BAB 29

1078 Words
Tapi, aku kita berenang dahulu. Kau bisa berenang kan?” “Tentu saja.” Setelah koper dan ransel diletakkan di atas kursi teras, mereka hanya mengambil barang berharga. Elsie hanya mengambil tas selempang kecil yang berisi dompet dan ponsel. Hanya itu yang berharga. Setelah itu dia bergegas mengikuti Jett yang berjalan menuju ke sumber sungai yang dimaksud. Berenang adalah hal yang biasa dilakukan oleh Elsie ketika sedang sendirian di rumahnya di kota sana. Berenang bisa menenangkan pikirannya, terlebih ketika sedang malam hari, dan airnya diubah menjadi lebih hangat, itu adalah kenikmatan dunia yang pernah dia rasakan. Tetapi sekalipun itu menyenangkan, nyatanya ada yang kurang. Itu adalah seorang pasangan. Meskipun dahulu dia menolak mengakui itu, tetapi dia tidak bisa menyangkal kalau sedang kesepian. Sekarang semuanya tidak akan sama lagi. Dia sudah melupakan segalanya, kota besar dan yang lain, dan memilih untuk tinggal bersama Jett di kota kecil di Texas ini. . . . Jett mengantarkan Elsie kembali ke daerah yang merupakan tempat yang biasanya dia dan kawan-kawannya menghabiskan waktu. Mereka manyebut sungai yang lebarnya kira-kira lima meter itu sebagai kolam renang pribadi karena memang sangat jernih dan tidak terlalu dalam. Saking jernihnya sampai-sampai bagian dalam air itu bisa dilihat, iya bagian dasarnya pun sangat bersih, tanpa adanya sampah, semuanya murni bebatuan, lumut dan akar-akar pohon cemara yang tumbuh di sekitar sungai. Pemandangan ini seperti ini takkan didapatkan Elsie jika berada di kota besar yang biasa dia tempati. Dia melakukan hal benar dengan pindah kemari. Dia bahkan tidak mengabari siapapun, kecuali pamannya, jika sudah meutuskan hal tersebut. Dia tahu percuma saja memberitahu orangtuanya karena mereka sudah tidak emmpedulikannya. Orang tuanya sudah sibuk dengan kehidupan baru mereka dengan pasangan masing-masing. Elsie hanya tersenyum memandangi arus sungai itu, mengingatkannya pada jernihnya danau yang ada di dekat rumah Nyonya Leda. Dia tidak tahu kalau hampir semua aliran sungai di wilayah ini begitu jernih. Memori akan masa lalu yang kelam kembali membuatnya hanyut. Perasaan kesepian yang sudah lama dia rasakan mendadak teringat. Tetapi, itu semua sudah terlewati sekarang. “Kenapa, Elsie? Ada masalah?” tanya Jett memperhatikan wajah Elsie yang tidak kunjung bersemangat. Dia bisa membaca suasana hati dari gadis itu yangs edang gundah karena permasalahan keluarga yang jelas tidak kunjung selesai. Bahkan, dia ragu kalau orang tua Elsie akan mencarinya sekalipun dia hilang. Elsie tersenyum. “Tidak apa-apa.” Jett mendekatinya, lalu meraba kulit pipi wanita itu dengan lembut. Dia mendekatkan wajahnya sampai membuat napas mereka saling menerpa di kulit wajah masing-masing. “Jangan membohongiku, aku bisa menebak apa yang sebenarnya kau pikirkan. kita ini pasangan sekarang, tolong lebih baik kau katakan saja apa yang mengusik pikiranmu." "Aku memang hanya memikirkan masa lalu saja. kau jelas sudah tahu, tentang keluargaku kan? orangtuaku yang acuh dan membuka lembaran hidup baru, lalu melupakan aku. aku bahkan tidak pernah sekalipun merasakan kehangatan keluarga. rasanya seperti hidupku terasa hampa sebelum bertemu denganmu." Elsie meraba punggung tangan Jett, kemudian tersenyum balik kepada pria itu. dia menyayanginya, mencintainya sepenuh hati. "Kau memberikanku kehidupan baru, aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu disini, dan kau juga akan sellau melindungiku. aku mencintaimu, Jett." "Aku juga mencintaimu." mereka berciuman untuk beberapa saat, bukan ciuman nafsu, hanya murni penuh cinta. mereka tidak ingin terburu-buru dalam hubungan ini. Jett menghormati perasaan Elsie yang masih berusaha untuk mempercayainya. cinta memang seperti ini. Elsie tidak mau sakit hati karena sudah terlalu lama terbendung di cinta beracun orang tuanya. dia ingin membuktikan kalau cintanya yang terbaik dan tulus, takkan mungkin dia menyia-nyiakan wanita ini demi apapun. selepas berciuman, Elsie menarik lengan Jett, kemudian diajak duduk di tepian sungai. dia kemudian menyandarkan kepala di bahu pria itu, lalu bertanya, "kau sudah tahu tentangku, sekarang ceritakan tentangmu, maksudku keluargamu, aku hanya tahu tentang Nyonya Leda saja. apakah di pertemuan Alfa tadi tidak ada sanak saudaramu yang lain?" "Sebenarnya semua orang disana itu sudah seperti saudaraku, tapi kalau kau tanya yang dalam ikatan darah, maka tidak ada, selain Nenekku, tidak ada yang lain." "Sungguh?" "Sungguh." "Jadi serius kau sebatang kara, maksudku bukan begitu, maksudku hanya dengan nenekmu saja?" "Iya. biar aku ceritakan dahulu ya, orangtuaku tewas saat terjadi permasalahan di kota ini beberapa tahun yang lalu, karena itulah aku yang menjalankan bisnis yang ditinggalkan oleh ayahku. sebenarnya, semua orang yang menjadi anggota Alfa akan memiliki jabatan di perusahaan kelompok yang bergerak di bidang kontruksi, tapi kami biasanya punya bisnis keluarga, dan keluargaku punya bengkel itu." "Begitu ya... lalu paman? bibi? keponakan? atau semacamnya? kau tidak memilikinya?" "Kalau masalah itu tentu saja aku punya seorang paman, tapi sayangnya dia menghilang dahulu dan ditemukan tewas di tepi perbatasan, setelah diselidiki dia tewas karena dikeroyok oleh kelompok serigala liar, tapi kami sudah membalaskan kematiannya. aku sudah lupa kejadian itu karena sudah lama sekali, saat aku masih sekolah dasar mungkin." "Mengerikan sekali, ternyata dari dahulu disini sering mendapatkan teror dari kelompok serigala liar?" "Sejujurnya tidak begitu Elsie, kelompok serigala liar itu memang akan pergi kemanapun asalkan bisa menguntungkan untuk mereka. mereka selalu saja kelaparan dan ingin memangsa organ tubuh manusia yang masih segar. itu mengerikan." "Kau membuatku takut, Jett, apakah di kelompokmu nanti tidak akan ada yang melakukan itu?" "Elsie, aku akui manusia serigala memang predator dan sudah sewajarnya akan selalu memangsa, tapi biasanya orang yang ikut dalam kelompok liar adalah manusia serigala yang terinfeksi. maksudku di dunia ini ada beberapa macam manusia serigala, yang paling sederhana membedakannya adalah manusia serigala kelahiran murni dan manusia serigala yang terinfeksi. manusia serigala yang berdarah murni biasanya tidak gampang tergoda untuk memakan sesuatu, bahkan nyaris tidak ada keinginan. tetapi, manusia serigala yang terinfeksi sangat suka memakan manusia. mereka seperti Zombie yang selalu kelaparan." "Apa yang menyebabkan mereka terinfeksi?" "Tentu saja karena gigitan sengaja oleh manusia serigala lain. manusia serigala lain itu memang sengaja menginfeksi manusia lain, dan menjadikannya anak buah, kemudian membuat kelompok besar, lalu mengacau dimana-mana." "Kedengarannya berbahaya dan menakutkan sekali. jadi selama ini, di dunia yang tenang ini, di balik bayang-bayang dan gemerlapnya langit malam di kota, mereka itu berkeliaran?" "Iya, tapi kau tidak boleh ketakutan seperti ini. kau bisa memegang ucapanku, bahwa tidak semua manusia serigala itu seperti itu. percayalah." "Tentu saja aku percaya. kau salah satunya, kau adalah manusia serigala tertampan, termanis dan terbaik yang pernah kutemui." Elsie kembali bersikap manja sembari membelai punggung tangan Jett. "Aku mencintaimu, Elsie." "Aku juga. "Ngomong-ngomong kita sudahi saja pembicaraan membosankan ini, kau tidak mau berenang denganku? ayo kita berenang, Sayang." "Ayo." Elsie semangat karena dipanggil Sayang. dia segera berdiri, dan langsung diikuti oleh sang kekasih. Mereka berdua kompak melepaskan baju yang melekat di tubuh mereka berdua. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD