Jarum jam dinding telah menunjuk ke pukul setengah tujuh malam. Saat itulah Elsie baru membuka mata, dan terkejut karena tertidur terlalu lama. Dia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri, kemudian mengenakan atasan turtleneck kuning tebal dengan paduan jeans. Pakaian yang seharusnya dipakai di saat musim dingin.
Setelah itu, dia keluar dan mencari Leda.
“Nyonya Lloyd?” panggilnya beberapa kali, tapi tak ada sahutan sama sekali.
Dia beranjak masuk ke dalam dapur untuk membuat makan malam sendiri. Akan tetapi, betapa terkejutnya dia karena ada seorang pria t*******g d**a membuat secangkir kopi di atas meja dapur. Iya, pria itu hanya mengenakan celana jeans saja. Dari belakang, sosok itu tampak luar biasa mempesona. Pundak lebar, tulang punggung keras, otot-otot terbentuk sempurna, dan pinggang ramping.
Siapa dia?, pikir Elsie memperhatikan rambut coklat kehitaman pria itu yang masih basah, curiga kalau dia telah menggunakan kamar mandi rumah ini tanpa ijin.
Dia mengendap-endap menuju ke meja makan yang berada tepat di belaang pria misterius itu. Dengan sangat lirih, dia mengambil garpu yang ada di wadah peralatan makan atas meja.
Namun, belum sempat dia mengatakan apapun, pria itu tiba-tiba bertanya, “mau apa kau? Menusuk pantatku dengan garpu?”
Sontak saja Elsie melotot. Dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun dan pria itu juga masih fokus mengaduk kopinya. Lantas, bagaimana caranya tahu kalau dia sedang memegang garpu?
“Aku yang harusnya bertanya, siapa kau? Kenapa kau bisa masuk rumah ini?” tanya Elsie dengan galak. Dadanya berdebar kencang, takut sekaligus panik.
Dia bertambah waspada dengan mengacungkan ujung garpu ke arah pria itu. Kakinya telihat mundur selangkah untuk menjaga jarak agar bisa melarikan diri apabila situasi memburuk. Berita pembunuhan yang ada di kota ini pun kembali teringat.
Pemuda dua puluh tahunan itu membalikkan badan sambil menyeruput kopi. Wajah tampannya tampak segar. Dia kelihatan seperti model iklan yang baru saja syuting keluar dari kolam renang. Ketika ia memiringkan kepala, poni rambutnya yang basah ikut bergerak ke samping sehingga membuatnya semakin mempesona.
Bagi Elsie yang tidak memiliki pengalaman dengan lawan jenis, pria itu terlalu tampan dan bertubuh bagus, seolah tercipta untuk membahagiakan wanita. Selama hidup di kota besar, dia sudah melihat banyak sekali pria penuh pesona, tapi tidak ada yang sampai membuatnya tertegun tak bisa berkata-kata seperti ini.
Memang, ada aura kuat yang membuat pria itu terlihat begitu jantan dan memikat. Saat dia memperhatikan penampilan Elsie secara menyeluruh, tatapannya pun menusuk bagaikan mata pisau. Dia sepertinya sedang menilai wanita seperti apakah Elsie itu.
“Ini musim panas, kau memakai pakaian tebal?” tanyanya dengan santai. Dia seakan sedang bicara dengan seorang teman, sama sekali tidak memperlakukakan Elsie sebagai orang asing.
Elsie sampai bingung. “Jangan mengalihkan pembicaraan! Aku tanya siapa kau ini! Kenapa kau ada di rumah Nyonya Lloyd?”
“Oh, namaku Jett Mingan, jelas saja aku disini, ini juga rumahku dan nenek itu adalah nenekku.”
“Kau pikir aku percaya? Kau pasti hanya … pencuri yang …” Elsie mengutuk diri sendiri yang mendadak kehilangan kemampuan bicara karena sangat takut, tapi juga terpesona. Dia takut kalau pria itu adalah pmbunuh berantai yang menghebohkan kota, tapi hormon wanitanya terus saja mengagumi pesonanya.
Sial, ada apa denganku?, ucapnya dalam hati.
“Aku bukan orang berbahaya, jadi berhentilah mengacungkan garpu ke arahku.” Pemuda bernama Jett Mingan ini masih memasang wajah kaku dan tatapan tajam. Dia terus saja memperhatikan Elsie sampai-sampai wanita itu makin tegang.
“Semua orang jahat akan mengatakan itu.”
“Aku kemari untuk melindungimu dan nenekku dari peristiwa pembunuhan berantai yang meneror kota. Tenangkan dirimu.”
“Bagaimana jika kau yang ternyata pembunuh itu!”
Terjadi keheningan sesaat. Mata coklat Jett tampak lebih gelap saat melirik Elsie. Dia sungguh mengeluarkan sisi intimidasinya sampai kaki wanita muda itu kaku di tempat.
Elsie meneguk ludah.
Jett menurunkan ketegangan yang terjadi dengan menunjukkan seringai, lalu menggodanya, “kalau aku pembunuhnya, maka bersiaplah kehilangan jantung, Nona.”
“Ini tidak lucu!” Elsie masih takut dengan aura intimidasi Jett yang uniknya bercampur trik menggoda. Dia curiga kalau pria ini mahir membuat hati wanita terluka. “Berhentilah mengatakan hal konyol, dan cepat pergi dari sini! Sampai Nyonya Lloyd ada dan mengatakan sendiri kau cucunya—aku tidak akan percaya padamu.”
“Terserah padamu, tapi aku tidak akan pergi.” Jett meneguk kopinya kembali. Dia tampak berulang kali menghirup aroma kopi, tapi matanya mengatakan kalau bukan aroma kopi yang dia cium sekarang. Iya, dia tidak mencium adanya bau pahit disini, melainkan bau manis yang cukup kuat—dan sumbernya adalah Elsie. Seumur hidup, baru kali ini dia mencium aroma manis yang terasa hingga ke syaraf otak.
“Sial.” Dia tersadar akan sesuatu saat mengamati Elsie. “Aku benci ini.”
Elsie makin waspada saat mendengar u*****n lirih itu. Dia Elsie semakin menodongkan garpunya. “Bicara apa kau ini? Cepat pergi atau aku akan menelpon Sherrif!”
“Kau tidak bisa melukai orang dengan garpu. Dasar wanita kota, tidak berguna.”
“Apa katamu?” Elsie tersinggung dengan perkataan sinis itu. Dia menunjukkan ujung garpunya yang lancip. “Garpu ini bisa menancap di kepalamu.”
Jett memalingkan wajah sambil menghela napas malas. Karena beberapa alasan, dia terlihat kecewa setelah melihat Elsie. “Aku malas meladenimu. Lebih baik kau tidur saja seperti babi … seperti tadi.”
“Kau— apa kau mengintipku?”
Alih-alih menjawab, Jett malah menjelaskan apa yang tadi dia lihat di kamar Elsie. “Aku hanya ada wanita kota pemalas yang punya kebiasaan tidur memalukan, mulut terbuka seperti lubang sumur.”
“Dasar kurang ajar! Aku tidak begitu!” Pipi Elsie memerah karena mendengar hal itu. “Lagipula kenapa kau sendiri t*******g? Orang gila mana yang t*******g di rumah sementara ada tamu. Memalukan!”
“Berapa usiamu? Sepuluh tahun?”
“Itu tidak sopan!”
“Kau pasti tipikal anak berbakti yang tidak pernah main ke pantai dengan temanmu. Jadi wajar saja tak pernah melihat d**a pria.”
Kini, seluruh wajah Elsie kelihatan memerah bagaikan kulit udang rebus. Dalam hati, deretan u*****n telah terucap satu per satu. “Itu tidak benar. Aku hanya tahu jika ada tamu, maka seharusnya kita berpakaian baik. Tapi, untuk apa aku mengatakan ini pada orang gila, tidak ada gunanya.”
“Aku masih mengenakan celana, tidak t*******g. Ini musim panas, aku tidak suka panas, dan seharusnya yang gila disini adalah ketika musim panas ada yang memakai pakaian musim dingin. Kau sebut dirimu orang kota? Lihatlah dirimu—selera berpakaianmu buruk sekali.”
Sindiran demi sindiran Jett membuat kejengkelan Elsie semakin besar. Dia langsung berbalik, lalu memperingatkan, “aku akan melaporkanmu. Untuk apa juga aku bicara denganmu, kau pasti bukan cucu Nyonya Lloyd. Kau hanya berandalan desa.”
Namun, langkahnya terhenti ketika sosok Leda datang ke dapur dengan membawakan dua kantong belanjaan. Wanita tua ini kaget melihat cucunya yang t*******g d**a sementara tamunya sedang memasang wajah jengkel dengan tangan meremas garpu.
“Jett? Kau sudah ada disini!” Wanita itu mulai mengomel sembari menaruh belanjaannya di atas meja makan. “Astaga, kenapa kau … tidak pakai baju! Kita punya tamu disini!”
Elsie sedikit lega karena ternyata Leda mengenalnya. “Dia sungguh tinggal disini?”
“Ini Jett Mingan, Elsie, dia memang terkadang tinggal disini, aku minta maaf jika dia membuatmu tidak nyaman. Apa dia melakukan sesuatu padamu?”
“Tidak. Aku hanya kaget ada pemuda tidak pakai baju masuk ke rumah.”
Dengan suara datar, Jett berkata, “dia mencoba mencelakaiku dengan garpu mungil, Nenek. Aduh, sangat menakutkan.”
“Menyebalkan.”
Leda terlihat malu dengan kejadian ini. Dia mengamati cucunya dan menegaskan, “Jett, aku memanggilmu bukan untuk berdebat dengan tamu kita. Kau seharusnya lebih sopan. Ini Nona Maristela Wilson, dia akan tinggal disini beberapa waktu.”
“Maafkan semua ucapanku yang menyinggungmu, Nona Maristela Wilson, perkenalkan sekali lagi, namaku adalah Jett Mingan, orang biasa … yang kebetulan seksi,” kata Jett dengan suara yang lembut dan berubah menjadi lirih ketika menyebut kata terakhir. Dia mengedipkan sebelah mata, lalu pergi meninggalkan dapur seraya meminum sisa kopi di cangkirnya.
Elsie meneguk ludah. Ia merasa kalau Jett bisa membaca pikirannya barusan. Iya, itu karena dia sempat membatin kalau Jett adalah ‘orang biasa yang seksi’. Tanpa sebab, dadanya menjadi sesak karena perkenalan singkat barusan.
Dalam hati, dia terus menguatkan diri, Aku tidak mungkin jatuh cinta!
***