"Hmmm" Shilla menghela nafas panjang.
"Jadi kemaren waktu dirumah ternyata ibu lagi pergi, tau gak pergi sama siapa?" Tanya Shilla.
"Ya gak taulah kan belom ceritaa" Ucap Icha memutar bola mata malas.
"Sama cowok yang waktu bayinya pernah ketuker sama aku itu loh, namanya Elang.
Ibu kelihatan sayang banget sama dia sampai - sampai dia cuek banget ke aku, malahan kaya gak seneng gitu liat aku dateng". Shilla menceritakan semua yang terjadi dirumahnya.
"Cakep gak tuh cowoknya siapa tau bisa jadi jodoh kamu haha" Celoteh Icha.
"Hadeuh ini anak becanda mulu" Keluh Shilla.
"haha iya iya sorry. Kamu yang sabar ya, aku ngerti banget perasaan kamu" Ucap Icha sambil memeluk sahabatnya.
"Yaudah mending sekarang kita seneng-seneng aja, gimana kalau kita jalan atau makan, apapun pokonya yang penting kita happy" Sambung Icha.
"Engga deh aku mau dirumah aja, males banget keluar keluar jam segini". Ucap Shilla malas.
Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali kekamar masing-masing dan saling merenungi masalah yang sedang mereka hadapi.
Shilla yang pusing dengan masalah keluarga sementara Icha sedang dilema anatara lanjut atau udahan sama Theo.
Sebenarnya Icha sudah merasa tidak nyaman dengan kekasihnya.
Itu sebabnya dia selalu mencari-cari masalah dengan Theo.
Pedahal sebenarnya Theo laki-laki yang dangat baik dan selalu sabar menghadapi sifat Icha.
Bahkan Theo selalu mengalah dan selalu menuruti segala kemauan kekasihnya.
Theo benar-benar tulus mencintai Icha.
Tapi disisi lain Icha justru ingin berusaha putus dari Theo karena alasan bosan.
Terlebih baru-baru ini dia bertemu dengan orang baru dan mulai menyukai laki-laki itu.
Icha tidak pernah cerita tentang hal ini kepada Shilla.
Drrrt drrtt drrrt
Panggilan telepon dari Theo.
Ponsel Icha berdering beberapa kali tapi ia tak mengangkat panggilan telepon itu.
Rasanya dia sudah malas untuk berbicara dengan Theo.
"Sayang kamu kemana ko gak angkat telepon"
Pesan masuk dari Theo.
Icha membalas pesan tersebut dengan singkat.
" maaf, aku lagi ada kerjaan kantor"
"Oh yasudah, semangat sayang" balas Theo.
Icha hanya membaca pesan itu tanpa membalas.
tok tok tok
"Chaa buka chaa" Teriak Shilla dari luar.
"Kenapa sih?" Tanya Icha bingung melihat sahabatnya yang panik.
"Terjadi hal buruk" Ucap Shilla panik.
"Ayah cha, ayah ku sakit hiks.. aku harus kembali ke Bandung sekarang" Sambungnya sambil berurai air mata.
"Apa sakit? yaudah aku anter kamu siap-siap sekarang" .
Keduanya kembali ke kamar masing-masing dan bersiap- siap untuk segera pergi.
15 menit kemudian keduanya sudah siap dan bergegas pergi.
Mereka pergi menggunakan mobil Icha.
Sepanjang perjalanan Shilla menangis pikirannya sangat kalut sekarang.
"Udah Shill kamu tenang ya ayah kamu pasti baik-baik aja" Sesekali Icha menenangkan sahabatnya.
Mobil melaju diatas kecepatan rata-rata tidak sampai 4 jam keduanya sudah tiba dirumah Shilla.
Shilla turun tanpa menunggu Icha, Ia langsung berlari menuju kamar ayahnya dengan panik.
"Ayah.." Teriak Shilla
Kamarnya kosong ternyata Ayahnya sudah dibawa ke rumah sakit.
Ia bergegas menemui Icha dan meminta untuk mengantarkannya ke rumah sakit terdekat.
Tanpa banyak bertanya Icha kembali ke mobil dan melajukan mobilnya menuju arah rumah sakit.
Jalanan sedikit padat dengan tidak sabaran Shilla menekan klakson berkali-kali.
"Tenang Shill" Ucap Icha lembut.
"Aku gak bisa tenang chaa, aku khawatir sama ayah" Lirihnya.
"Duhh kenapa sih macet gini" Kesalnya.
"Iya pada pulang liburan kek nya" Timpal Icha sambil fokus menyetir.
Beberapa saat kemudian jalanan mulai sedikit lenggang.
Icha langsung tancap gass sampai akhirnya sampai disebuah rumah sakit.
Keduanya turun setelah memarkir mobil.
Mereka berlari ke meja informasi untuk menanyakan ruangan ayah Shilla.
"Terimakasih sus" Ucap Icha setelah suster memberi informasi ruang rawat ayah Shilla.
Keduanya berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
"Ya Tuhan semoga ayah gak kenapa napa" Gumam Shilla sambil terus berjalan.
Icha juga sama khawatirnya dengan Shilla.
Meskipun bukan keluarganya tapi melihat sahabatnya sepanik ini hatinya juga merasa gelisah.
Biar bagaimanapun kesedihan Shilla adalah kesedihannya juga.
"Ini ruangannya" ucap Icha memanggil Shilla yang berjalan terus melewati ruangan tersebut.
"Ayah" Lirihnya.
Sementara Ayahnya hanya terbaring lemah dibelangkar rumah sakit.
Hatinya begitu sakit melihat sang ayah tak berdaya.
Air mata terus menetes tanpa henti sejak pergi.
Icha hanya terdiam menyaksikan hal itu tanpa berniat ingin mengganggu Shilla saat ini.
"Kasihan Shilla" gumamnya dalam hati.
Ayahnya mengerjap, matanya terbuka sedikit demi sedikit.
"S-shi-Shilla" Ucap ayahnya terbata.
"Ia yah ini Shilla, ayah cepet sembuh yah"
Shilla memeluk sang ayah.
ceklek
Seorang dokter membuka pintu ruangan.
"Selamat malam, saya mau periksa dulu pasien silahkan tunggu diluar dulu ya" Ucap dokter itu.
"Baik dok" Ucap Shilla sembari melangkah keluar dari ruangan.
"Shilla ibu kamu kok gak ada ya?" Tanya Icha heran setelah keluar dari ruangan.
"Iya nih aku juga gak tahu bisa-bisanya ibu ninggalin ayah sendirian disini" Jawabnya.
Shilla mengeluarkan ponsel untuk menghubungi ibunya.
Tetapi nomornya tidak bisa dihubungi.
Shilla semakin bingung dirumah pun tadi tidak ada.
Apa mungkin selisih jalan ketika mereka hendak kesini dan justru ibunya pulang ke rumah pikirnya.
"Mungkin ibu kamu lagi ke rumah untuk mengambil pakaian ganti ya" Ucap Icha.
"Ohh iya mungkin juga sih" Jawab Shilla yang sedang memikirkan hal yang sama.
"Yaudah kita tunggu aja disini" Timpal Icha.
Setelah beberapa saat akhirnya dokter keluar dari ruangan itu.
"Gimana keadaan ayah dok?" Tanya Shilla cemas.
"Sekarang sudah tidak apa-apa hanya saja kondisinya masih sedikit lemah karena trombosit nya sempat turun" Jelas dokter tersebut
"Ohh syukurlah" Ucap Shilla dan Icha bersamaan.
"Kira-kira kapan ayah saya holeh pulang?" Tanya Shilla lagi.
"Jika kondisinya stabil besok pagi sudah boleh pulang. Oh ya satu lagi tolong dijaga agar tidak setres ya " Ucap dokter.
"Baik dok terimakasih"
"Sama-sama kalau begitu saya permisi dulu masih ada pasien yang harus daya periksa" Pamitnya ramah.
Setelah dokter itu pergi Shilla kembali masuk dan menemani sang ayah disampingnya.
Sementara Icha, dia menunggu disofa yang berada dipojok ruangan.
Sudah hampir pagi tapi ibunya tak kunjung datang.
Entah kemana perginya, beberapa kali Shilla mencoba menghubungi nomor teleponnya tapi tetap tak bisa terhubung.
Semalaman kedua sahabat itu terjaga sampai pagi diruangan ayah Shilla.
Shilla dan Icha juga sudah menelpon ke kantornya untuk meminta izin cuti dan kantornya mengijinkan.
ceklekk
Perlahan pintu ruangan terbuka.
"Ibuu?" Shilla menyadari kedatangan sang ibu.
"Kamu disini?" Ucap ibunya ketus.
"Ibu dari mana aja sih bu? ibu kok tega tinggalin ayah dirumah sakit sendirian" Omel Shilla kesal.
"Ibu banyak urusan, lagi pula ayah kamu gak sendirian ibu sudah titip ke suster sama dokter buat jagain ayah kamu" Elaknya.
"Uhuk..uhuk.." Suara ayah Shilla terbatuk-batuk.
"Astaga ayah, ayah kenapa yah?" Ucap Shilla Panik tapi ayahnya tak menjawab dan masih terus terbatuk.
Shilla semakin cemas, ia menekan bell dan juga berteriak memanggil dokter.
Bersambung....