BAB 03

1172 Words
Leda terlihat malu dengan kejadian ini. Dia mengamati cucunya dan menegaskan, “Jett, aku memanggilmu bukan untuk berdebat dengan tamu kita. Kau seharusnya lebih sopan. Ini Nona Maristela Wilson, dia akan tinggal disini beberapa waktu.” “Maafkan semua ucapanku yang menyinggungmu, Nona Maristela Wilson, perkenalkan sekali lagi, namaku adalah Jett Mingan, orang biasa … yang kebetulan seksi,” kata Jett dengan suara yang lembut dan berubah menjadi lirih ketika menyebut kata terakhir. Dia mengedipkan sebelah mata, lalu pergi meninggalkan dapur seraya meminum sisa kopi di cangkirnya. . . . Elsie tidak suka dengan kehadiran Jett Mingan di rumah Nyonya Leda. Tetapi, mengingat tujuannya yang demi melindungi dirinya dan wanita tua itu, maka tidak ada pilihan lain. Dia menurut saja dsn menerima keadaan ini, tidak ada yang bisa dilakukan. Sejak memandang Jett untuk pertama kalinya, hati Elsie terasa dipenuhi oleh bunga, sayangnya, sia terlalu gengsi untuk mengakui semua itu. Semalaman penuh, dia memutuskan untuk tetap di kamar dan mengunci pintu. Semua itu dia lakukan agar pria bernama Jett itu tidak bisa mengintip ataupun mengganggunya kembali. Sepanjang malam itu pula, dia juga merasakan gelisah. Benih asmara itu adalah hal yang sangat sulit ditolak ataupun dihindari. Tidak pernah sebelumnya dia merasakan hal seperti ini terhadap pria manapun. Didalam hidupnya yang monoton, segalanya selalu tampak biasa. Terlebih memiliki orangtuanya sudah tak saling cinta. Dari situ, dia sudah tidak percaya cinta kembali. Keesokan harinya, dia bangun lebih awal karena mendengar suara gaduh yang berasal dari dapur. Tadinya, dia hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan berada di dalam kamar, tetapi karena suaranya sangat mengganggu, maka dia langsung pergi keluar dari dalam kamar. Di dapur, ternyata sosok Jett sedang membersihkan banyak sekali piring dan perabotan dapur yang ada di wastafel. Kelihatannya, Nyonya Leda juga tidak ada di rumahnya. Wanita itu memang saat ini berada di halaman depan untuk menanti tamu yang hendak datang. “Hei, Babi, kau sudah bangun rupanya?” sindir Jett tanpa perlu menoleh dia sudah tahu kalau Elsie sudah hadir di dalam dapur dan memperhatikannya. “Apa yang kau lakukan disini?" "Menurutmu sedang apa aku? aku sedang menyiapkan sarapan. kau duduk saja, aku buatkan roti panggang." Elsie malas untuk berdebat, jadinya dia duduk di salah satu kursi, kemudian mengambil sebotol selai coklat yang ada di atas meja. "Kau bisa membuat makanan ternyata." "Tentu saja aku bisa, aku ini tidak manja." "Aku tahu sindiranmu itu untukku, tapi jangan sombong ya, aku bisa membuat sarapan sendiri. Aku tidak membutuhkanmu." "Iya sudah, aku tidak ingin berdebat juga. Aku ini sakit kepala kalau kebanyakan bicara dengan orang bodoh. Ngomong-ngomong dimana nenekmu? kenapa rumah ini sepi sekali?" "Nenekku menjemput tamu di luar, tapi entah mengapa baunya sudah mulai menjauh." "Bau?" "Eh ... maksudku, dia sedang pergi menyusul tamu yang hendak kemari, tetapi mungkin ada masalah, jadi dia harus segera pergi." "Kau ini aneh sekali, bagaimana kau bisa tahu dia pergi, kau kan ada disini?" "Aku mendengarnya tadi mengatakan kalau dia sedang keluar untuk menjemput tamu. sudah jangan banyak bicara." "Tamu ya, apa ada tamu lain yang akan menginap disini?" "Bukan, seharusnya akan ada tamu dari beberapa saudara kami. Tapi, entahlah, mungkin jadi atau tidak." "Seluruh keluargamu ada disini?" "Iya, sebagian besar seluruh keluargaku tinggal di kota kecil ini. aku memang dibesarkan disini." "Oh, pasti menyenangkan kalau banyak saudara di satu kota." "Ada serunya, tapi ada juga tidak enaknya. Pokoknya biasa saja." "Mengenai pembunuhan di kota ini, apa ada perkembangan? Aku berharap bisa segera berjalan-jalan ..." "Tidak. sebaiknya kau tetap berada di kamarmu saja. situasi kota juga belum membaik. sekalipun sering ada patroli, tapi pelaku belum ditemukan." "Oke." Jett menyajikan hidangan roti panggang di atas meja. kemudian dia duduk di kursi seberang meja dari Elsie. "Ini, cobalah, aku membuatkannya untukmu. sekalian aku juga membuatkan telur orak arik. Nenek bilang kau suka itu." "Nenekmu tahu?" "Sepertinya itu dikatakan oleh pamanmu." "Oh, pantas saja." Elsie mencium aroma nikmat dari roti panggang dan telur orak arik buatan Jett. dia tersenyum sejenak, lalu mengatakan, "oke, ini memang kelihatan lezat." "Tidak hanya kelihatan lezat, ini memang lezat." Jett langsung menikmati telurnya. setelah itu, dia mengoleskan selai ke atas rotinya. "Ini baru makan pagi." "Kau sering membuat makanan sendiri?" "Kalau sekedar makan pagi begini, aku bisa membuatnya. Aku suka membuat makanan, karena aku suka makan." "Kelihatan sekali memang." Elsie melihat cara makan Jett yang luar biasa cepat dan lahap. dia baru tahu ternyata Jett memiliki sisi lain yaitu pelahap super. "Kau benar-benar seperti singa kelaparan." "Aku kelaparan. aku butuh makan yang banyak." Elsie mulai menikmati hidangan yang sudah disajikan oleh Jett. dia juga merasakan hal yang sama. Rasa telurnya cukup nikmat, dan rotinya pun dipanggang dengan tingkat kematangan yang pas. dia yakin kalau Jett mungkin sudah sering melakukan ini sehingga sudah mahir melakukannya. "Kau berbakat menjadi tukang masak, Tuan Mingan." Dia menggoda Jett. "Ide bagus. kau yang kumasak." Jett melirik Elsie tajam. Elsie kesal. "Aku memujimu, Jett." "Kau meledekku." "Sungguh, aku mengagumi setiap laki-laki yang bisa membuat makanan. Oke, lupakan saja." "Ngomong-ngomong, sampai kapan kau akan disini?" "Sampai aku pulang." "Memang sebaiknya kita jangan bicara. Rasanya memang percuma saja bicara dengan gadis menyebalkan sepertimu. kenapa kau tidak mengacungkan garpu lagi padaku?" "Diamlah." "Oh iya, Elsie." "Apa?" "Kau suka makanan apalagi? jadi besok aku bisa membuatkannya untukmu. aku bis membuatkan makanan yang sederhana. makanan pagi normal, aku bisa membuatkannya untukmu nanti." "Sebenarnya aku bisa makan apa saja. jadi, tidak masalah apapun juga." "Kau suka kopi? kopi di pagi hari mungkin?" "Tidak terlalu, tapi aku suka kopi, hanya saja, tidak ingin kuminum setiap hari. aku lebih suka teh." "Baiklah, aku juga sedikit suka dengan teh. kita akan minum teh kapan-kapan." "Wah. .." Elsie masih tidak percaya kalau bicara normal dengan pria sombong ini. dia meneguk ludah, merasa ada makna dibalik kebaikan ini. Jett menatapnya. "Apa?" "Tidak apa-apa." Elsie melanjutkan makan paginya. dia tidak ingin membahas ini lagi, jadi dia bertanya, "apakah nenekmu akan datang sebentar lagi?" "Aku tidak tahu, kemungkinan tidak." "Oh, oke." "Iya." Tidak ada yang bicara setelah itu. keduanya sama-sama diam dan melanjutkan makan pagi mereka tanpa membahas hal lain. *** Nyonya Leda berjalan di pinggir jalan sendirian. dia kelihatannya sudah berjalan sendiri cukup jauh dari rumah. tatapan matanya begitu gelisah. Tamu yang tadinya dia tunggu di halaman rumah mendadak tidak bisa datang. dia sudah sampai di pemukiman warga. rumah-rumah tampak berjajar dan banyak sekali ibu rumah tangga yang mulai menjemur pakaian. kehidupan di kota kecil ini yang dahulunya sangat damai dan ramai, mendadak sunyi dalam beberapa Minggu saja. banyak orang yang memilih untuk meninggalkan kota karena pelaku pembunuhan belum juga tertangkap. Nyonya Leda sedih melihat semua ini. dia tidak mau kota kecilnya yang bahagia menjadi sunyi karena ulah orang-orang misterius ini. sebuah mobil patroli milik deputi Sherif melintas dan berhenti di sebelah Nyonya Leda yang berjalan. "Leda." Ternyata orang yang mengendarai itu adalah Sherif Tom. dia tampak melongok keluar jendela mobil depan. "Masuklah, aku ingin bicara denganmu." pria itu tampaknya sudah tidak perlu sopan santun saat bicara dengan Nyonya Leda. mereka seperti bibi dan keponakan. nyonya Leda langsung naik ke dalam mobil tersebut tanpa mengatakan apapun. dia sepertinya sudah bisa menebak apa yang terjadi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD