Felix kembali sibuk dengan pekerjaannya, duduk di balkon hotel tempat ia dan Susie menginap. Hvitserk sudah berhasil berbicara langsung dengan pimilik rumah mewah pada tepi pantai Amalfi dan tentu saja tidak ada orang yang berani menolak uang besar dari keluarga Salvatore.
Sebagai Ibu, dimana Susie akan selalu memilih perabotan, gorden serta seprai juga t***k bengek lainnya, sudah sangat antusias akan pergi bersama John beserta anak buah Hvitserk untuk berbelanja keperluan rumah baru yang telah menjadi milik Felix tersebut.
Felix pun terlihat tersenyum cerah melihat antusias Susie yang sudah heboh bersiap-siap inigin pergi berbelanja sejak pagi.
Sebenarnya mudah bagi Felix untuk meminta orang mendatangkan perabotan serta hal lainnya ke rumah baru mereka. Tapi ia tak akan melihat wajah antusias Susie yang bisa membuatnya geleng-geleng kepala tersenyum.
"Ingat, jangan keluyuran kemana-mana! Perutmu bisa benar-benar infeksi jika kau banyak bergerak ..." Susie menyeduh sendiri kopi hitam untuk ia bawa dan letakkan pada atas meja depan Felix yang langsung menghentikan ketikan jemarinya di atas keyboard laptop.
"Paham, Ambu." Felix menjawab dengan kelopak mata menyipit dan tersenyum hangat untuk ibu angkatnya tersebut.
"Ambu tidak ingin mengancammu, tapi jika lukamu berdarah dan terbuka lagi ...Ambu tidak akan menunda untuk memanggil Zetha atau Simon kemari!" tegas Susie menatap tajam pada Felix yang baru saja mendaratkan kecupan ke sebelah pipinya.
"Ambu terlihat cantik dengan emosi marah seperti ini. Pergilah cepat dan segera kembali. Nanti malam kita makan di luar," seloroh Felix yang juga tanpa sungkan menoel puncak hidung Susie yang tak terlalu mancung.
"Jika ada pria yang Ambu sukai bertemu di luar, katakan padaku--"
Susie langsung terkekeh rendah, menunjuk kening Felix dengan ujung telunjuknya agar putranya itu duduk kembali ke kursi, "Apakah kau ingin request warna lain kali ini selain putih?" Susie mengalihkan topik pembicaraan dengan menanyakan mengenai perabotan serta desain rumah mewah yang Felix selalu menyukai warna putih polos.
"Tidak. Warna putih saja. Terima kasih, Ambu."
Susie kembali menegaskan agar Felix mendengarkan perkataannya untuk tidak pergi berkegiatan di luar ruangan. Untuk itu Hvitserk yang akan melaporkan kegiatan Felix pada Susie, tinggal di hotel bersama pria itu.
Selepas Susie pergi, Felix kembali berkutat menganalisa latar belakang perusahaan suplier yang mengirimkan stok bahan makanan ke restoran milik Veronica, info yang ia dapat dari anak buahnya yang bekerja sebagai karyawan magang di sana.
"Hmm ...ini menarik! Semuanya terkait dengan Mussolini." gumam Felix setelah ia menelusuri latar belakang perusahaan-perusahaan serta perternakan yang mengirimkan daging segar mereka ke restoran The Grill.
"Billy menanyakan tentang tawaran kerja sama dari Edward Suter ..." Hvitserk datang menghampiri Felix di balkon sembari membawa berkas pekerjaan di tangannya untuk ia berikan pada bos tampannya itu.
"Katakan pada Billy, terima saja." sahut Felix sembari menyesap kopi hitam buatan Susie di depannya, lalu menerima berkas dari Hvitserk untuk ia periksa satu persatu.
"Aku belum mendapatkan latar belakang Edward Suter ini, bagaimana bisa dia tiba-tiba muncul ke permukaan yang kemudian menawarkan kerjasama pertambangan dengan kita di Somalia." Hvitserk sedikit keberatan akan keputusan Felix yang seperti mengabaikan segalanya demi keinginan balas dendamnya pada Veronica.
"Anggap saja dia menang lotre dan ingin berinvestasi melakukan kerjasama dengan kita. Jangan terlalu berpikiran negatif, Hvits! Semuanya akan baik-baik saja selama kalian setia dan loyal padaku!"
Felix menatap lurus pada Hvitserk yang menggedikkan bahunya tertawa akan perkataan Felix. Tentu saja dirinya, John dan Billy akan selalu loyal pada Felix. Pun juga puluhan anak buah yang bersumpah setia pada putra keluarga Salvatore itu.
"Aku ingin kau menawarkan uang besar ke perusahaan-perusahaan ini, buat mereka menyerahkan bisnis padaku." Felix memutar layar monitor laptopnya ke depan Hvitserk yang kedua matanya langsung membola begitu melihatnya.
"Kau yakin? Ini bisa membuatmu berurusan dengan Mussolini!"
Sejak kematian Marcella dan Joko, keluarga besar mafia Salvatore terlihat seperti menarik diri dari publik. Masing-masing anak keturunan Salvatore, fokus membesarkan serta memperkuat jaringan bisnis keluarga besar mereka tanpa terlibat konflik perselisihan dengan kelompok ataupun pemerintahan.
Terkecuali Zetha, Felix, Luca dan Lucy yang mereka semuanya adalah keturunan dari Marcella, memilih jalan bisnis mereka sendiri diluar 'payung' nama besar Salvatore.
Felix membuat nama bisnisnya dengan sebutan Felicita yang berarti kebahagiaan, Felicita Corp.
Sedikit bertolak belakang dengan artinya yang merupakan kebahagiaan, kenyataannya Felix membesarkan bisnisnya menggunakan berbagai macam cara termasuk memanipulasi serta pengancam orang lain yang tentu saja akan ciut nyali jika mereka mengetahui pemilik Felicita Corp adalah salah satu putra keluarga Salvatore.
Meskipun semakin tertutup, nama besar keluarga mafia Salvatore masih sangat disegani oleh orang-orang di benua Afrika, Eropa hingga Rusia.
Biasanya Felix akan menolak bekerjasama dengan pemerintahan, apalagi mengusik para pejabat nakalnya yang beberapa kali bentrok, Felix akan merelakan bisnisnya untuk mereka.
Tapi kali ini, sepertinya Hvitserk bahkan tidak bisa memberikan nasehat untuk Felix yang sudah bertekad 'merampas' bisnis suplier bahan makanan dan minuman milik Mussolini yang dirahasian pria tua itu.
"Apakah kau takut pada Mussolini?" tanya Felix terkekeh, mengerling Hvitserk yang mendudukkan diri di depannya.
"Apakah menurutmu, aku terlihat takut padanya?" Hvitserk balas bertanya, turut tertawa kecil sembari meraih camilan di atas piring untuk ia makan.
"Bagus kalau begitu. Dalam pekan ini, pastikan semua perusahaan suplier itu sudah berada di bawah Felicita Corp." tanggap Felix santai setelah membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen yang sebelumnya diberikan oleh Hvitserk, kemudian menyingkirkannya ke samping.
"Kau sudah mendapatkan kemana putra Mussolini itu pergi?"
"Dia ke rumah sakit besar di pusat kota. Sepertinya belum kembali ke kediaman Mussolini."
"Awasi dia!"
Hvitserk menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi duduk, saling beradu tatapan dengan Felix dan memberikan anggukan pada perkataan bos sekaligus sahabatnya itu.
Hvitserk sangat tahu jika Felix tidak akan pernah melepaskan orang yang sudah memicu emosinya. Apalagi Arkada sungguh telah melakukan kesalahan besar, karena mengganggu Veronica yang dijadikan target oleh Felix.
--
Tiga hari sudah berlalu, Felix dan Susie telah pindah ke rumah baru mereka yang terlihat jauh lebih mewah sesudah renovasi di beberapa bagian juga semakin tertutup dari sekelilingnya.
Halaman belakang rumah langsung mengarah ke lautan mediterania dengan tiang payung-payung raksasa yang bisa menutup atau membuka menggunakan sensor jika diaktifkan.
Mereka juga memiliki kolam renang besar yang memiliki seluncuran langsung ke pantai landai, kesukaan para anak keturunan Salvatore yang menyukai tantangan adrenalin.
Felix sedang naik menggunakan tangga berjalan dari pantai setelah ia menjajal seluncuran dari tepi kolam renangnya, celana pendeknya menetes-netes air laut ketika Hvitserk datang mencari.
"Mereka menolak tawaran kerjasama dari kita." lapor Hvitserk tanpa basa-basi mengambil handuk di atas sandaran kursi santai tepi kolam, untuk ia lemparkan pada Felix.
"Begitukah?" Felix menerima lemparan handuk yang segera ia lilitkan sambil berjalan menuju ruangan bilas.
"Aku sudah menawarkan sejumlah uang serta paket liburan pada mereka, tetapi tetap ditolak." jelas Hvitserk mengikuti Felix menuju ruangan bilas.
"Sepertinya karena Mussolini di belakang mereka ..." lanjutnya yang segera dipotong oleh Felix.
"Bagaimana dengan The Grill?"