itu atau kumis sikat giginya, Ya Tuhan…Bonita tahu kalau Kun bodoh, tapi kali ini ia benar-benar mempercayainya. “Kenapa nggak sekalian pakai jaket Gojek?” Bonita kesal. Padahal rencana mereka sudah matang persiapannya, tapi di detik-detik terakhir, pria ini malah mengacaukannya. “Ah ide yang bagus,” sahut Kun sembari tersenyum dan pura-pura tak paham dengan raut marah di wajah Bonita. Boni mengalah. “Ayolah!” Studio satu terletak di area paling depan komplek tv dan yang paling sering digunakan untuk syuting acara hiburan. Mereka masuk menyaru sebagai pegawai laundry yang hendak mengambil props wardrobe yang sudah digunakan kemarin malam. Sebuah trolley laundry besar di dorong Kun dengan hati senang, karena ia sudah membayangkan akan  melipat Joey dan memasukkannya bersama semua baju kotor ke dalam troli tersebut. “Mas langsung aja ke studio satu.” Seorang kru tv dengan walkie talkie di tangan berseru dari seberang koridor dan tak perlu repot-repot mengecek apakah Kun dan Boni adalah pegawai laundry langganan tv. Sepanjang jalan menuju studio satu Kun dan Boni akan menunduk dan merapatkan topi jika melewati kamera pengawas yang mengintai, berjalan dengan tenang , tak perlu melakukan gerakan yang dirasa tak perlu dan mengundang kecurigaan. Sesampai di studio satu dan memastikan jika acara live musik  telah berakhir, Kun dan Boni langsung menuju ruangan wardrobe dan mengambil semua yang telah diinstruksikan. Selagi Bonita mengemasi semuanya, Kun lalu mengawasi ruangan pengisi acara untuk mencari keberadaan Joey. Sang vokalis band duduk di atas sofa di pojok ruangan sembari memeriksa ponselnya dan tampak tak peduli dengan kehebohan di sekitarnya. Lelak itu tampak bosan, bahkan perempuan cantik di sebelahnya juga sama sekali tak menarik minatnya. “Anjing.” Kun mengumpat dalam hati, namun bibirnya tersenyum. Tiba-tiba, Joey bangkit dari duduknya, ia  keluar dari ruangan dan meninggalkan semua anggota band, manajer, si perempuan cantik dan beberapa orang kru tv yang sedari tadi tak berhenti mengagumi sang vokalis. Dengan sudut matanya, Kun mengamati kemana lelaki itu pergi dan berharap akan sebuah kebetulan. Dan itulah yang terjadi, Joey berbelok di ujung koridor dan masuk ke dalam toilet. Kun tersenyum dan menelepon Bonita. “Langit bersama kita, Boni. Joey sedang di toilet. Langsung eksekusi.” “Siap.” Boni menyahut di seberang. Kun berjalan kearah toilet dan menemukan Joey tengah mencuci mukanya di deretan ujung wastafel. Toilet kosong dan Kun dengan tenangnya mendekati Joey lalu membekapnya dengan sapu tangan yang telah dibubuhi obat bius. Dan seperti di film-film, Joey hanya melawan sedikit dan tak berarti, sesaat setelah ia mulai tak sadarkan diri, Kun langsung menyeretnya ke salah satu kubikel lalu menutup pintu dan menunggu sebuah kehebohan datang. Teriakan dan suara-suara ribut mulai menggema di setiap sudut bangunan. Seperti kerumunan lebah ngamuk, keadaan mulai kacau dan orang-orang kalang kabut mencari jalan keluar. Kun menunggu hingga terdengar ketukan di kubikel di sebelahnya. “I’m here!” Pintu menjeblak terbuka, di sana, Boni sudah bersiap dengan trolinya yang besar. Kun dengan mudah melempar Joey yang teller ke dalamnya lalu menutupnya dengan pakaian-pakaian kotor. Tanpa babibu, keduanya bergabung dengan kerumunan orang-orang yang panik sampai keluar dari gedung. Di antara massa yang memenuhi halaman depan, Kun dan Boni menyelinap dengan mudah menuju kendaraan yang telah menanti namun ketika Kun hendak membuka pintu geser vw kombi-nya, sebuah tangan menepuk bahunya. “Mau dibawa kemana bos saya?” Kun berbalik. Lelaki itu lebih pendek dua kepala darinya tapi berotot dan tampak seperti seorang petarung. Ia menyeringai kepada Kun, kedua matanya menatap dengan tenang. Kun harus melakukan sesuatu, apalagi ketika dilihatnya Bonita berdiri ketakutan di belakang lelaki pendek itu. Hanya membutuhkann satu pitingan di lengan, sisa bius yang masih menempel di sapu tangan tadi digunakannya sebagai senjata. Si pria yang tak diketahui namanya itu jatuh ke bawah kaki Kun, tak sadarkan diri. “Ayo pergi, tinggalkan saja!” seru Kun. “Jangan Kun. Taruh di dalam saja!!!” Kun berdecak jengkel. Lelaki itu sangatlah berat dan ia harus mengerahkan seluruh tenaga yang dipunyainya untuk melemparkan si pengganngu ke kursi belakang. Ia belum bisa beristirahat tatkala harus kembali mengangkat Joey ke bangku tengah dan setelah keduanya aman Kun cepat-cepat naik ke atas mobil. Satu masalah lagi datang. Tangan Kun yang hendak menutup pintu tertahan, seorang wanita masuk ke dalam vw kombi kuning seperti kilat dan langsung menghenyakkan dirinya di sebelah lelaki yang tadi dilontarkan Kun. “Tutup pintunya and let’s go!” Perintah keluar dari mulut si penerobos dan Pay segera menekan pedal gas. **********************************************************************                    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD