"Dia ayahku"

1066 Words
Ayahnya semakin keritis. "Dok, tolong cepat periksa ayah saya" Teriak Shilla. "Baik mbak silahkan tunggu diluar" Ucap suster pendamping dokter yang baru saja masuk. Shilla hanya bisa pasrah dan menuruti perintah suster itu. Ia keluar dengan bimbingan Icha. "Kamu tenang Shill, kita berdoa sama-sama" Ucap Icha berusaha menenangkan sahabatnya. Shilla hanya menunduk dan terus menangis, perasaannya benar benar kacau karena mencemaskan keadaan ayahnya. "Udah kamu gak usah terlalu lebay, ayah kamu gak apa apa kok" Ujar ibunya ketus. Shilla tak menghiraukan ucapan ibunya, ia beringsut duduk menjauh dari ibunya. Shilla sangat malas berdebat saat ini. Lagipula dia hanya ingin fokus pada kesembuhan ayahnya. "Sabar ya Shill" Ucap Icha merangkul Shilla. Shilla berusaha tersenyum manis menanggapi ucapan sahabatnya. "Oh iya Cha kamu mending pulang duluan aja, kamu harus masuk kantor loh". Shilla merasa tidak enak jika Icha harus ikut ikutan bolos kerja gara gara dirinya. "Iya sih, tapi kamu gimana?" Tanya Icha khawatir. "Udah kamu tenang aja gak ada yang perlu dikhawatirkan kamu bantu doa biat ayahku akan segera sembuh dan pulang dari sini" "Pasti Shill" Ucap Icha kembali memeluk tubuh ramping sahabat kesayangannya itu. Setelah menemani Shilla membeli makan, Icha memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Meskipun hatinya berat meninggalkan sahabatnya yang sedang dilanda masalah seperti ini tapi ia juga memiliki tanggung jawab dikantor. Mau tidak mau dia harus secepatnya kembali. "Yasudah aku balik duluan ya, kalau ada apa-apa kabarin" Ucap Icha berpamitan. Shilla mengangguk lalu mengantarkan Icha sampai parkiran. Mobil Icha perlahan melaju, semakin menjauh hingga tak terlihat lagi. Shilla kembali ke dalam dan melihat ayahnya. "Ayah" Ucapnya lirih. "Shi-shilla" Panggil sang ayah terbata bata. Ayahnya sudah sadar sejak lima menit yang lalu, kondisinya juga sudah mulai membaik. "Ehh nak Elang sudah datang" sayup-sayup terdengar suara seseorang berbicara. Karena penasaran Shilla akhirnya mengintip dari balik jendela. Ternyata itu adalah suara ibu Shilla yang menyambut baik kedatangan Anak kesayangannya. "Orang itu lagi" Gumam Shilla dengan raut kesal. Semenjak ibunya bertemu kembali dengan Elang, Shilla semakin dicampakkan bahkan sekarang Ibunya juga terlihat tidak perduli lagi dengan Ayah Shilla. "Bagaimana keadaan ayah bu?" Tanya Elang. "Tadi sempat keritis, tapi sekarang sudah tidak apa-apa" Jawab Ibu Shilla. "Syukurlah,,,Ini Elang bawa makanan untuk ibu dan Shilla, Eeum Shilla sudah disini kan?' "Iya Shilla didalam, terimakasih banyak loh nak sudah repot-repot" Ucap Ibu Shilla lembut. Tanpa disadari bulir bening dimata Shilla jatuh tak tertahan, hatinya cukup perih melihat perlakuan sang ibu yang begitu lemah lembut terhadap anak lain, sementara kepada anaknya sendiri tak pernah sekalipun bersikap baik. "Pedahal ibu bisa bersikap sangat baik terhadap Elang, tapi kenapa tak pernah sekalipun ibu baik kepadaku hiks..hiks.." Gumam Shilla dalam hati. Shilla menangis tanpa suara, untung ayahnya sudah kembali tidur karena pengaruh obat. Jika tidak pasti ayahnya akan merasa sangat sedih melihat putri kesayangannya menangis. "Ekhem.." Suara itu mengagetkan Shilla. "Kamu? ngapain?" Tanya Shilla ketus. "Mau jenguk ayah masa jenguk kamu kan kamu gak sakit" jawab Elang santai. "Gak usah panggil ayah dia ayahku bukan ayah kamu" Sarkas Shilla. "Yaelah pelit amat nanti juga bakal jadi ayahku" Ucap Elang nyengir. "Gak akan pernah, selamanya bakal tetep jadi ayahku, hanya aku!" Shilla semakin kesal dengan ucapan laki-laki itu. Pedahal maksud Elang adalah suatu saat akan menjadi ayahnya dalam artian 'ayah mertua' karena sebenarnya dia sudah menyukai Shilla sejak pertama kali melihatnya. Namun pikiran Shilla sudah terlanjur negatif dia berfikir bahwa Elang akan merebut kasih sayang ayahnya juga setelah ia mendapatkan kasih sayang dari sang ibu. "Ssttt, jangan berisik ayah lagi tidur nanti keganggu" Ucap Elang sambil menaruh telunjuknya dibibir Shilla. Dengan cepat Shilla menepisnya. "Keluar kamu jangan ganggu ayah, dia lagi istirahat!" Perintah Shilla. "Oke fine aku pergi, dasar cewek jutek" Ucap Elang sambil mencubit hidung Shilla. "Ihh dasar gak sopan pergi sana" Shilla merebahkan tubuhnya disofa, rasanya begitu lelah seharian ini. Bahkan matanya belum terpejam sedikitpun dari semalam. Tak terasa matanya mulai berat dan Ia tertidur pulas. Ibunya sudah pulang tapi Elang masih menunggu diluar. Dia sengaja tinggal disana karena ingin menemani Shilla. Meski terkesan menyebalkan dan bersikap seolah selalu mengganggu namun sebenarnya ia sangat perduli dengan gadis itu. Dia bersikap seperti itu hanya untuk menutupi kegugupannya ketika bertemu dengan Shilla. Shilla juga tidak menyadari hal itu, terlebih hatinya sudah terlanjur menyimpan kekesalan terhadap Elang. Dia menganggap Elang penyebab ibunya mengabaikan dia. "Manis" Gumam Elang yang memperhatikan Shilla tidur. Bulu mata lentik Shilla mulai bergerak. Shilla terperanjat kaget saat matanya menangkap sosok laki-laki dihadapannya. Shilla buru buru bangkit sampai tak sadar kakinya tersandung dengan kaki Elang. Tubuhnya hilang keseimbangan dan terjatuh tepat diatas tubuh Elang. Untuk sesaat keduanya diam terpaku. Wajah mereka begitu dekat hingga Elang dapat merasakan hembusan nafas Shilla. "Betah banget nih" Goda Elang. "Diihh apaan, kamu tuh yang cari cari kesempatan kan" Ucap Shilla kesal. Ia buru-buru bangkit dan menjauh dari Elang. Sementara laki-laki itu hanya tersenyum melihat tingkah Shilla yang begitu menggemaskan dimatanya. Apalagi pipi gadis itu sudah memerah karena malu. "Ngapain senyum-senyum, kamu gak setres kan? hih ngeri" Gerutu Shilla. "Enak aja, aku waras gini masa dibilangin setres" Jawab Elang. "Shilla, ayah ingin minum" Ucap ayahnya yang sudah terbangun. "I-iya yahh" Jawabnya sambil buru buru mengambil air mineral diatas nakas. "Kalian bertengkar ?" Tanya Ayah Shilla menatap keduanya. "Ohh engga ayah kita cuman ngobrol-ngobrol aja" Jawab Elang santai. "Syukurlah, Ibu mana Shilla" Tanya ayah lagi. "Ibu pulang yah" Jawab Shilla. "Oh iya kata dokter besok ayah sudah boleh pulang" ucap Shilla lagi. "Iya nak, ayah juga sudah merasa lebih baik sekarang". "Permisi, saya mau periksa pasien sebentar" Ucap dokter yang datang bersama seorang suster. "Silahkan dok" Ucap Elang menggeser tubuhnya untuk memberi ruang pada dokter yang akan memeriksa. Beberapa saat kemudian dokter selesai memeriksa ayahnya. Dokter bilang kondisinya sudah lebih baik, dari hasil pemeriksaan semuanya sudah kembali normal. Dokter juga meresepkan beberapa obat. "Ini saya tuliskan beberapa resep yang perlu ditebus" Ucap dokter. Dengan sigap Elang mengambil kertas yang diberikan dokter dan langsung keluar dari ruangan menuju apotik untuk menebus semua obat yang diresepkan oleh dokter. Dokter dan susterpun sudah pamit dan keluar dari ruangan tersebut. Hanya tinggal Shilla yang menemani ayahnya. "Nak kamu gak kerja?" Tanya ayah Shilla. "Shilla udah injin yah, ayah makan dulu baru minum obat" Ucap Shilla mengambil mangkuk bubur dan menyuapi ayahnya. "Maafkan ayah sudah merepotkan kamu sampai harus bolos kerja" Ucap ayahnya sedih. "Ayah ini bicara apa, tidak ada yang direpotkan ini sudah kewajiban Shilla untuk mengurus ayah, sudah ayah tidak perlu memikirkan apapun yang terpenting sekarang ayah harus cepat pulih" Jawab Shilla lembut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD