BAB 07

1435 Words
Jett tidak lama dalam memeriksa sekitar. dia tidak menemukan apapun yang bisa dijadikan sumber kecemasan. apa yang dia cemaskan ternyata tidak ada dimanapun. dia memeriksa sekitar rumah, tidak ada tanda-tanda dari musuh atau orang mencurigakan yang dekat. akan tetapi, dia bisa mencium samar-samar ada yang tidak beres dengan semua ini. dia tidak mau membuat Elsie menjadi khawatir karena hal tersebut. dia segera kembali masuk, dan ikut makan malam tanpa membahas apapun. dia hanya memberitahu bahwa seluruh keamanan rumah sudah baik. tidak akan ada orang yang bisa mengganggu mereka di rumah ini. . . . Malam ini, Nyonya Leda tidak kunjung pulang. Ada sesuatu yang terjadi, Elsie bisa merasakannya. Akan tetapi, Jett menjelaskan bahwa semuanya baik-baik saja, jadi tidak perlu memikirkan apapun.. Namun, tetap saja, hal ini sangat misterius. Elsie merasa cemas. Selepas makan malam, dia bergegas kembali ke dalam kamar, meninggalkan Jett yang santai di ruang tengah sembari menikmati hangatnya perapian. Dia tidak sanggup untuk terus bertatapan dengan Jett, pria itu terlalu menggoda. Setiap detik bersamanya terasa seperti siksaan yang luar biasa. Cinta yang tak pernah dia rasakan, akhirnya dirasakan dari pria ini. Dia berharap tidak akan pernah merasakannya. Karena merasakan cinta ini, dia jadi teringat akan orang tuanya kembali. Dia adalah seorang putri yang sejak dahulu harus mendengarkan semua obrolan mengerikan orangtuanya yang bertengkar. Tidak ada yang namanya harmonis dan cinta dalam hubungan orangtuanya. Dia tahu, mereka berdua hanya bersama karena komitmen untuk membesarkannya. Sekarang dia sudah beranjak dewasa, maka orangtuanya tidak perlu lagi untuk berkomitmen. Toh, mereka juga tidak saling cinta. Dari pengalaman itulah, Elsie meyakini kalau sesungguhnya yang namanya cinta itu hanyalah halusinasi. Cinta merupakan kata yang lebih halus dari nafsu. Begitulah yang dia tanamkan dalam hati. Alasan dia tidak mau menyerahkan hatinya juga karena hal tersebut. Dia tidak mau terluka dan memiliki hubungan hancur seperti orangtuanya. Pria hanya mengutamakan nafsu, dan wanita pun demikian. Dia jadi malas jika memikirkan hal tersebut. Cinta dan hubungan adalah musuhnya. Dia menegaskan dirinya untuk tetap teguh, jangan sampai terperdaya oleh ketampanan Jett. Dia menengok ke jendela kamar yang sudah tertutup. Angin berhembus cukup kencang malam ini, terbuka dari daun pintunya yang terus bergerak-gerak. Rumah ini sebenarnya kokoh, bangunannya tidak diragukan lagi. Tetapi, entah apa yang terjadi, tapi angin yang terlalu kencang sampai membuat daun jendela bisa bergerak. Padahal itu seharusnya rapat sekali, kuncinya pun ganda. Elsie menjadi tidak nyaman. Walaupun lampu masih menyala dan suasana kamar masih terang, tetapi ternyata dia masih ketakutan. Ada sesuatu yang menurutnya sangat aneh. Dia ingat pertama kali masuk ke rumah ini dan bertemu dengan wanita tua bernama Leda Lloyd, kelihatannya wanita itu memang biasa saja, tetapi sikapnya yang mendadak waspada itu sangat aneh. Apalagi, cucunya, Jett, juga melakukan hal yang sama. Benar, mereka berdua seperti melihat ada orang lain yang sedang mengamati kondisi rumah tersebut. Apakah itu pembunuh berantai yang mengintai? Ataukah makhluk buas? Elsie tidak bisa menebaknya. Rumah ini berada di tengah rerimbunan pohon, tidak ada tetangga dalam jarak kilo-kilo meter. Jelas jika ada kejadian buruk, dia tidak akan bisa meminta tolong tepat waktu. Lebih buruknya, sinyal ponsel disini juga kadang baik, kadang buruk. Memang keberadaan Jett sangat dibutuhkan. Sekarang Elsie baru menyadari kalau sosok pria itu memang cukup berguna disini sebagai orang yang akan melindungi jika hal buruk terjadi. Karena agak takut dengan suara jendela yang terus terdengar, dan kesendirian yang keterlaluan ini, Elsie langsung turun ranjang, dan kembali keluar dari kamar untuk bergabung di ruang tengah bersama dengan Jett. Akan lebih baik untuk tetap terjaga, menikmati perapian sambil menunggu Nyonya Leda pulang. “Hei, kau tidak bisa tidur?” tanya Jett yang langsung duduk dari posisinya tidur di sofa panjang. Dia menepuk sampingnya, ingin Elsie duduk bersamanya. “Kemarilah.” “Aku tidak bisa tidur karena takut. Sepertinya ada yang tidak beres di sekitar rumah ini. Kau tidak menyembunyikan apapun, kan, Jett?” Elsie duduk di sebelahnya tanpa malu-malu. Dia semakin merasa terbiasa dengan tindakan pria itu yang sangat menyenangkan. Dia juga merasa aman apabila bersama terus seperti sekarang ini. “Aku tidak menyembunyikan apapun, memang tidak ada apapun, kau saja yang mungkin berhalusinasi. Memangnya ada apa?” Jett menoleh ke arahnya. Dia hanya menggunakan kaos kasual tipis dan celana pendek. Penampilan ini membuat tubuh bagusnya tercetak jelas, dan membuat Elsie sedikit kaku. “Seperti ada yang .... Oke, lupakan, Maaf, aku tahu itu hanya angin, angin membuat jendela kamarku sedikit bergetar.” “Memang sepertinya angin berhembus terlalu kencang akhir-akhir ini, tak biasanya jika masuk musim panas.” “Iya, begitulah. Jadi, boleh aku terus disini?” “Tak masalah, kita menonton saja.” Jett masih memandangi televisi yang menayangkan serial terbaru salah satu Channel televisi. Dia selalu menonton acara detektif tersebut,btak terlewat satu episode pun. “Acara ini bagus. Kau akan suka.” “Oh, aku pernah menontonnya. Aku tak menyangka kau suka hal-hal yang berbau misteri begitu.” “Aku suka tontonan yang menantang, kebetulan di serial ini lumayan banyak aksi, jadi menyenangkan di lihat.” “Iya, rasanya seperti di rumah kalau seperti ini.” Elsie tersenyum sembari menonton televisi. Dia benar-benar merasa hangat layaknya sedang menonton televisi di rumah. Namun, bedanya saat ini dia bersama seorang pria, dan itu sangat menambah kebahagiaannya. Selama ini, dia sendirian dan sekarang ada teman yang bisa menemaninya. “Kau masih belum mengantuk?” tanya Jett basa basi, sesekali menoleh pada Elsie. “Belum.” Pandangan Elsie masih fokus ke layar televisi. Dia ikut hanyut pada episode serial detektif itu. Saat ini, dia hanya mengenakan kaos tidur tipis hingga menunjukkan lekuk tubuhnya yang seksi. Itulah yang menyebabkan hasrat membara dalam diri Jett. Pemuda ini mendadak ingin sekali melakukan hal terlarang dengannya. Malam yang sunyi, tanpa siapapun, nenek pun tidak ada. Di rumah ini hanya ada mereka berdua. Jelas saja pemikiran Jett hanya dipenuhi oleh hal-hal berbau seksualitas. Dia merasa semakin tertarik dengan Elsie. Aromanya, aroma tubuh yang begitu memikat, merangsang seluruh syaraf di kepalanya untuk bereaksi. Ini adalah pertama kalinya, dia merasakan hal semacam ini. Dia yakin kalau Elsie adalah pasangan sejatinya, dan dia sangat ingin untuk segera mengikrarkannya. Namun, dia tidak mau membuat Elsie takut. Dia harus serba lembut dan sopan. Dia tidak ingin memberi kesan kalau dia adalah pemuda penggila erotisme. Dia bertanya, “oh, iya, Elsie, kau itu anak tunggal? Apa kau punya saudara lain?” Elsie menoleh, dan menjawab, “aku tidak punya saudara kandung lain, iya aku anak tunggal. Kau juga, ya?” “Iya, aku anak tunggal.” “Bagaimana dengan orangtuamu, Jett?” “Sudah meninggal dunia, jadinya aku yang mengurus bisnis bengkel itu.” “Oh, aku turut berduka.” “Iya, sudah lama, sejak aku masih kecil.” “Kau selalu sendirian sejak kecil kalau begitu?” “Tidak, aku kan punya nenek. Makanya aku menganggap ini sebagai rumah, lebih nyaman tinggal disini memang.” “Oh, aku juga mulai nyaman berada disini.” “Bagaimana dengan orangtuamu?” “Jujur saja, aku tak mau membicarakannya, intinya mereka masih di kota dan baik-baik saja.” “Baiklah,” ucap Jett yang mulai menduga permasalahan Elsie di kota. Namu,n dia tidak mau memaksa gadis itu untuk bicara jika memang tidak mau bicara. Setelah jeda sesaat, dia mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, “bagaimana keadaan kota besar? Aku sudah lama tidak ke kota.” “Kota mana yang terakhir kau kunjungi, memangnya?” “Las Vegas.” “Astaga, untuk apa kau kesana? Berpesta sepanjang malam?” “Iya, seperti itu, bersama teman-temanku, semua klub yang ada disana luar biasa menyenangkan. Aku ingin pergi kesana lagi.” Elsie memahaminya sehingga tertawa lirih. “Aku tidak terlalu suka dengan pesta-pesta, kita pasti sangat berbeda, Jett. Kau orang yang pecinta pesta pora.” “Aku tidak terlalu suka berpesta pora, jangan salah paham begitu ...” “Kalau di kota besar, kau adalah playboy yang paling banyak diincar oleh para gadis.” “Aku lebih baik jadi pemuda desa yang hanya diincar oleh satu gadis saja. Berurusan dengan banyak gadis membuatku muak.” Elsie menyeringai. “oh, begitu, kurasa kau jelas diperebutkan di tempat ini. Kau pasti terkenal, kau jelas terkenal, kau kelihatan sekali kalau yang paling populer di tempat ini, Jett.” “Tidak, tidak, tidak. Aku biasa saja. Banyak yang lebih populer ketimbang aku. Kebanyakan temanku juga peselancar, mereka jelas yang digilai para gadis disini.” “Dasar pembohong.” Elsie tertawa. Jett ikut tertawa. Dia semakin suka menghabiskan waktu dengan wanita ini. Rasanya tidak ada yang tidak menyenangkan bicara dengannya. Tidak terasa, padahal sebelumnya, awal mereka bertemu, dia merasa benci sekali dengan Elsie. Sekarang sudah seperti ini. Sejak dia mencium aroma tubuh Elsie yang menggoda, dia tidak sanggup untuk melawan kehendak takdir ini lagi. Dia mencintai Elsie. *** ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD