Menghabiskan Waktu Dirumah

1076 Words
*Author POV* "Shilla aku pamit dulu, Kamu gak ada niatan buat anter aku ke depan?" Ucap Laki-laki itu. "Pulang ya pulang aja sih ngapain aku nganter kamu emangnya kamu siapa?" Jawab Shilla Cuek. "Shilla kamu ko ketus begitu sama nak Elang, dia itu anak yang baik, ayo antarkan dia kedepan" Omel ibunya yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka berdua. "Ck iya bu maaf" Ucap Shilla singkat. Ia tak ingin berdebat dengan ibunya. Meski dalam hati rasanya ingin sekali Shilla memaki laki-laki menyebalkan dihadapannya itu. "Bisa-bisanya dia bersikap so akrab denganku" gumam Shilla. Ibunya juga terlihat sangat sayang dengan Elang. Sedari tadi Dia selalu menyanjung Elang dan malah terus mengomeli Shilla. Benar-benar membosankan. Dengan berat hati akhirnya Shilla mengantarkan laki-laki itu sampai ke depan gerbang. "Itu muka kenapa ditekuk terus gak enak banget liatnya" Ucapnya sambil menyikut lengan Shilla. "Muka muka aku, siapa juga yang nyuruh kamu lihat mukaku" Jawab Shilla ketus. "Ish dasar cewek judes" Dia kemudian masuk kedalam mobil dan mulai menghidupkan mesin. Beberapa saat kemudian mobil itu sudah menjauh dari pekarangan rumah Shilla dan tak lagi terlihat. Shilla kembali masuk ke dalam dan menemui ibunya. "Sudah pulang?" Tanya Ibunya. Shilla mengangguk tanpa berkata apapun. "Ibu gak suka ya kamu bersikap seperti itu terhadap Elang, kalau dia sampai tersinggung dan tidak mau datang lagi kemari bagaimana?" Bentak ibunya. "Kenapa sih bu memangnya dia sepenting apa? Lagipula dia bukan siapa siapa kan" Jawab Shilla sedikit kesal. "Ibu sudah menganggap dia seperti anak kandung ibu sendiri, dia itu anak yang baik dari semenjak bayi dia tidak pernah merepotkan ibu, tidak seperti kamu yang rewel, manja terus sering sakit" Ucapan Ibunya benar-benar membuat hati Shilla teriris. Tak terasa air matanya mulai mengalir dipipi. Shilla berlari kekamar dan menangis sendirian disana. "Kenapa sih ibu gak pernah sayang sama aku hik..hik" Lirihnya. "Apa salahku? kenapa ibu justru malah lebih menyayangi anak orang lain dibandingkan anaknya sendiri" Shilla terus menangis hingga matanya sembab sayup-sayup terdengar suara ayah dan ibunya yang bertengkar diruang tamu. Shilla mengusap sisa air matanya dan berjalan keluar untuk melerai pertengkaran kedua orang tuanya. "Ibu ini kenapa sih selalu saja bersikap kasar kepada Shilla?" Bentak Ayah Shilla. "Cukup yah gak usah belain dia terus, dia itu gak berguna dari kecil selalu menyusahkan kita" Sarkas ibunya. "Bu biar bagaimanapun Shilla itu anak kita, ibu tidak boleh seperti itu" Ucap ayah Shilla mulai menurunkan Nada suaranya. "Ayah tidak perlu ikut campur ibu lebih tau bagaimana cara memperlakukan anak" Ibu Shilla tetap keras kepala dan merasa dirinya paling benar. Niat Shilla yang pulang untuk istirahat dan berlibur, berharap mendapatkan ketenangan dirumah orang tuanya justru malah sebaliknya. Shilla benar-benar tidak kuat lagi kepalanya mulai berkunang-kunang. Semakin lama pandangannya semakin kabur dan gelap hingga ia terjatuh dan tak sadarkan diri. *** "Shilla bangun nak, ini ayah buka matamu" Ayah Shilla menepuk nepuk pipi anak gadisnya pelan. Suaranya terdengar sangat panik. Shilla mengerjap dan matanya perlahan terbuka. "Ayah" Lirihnya. "Kamu tidak apa kan? apa yang kamu rasakan?" Tanya ayah Shilla khawatir. "Shilla gak apa apa yah, ibu mana?" Tanya Shilla. "Ibumu ada dikamar sudah kamu istirahat saja" Ucap ayahnya dengan raut yang masih terlihat kesal. "Ayah tidak perlu bertengkar dengan ibu, Shilla tidak ingin kalian ribut gara gara Shilla" Ucap Shilla berusaha menenangkan sang ayah. "Ayah minta maaf, kamu tidak perlu mendengarkan semua perkataan ibu jangan dimasukan ke dalam hati ya nak" Ayah Shilla tau bahwa saat ini putrinya sangat sedih dengan perlakuan ibunya terlebih saat mendengar ucapan ibunya yang begitu menyakitkan. Shilla berusaha tersenyum tegar, Ia tidak ingin membuat ayahnya khawatir. "Biar saja ibu memperlakukan aku seperti itu setidaknya masih ada ayah yang selalu perduli dan sangat menyayangi aku" Ucap Shilla pelan Keesokan harinya Shilla sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta. Meski ayahnya melarang Shilla untuk pergi karena khawatir dengan kondisinya tapi Shilla tetap pergi. Biar bagaimanapun Ia harus kembali bekerja besok dan mungkin akan lebih baik jika beristirahat dirumah Icha dibandingkan dirumahnya. Ia tidak sanggup jika harus mendengar makian ibunya lagi. "Aku pamit bu,yah" "Hati-hati dijalan nak " Ucap ayah Shilla Sedangkan ibunya hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun saat Shilla pergi. Shilla juga tidak berharap banyak pada ibunya. Meski Sebenarnya Shilla sangat ingin memeluk sang ibu sebelum pergi tapi melihat sikap ibunya yang acuh Ia mengurungkan niat itu. Setelah kurang lebih 4 jam perjalanan Shilla sampai dirumah Icha. "Haii Shill kok tumben udah balik?" Tanya Icha yang merasa heran melihat sahabatnya kembali begitu cepat. Biasanya Shilla akan menghabiskan hari libur disana seharian dan baru akan kembali malam harinya. Tapi kali ini mood liburan Shilla sudah hancur gara-gara kejadian kemaren. "Ada masalah ya?" Icha menatap sahabatnya dengan tatapan menyelidik. "Hemm biasa" Jawab Shilla. Icha hanya mengangguk dan enggan bertanya lagi. Ia sudah sangat tau hubungan Shilla dengan ibunya karena Shilla selalu cerita pada Icha. "istirahat gih! kamu pucat" Ucap Icha menyadari kondisi Shilla yang sedang lemah. "iya aku ke kamar dulu" Shilla melangkah menuju kamar dan merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Tak lama kemudian Icha menyusul masuk ke kamar. "Ihh sebel banget deh sama Theo, masa seharian ini dia gak ngabarin, pasti dia lagi sama cewek itu deh" Cerocosnya tiba-tiba. "Hah cewek? maksud kamu dia selingkuh?" Tanya Shilla penasaran. "Entahlah sepertinya begitu" Icha menghela nafas kasar wajahnya terlihat sangat kesal. "Kamu sabar ya, jangan dulu ambil kesimpulan seperti itu siapa tahu itu sodaranya atau temennya mungkin" Shilla berusaha menenangkan Icha dan menyuruhnya untuk berpikir positif. "Eh ini dia ngabarin aku" teriak Icha riang saat mendapat telepon dari kekasihnya. "Hallo yang kamu kemana aja sih? sama cewek itu lagi ya?" Cerocos Icha dengan nada manja. "______" "Awas ya kamu macem-macem sama dia" "____" "Yaudah bye" Ichaa menutup teleponnya dengan raut wajah kesal. "Kenapa lagi kok cemberut?" tanya Shilla. "So sibuk banget dia tuh pedahal ini kan weekend, masa dia gak ada waktu sama sekali buat bareng aku" Icha kembali mengomel dan wajahnya terlihat muram. "Uuuh kacian bestie aku dicuekin terus sama cowoknya" Goda Shilla iseng. "Dihh malah ngeledekin" Ucap Icha ketus. "Sorry becanda" Shilla merangkul sahabatnya dan berusaha menghibur Icha. Setelah suasana hatinya membaik keduanya memasak didapur dan membuat cemilan untuk mengisi kebosanan. Selesai membuat beberapa toples cemilan mereka memutuskan untuk menonton film. Kebetulan Shilla dan Icha sangat suka menonton drama korea. Setiap bosan mereka biasa menghabiskan waktu seperti itu dirumah. Sesekali mereka juga bisa menghabiskan waktu disalon atau mall, tapi memang lebih sering dirumah karena malas bermacet-macetan dijalan ibukota yang selalu padat. "Oh iya gimana keadaan dirumah kamu Shill?" Pertanyaan Icha mengagetkan Shilla. Jujur saja Shilla sedikit malas membahas tentang kekacauan kemaren.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD