Sesuai dengan permintaan Frans, dengan berat hati Karin pun berhenti bekerja. Dia meninggalkan tempat kerjanya setelah semua tugas selesai, lalu duduk di halte bis menunggu angkutan umum melintas. Baru saja duduk, ponselnya berdering. Dia mengambil benda pipih itu dari dalam tas kecil, tertera jelas nama suamiku pada layar ponselnya.
"Menyebalkan," gerutu Karin sambil menatap sebal.
"Mbak, bisa nggak teleponnya diangkat aja. Berisik," keluh seorang wanita yang saat ini duduk di sebelahnya, yang merasa terganggu oleh dering ponsel yang tidak mau berhenti.
"Tau, baru punya handphone kayak gitu aja sombong," seru teman lainnya tatkala melihat merek handphone milik Karin yang disinyalir harganya tembus angka dua puluh jutaan.
Tidak ingin mencari masalah dengan dua wanita itu, akhinya ia pun memutuskan untuk menjawab panggilan.
Karin: Apa?
Frans: Bisa nggak ngomong yang lembut?
Karin: Nggak bisa!
Frans: Sekali lagi bilang nggak bisa!
Karin: Iya, Pak. Ada apa Anda menghubungi saya?
Setelah ditegur, Karin merendahkan nada bicaranya.
Frans: Nah, gitu dong. Walupun kayak lagi ngobrol sama costumer service, itu masih mendinglah dari pada bentak-bentak.
Karin: Ya udah, ada apa?
Tidak enak obrolan didengar oleh orang lain, Karin pun bangkit dari duduknya, berjalan menjauh dari dua anak remaja itu.
Frans: Di mana?
Karin: Halte bis.
Frans: Pulang sekarang!
Karin: Iya, ini juga aku mau pulang. Lagian mau ngapain sih?
Frans: Aku lapar, aku mau makan.
Karin: Bisa pesan online kan, Pak? Kenapa harus nunggu saya?
Frans: Saya maunya kamu yang menyediakan.
Karin: Tapi saya masih nunggu bis. Masih lama.
Frans: Jangan naik bis, naik ojek online aja biar cepat bisa nyalip kalau macet.
Karin: Iya, iya. Bawel banget sih.
Setelah sambungan telepon berakhir, Karin membuka salah satu aplikasi, lalu memesan ojek online agar segera tiba di apartemen sesuai dengan keinginan tuan raja, Frans. Jarak tempuh yang biasanya bisa menghabiskan waktu tiga puluh menit, dengan menggunakan ojek online, hanya memerlukan waktu lima belas menit saja untuk sampai ke tempat tujuan.
Begitu tiba di apartemen, dia segera naik ke lantai atas menggunakan lift, lalu berlari kecil menuju unitnya dan langsung menekan pascode.
"020202," ucap Karin seraya menekan tombol yang diucapkan.
Setelah itu kunci pun berhasil terbuka, ia membuka pintu pelan-pelan, lalu masuk secara diam-diam seperti maling.
"Frans, aku nggak bisa kayak gini terus. Ayo kita ke kamar."
Karin menghentikan langkahnya ketika mendengar suara seorang perempuan dan suara itu adalah suara Bella, Karin cukup mengenalinya.
"Kita akan menuntaskannya di sini," balas Frans dengan suara parau.
Sungguh sangat menjijikkan, suara mereka benar-benar membuat Karin merasa muak. Tidak ingin keberadaannya diketahui oleh dua insan yang sedang berbuat dosa, Karin pun memutuskan pergi ke dapur dengan cara mengendap-endap. Namun, sayangnya baru beberapa langkah hendak bersembunyi, tiba-tiba saja lengannya menyenggol vas bunga hingga jatuh, lalu Karin berjongkok coba bersembunyi.
"Siapa?" tanya Bella menghentikan sejenak aktivitasnya.
Frans yang tahu kalau itu Karin, langsung memanggilnya. "Karin, keluarlah!"
Karin diam dan memilih tetap jongkok, lalu Fans pun memberikan perintah untuk yang kedua kalinya dengan tegas. "Karin! Kalau kamu nggak mau keluar, aku akan menghukummu lebih dari tadi."
Lebih dari tadi? Itu artinya lebih dari sekedar menciumnya. Tidak ingin kejadian siang terulang, ia pun akhirnya keluar dari persembunyian. Terlihat Bella sedang berada di atas tubuh Frans dengan kondisi tubuh tanpa pakaian lengkap, sedangkan Frans hanya bertelanjang d**a di bawah kungkungan Bella melihat ke arah Karin sambil tersenyum puas.
"Pembantu sialan! Apa yang kamu lihat? Sana masuk! Tinggalkan kami di sini!" pekik Bella yang begitu kesal karena merasa sangat terganggu akan kehadirannya.
"Maaf, Non."
Saat Karin melangkah hendak pergi, Frans memanggilnya. "Tunggu, Karin!"
"Frans!" seru Bella dengan kedua alis saling bertautan. "Mau ngapain sih dipanggil lagi?"
"Kita hentikan permainan. Ayo kita makan dulu," ajak Frans seraya melepaskan diri dari kungkungan Bella.
"Apa kamu gila? Di tengah kegiatan kamu ajak aku makan?" Kemarahan tampak jelas dari raut wajahnya.
"Nggak enak loh diliatin pembantu aku." Setelah berhasil melepaskan diri, Frans pun duduk, lalu mengenakan kembali kemejanya.
"Frans! Kamu apa-apaan sih?" Bella menarik kemeja yang sedang Frans pakai, tetapi ia memilih tetap mengancingkan bajunya.
"Besok lagi ya, Bel. Aku nggak bisa kalau lapar."
"Kenapa nggak dari tadi aja sih makannya?"
"Tadi kan belum lapar."
Tidak ingin terlibat dalam keributan mereka berdua, Karin pun meminta izin untuk pergi ke ruangan belakang.
"Maaf, saya ke belakang dulu. Kalian bisa melanjutkan kegiatan. Untuk makan, akan saya siapkan setelah kalian selesai."
"Tidak, Karin!" tegas Frans. Dia bangkit dari duduknya, lalu mengambil pakaian milik Bella yang berserakan di lantai, lalu pakaian itu ia serahkan kepada pemiliknya. "Pakai dulu baju kamu, kita lanjutkan besok."
"b******k!" umpat Bella dengan amarah berada di titik tertinggi. Dia mengambil pakaian dari tangan Frans, lalu memakainya di sana.
"Ayolah Bella, kita cuma menunda. Kita bisa melanjutkannya di lain waktu. Oke?" Frans coba membujuknya.
"Nggak! Aku nggak mau selama pembantu sialan itu ada di sini." Selesai memakai pakaiannya, ia menyambar tasnya di atas meja, lalu pergi dengan membawa segudang kekecewaan.
Setelah Bella pergi, Frans bicara kepada Karin, memintanya menyiapkan makan malam. "Siapkan makanan, saya lapar."
"I–iya, Pak."
Karin pergi ke dapur mencari bahkan makanan yang bisa diolah. Dia mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam lemari pendingin, lalu menyimpannya di atas meja. Belum semua bahan dikeluarkan, bel pintu berbunyi. Frans pun memerintahkan Karin untuk membuka pintunya. "Sana buka dulu!"
"Cuma buka pintu loh, Pak. Nggak bisa ya buka sendiri?" bantah Karin masih jongkok di depan lemari pendingin.
"Bukan nggak bisa, tapi saya nggak mau."
Karin menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan, coba mengontrol emosi yang tengah diuji oleh sang majikan, calon suami, atau apa pun itu sebutannya. Yang pasti Frans adalah pria yang paling Karin Benci untuk saat ini.
Mau tidak mau akhirnya Karin pun pergi membuka pintu, tidak lama ia kembali dan langsung menyimpan dua jinjingan di atas meja makan.
"Apa ini?" pekik Karin
"Wah, ada yang kirim makanan nih," ucap Frans sambil tersenyum lebar. "Pas banget pas aku lagi laper. Nungguin kamu masak kelamaan."
"Bapak sengaja ngerjain saya kan, Pak? Nyuruh saya cepat pulang buat masak, padahal Anda sudah pesan makanan di online."
Frans diam mendengar ocehan Karin. Dia lebih memilih mengeluarkan makanan yang dipesan, lalu meletakkannya di atas meja makan, sedang Karin terus mengomel sepanjang jalan kenangan, hingga akhirnya ia pun merasa kesal sendiri, mengomel tanpa ada tanggapan.
"Bapak dengar saya ngak sih, Pak!"
Frans berdiri, tiba-tiba saja dia menggendong Karin, lalu mendudukkannya di atas meja makan. Hal itu sontak membuat Karin terkejut.
"Bapak apa-apaan sih? Mau ngapain saya duduk di sini?"
"Diamlah. Aku akan menyuapimu."
Dia memasukkan satu butir buah anggur ke dalam mulutnya, lalu mencium bibir Karin seraya memindahkan anggur tersebut dalam keadaan masih utuh.
Tidak ada yang bisa Karin lakukan selain menerimanya, lalu Frans pun melepaskan pautannya.
"Makanlah," titah Frans seraya mengusap lembut pipi Karin. "Kamu tenang aja, Karin. Aku nggak akan memaksa kamu melakukan apa yang Bella lakukan."