Felix menyadari jika 'cakar' Mussolini cukup tajam mencengkeram di Amalfi. Keluarga Mussolini bahkan lebih dihormati dari pemimpin Amalfi yang sebenarnya, dimana Mussolini hanyalah seorang wakil pemimpin.
Keluarga Mussolini sudah dianggap kaya raya sejak turun temurun, memiliki bisnis infotainment dan surat kabar terbesar yang bisa mengendalikan pemberitaan di Amalfi juga daerah sekitarnya.
Tidak ada yang menduga jika Mussolini melakukan cara licik untuk memeras perusahaan-perusahaan kecil yang memiliki progres bagus agar ia dan keluarganya tetap menjadi manusia terkaya di Amalfi Coast. Karena itu pula, nama Mussolini hanya ada sebagai penanggung jawab di belakang layar untuk berbagai jenis serta sektor perusahaan-perusahaan yang tentu saja ia meraup keuntungan besar dari tindakannya tersebut.
"Bagaimana dengan restoran The Grill?"
Felix mendapatkan laporan dari anak buahnya jika restoran milik Veronica sedang kewalahan mencocokkan harga jual untuk semua menu karena bahan baku makanan mendadak naik secara serentak.
"Sesuai laporan tadi pagi, semua perusahaan suplier bahan makanan hingga minuman memberikan harga normal seperti penjualan pada umumnya untuk The Grill."
Felix menganggukkan kepala, menghidupkan kran air shower, "Cari tau keberadaan Mussolini dan buat janji temu aku dengannya."
--
Veronica mendesah lirih setelah pembicaraan panjang melalui telpon dengan beberapa pemilik perusahaan suplier.
"Hubungan kerjasama kita sudah berjalan lancar selama beberapa tahun ini, apakah tidak ada pertimbangan keringanan harga bahan baku untuk kami?" bujuk Veronica melalui panggilan telpon pada salah satu pemilik peternakan yang rutin mengantarkan daging segarnya sekali dalam dua hari ke The Grill.
"Maafkan kami, Nona Reager. Kami juga mengalami kelonjakan bahan pangan untuk ternak, sedangkan permintaan ada banyak yang harus dipenuhi."
"Baiklah, aku mengerti." Veronica menahan desahan napasnya sebelum sambungan telpon dengan pemilik peternakan terputus.
"Kakak, apakah ini permainan seseorang?" celetuk Selena begitu ia masuk ke dalam ruangan kerja Veronica membawa salinan invoice minuman yang harus mereka bayar lebih mahal dari biasanya.
"Entahlah. Rasanya memang aneh, karena semua harga serentak naik dalam tiga hari ini. Apakah kita harus menutup The Grill untuk sementara?"
Selena bergerak ke belakang punggung Veronica setelah ia meletakkan tumpukan invoice ke atas meja, depan saudarinya itu.
Selena memijat pelan pundak dan belakang leher Veronica, "Cidera pada perutmu masih belum sembuh betul, jangan memaksakan diri memikirkan banyak hal. Aku setuju dengan kita harus menutup The Grill sementara waktu. Tapi kita keluarkan dulu stok yang ada untuk para pelanggan. Besok atau lusa, kita pergi liburan, gimana?"
Veronica mendongakkan wajah, menoleh pada Selena yang selalu mendukung apapun keputusannya tanpa pernah satu kalipun membantah.
"Apakah pria yang malam itu ingin menawarkan kerjasama, belum datang lagi?"
Selena mendesahkan napas berat keluar dari lubang hidungnya, "Ini kesalahanku yang sangat ceroboh. Seharusnya aku meminta kartu namanya malam itu."
Veronica menepuk punggung tangan Selena, "Bukan salahmu. Sudahlah, mari kita berikan layanan sempurna untuk hari ini." ajak Veronica seraya bangkit dari duduknya, "Tolong periksa stok minuman dan bagian depan sebelum kita memutuskan libur."
Selena langsung mengangguk cepat, menggamit lengan Veronica yang akan selalu menyukai kemanjaan adik perempuannya itu padanya.
--
Arkada menyeringaikan senyuman kejam begitu ia mendapatkan laporan dari anak buahnya jika para pemilik perusahaan suplier berhasil menekan Veronica dan memberikan harga normal tanpa diskon pada wanita yang telah membuatnya merasa dipermalukan tersebut.
"Kita lihat, Veronica! Apakah kau masih bisa menolak bantuanku atau justru pada akhirnya akan mengemis meminta pertolonganku untuk menyelamatkan bisnismu!" monolog Arkada sambil berdiri di depan jendela besar ruangan kamar hotel yang beberapa saat lalu ia baru saja menuntaskan hasrat primitifnya pada tubuh seorang wanita.
Arkada tidak pernah tahu jika tindakan yang ia anggap briliant tersebut justru menjadi bumerang bagi Papanya, Alfred Mussolini.
"Ada yang mau bertemu dengan Tuan," Sekretaris Alfred Mussolini memberitahu melalui interkom ke dalam ruangan bossnya.
"Kau tangani sendiri, aku tidak punya waktu untuk melayani tamu saat ini!" tolak Alfred Mussolini pada sekretarisnya.
"Ma-maaf, Tuan.Tamu ini memaksa bertemu dengan Anda secara langsung."
Felix meraih gagang telpon, tepat ketika Mussolini hendak berbicara, ia sudah mendahuluinya, "Halo, Mister Mussolini ...Saya Salvatore ..."
Terdengar derap langkah kaki bergegas membukakan pintu ruangan dari dalam, "Oh, Mister Salvatore. Mari, mari silakan masuk." Alfred Mussolini membukakan pintu lebar-lebar, membungkukkan tubuh bagian atasnya penuh hormat untuk menyambut Felix secara langsung.
"Kenapa kau tidak menyebutkan jika Mister Salvatore yang ingin bertemu?" Mussolini menggerutu melirik tajam pada sekretarisnya yang berdiri kikuk dengan kepala tertunduk.
"Cepat buatkan minuman dan hantarkan camilan baru ke dalam ruangan!" Mussolini memberikan perintah tegas pada sang sekretaris yang bergegas bergerak mematuhi.
Mussolini menoleh dan berulang kali mengucapkan kata maaf pada Felix juga Hvitserk yang mengangguk pelan, berjalan mengiringi Felix dan Alfred Mussolini memasuki ruangan kerja pria tua bertubuh besar dengan perut sedikit maju tersebut.
"Kami tidak akan lama, Mister Mussolini. Hanya ada hal kecil yang perlu dibicarakan secara langsung sekitar sepuluh menit." Felix berkata dengan suara baritonnya yang terdengar sangat berat, melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya sambil mendudukkan diri pada sofa depan Alfred Mussolini.
"Apa hal yang begitu mendesak sehingga Mister Salvatore sampai merepotkan diri untuk bertemu dengan pria tua ini kemari?"
Felix berdehem sejenak, menerima dokumen yang sudah dikeluarkan oleh Hvitserk dari dalam tas kerja yang pria itu bawa.
"Saya ingin membuka bisnis kecil-kecilan di sini ..." Felix menghentikan perkataannya, menyodorkan dokumen yang sudah ia bukakan, letakkan di atas meja depan Alfred Mussolini.
"Ini-- ?" Alfred Mussolini tergagap begitu ia melihat tawaran kerjasama yang sangat fantastis untuk beberapa perusahaan kecil suplier makanan dan minuman.
"Anda menginginkan bisnis ini, Mister? Bukankah terlalu besar jika semuanya ..."
Alfred Mussolini adalah pebisnis yang berpolitik. Tentu saja ia tidak ingin kehilangan sumber daya pemasukannya dengan percuma jika tak bisa mengeruk kekayaan Salvatore yang tersohor ke pelosok negeri sebagai keluarga mafia kaya raya juga disegani bahkan oleh dunia.
"Sebenarnya adik lelaki saya, sudah merintis bisnis restoran di Hawaii. Menurut saya, Amalfi juga lokasi strategis untuk bisnis restoran. Tapi saya lebih menyukai menjadi suplier daripada membuka bisnis restoran yang risikonya terlalu besar juga menyita waktu lebih banyak dalam keseharian."
"Sebenarnya saya tidak bisa memutuskan ini, Mister." Alfred Mussolini menegakkan punggungnya, menatap lekat-lekat ke dalam netra coklat keemasan milik Felix.
"Jika Mister Salvatore memang berminat, saya bisa membuat mereka para pebisnis perusahaan suplier ini menyerahkan bisnis pada Mister." tutur Alfred Mussolini menghentikan perkataannya sejenak, memindai Felix yang bergeming, pun juga Hvitserk tetap memasang wajah datarnya tanpa ekspresi.
"Bagaimana jika kita join? Keuntungan bisa didapatkan 50:50. Saya akan berusaha membantu pengelolaan serta mendapatkan harga murah dari para petani sayuran, perkebunan juga perternakan untuk dijual lebih menguntungkan."