BAB 42

1008 Words
Elsie baru bangun ketika sudah sampai di tempat tujuan. Dia masih mengiap, semua berkat dari pertarungan kekasihnya dan teamnnya yang terjadi di tengah malam tadi. Dia akirnya bisa menghela napas panjangs etelah yakin kalau sudah terbebas dari pria yang mengaku sebagai kekasihnya dan menuduh South melakukan guna-guna padanya. Hatinya sebenarnya juga mencurigai sesuatu, tapi dia tidak mengerti sebenanrya apa yang membuatnya gelisah. Dia hanya tahu kalau ada yang harus dilakukan, tetai tidak tahu apakah yang harus dilakukan untuk sekarang? “South? Kita sudah sampai?” Dia begitu takjub ketika baru saja keluar dari mobil dan berhenti tepat di depan teras depan dari bangunan dua lantai yang memiliki arsitektur eropa kuno era abad delapan belas ini. “Wah, rasanya seperti ini adalah kastil Frankenstein.” South tertawa mndengar komentar itu. “Iya, dahulu au juga mengkhayal apakah sanak saudaraku ada yang bisa menciptakan makkluk seperti itu, ya? Kau benar, tempat ini sangat kuno, tapi aku jamin sangat bersih dan layak huni. Untuk sementara kita akan disini, aku harus memeriksa banyak hal tentang mendiang orang tuaku di kota ini.” “Tentu saja ini bukanlah masalah. Malahan, kalaupun kita disini selamanya juga tidak masalah. Tempat ini memiliki nilai seni yang tinggi. Aku nyaris tidak bisa berkedip karena saking indahnya. Aku tidak tahu kalau kau ternyata sangat penyihir.” “Apa maksudmu sangat penyihir, hah?” South menyambar pinggang Elsie, kemudian emngecup bibirnya. “Aku memang penyihir.” “Aku masih tidak terlalu lama mengenalmu, jadi ini adalah saat aku ingin kita saling mengenal.” “Tentu saja, Sayang, kau akan mengenalku. Kita akan saling mengenal lebih lama disini. Kau benar memang, kita jatuh cinta dan menjalin hubungan begitu cepat, rasanya tidak percaya. Aku seperti baru melihatmu kemarin saja.” “Aku juga merasa seperti itu. Sungguh aneh, ya.” “Tidak aneh kok, aku merasa memang kau datang hanya untuk menjadi pasanganku.” “Aku juga merasa demikian.” “Aku beruntung sekali memilikimu, Sayang.” “Oh, South kau mendadak romantis lagi, aku bisa pusing karena mendengar semua gombalanmu itu.” “Aku memang beruntung bertemu denganmu, aku yakin ini adalah takdir, terima kasih sudah datang ke Wimberley, Elsie. Kalau saja kau tidak datang, kita tidak akan pernah bertemu untuk selamanya. Aku adalah tipikal pria membosankan yang selalu nyaman di satu tempat. Kau membuatku mengetahui kalau sesekali kita harus lepas dari zona nyaman agar bahagia.” “Jangan begitu, kau berkata seakan kau ini tidak menarik saja. Sebenarnya kau ini sangat menarik, kau juga sangat tampan dan menggoda. Aku juga tahu kalau kau ini terkenal di kalangan para wanita, untungnya aku yang berhasil meraih hatimu.” “Manis sekali.” “Ayo kita masuk, aku ingin tahu bagian dalamnya.” “Tentu saja.” . . . Bagian dalam rumah kuno ini tidak jauh berbeda dari bayangan Elsie. Dia sudah menduga kalau tempat ini sangat bagus sekali, temboknya berpotongan besar dan rata-rata memang terhias oleh pajangan berupa lukisan bernilai seni tinggi. semua itu bukan apa-apa, perabotan pun kelihatan seperti barang antik, tapi masih sangat terawat. Belum lagi langit-langit yang tinggi, terhias oleh lampu gantung yang cukup indah. Untuk satu menit lamanya, wanita itu hanya diam untuk menikmati betapa luas dan indahnya ruang tamu rumah ini. Udara juga sejuk, ada aroma seperti daun-daunan juga yang sesungguhnya berasal dari udara luar yang masuk melalui jendela. “Wah, ini benar-benar indah, South, berada disini seperti berada di tempat dimana kita bisa menenangkan diri. Ini pasti tempat yang cocok untuk melakukan yoga.” Elsie berpendapat. South mengangguk. “Aku juga berpikir demikian. Ini peninggalan, ya aku cukup senang kalau kau senang. Aku hanya perlu melakukan hal lain untuk menuntaskan peninggalkan. Besok aku harus mengurusnya, jadi kita bersantai dahulu sekarang.” “Ayo kita lihat kamar kita dahulu.” “Tentu, Sayang, itu yang paling aku tunggu dari tadi. Aku sangat ingin tahu bagaimana tempat dan ranjang yang akan kita tiduri mulai sekarang.” “Aku sangat tahu jalan pikiranmu, dasar kau ini.” “Hei, aku ini sangat antusias dengan hal ini, kau harusnya senang punya kekasih yang sangat suka memanjakanmu ... Di ranjang.” “Aku suka sekali dengan kekasihku.” Elsie melingkarkan tangan di leher South. Dia agak berjinjit karena perbedaan tinggi badan mereka yang terlalu kentara. Dia memandangi wajah pria itu dengan kekaguman yang luar biasa seakan tidak ada makhluk bumi yang sempurna layaknya South. Efek ramuan cinta memang sangat berbahaya. Sekalipun ini hanya ilusi dan buatan, tetapi nyatanya South tidak peduli. Dia berpikir, lama-lama Elsie juga akan jatuh cinta sungguhan padanya. Seperti yang semua orang katakan bahwa cinta itu bisa datang karena terbiasa. “Coba kecup aku kalau kau suka padaku,” bisik South balik melingkarkan tangan di pinggang ramping Elsie. Elsie mencium bibir South sesaat, kemudian berkata, “aku mencintaimu, South.” “Aku juga mencintaimu, Elsie.” Mereka puas saling berciuman, dan kemudian berjalan pergi menuju ke kamar mereka. rumah berlantai dua ini tidak mengerikan, malah terkesan mewah. sekalipun banyak jendela yang masih tertutup, namun tetap saja semuanya terlihat seperti Karya Seni. Elsie merasa kalau dirinya sedang terjadi di abad lampau yang dipenuhi suguhan seni luar biasa. tak semenitpun senyumannya luntur dari bibir. Kamar mereka terlihat seperti ruangan raja dan ratu, tapi memang sangat berkelas. semua perabotan juga terlihat bernilai seni tinggi, banyak ukiran pada bahannya yang kebanyakan dari kayu. semuanya benar-benar terawat. tidak rugi, South menyewa banyak orang untuk merawat tempat ini, dan dia juga tidak menyesal karena melewatkan banyak penawar tinggi yang selalu saja menghubunginya. tempat ini memang sebuah tempat yang indah, bagus, aroma wewangian alami juga nyaris seperti menempel di dinding. siapapun akan betah berada di tempat ini. Tempat yang sudah pasti memiliki nilai seni tinggi, tempat yang menyenangkan untuk dihuni oleh pasangan baru. Elsie bahagia berada di tempat seperti ini. lagi-lagi, dia seperti dibawa menuju abad pertengahan. Yang menyenangkan. adalah semua bangunan memang terawat dan bersih. Tidak ada kesan Seram semacam itu. dia yakin akan betah berada di sini. entah mengapa, dia juga merasa kalau tempat ini tidaklah asing. Iya, seolah-olah dia pernah berada disini, walaupun tak bisa dia ingat kapan itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD