Bab 10. Hukuman Akibat Membangkang

1058 Words
Frans berjalan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan saat ini waktu menunjukkan pukul sembilan. "Ini bukan lagi pagi, Karin. Ini pagi menjelang siang dan mustahil kalau kamu masih tidur, gerutu Frans tanpa menghentikan langkah kakinya menuju lantai bawah. Saat melewati ruang keluarga, sang ibu, Winda memanggilnya. "Frans!" Frans berhenti sebentar demi menyahuti panggilan sang ibu. "Ada apa?" "Kamu mau ke mana sepagi ini?" tanya Winda seraya menggeser cursor maju pada pegangan kursi rodanya. Iya, Winda mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu, mengakibatkan kakinya mengalami cacat dan tidak bisa disembuhkan lagi walau sudah mendatangkan dokter ahli dari luar negeri. "Ini udah siang, Bu. Jam sembilan," ujar Frans sudah tidak sabaran. "Biasa juga kamu ke kantor jam sebelas." "Ada meeting penting, aku harus segera sampai di kantor, Bu." "Iya, Nak. Ibu nggak akan menghalangi jalanmu. Ibu cuma mau mengingatkan jaga kesehatan kamu, sebentar lagi kamu akan menikah." "Iya, Bu. Lagian pernikahan aku sama Bella itu masih lama, udah Ibu tenang aja." "Kamu kok apa-apa suka ngegampangin, ibu paling nggak suka itu." "Aduh, Bu. Nanti aja ya berdebatnya, aku harus pergi sekarang." Winda masih bicara, tetapi Frans tidak menggubris dan dia memilih tetap pergi dengan perasaan was-was sekaligus kesal. "Kalau sampai kamu ketahuan macam-macam, aku akan menghukum kamu lebih dari kemarin!" batin Frans bergumam tanpa menghentikan langkah kakinya menuju teras depan rumah. "Mobil sudah siap, Den." Seorang pria setengah tua bernama Asep itu saat ini tengah berdiri di samping mobil, membuka pintu sisi kiri bagian jok penumpang. "Saya bawa mobil sendiri, Pak." Frans berjalan ke sisi kanan mobil, lalu masuk dan langsung memasang sabuk pengaman. "Yakin, Den?" tanya Asep untuk memastikan. "Iya, Pak." Frans menjawab sambil menghidupkan mesin mobil, setelah itu dengan kecepatan tinggi dia meninggalkan kediamannya menuju apartemen, mencari keberadaan Karin. *** "Rin, pesanan Bu Wati udah jadi tuh. Tinggal anter aja. Katanya acaranya jam sepuluh. Ini sekarang udah jam sepuluh," ucap seorang pemilik ketering yang saat ini sedang menulis alamat rumah costumer. "Cuma seratus lima puluh box?" tanya Karin seraya menyusun box nasi ke dalam keranjang motor. "Iya, cuma acara anak-anak doang. Segitu aja dapet minjem bang emok." "Bang emok? Cuma buat acara ulang tahun?" tanya Karin lagi. "Iya, minjemnya mah nggak gede cuma lima juta, cuma pan kata kita mah buat apa, ya. Mending ge duitnya buat bayar utang. Gitu tuh kelakuan orang yang mengisinya tinggi. Biar tekor asal kesohor. Pan aneh." Selesai menulis alamat, pemilik ketering bernama Ema pun berdiri, menyerahkan kertas tersebut kepada Karin. "Jangan sampai salah alamat, ya." "Iya Bu Bos, tenang aja." Kertas tersebut ia masukkan ke dalam saku celana, lalu naik ke atas kendaraan motornya. "Jalan dulu, ya." "Iya." Saat motor keluar dari garasi, tiba-tiba saja seorang pria berdiri di depan Karin, membuat dia harus menarik rem sekencang mungkin agar tidak menabrak. Saat melihat ke depan ingin marah, dia terkejut ketika melihat sosok siapa yang menghalangi jalannya. "Pak Frans?" Karin membuka matanya lebar-lebar. "Ngapain kamu di sini?" Frans bertanya sambil menatap wajah Karin dengan tatapan mengintimidasi. "Ke–kerja, apa lagi?" jawab Karin terbata tanpa ada niatan untuk turun dari motornya. Belum Frans bicara lagi, pemilik toko itu menghampiri Karin, lalu bertanya, "Siapa, Rin?" "Ini atasan suami aku, Bu Bos." "Karin!" Suara Frans menggeram. Keadaan akan semakin runyam jika Frans dibiarkan tetap di sana. Tidak ingin mengundang curiga semua orang, termasuk pemilik bosnya, mau tidak mau Karin pun turun dari motor, lalu menghampiri Frans. "Bapak ngapain sih ke sini?" Karin bicara setengah berbisik. "Karna kamu menonaktifkan handphone kamu," jawab Frans setengah berteriak. "Ngapain teriak-teriak sih, Pak?" Ingin sekali dia membekap mulut Frans dengan sandalnya. Karena hal tersebut tidak bisa dilakukan, ia pun menarik tangan Fans menuju mobil yang terparkir di seberang jalan. Bukan mau bicara di luar, Karin mengajak Frans masuk ke dalam mobil. "Mau ngapain kamu ajak saya ke sini? Kamu mau m***m?" Tanpa beban, kalimat itu ringan sekali diucapkan. "Ish ... Bapak, apaan sih," mendengus kesal. "Ya ngapain kamu ajak saya ke sini? Dan, apa tadi? Saya bos suami kamu? Berani kamu ngomong kayak gitu sama orang lain?" "Terus harus saya jawab apa?" Dengan cepat Frans menjawab, "Calon suami kamu." "Yang bener aja, Pak. Apa kata bos saya nanti? Perempuan macam apa saya ini? Nanti mereka mikirnya saya ini poliandri." "Makanya saya kan sudah bilang sama kamu, jangan keluar rumah, dunia kamu sekarang sudah berbeda, Karin. Kamu bukan Karin yang dulu." "Saya mau tetap kerja, Pak. Ibu sama anak saya mau makan apa di kampung?" "Kamu ini pikun atau apa sih? Semalam saya udah bilang sama kamu. Keluarga kamu, saya yang akan menanggung." "Tapi kan, Pak ...." "Nggak ada tapi-tapian, kerja kamu itu cuma patuh sama semua ucapan saya. Setelah itu udah, semua terjamin. Kamu tinggal duduk manis di rumah, apa susahnya sih?" Karin diam, Frans kembali bicara. "Saya kasih kamu kesempatan satu hari ini. Selesaikan pekerjaan kamu hari ini, habis itu pamitan berhenti kerja. Mengerti?" "Nggak bisa dong, Pak. Bis saya yang ini sangat mengandalkan saya, dia kekurangan karyawan." "Bodo amat, saya nggak peduli." Raut wajah Frans terlihat mengerikan. "Tolonglah, Pak." Frans menggelengkan kepalanya dan jawabannya tetap tidak. Karena Karin terus memohon, terpaksa Frans memberikan sebuah ancaman. "Kamu ingin tetap bekerja?" "Iya, Pak. Sampingan supaya saya nggak jenuh." "Baiklah kalau kamu tetap mau bekerja. Tapi dengan syarat." "Apa syaratnya?" Frans merubah posisi duduknya jadi menyamping, lalu ia mengangkat tangannya, mengusap bibir Karin dengan lembut. "Syaratnya adalah, kamu harus melayani saya setiap malam, sampai saya puas." Saat Karin akan melayangkan protes, Frans membekap mulut Karin dengan mulutnya. Hal itu tentu membuat Karin terkejut, dia berontak coba melepaskan diri, tetapi Frans malah semakin mengeratkan cengkeramannya. Serangan itu adalah hukuman yang Frans berikan karena Karin sudah berani membantah. Setelah puas memberikan hukuman, Frans melepaskan pautannya. Dengan deru napas yang memburu, dia menempelkan dahinya pada dahi Karin seraya berkata, "Teruslah membantah, aku akan melakukan hal serupa bahkan lebih dari ini." Mau tidak mau ia pun akhirnya patuh. "Baiklah." "Saya pulang kerja, kamu harus sudah ada di apartemen," titah Frans setelah ia membetulkan posisi duduknya seperti semula. "Iya, Pak." "Sana, selesaikan pekerjaanmu, sekaligus berpamitan." Tanpa berkata apa pun lagi, Karin pun keluar dari mobil dan kembali bekerja untuk yang terakhir kalinya. Setelah Karin pergi, Frans mengeluarkan handphone dari dalam jasnya, menghubungi Bella dalam sambungan telepon. Frans: Di mana pun kamu, temui aku di apartemen sekarang juga. Tidak lama ia pun mendapatkan balasan. Bella: Dengan senang hati, Frans.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD