BAB 05

1058 Words
“Iya. Dan, Nona, aku tahu kau tidak suka padaku, dan berharap bisa melakukan apapun tanpa kehadiranku.” “Iya, aku tidak mau dikuntit pria asing yang sama sekali tidak kukenali.” “Kupikir kita sudah saling kenal.” “Kita bahkan belum mengenal empat puluh delapan jam.” “Oke, terserah apa katamu dan entah apa pendapatmu, yang penting kalau kau berniat pergi dari rumah ini menuju ke tempat lain, sebaiknya jangan mengendap-endap, aku akan selalu ikut denganmu.” “Kalau aku bilang tidak?” “Tenang, aku akan mengikutimu.” . . . Elsie menghabiskan siangnya dengan bersantai di teras rumah bersama Jett. Mereka masih mengobrol ringan tentang kondisi pembunuhan berantai yang ada di kota ini. Keduanya sepakat untuk tidak saling berdebat. Keduanya sama-sama menghindari pandangan demi menjaga hati masing-masing. Iya, sebenarnya keduanya juga saling jatuh hati, sudah tidak bisa dilawan lagi. Kalau saja Jett tidak menjaga diri, dia pasti sudah menyeret Elsie ke dalam kamar, lalu melakukan hal-hal kotor yang dia pikirkan. Waktu terus berputar dan hari pun sudah sore. Namun, Elsie masih ingin berada di sini, tampaknya Jett juga setuju karena demi menunggu neneknya pulang. “Aneh sekali, kenapa Nenekmu tidak kunjung pulang juga? Bukankah dia hanya berpamitan untuk menjemput sanak saudara tadi?” Elsie mulai khawatir. Terlebih, di tempat ini sangatlah sunyi, meninggalkan dirinya hanya dengan Jett saja. “Mungkin ada keperluan dengan orang lain. Nenekku selalu begitu. Dia percaya padaku untuk menjagamu, makanya dia tidak terlalu khawatir.” “Yang benar saja.” “Ngomong-ngomong, apa kau punya kekasih?” “Hmm?” Elsie kaget, nyaris tersedak ludah sendiri karena mendengar pertanyaan mengagetkan itu. Kalau pria lain, mungkin dia bisa santai, tapi ini adalah orang yang membuatnya jatuh hati di pandangan pertama. Jett mendehem. “Maksudku, bagaimana kehidupan di kota? Jika kau merasa tidak nyaman bicara seperti ini dengan orang asing, oke, jangan dijawab, aku hanya berusaha untuk sopan dan ... Ya, saling mengenal untuk menebus kesalahanku t*******g d**a di pertemuan pertama kita.” Mencurigakan, tapi Elsie mengangguk saja. Dia mulai bisa membuka hati untuk pria ini. “Iya.” “Jadi kau punya kekasih?” Jett terbelalak. “Maksudku aku paham, entah kenapa mendengarku mengatakan hal yang baik begini membuatku agak tenang, ini bukan prank 'kan?” “Bukan.” “Aku tidak punya kekasih, dan kehidupanku di kota biasa saja, tidak ada yang menarik.” “Jangan tersinggung, kau kelihatan seperti wanita pengurung diri, kalau kau ingin cerita sesuatu, aku akan mendengarkan. Walaupun kau menganggapku pria tidak tahu malu, tapi percayalah, aku orang baik. Aku berusaha untuk berdamai denganmu, kau adalah tamu disini, dan pamanmu adalah teman dari nenekku.” “Oke.” Elsie meneguk ludah. Pembicaraan mereka terdengar terlalu normal sampai membuatnya grogi. Dia hampir tidak pernah bercengkrama dengan lawan jenis selama ini. Berdekatan dengan Jett sudah cukup membuatnya panas dingin. Begitu pula dengan Jett, dia merasakan apa yang dirasakan oleh wanita itu. “Kau lapar? Aku akan buatkan pasta atau apapun yang kau inginkan, aku bisa memasak. Iya, daripada kita di luar begini, udara mulai dingin saat menjelang malam. Nenek pasti pulang nanti, tidak usah cemas.” Jett menawarkan hal tersebut. Seolah pikirannya nyambung dengan pria itu, Elsie mengiyakannya. Dia mendadak lapar, dan entah mengapa ingin sekali makan berdua dengan pria ini. Elsie mengangguk. “Boleh.” Jett senang kalau mereka menjadi lebih dekat. Rasanya bersama Elsie sangat membahagiakan. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Beruntung, dia tidak lagi mengira kalau wanita muda ini adalah wanita yang menyebalkan. Meskipun, memang benar, dia mengakui kalau Elsie agak pendiam, dan itu sama sekali bukan tipikal wanita idamannya. Dia mengajak Elsie untuk pergi dalam dapur, kemudian mulai memakai celemek. Dia mempersilakan Elsie untuk duduk saja, sementara dia mulai membuat makanan untuk mereka berdua. Sudah bertahun-tahun, Jett memasak sendiri, ini sudah seperti rutinitas harian. Baik di rumah ini atau dimanapun, dia selalu diandalkan saat membuat makanan. Makanan yang cukup dia gemari adalah pancake untuk sarapan atau donat, kemudian pasta untuk makan malam. Sausnya biasanya dia membuat sendiri. Semua disesuaikan dengan cita rasa yang dia inginkan. Elsie sendiri jarang sekali membuat makanan di rumah. Dia lebih sering membeli jadi, sehingga memang jarang berada di dapur. Itu bukan tanpa alasan, hampir kedua orang tuanya memang tidak pernah berada di satu meja makan. Mengingat hal tersebut membuat Elsie menjadi sedih. Dia tidak pernah mengira kalau hal ini akan teringat kembali. Masa-masa suram sejak dia masih kecil. Dia selalu duduk sendirian dan makan sereal karena ibunya sibuk dengan dunianya dan sang ayah pun jarang pulang. Ketika remaja, dia Mai membuat makanan sendiri, dan memakannya sendirian. Akan tetapi lambat laun, semua rutinitas itu memudar seiring berjalannya waktu. Ketika sudah beranjak dewasa, Elsie memilih untuk memesan makanan saat malam hari, dan itu dia makan sendirian. Dia jarang juga keluar kamar, palingan hanya berdiam diri di ruang tengah sambil menikmati perapian. Orangtuanya tidak pernah kelihatan, kalaupun kelihatan di rumah pastinya mereka sedang bertengkar. Hal itulah yang membuat Elsie begitu sedih, dan memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah waktu keputusan orangtuanya sudah bulat untuk berpisah. Pernikahan mereka hanya kesepakatan, hanya komitmen, tidak ada yang namanya cinta, yang ada hanyalah nafsu. Sang ibu pergi dengan kemarahan, dan sang ayah pun pergi dengan wanita lain. Semua itu sudah menjadi makanan sehari-hari Elsie. Wanita ini tidak menyangka selama ini hanya melihat ketidakharmonisan rumah tangga. Meskipun begitu, dia selalu kagum dengan orang tua teman sekolahnya yang lain yang setidaknya terlihat harmonis. Dia selalu iri dengan para temannya yang memiliki keluarga utuh dan saudara yang banyak. Mereka semua ramai dan hidup bahagia. Sekalipun ada pertengkaran, tapi setidaknya akan selesai begitu cepat. Lalu kepedulian juga pasti ada satu sama lain. Sedangkan Elsie, selalu sendirian sejak kecil, sendirian di kamar, belajar sendiri, makan sendiri, tidur sendiri, tidak ada teman bicara, dan selalu melihat orangtuanya yang saling menyindir dan marah-marah. Perselingkuhan, pertengkaran, k*******n, semua itu sudah terjadi setiap hari. Elsie tidak percaya cinta. Semua itu terjadi karena memang dia tumbuh di lingkungan yang tidak ada cinta sama sekali. Tidak ada kasih sayang, tidak ada apapun, kecuali pertengkaran yang menebarkan racun menyesakkan d**a. Dada Elsie menjadi sesak kembali saat mengingat semua itu. Air matanya menggenang di kedua matanya. Dia bertanya-tanya, mengapa orang lain begitu bahagia sedangkan dirinya tidak? Mengapa orang lain mendapatkan cinta sedangkan dirinya tidak? Tetapi, dia tersadar, bahwa dunia ini memang tidak adil. Jadi, tidak perlu mengharapkan hal yang berlebihan. Cukup menjalani hidup dengan tenang dan damai. *** ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD