John Dantes, anak buah Hvitserk asal Rusia memandang Arkada dengan seringai kejam, meraih pistol pada balik pinggangnya yang langsung ia arahkan ke kaki serta paha anak buah Arkada di lantai.
Dor ...dor ...dorrr!!
"Aow!!" Anak buah Arkada terkejut langsung menjerit mengaduh pilu.
"Lepaskan wanita itu, dia milik kami!" tegas John memberikan perintah seraya menggerakkan dagunya pada Arkada yang melotot murka.
Melihat Arkada bergeming menurutinya, John kembali mengangkat lengan untuk membidik pria itu dengan moncong pistolnya.
"Kami tidak suka bernegosiasi dengan bocah labil Mussolini! Kau lepaskan wanita itu sekarang atau bapak tercintamu akan menemukan mayatmu di depan pintu rumahnya esok pagi!"
"Dia milikku!" tegas Arkada sambil menarik pistol yang juga tersampir di sisi pinggangnya, memberikan tembakan yang berhasil dielakkan oleh John.
Veronica berusaha menggoyangkan bangku ia duduki untuk menghindari dua orang pria yang kini saling balas menembak dalam ruangan, seakan tidak ada dirinya sedang tersandera di atas kursi kayu.
Menyadari Veronica yang sedang berusaha kabur, Arkada menendang kaki kursi yang diduduki Veronica hingga patah dan tubuh Veronica limbung jatuh ke depan dengan posisi kursi menumpuk punggungnya.
Anak buah Arkada di lantai, menarik pisau cukur pada sisi pahanya, berniat ingin melemparkan pisau tersebut ke arah John.
Namun ...
Sekuat tenaga, Veronica berguling ke arah anak buah Arkada, mencoba menghalangi lemparan pisau dengan kursi kayu. Tetapi, pisau cukur justru melesak masuk ke sisi pinggangnya.
"Ao!"
Veronica spontan terpekik merasakan benda dingin melesak masuk ke dalam kulit dan daging perut sampingnya.
John yang diberi pesan oleh Hvitserk agar tidak membunuh Arkada, tidak bisa menahan diri lagi. Dengan lompatan tinggi, John menghantamkan lututnya ke sisi wajah Arkada yang langsung oleng terjatuh ke lantai.
John bergegas melepaskan ikatan tali pada pergelangan tangan Veronica. Tetapi ketika John berbalik untuk menghajar Arkada kembali, pria itu telah melarikan diri seolah raib begitu saja.
"Kau baik-baik aja?" John bertanya pada Veronica yang juga telah ia bantu melepaskan ikatan tali pada kakinya.
"Aku terluka, bagaimana mungkin baik-baik aja!" dengkus Veronica ketus, masih tersisa emosi amarahnya pada Arkada sebelumnya.
"Ehem ..." John berdehem sejenak, "Bertahanlah, kami akan membawamu ke rumah sakit." lanjutnya sambil memapah Veronica berdiri.
Bibir Veronica kembali meringis ketika sebelah tangannya mencabut pisau cukur yang masih menancap, keluar dari dalam tubuhnya. Tanpa di duga oleh John maupun anak buah Arkada yang perlahan beringsut menjauh di atas lantai, Veronica memegang kuat gagang pisau untuk dia tusukkan balik ke perut anak buah Arkada yang langsung memekik ngilu.
Tidak cukup sampai di situ, Veronica juga memberikan tinju keras ke arah luka tembakan di paha anak buah Arkada.
"Dasar pemabuk!" maki Veronica geram, tidak mempedulikan punggung tangannya bernoda darah anak buah Arakada yang masih ia berikan tinju berkali-kali.
"Pemuda manja mati otak!" tambah Veronica emosi.
Tiba-tiba lengan Veronica yang hendak melayangkan tinju ke sekian kalinya, di tahan oleh seseorang dari belakang punggungnya.
Detik berikutnya, pinggang Veronica diangkat dan tubuhnya dibopong dengan enteng untuk dibawa keluar dari ruangan.
"Amankan mereka semuanya!" Felix yang sedang membopong Veronica memberikan perintah pada Hvitserk juga memberikan tatapan pada John yang mengangguk patuh.
"Biarkan pria itu melarikan diri. Pindai ruangan ini dan selamatkan kamera itu yang pasti merekam kepergiannya!" lanjut Felix setelah ia melihat ada kamera dengan lampu merah menyala yang berarti sedang merekam.
Semua anak buah Arkada yang tidak sempat melarikan diri dan tertangkap berjumlah lima orang, langsung dibawa oleh Hvitserk dan John ke markas sementara mereka di Amalfi.
Arkada berhasil kabur dari lantai rahasia yang terbuka, tidak jauh dari tempat pria itu terjatuh karena dihantam lutut John sebelumnya. Sedangkan Felix membawa Veronica ke salah satu klinik terdekat.
"Sembuhkan dia dan rawat luka-lukanya!" Felix berkata pada staff klinik yang menerima pembayaran perawatan untuk Veronica.
Veronica yang cidera akibat tusukan pisau pada pinggangnya sedang dijahit oleh tenaga medis dalam ruangan berpenutup tirai kain, mendengar perkataan Felix. Namun tidak bisa menghentikan langkah pria yang terlihat dingin tetapi memiliki suara bariton sangat seksi di telinganya, pergi keluar meninggalkan klinik.
Tidak, Felix tidak meninggalkan Veronica seorang diri di klinik. Melainkan ada dua orang rekan John, anak buahnya turut berjaga bersama satpam klinik.
Veronica memberikan seulas senyuman tipis pada tenaga medis yang sudah selesai memberikan perawatan pada cidera juga mengoleskan salep ke luka memar pada pergelangan tangan serta kaki akibat dari ikatan tali berserat baja.
"Apakah ada seseorang yang ingin kau hubungi?" tenaga medis yang menjahit luka di perut Veronica bertanya karena wanita itu masih belum berkata apapun selain bibirnya yang sesekali berdesis ketika diberikan perawatan.
"Boleh ku pinjam ponselmu?" Veronica bertanya dengan nada datar, menoleh dan memandang lurus langsung ke netra sang tenaga medis. "Aku ingin menghubungi adikku. Pasti sekarang dia sangat kuatir karena aku belum pulang ke rumah."
Penunjuk waktu pada dinding telah menunjukkan pukul tiga dinihari.
Veronica sadar jika pria yang menolongnya langsung pergi tanpa berkata apapun padanya. Karena malam sudah sangat larut, mungkin pria itu harus bekerja di siang hari. Refleks, Veronica melihat ke gelang tali di pergelangan tangannya.
"Semoga kita bertemu kembali." gumam Veronica di dalam hati sambil menerima ponsel yang telah dibawakan tenaga medis untuknya.
"Bisa aku mendapatkan segelas minuman?" Veronica bertanya yang langsung dianggukkan tenaga medis dengan cepat.
"Tentu. Kami juga telah menyiapkan makanan untukmu. Segera kami bawakan kemari. Gunakanlah ponselnya untuk menghubungi keluargamu."
--
"Kakak ...!?" Selena langsung berteriak begitu ia mendengar suara Veronica memanggilnya di panggilan telpon nomor asing.
"Kau ada di mana, Kak? Aku dan Keanu akan menjemputmu ..."
"Aku tidak apa-apa. Setelah matahari terbit nanti, aku akan pulang ke rumah. Jangan kuatir, kalian istirahatlah." Veronica memotong perkataan Selena. sudut bibirnya menyunggingkan senyuman tipis mendengar suara panik adik perempuannya itu.
Veronica tidak terbiasa bergaul dan cenderung pendiam mengamati sekelilingnya. Namun kehadiran Selena yang supel, manja juga sangat perhatian padanya, telah membuat hati Veronica menghangat.
"Tidak! Aku tidak bisa tidur! Katakan Kakak berada di mana dan kenapa memakai nomor asing untuk menghubungiku?" Selena bersikeras ingin mengetahui keberadaan Veronica.
Veronica berdehem beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Selena. Ia sungguh tidak ingin membuat adik perempuannya kuatir yang sudah bisa dipastikan Selena akan histeris jika mengetahui pinggangnya terluka pisau cukur.
"Vero ..." Keanu mengambil alih ponsel Selena, memanggil Veronica yang akhirnya menggigit bibirnya sendiri, berkata jujur memberitahukan keberadaannya.
*****
Felix baru melangkahkan kakinya perlahan, membuka pintu kamar tidurnya ketika terdengar suara Susie di belakangnya.
"Fells ...?"
Felix langsung berbalik, memasang senyum meringis tetapi Susie sudah lebih dulu melihat noda darah pada posisi cidera putranya itu sebelumnya.
"Bisnis apa yang kau lakukan sebenarnya di sini? Kau bahkan tidak mengindahkan luka di perutmu. Bagaimana jika itu infeksi ...oh, aku akan memanggil Zetha--"