Bab 12. Izin Bertemu Mantan

1067 Words
Waktu terus berjalan, hari telah berganti hari, bulan pun telah berganti bulan, hingga tidak terasa hari yang dinanti pun tiba. Hari di mana Karin bisa menikah lagi setelah menjada selama beberapa bulan, hari di mana Fans bisa mempersunting Karin dan menjadikan dia miliknya untuk selamanya. "Kita akan menemui om kamu pagi ini. Kamu udah bilang sama om kamu, kan?" tanya Frans di sela-sela kegiatannya yang saat ini tengah sarapan bersama. "Iya, Pak." Karin menjawab singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan yang sedang diaduk-aduk. "Berapa kali sih aku bilang sama kamu, Rin. Jangan panggil aku Pak. Panggil aku mas, karna aku akan segera menjadi suami kamu." Dan, Karin selalu lupa akan perintah itu. Sampai sekarang dia merasa seperti pembantu yang diperlakukan semaunya. kadang-kadang spesial, kadang-kadang semena-mena. Sedang tidak ingin berdebat, ia pun memilih patuh atas perintah Frans. "Iya, Mas." "Nah, gitu dong. Itu jauh lebih baik. Lagian kamu itu kenapa sih sama aku, Rin. Selama ini aku memperlakukan kamu dengan baik loh, aku nggak pernah maksa kamu melakukan hal yang nggak-nggak, aku memenuhi semua kebutuhan kamu, aku mengabulkan permintaanmu. Jangankan berkhianat sama kamu, aku bahkan masih mentransfer uang ke rekening mantan suamimu setiap bulan. Aku menempati semua janji aku. Tapi kamu ...." Frans menjeda ucapannya, lalu kembali bicara dengan lirih. "Kamu bahkan masih mengabaikan aku. Apa yang harus aku lakukan, Rin?" Karin menggidikkan bahunya tidak tahu. "Aku nggak tau, yang aku tau cinta itu nggak bisa dipaksakan. Justru semakin dipaksa, dia akan semakin sulit didapatkan." Frans diam, Karin kembali menunduk, kali ini dia mulai menyantap sarapannya dengan khidmat. "Aku akan sabar menunggumu," ucap Frans seraya meraih tangan Karin, lalu mengecupnya singkat. *** Pagi tadi Frans bersama Karin sudah menemui salah satu anggota keluarga dari pihak mendiang sang ayah untuk dijadikan wali. Ridwan sebagai om nya pun setuju, dia berhasil mengambil hati Ridwan dengan membantu melunasi hutang-hutangnya, bahkan memberikan pekerjaan di sebuah bengkel. Baginya Frans adalah dewa penolong keluarganya yang serba pas-pasan. Karin tidak menyangka Frans menyiapkan segalanya dengan sedemikian rupa, sehingga keinginannya tercapai dengan mudah, bahkan Karin pun tidak menyangka akan semudah itu mengambil hati omnya. "Karin?" panggil Frans yang baru saja masuk ke dalam kamar. Dia berjalan menghampirinya, lau berdiri di sebelahnya. "Kamu ngapain bengong di sini?" "Nggak apa-apa, Mas. Lagi pengen di sini aja," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan. "Besok kamu sudah mau menjadi istriku. Aku harap kamu bisa jaga sikap." Ada nada ketegasan dari kalimat yang diucapkan. "Maksud kamu?" Karin melihat ke arahnya dengan dahi mengerut. "Aku ini akan menjadi suami kamu, Rin. Apa pantas kamu memikirkan orang lain di depan calon suami kamu?" Frans bicara seperti itu karena dia yakin saat ini Karin sedang memikirkan Dani. "Aku nggak lagi mikirin mas Dani." "Lalu? Jangan bilang kamu memikirkan keluarga kamu, karena sekarang keluarga kamu di kampung sudah hidup sejahtera. Om kamu sudah punya pekerjaan sekarang, hutangnya sudah lunas, bahkan anak kamu sudah terjamin sekolahnya selama satu tahun ke depan." "Iya aku tau. Terima kasih sudah membantu keluarga aku." Frans mendekat, lalu memeluk Karin dari belakang, seraya meletakkan dagu di atas pundaknya. "Kamu bahagia?" "Iya, Mas," jawabnya berbohong. "Beri tau aku apa lagi yang kurang? Aku akan memenuhinya." "Nggak ada, aku cuma memikirkan anak aku, Mas. Gimana perasaan dia jika suatu saat tau kalau orang tuanya sudah bercerai. Aku takut jiwa anak aku terguncang, karena dia masih membutuhkan sosok ayah." "Kamu jangan takut, Rin. Aku sudah memikirkannya dari jauh-jauh hari dan aku sudah tau apa yang harus aku lakukan seandainya hal itu terjadi. Yang pasti, aku tidak akan membiarkan situasi ini merusak masa depan anak kamu. Kamu percaya, kan?" "Entahlah, kita liat aja nanti." "Besok kita akan menikah, Karin. Aku harap kamu bisa menjaga sikap, jangan sampai sikap kamu membuat aku marah. Mengerti?" "Iya, Pak." "Karin!" Suara Fans menggeram. "Ma–maksudnya iya, Mas." Frans tersenyum, lalu mengecup singkat tengkuk leher Karin yang jenjang. Tidak puas hanya itu, ia pun memutar tubuh Karin hingga saat ini mereka berdiri saling berhadapan, lalu ia mengangkat tangannya, mengusap bibir merah itu dengan lembut. "Aku sangat mencintaimu, Karin. Aku sangat tergila-gila kepadamu," ungkap Frans dengan deru nafas yang memburu, menahan gejolak di dalam dirinya yang meminta segera dituntaskan. "Tapi aku belum bisa mencintai kamu, Mas, ungkap Karin dengan suara pelan. "Semakin kamu menolak aku, percayalah semakin aku ingin menerkam kamu, Rin." Frans melingkarkan tangannya pada pinggang Karin, menatap wajahnya lekat-lekat, menyusuri wajah cantik itu seolah sedang menyimpan di dalam memory otaknya agar bisa tersimpan untuk selamanya. Coba memanfaatkan momentum yang menurutnya sangat pas, Karin berinisiatif menawarkan sesuatu yang diinginkan oleh Frans. "Kamu menginginkan aku?" tanya Karin seraya menautkan kedua tangannya di atas pundak Frans. "Sangat." "Aku akan memberikan apa yang kamu inginkan, tapi dengan satu syarat." "Apa?" Bukannya langsung menjawab, Karin mengecup singkat bibir Frans, lalu mengatakan syaratnya. "Aku ingin menemui mantan suamiku, mas Dani." Raut wajah Frans berubah dalam sekejap, dia menyipitkan matanya, menatap Karin dengan tatapan ingin membunuh. "Berani kamu mengatakan itu kepadaku, Karin?" "Cuma sebentar, Mas. Aku cuma mau melihat keadaannya apakah semakin membaik, atau malah semakin memburuk. Sekalian aku mau kasih tau dia kalau kita akan menikah." "Nanti aku suruh sekretaris aku yang menyampaikan." "Aku mau menemuinya langsung," kekeh Karin. "Kalau begitu aku antar." Dengan tegas Karin menolak. "Nggak. Aku mau pergi sendiri." "Kenapa?" "Nggak apa-apa, Mas Frans mending ke kantor aja." "Tidak ada rahasia di antara kita, Rin. Kamu mau berusaha menipuku?" "Siapa yang mau menipu? Aku cuma mau liat keadaannya aja." "Lalu, kenapa kamu menolak aku antara?" "Ya, karna ...." Belum selesai satu kalimat diucapkan, Frans memangkasnya dengan cepat. "Temui mantan suamimu bersamaku, atau nggak sama sekali." "Kamu menginginkan aku, akan aku berikan sekarang juga. Tapi, aku mohon tolong izinkan aku menemui Mas Frans sendiri. Aku nggak mungkin mengkhianati kamu, apalagi melarikan diri karna aku tau bahkan sampai ke lubang semut pun kamu akan menemukan aku. Tolong izinkan Aku, Mas. Kamu akan mendapatkan semuanya dariku." Karin terus memohon sampai melipatkan kedua tangannya di d**a. "Lebih baik aku tidak mendapatkannya, dari pada membiarkan kamu pergi sendiri menemui pria b******k itu. Kamu nggak perlu khawatir akan kepuasan yang aku inginkan, aku masih punya Bella yang bisa aku ajak kapan saja, aku masih punya uang untuk membayar wanita lebih dari dua, bahkan lima sekali pun." "Aku membencimu, Mas. Aku sangat membencimu." Telah habis kesabaran yang Frans miliki. Saat Karin ingin pergi, Frans langsung menarik dan menggendong tubuh Karin secara paksa, lalu membaringkan tubuh itu di atas ranjang dengan kasar. "Apa sang akan kamu lakukan, Mas?" "Aku akan menghukummu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD