BAB 04

1133 Words
“Kenapa kau malah berada disini?” Elsie tidak nyaman dengan kehadiran Jett di samping kursi santai teras yang diduduki. Ia sudah membayangkan akan menghabiskan waktu pagi hingga siangnya ini untuk menikmati keindahan sekitar rumah Tetapi, saat ini harapan itu menjadi pupus karena pria paling menyebalkan ini tidak mau menjauh darinya. Memang itu adalah perintah dari Nyonya Leda, namun, tetap saja, selalu berada di sekitarnya itu membuatnya risih, apalagi Jett mengenakan celana jeans dan kaos tipis sehingga d**a bidangnya tercetak jelas. Jett bersandar di tembok, pandangan lurus ke pepohonan sekitar rumah. Udara disini sangat asri dan sejuk, sangat cocok untuk bersantai. “Aku tidak mau berdebat denganmu, bisakah kita berdamai untuk beberapa jam saja? Kenapa kau selalu melihatku seperti itu?” “Kau menyebalkan.” “Sejak awal, kau yang memusuhiku, kau menodongkan garpu padaku, memangnya apa yang sudah kulakukan sehingga kau sangat marah? Harusnya aku yang marah.” “Pertama, Tuan Mingan, kau menguntitku tidur, itu adalah tindakan kriminal.” Elsie melirik pria itu dengan pandangan mematikan. Meskipun demikian, dia tidak bisa menghindari perasaannya yang sedang tidak karuhan. Pesona Jett Mingam terlalu kuat untuk ditolak. Dia mendadak kesal pada hormon wanitanya sendiri. Daya tarik pria ini memang sulit dilawan. “Oke. Lanjutkan.” Jett terlihat tidak peduli. Dia menatap Elsie dengan sorot mata tajam, tapi memukau itu. “Kedua, kau sangat ...” Elsie tidak tahu cara menjelaskan betapa muaknya dia melihat tampang Jett yang terus membuat hidupnya tidak tenang. Dia benci cinta dan tidak mau merasakannya. “Aku sangat apa? Sangat tampan, bukan?” goda Jett yang seperti sudah bisa menebak apa yang hendak dikatakan oleh Elsie. Elsie menelan ludah. Dia buru-buru menggeleng. Terlalu bingung apa yang ingin dikatakan, dia jadi mendadak bungkam. Tapi, Jett hanya tertawa meledek. “Dasar wanita kota. Kau payah sekali kalau ingin berbohong.” Elsie tidak ingin menanggapi hal tersebut, dia memilih untuk diam. Pandangannya kembali mengarah ke halaman depan yang asri. Tidak ingin berdebat lagi dengan Jett. Tapi, dia tahu, selama pria ini ada di sini, perdebatan apapun pasti akan menjadi keseharian mulai sekarang. Jett kembali bicara, “aku ingin kita damai, kau paham sekarang situasimu? Oke, kita damai, ya?” Elsie menghela napas panjang, lalu menjawab, “dengar, kita pura-pura saja tidak kenal. Kau diminta untuk melindungiku dan dan nenekmu, maka kau lakukan saja, tapi, kau harus tahu batasanmu, awas saja kalau aku tahu kau menguntitku lagi.” “Iya, apapun pembicaraannya pasti akan berujung pembahasan itu. Kau benar-benar aneh. Sebagai informasi saja, aku tidak mengintipmu, aku hanya melihatmu sebentar, memastikan kalau memang ada manusia ... Maksudku memang ada tamu di rumah nenekku.” “Oke, terserah apa katamu, tapi masuk ke kamar seorang wanita adalah hal kriminal.” “Iya, salahku.” “Wah, aku tidak menyangka kau mengakui kesalahanmu, padahal kau terlihat yang paling sombong disini.” Elsie mengerutkan dahi seraya menoleh pada pria itu lagi. Kesal, Jett tersenyum palsu sembari berkata, “Sayang, kau mau aku mengatakan apalagi?” Dipanggil Sayang begitu, debaran hati Elsie makin tidak karuhan. Ternyata apa yang dirasakannya ikut merasuk dalam diri Jett. Pria itu sudah bisa merasakan kalau tubuh mereka terkoneksi oleh ikatan yang kuat. Ikatan ini ingin sekali dia rusak dan batalkan. Dia yakin kalau ini adalah klaim palsu, tidak mungkin wanita kota yang kelihatannya kaku dan tidak berguna itu adalah pasangan yang dia tunggu. Dia mengelus dadanya untuk menenangkan debaran di jantungnya pula. Agar sikap anehnya tidak diketahui, dia berjalan mendekati pagar teras yang terbuat dari kayu. “Di tempat ini sangat berbahaya untuk sementara, jadi sebisa mungkin jangan pergi sendirian.” Dia mengatakannya setelah diam beberapa saat. Elsie berkata, “sebenarnya aku berencana untuk jalan-jalam di sekitar sini, kata Nyonya Lloyd ada sungai Cemara yang cukup indah di belakang.” “Iya, memang banyak sekali sungai pohon Cemara yang bagus, disini memang masih asri, banyak hutannya ketimbang pemukiman penduduk. Tapi, mengingat apa yang sudah terjadi, sebaiknya urungkan niatmu sampai situasi kondusif. Kudengar dari nenekku, kau pun hanya berniat untuk menenangkan diri disini.” “Iya, aku suka kawasan ini, pamanku yang merekomendasikan tempat ini. Dia benar, disini udaranya sejuk.” “Kau ada masalah di kota?” “Kalau tidak ada masalah, jelas aku tidak akan kemari, Bodoh.” “Wah.” Jett menahan diri untuk tidak tersulut emosi. Dia hanya tersenyum paksa, lalu menoleh ke wanita itu, sembari menyindir, “jadi kau melarikan diri dari masalah?” “Tepatnya menghibur diri, Tuan Mingan.” “Oke, oke, kau benar, disini memang tempat yang pas untuk menenangkan diri. Takkan banyak orang yang ada lewat di jalanan depan itu. Kau pasti tahu sendiri kalau sudah malam hari, tempat ini seperti tanah makam.” “Aku heran kenapa nenekmu bisa tidak kesepian sendirian disini. Apa kau sering mampir kemari?” “Tidak terlalu, tapi sebaiknya kau tidak usah berpikir tentang nenekku, begitu, dia memilikiku dan orang lain, jadi takkan kesepian.” “Tak takut sendirian disini?” “Dia lebih kuat dari kelihatannya, jadi takkan mungkin ada orang jahat yang bisa menaklukkannya.” “Oh, iya?” Elsie tidak percaya segala ucapan dari Jett. Sejauh apapun yang dia lihat dari Nyonya Leda, wanita itu memang masih bugar, tapi wanita sudah sudah tua. “Iya. Dan, Nona, aku tahu kau tidak suka padaku, dan berharap bisa melakukan apapun tanpa kehadiranku.” “Iya, aku tida mau dikuntit pria asing yang sama sekali tidak kukenali.” “Kupikir kita sudah saling kenal.” “Kita bahkan belum mengenal empat puluh delapan jam.” “Oke, terserah apa katamu dan entah apa pendapatmu, yang penting kalau kau berniat pergi dari rumah ini menuju ke tempat lain, sebaiknya jangan mengendap-endap, aku akan selalu ikut denganmu.” “Kalau aku bilang tidak?” “Tenang, aku akan mengikutimu.” "Kau tidak perlu sampai seperti ... itu." "Aku akan menjagamu. sudahlah, jangan dibantah lagi." Elsie kehabisan kata-kata. Dia hanya terdiam, dan memalingkan pandangan ke tempat lain, tidak ada gunanya memandang Jett. Hatinya akan kembali berantakan jika terus menerus berpandangan mata. Dia tidak bisa mengendalikan gejolak cinta yang mulai menyerang. Cinta ini terlalu kuat, aneh dan sangat tidak diinginkan. Tetapi, wanita normal manapun pastinya akan jatuh bertekuk lutut kepada pria seperti Jett yang sangat memikat. Iya, Jett berdiri diam saja sudah sangat menarik. Selera berpakaiannya juga selalu modis, kaos yang dikenakan seolah sengaja dipilih tipis selain karena dingin tapi juga untuk memamerkan otot dadanya yang luar biasa itu. Wanita di kota pastinya akan tergila-gila dengannya hanya dalam satu detik pertama melihat, Elsie yakin itu. Sementara itu, Jett merasa jiwanya juga ikut terguncang. Ini adalah serangan cinta pertamanya. Sekuat apapun untuk menolak, pada akhirnya memang wanita di depannya ini sangat memikat. Dia tidak bisa menghindarinya. Rasanya dia ingin mendekat, lalu menyentuh kulitnya, menyentuh rambutnya, dan mengecup sekujur tubuh indah itu. Pemikiran kotor bermunculan di kepalanya. Dia merutuk diri sendiri karena hal tersebut. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD