“Jadi kau punya kekasih?” Jett terbelalak.
“Maksudku aku paham, entah kenapa mendengarku mengatakan hal yang baik begini membuatku agak tenang, ini bukan prank 'kan?”
“Bukan.”
“Aku tidak punya kekasih, dan kehidupanku di kota biasa saja, tidak ada yang menarik.”
“Jangan tersinggung, kau kelihatan seperti wanita pengurung diri, kalau kau ingin cerita sesuatu, aku akan mendengarkan. Walaupun kau menganggapku pria tidak tahu malu, tapi percayalah, aku orang baik. Aku berusaha untuk berdamai denganmu, kau adalah tamu disini, dan pamanmu adalah teman dari nenekku.”
“Oke.” Elsie meneguk ludah. Pembicaraan mereka terdengar terlalu normal sampai membuatnya grogi. Dia hampir tidak pernah bercengkrama dengan lawan jenis selama ini.
Berdekatan dengan Jett sudah cukup membuatnya panas dingin. Begitu pula dengan Jett, dia merasakan apa yang dirasakan oleh wanita itu.
“Kau lapar? Aku akan buatkan pasta atau apapun yang kau inginkan, aku bisa memasak. Iya, daripada kita di luar begini, udara mulai dingin saat menjelang malam. Nenek pasti pulang nanti, tidak usah cemas.” Jett menawarkan hal tersebut.
Seolah pikirannya nyambung dengan pria itu, Elsie mengiyakannya. Dia mendadak lapar, dan entah mengapa ingin sekali makan berdua dengan pria ini.
.
.
.
Lapar, Elsie memang sedang lapar. Namun, dia tidak mengira kalau Jett akan membuatkan makanan khusus untuknya. Seumur hidup, dia tidak pernah melihat sendiri ada seorang laki-laki yang membuat makanan selain makanan instan. Dari mulai temannya sampai tetangga pria, semuanya tidak bisa memasak.
Dia selalu mengagumi sosok pria yang bisa memasak. Menurutnya, keahlian ini adalah nilai tambah bagi seorang pria. Kalau dia memiliki suami maka dia menginginkan pria yang dapat membuatkan makanan sehingga keduanya nanti bisa berbagi makanan atau memasak bersama.
Sekarang, seluruh kriteria pria idamannya ada di depan mata. Dia sungguh di depan mata, tidak dia sangka memang ada di depan mata. Iya, saat ini, dia duduk di kursi meja makan, sembari mengamati sosok Jett yang sedang memanaskan penggorengan.
“Kau ingin makan apa? Pasta?” tanya Jett sembari menoleh ke belakang, tepatnya pada Elsie yang .mengamatinya “Atau yang lainnya? Aku bisa membuat segalanya, aku tidak bercanda.”
“Pasta tidak masalah, tapi aku mau sausnya campuran daging atau ...”
“Resepku sendiri bagaimana? Kau pasti akan sukaz ada potongan daging sapi, dan kaldu yang nikmat.”
“Kau membuat resep sendiri?”
“Iya tentu saja, aku suka memasak, aku suka membuat makanan, aku memang suka melakukan ini.”
“Baiklah, aku penasaran seperti apa pasta dengan saus buatanmu. Iya asalkan itu daging maka tidak masalah.”
“Kau suka daging?”
“Suka, aku biasanya membuat steak. Aku suka steak. Iya semua orang suka steak.”
“Mungkin jika situasinya membaik, aku akan mengajakmu memanggang daging di luar. Kita piknik dengan nenekku.”
“Oh. Tentu, aku suka itu.” Tanpa disadari, Elsie suka dengan dengan ide tersebut. Dia merasa kalau sosok Jett ini tidak seburuk yang dia kira di awal.
Tiba-tiba, Jett menoleh ke arah jendela yang telah tertutup rapat. Keningnya mengerut, seolah-olah ada yang tidak beres dengan semua itu. Tetapi, belum sempat Elsie bertanya, dia keburu untuk berpaling ke meja dapur kembali untuk memasak pasta.
Elsie curiga. Gerak-gerik Jett sama misteriusnya dengan sosok Nyonya Leda yang sebelumnya melakukan hal yang sama. Mereka berdua seperti waspada, mengira ada seseorang di dekat sini.
“Ada apa?” Ia bertanya.
“Tidak ada apa-apa.” Jett masih memperlihatkan wajah gelisah. Karena terlalu khawatir, dia mempercepat masakannya.
Beberapa menit berlalu, dia menghidangkan makan malam di meja, lalu melepaskan celemeknya. Dia berkata pada Elsie, “sebentar, aku akan melakukan sesuatu di belakang.”
“Maksudnya?”
“Ada yang harus dibenarkan di belakang. Ini sudah malam, aku tetap harus berjaga-jaga dan memeriksa keadaan.”
“Aku akan ikut.”
“Tidak perlu. Kau makan dahulu saja, aku akan sendirian melakukan ini.”
“Aku merasa aneh, Jett, kau terlihat seperti nenekmu saat menengok keluar jendela. Saat itu, nenekmu juga melakukan itu seolah-olah ada yang mengawasi kita. Memangnya apakah ada penguntit di sekitar sini?”
“Aku ragu, dan sepertinya tidak, aku hanya ingin memastikan keamanan saja. Kalau tidak begini, tidka akan aman. Kau jangan takut, selama kau ada di rumah ini bersamaku, tidak akan terjadi apapun.”
Elsie mulai khawatir. “Kau kelihatan serius sekali. Apa kau memang tidak takut sama sekali? Aku khawatir padamu, bisa saja ada pria asing yang mengintai, kita sendirian di rumah ini”
“Walaupun kita sendirian, tapi sudah kukatakan padamu, selama ada aku, tidak akan terjadi hal buruk padamu. Aku lebih kuat dari pada yang kau pikirkan.”
“Bagaimana aku bisa yakin, pembunuhan ini terus terjadi dan belum ada polisi yang bisa mengungkapnya , artinya sosok ini pasti orang yang teliti, Jett, kau tidak boleh terlalu percaya diri begitu.”
“kau memang benar.”
“Lagipula, bagaimana kalau seandainya pembunuh itu tidak hanya satu.”
“Maksudmu?”
“Maksudku berkelompok.”
Jett tertarik mendengar pendapat Elsie. Dia sepertinya mengetahui sesuatu tentang hal ini. “Jadi, itu pendapatmu?”
“Seperti yang sudah ada di pemberitaan. Ada kemungkinan kalau pelakunya lebih dari satu, iya aku setuju dengan pendapat itu karena memang yang paling masuk akal.”
“Oh, itu benar, aku sendiri juga yakin kalau pelakunya memang lebih dari satu, dan mereka berkelompok. Karena itulah yang menyebabkan mereka berbahaya, wajib bagiku untuk terus memantau kondisi keamanan rumah.”
“Kalau kau sudah berpemikiran begitu, kenapa kau masih sok kuat begitu. Setidaknya biarkan aku menemanimu, sekalipun begini, aku tetap bisa menggunakan pisau.” Elsie berdiri, berniat untuk mengikuti Jett dalam memeriksa keadaan.
Padahal, Jett bukan ingin memeriksa keadaan ataupun keamanan rumah. Dia tahu kalau keamanan rumah ini sudah cukup baik. Dia hanya ingin memastikan kecurigaan tadi.
Jett menggeleng. “Tidak, kau duduk saja, aku akan pergi sebentar. Jangan khawatir. Aku ini tidak membual saat mengatakan hal seperti itu. Kau salah kalau kau khawatir. Aku sungguh akan baik-baik saja. Kau duduk saja. Duduklah.”
Elsie kembali duduk, pada dasarnya tidak ingin berdebat juga. Namun, dia tidak bisa menepis rasa cemas yang melanda tiba-tiba ini. Perasaan ini seperti perasaan seorang wanita pada pasangan. Rasanya aneh, tapi Elsie tidak bisa menolaknya. Dia seperti sudah naluri untuk peduli pada Jett.
Hanya dalam waktu singkat saja, perasaannya sudah seperti ini. Dia menghela napas panjang, dan menghalau semua perasaan itu. Dia tetap enggan untuk mengakui rasa suka ini.
Jett tersenyum. “Baiklah, aku pergi dahulu. Kalau kau ingin menambah sausnya, masih ada di meja dapur itu, aku membuat banyak untukmu.”
“Iya, terima kasih.” Elsie mengangguk patuh. Dia menghela napas panjang kembali, lalu makan, membiarkan Jett meninggalkan ruang makan ini untuk pergi keluar lewat pintu belakang.
Jett tidak lama dalam memeriksa sekitar. dia tidak menemukan apapun yang bisa dijadikan sumber kecemasan. apa yang dia cemaskan ternyata tidak ada dimanapun.
iya, dia sudah memeriksa sekitar rumah, tidak ada tanda-tanda dari musuh atau orang mencurigakan yang dekat. akan tetapi, dia bisa mencium samar-samar ada yang tidak beres dengan semua ini.
tetapi, dia tidak mau membuat Elsie menjadi khawatir karena hal tersebut. dia segera kembali masuk, dan ikut makan malam tanpa membahas apapun. dia hanya memberitahu bahwa seluruh keamanan rumah sudah baik. tidak akan ada orang yang bisa mengganggu mereka di rumah ini.
sebenarnya Elsie tidak percaya. namun, dia tidak mungkin mencaritahu sendiri. dia pun menghabiskan makan malamnya, dan tidak ada pembicaraan di antara mereka setelah itu.
makan malam ini berlangsung sunyi dan cepat. keduanya cepat menyelesaikan makan, dan kembali ke kesibukan masing-masing.
***
***