Sekejam dan semanipulatif apapun Felix di luar rumah, ia akan selalu lembut juga terlihat sangat patuh jika berhadapan dengan Susie.
"Ambu belum tidur?" Felix berbalik menghampiri Susie yang menatap lurus ke luka pada perutnya.
"Lukamu berdarah lagi. Atau apakah adakah luka baru?" Susie menarik pelan pundak Felix untuk ia bawa duduk pada salah satu kursi.
"Bisnis apa yang sebenarnya kau lakukan di sini, sampai kau tidak mempedulikan cidera tubuhmu sendiri?" Susie bertanya sambil mengambil kotak obat dari dalam ruangan kamar tidur Felix.
"Apa kau ingin aku memanggil Zetha kemari untuk menasehatimu?" tanya Susie sudah kembali dari mengambil kotak obat, menatap lekat ke dalam netra Felix yang membalasnya dengan senyuman lembut.
"Aku tidak apa-apa, Ambu. Hanya luka kecil, tidak membahayakan nyawa ..."
"Ku dengar dari Hvitserk, kau mengincar bisnis restoran di sini. Restoran apa?" Susie memotong perkataan Felix untuk bertanya to the point ke putranya itu yang pastinya tidak ingin memberitahunya.
Felix menarik napas panjang sejenak yang ia hembuskan ke samping, mempasrahkan pakaiannya dibuka oleh Susie guna mengobati cidera tusukan pisau pada perutnya untuk di bebat ulang.
"Sebenarnya aku ingin membuka bisnis suplier bahan makanan untuk restoran di sini. Ku perhatikan, bisnis ini sangat berkembang dan memiliki progres bagus di masa depan." tutur Felix seraya menatap lurus ke wajah Susie yang fokus menaburkan obat bubuk ke atas luka perutnya.
"Kita juga tidak terlalu jauh dari Palermo dan jika yang lainnya ingin berkumpul di sini, kita akan memiliki tempat tinggal.
Bagaimana dengan rumah yang Ambu lihat bersama Hvits tadi siang? Apakah cocok?" Felix berusaha mengalihkan pembicaraan dan tetap menyembunyikan tujuan serta niatnya ingin membalas dendam pada Veronica.
"Ambu tidak suka kau berbohong, Fells." desah Susie lirih sembari membebat perut Felix lebih kuat dan kencang dari sebelumnya.
"Sama seperti saudara dan saudarimu yang lain, Ambu ingin kau fokus mencari pasangan. Usiamu tak lagi muda dan pekerjaan tidak akan ada habisnya. Lagipula, kau tak akan jatuh miskin meskipun setahunan penuh tidak bekerja!"
"Aku masih ingin menghabiskan waktu bersama Ambu. Atau Ambu yang ingin menikah? Katakan prianya padaku, akan ku datangi ..."
Susie refleks menjentik kening Felix yang selalu pandai mengalihkan topik pembicaraan, "Ambu buatkan s**u hangat. Segeralah tidur dan jangan keluar lagi!"
Susie beranjak dari depan Felix, mengambil sekotak s**u dari lemari pendingin untuk ia hangatkan. Tak lama kemudian, segelas s**u hangat telah tersedia pada atas meja di depan Felix.
"Terima kasih, Ambu." Felix memajukan wajahnya untuk memberikan kecupan ke pipi Susie yang mengerjapkan kelopak mata memandangnya sekilas sebelum beranjak masuk kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Felix sangat tahu jika dalam hati Susie selalu menyimpan kesedihan atas kematian tragis Joko--suaminya dan Marcella, Mommynya yang sudah dianggap kakak perempuan oleh Susie.
Kesedihan yang sama juga disimpan rapat oleh Felix. Kesedihan yang tumbuh menjadi dendam pada Veronica karena menganggap wanita itu sebagai orang memiliki andil besar atas Marcella dan Joko tewas terbunuh.
--
"Kakak ...!" Selena langsung berseru memanggil dan menghampiri brangkar tempat Veronica terbaring.
Beruntung di klinik tersebut hanya Veronica, pasien yang sedang dirawat, sehingga tidak ada orang lain yang akan terganggu karena suara Selena.
"Dimana yang luka? Bagian mana yang sakit?" Selena menyibak selimut yang menutupi tubuh Veronica dengan hati-hati untuk memeriksa keadaan saudarinya itu.
"Hanya luka kecil--" Veronica menunjuk pinggangnya yang langsung membuat kedua bola mata indah Selena melotot menoleh.
"Luka kecil katamu? Jika luka kecil tak akan perlu diperban seperti ini!" potong Selena cepat dengan nada sengit.
Keanu yang berada di belakang Selena, menggosok ujung hidungnya sendiri ketika melihat istrinya kuatir berlebihan karena Veronica terluka. Ini belum seberapa dari karakter Selena yang sebenarnya.
Selena bisa kehilangan akal sehat dan wajah manisnya akan berubah sangat kejam, seandainya ia melihat Veronica atau Keanu dicelakai.
"Katakan, siapa yang melakukan ini padamu, kak?" Selena menatap lurus ke dalam mata Veronica yang menyunggingkan senyuman tipis, membelai pipi Selena agar adiknya itu tenang.
Selena menepis telapak tangan Veronica dari pipinya untuk ia genggam, "Apakah para pemuda mabuk tempo hari yang melakukan ini padamu? Mereka juga yang merusak motor sportmu sehingga kau terpaksa pulang naik taksi malam ini?"
"Mereka benar-benar telah merencanakan untuk mencelakaimu! Akan kupastikan, mereka memilih lawan yang salah kali ini jika masih berani muncul di restoran!" geram Selena menyimpulkan cepat dari pertanyaannya sendiri.
Veronica bergerak bangkit untuk duduk, lalu menurunkan kedua tungkainya dari brangkar, "Mari kita pulang ke rumah." ajaknya mengalihkan topik pembicaraan, sangat tidak ingin Selena bertambah emosi jika mengetahui tebakan dan kesimpulannya sangat benar adanya.
"Oh, Keanu ...tolong bopong kakakku ke mobil! Aku akan melakukan pembayaran dan membeli obat untuk di rumah." Selena menoleh pada suaminya agar membantu membawa Veronica keluar dari klinik.
Begitu sampai di bagian pembayaran Selena dibuat terkejut oleh petugas yang menyebutkan jika biaya perawatan serta obat-obatan mahal untuk Veronica telah lunas di bayar. Staff klinik juga tenaga medis yang merawat Veronica sebelumnya memberikan berbagai jenis obat serta vitamin untuk Veronica minum, namun merahasiakan identitas orang yang telah melakukan pembayaran.
"Ini pasti permainan dari pria bodoh yang membuatmu terluka, lalu kemudian ia muncul bagaikan seorang hero untuk membantu juga melunasi biaya pengobatan." tutur Selena pada Keanu dan Veronica, setelah menceritakan jika biaya perawatan kakaknya itu telah lunas dibayar oleh seseorang begitu ia memasuki mobil.
Veronica hanya diam. Ia masih belum ingin memberitahu Selena mengenai pria yang menolongnya. Veronica juga ingin tahu kenapa pria itu selalu datang di saat yang tepat untuk menyelamatkannya.
Mungkin saja perkataan Selena benar. Dia adalah pria yang mendalangi para pemuda untuk melakukan perbuatan jahat padanya.
"Tapi, pria itu juga terluka dan perutnya tertusuk pisau hingga berdarah sebelumnya ketika berkelahi di jalanan." bathin Veronica menganalisa sambil menggoyangkan kepalanya kuat dan melirik ke arah cidera di perutnya sendiri yang posisi terlukanya sama seperti Felix.
"Apakah kepalamu pusing? Istirahatlah atau mau kita cari makanan dulu?" Selena bertanya dengan nada kuatir, dimana ia melihat Veronica menggelengkan kepalanya sesaat lalu.
"Tadi aku sudah makan di klinik. Bagaimana dengan kalian ...?" Veronica menjawab cepat, tapi kemudian dia menoleh pada Keanu yang sedang mengemudikan mobil, "Keanu, mari cari restoran cepat saji. Sepertinya aku ingin secangkir hot coklat."
Veronica tahu jika Selena dan Keanu pasti belum istirahat dari mencarinya. Sangat jelas terlihat dari wajah kusut kedua orang itu yang semakin membuat hati Veronica terasa hangat akan keluarga kecilnya.
Veronica rela melakukan apapun asal Selena bahagia. Tapi ia pun tak akan pernah menduga jika dirinya bahkan dijadikan batas titik kesabaran oleh Selena.
Ada kekuatan yang tertidur dalam diri Selena. Kekuatan yang bisa keluar secara spontan dan akan membuatnya kehilangan akal sehat jika sampai Veronica atau Keanu berada dalam bahaya.
Sebagai suami dari Selena, Keanu sudah beberapa kali melihat kekuatan mengerikan dari istrinya itu ketika Veronica diremehkan hampir dilecehkan saat hendak mendirikan restoran The Grill dan melakukan kerjasama dengan beberapa supplier.