19. Godaan

1192 Words
Felix baru saja selesai memandikan Freyaa dengan air bersih di bilik shower samping area kolam renang, ketika ponsel pintarnya mendapatkan notifikasi, 'Mussolini datang ke The Grill'. Notifikasi yang akan segera hilang tak berbekas begitu Felix sudah membacanya. "Paman mau pergi? Apakah kencan dengan Veronica?" Freyaa dalam gendongan Felix bertanya, menatap lekat ke wajah paman tampannya yang telah menggendongnya keluar untuk dibawa naik ke lorong kamar dari area kolam renang. "Tidak. Paman ingin berkencan denganmu, mau?" Freyaa langsung memajukan bibirnya untuk memberikan ciuman ke rahang Felix yang berbulu maskulin, "Mau!" sahutnya ceria. "Ingat janjimu untuk merahasiakan ini dari semua orang, oke?" Freyaa menganggukkan kepalanya berkali-kali, menjawab,"Oke!" Felix bertemu Zetha di lorong kamar, memberikan Freyaa ke saudarinya itu yang segera membawa putrinya ke kamar untuk berpakaian, namun telinga Felix masih bisa mendengar perkataan keponakannya, "Mumma, Eyaa mau pergi berkencan dengan Paman Felix. Mumma bawa gaun Eyaa?" Entah dari mana gadis kecil mereka itu mengetahui jika wanita yang akan diajak berkencan harus memakai gaun, tapi bibir Felix menyunggingkan senyuman tipis sebelum wajahnya kembali berubah kaku begitu ia menghubungi anak buahnya yang menyamar sebagai pekerja sambilan di The Grill. "Apa yang dilakukan pria tua bangka itu di The Grill?" tanya Felix dengan nada suara sangat dingin seraya ia melangkahkan kaki menuju wall in closet untuk berpakaian. "Dia bertanya dimana Veronica menyembunyikan Arkada." "Terkutuk!" desis Felix geram dan tidak berkata lagi sebelum ia selesai memakai pakaiannya. Felix memanggil Hvitserk yang ia sambungkan ke anak buahnya di The Grill, "Cari tau keberadaan Arkada! Seret dia dan lemparkan ke depan pintu rumah Mussolini!" Jika Felix mau, ia bisa dengan mudah melenyapkan Arkada di muka bumi. Tapi Felix belum melakukannya karena tidak ingin Veronica akan terkait pada pemuda b******k itu. Veronica adalah miliknya Felix, hanya dirinya yang diijinkan untuk menyiksa, menyentuh dan membuatnya hidup menderita. Bukan orang lain! Karena alasan ini pulalah Felix selalu memberikan bantuan seolah ia melindungi saudari cantik Selena Reager tersebut. Namun, sering kali pada sisi pria besar berkuasa yang jeli serta memiliki rencana tersusun rapi, selalu saja ada sosok 'pengkhianat' membayangi. Sosok yang tentu saja tak akan mudah untuk dideteksi apalagi jika ia sangat mengenal Felix luar dan dalam. -- Luciano belum kembali dari membawa anak-anak Salvatore memancing di lautan, tetapi kediaman Felix sama sekali tidak sepi karena ada suara Freyaa yang melengking kemana-mana, tertawa geli bercanda dengan Aghna yang menggodanya karena gadis kecil itu ngotot ingin memakai gaun, terlihat aneh tapi tetap indah pada tubuh montoknya. "Oh, siapa ini yang seperti pengantin wanita dari keluarga Salvatore?" Deristi, istri dari Effren, saudara tertua Felx baru saja tiba beberapa saat lalu, menyapa Aghna dan Zetha, turut mempercandai Freyaa. "Ibu ...!" pekik Freyaa berlari kecil dimana Deristi telah berjongkok di lantai lorong untuk memeluk Freyaa. "Kenapa kalian baru datang kemari? Pestanya sudah hampir usai, Paman Gerardo dan Bibi Ariana siang ini akan balik ke Roma bersama Paman Nando." "Ya, Ibu dan Ayah minta maaf karena Ayah memiliki pekerjaan darurat di Kanada, baru longgar pagi ini." Deristi menjawab pertanyaan Freyaa seraya menatap lembut ke gadis kecil yang telah ia bawa gendong berdiri, menghampiri Aghna dan Zetha. "Bagaimana kabarmu?" tanya Zetha, mengambil Freyaa kembali dari gendongan Deristi setelah memberikan sapa untuk istrinya cantiknya Effren tersebut. "Sedikit lelah ..." kekeh Deristi yang juga ditanggapi Aghna tertawa kecil. "Dimana Ambu?" "Ambu bersama Ariana. Kaki Ambu sedikit lelah dan tubuhnya juga sepertinya cukup letih mengikuti adik ipar lajangmu kemana-mana." Aghna yang menjawab sambil menunjuk dengan tatapan matanya ke arah pintu kamar, tempat Ariana dan Susie berada. Zetha sengaja tidak terlalu mendesak Susie berbicara banyak tentang Felix yang mereka semua kuatirkan. Sehingga ia dan Aghna memberikan ruang pada Ariana untuk berbincang dengan Susie, karena kedua orang itu jauh lebih mengenal satu sama lain sejak Susie bahkan belum dinikahi Joko. "Aku cari Ambu dulu," Deristi pamit pada Aghna dan Zetha yang serempak mengangguk sebelum mereka berpisah, dimana kedua saudari yang masih terlihat masih sangat awet muda tersebut pergi ke ruangan makan kediaman dengan Freyaa digendong oleh Zetha, Mummanya. "Leher Ibu ada banyak tanda merah," ceplos Freyaa yang langung membuat Aghna tertawa tergelak, pun juga Zetha mengulum senyum pada bibirnya. Sudah bukan rahasia lagi jika anak-anak Salvatore berbicara ceplos apa adanya, juga mereka seperti sangat menyukai melihat tanda merah pada lehar 'orangtua' mereka. Meskipun begitu, Deristi tetap sering merasa sangat malu jika ada yang menggoda terang-terangan mengenai tanda merah pada lehernya. Sikap sebaliknya pada Effren yang terlihat bangga jika ia masih bisa mencumbui istrinya meski usia mereka tidak lagi muda. "Freyaa tidak boleh menggoda Ibu, oke?" bisik Zetha mengingatkan Freyaa agar berhati-hati jika menggoda Deristi yang pemalu. "Oke, Mumma." Pelayan dapur kediaman Felix menghampiri Aghna dan Zetha yang baru mendudukkan Freyaa pada atas meja, "Semua bumbu untuk hidangan laut sudah disiapkan. Apakah Nona Zetha dan Nona Aghna masih ada reques untuk masakan lainnya?" "Uhm, tidak. Tapi tolong bawakan bahan untuk pasta, kami berdua yang akan membuatnya." Aghna menjawab dan meminta pada pelayan untuk menyiapkan bahan-bahan pasta seperti kesukaan anak-anak Salvatore jika sedang berkumpul. Sang pelayan segera undur diri dan bergegas mematuhi permintaan Aghna yang ia bersama rekannya menyiapkan bahan pasta di atas meja pantry. Felix memang membawa semua pelayan, koki juga para pengawal intinya dari Cape Town ke Amalfi. Felix tidak menyukai orang-orang baru yang bekerja di kediamannya, karena ia harus memastikan keamanan serta kenyamanan Susie di atas segalanya. Pengkhianatan dari para pelayan adalah hal yang paling Felix hindari, sehingga ia hanya akan membawa orang yang sama dan ia yakini loyal serta setia bekerja padanya, kemanapun ia dan Susie pergi. Di ruang kerja Felix, "Ku dengar kau mengakuisisi beberapa perusahaan suplier kecil di sini," Effren masuk dan bertanya langsung ke intinya pada Felix yang mendongak dari layar monitor di atas meja, menatap saudara tertuanya itu. "Uhm. Hanya perusahaan kecil." jawab Felix sambil menutup beberapa bar penelusuran di layar monitornya sebelum Effren duduk pada kursi di depannya. "Bagaimana dengan bisnis pertambanganmu?" Effren sudah duduk pada kursi, menyandarkan punggung letihnya ke sandaran dan menatap lurus ke mata Felix. "Ada Billy yang bisa ku percaya mengelola dari sana." Effren menganggukkan kepala pelan. Lalu "Kau juga harus melabuhkan batang jantanmu untuk menambang ke dalam tubuh wanita. Apakah sudah ada kabar baik?" Felix spontan berdecih mendengar pertanyaan Effren yang tidak pernah jauh akan urusan wanita untuk ia tanyakan setiap kali mereka bertemu. "Jika kau kesulitan mencari wanita, aku akan pinta Deristi mencarikanmu wanita Indonesia." Effren berkata dan masih terus melanjutkan, "Kau tau, wanita Indonesia sangat menyenangkan untuk diajak bergelung di atas ranjang! Daddy bahkan tergila-gila pada Mommy kalian yang orang Indonesia." "Aku bisa mencarinya sendiri." Felix bangkit berdiri dari kursi duduknya, "Aku harus pergi keluar, ada yang perlu ku lakukan." Effren mengerucutkan bibirnya maju, memberikan anggukan pada Felix yang kali ini terlihat sedikit gugup ketika ia membahas wanita, tidak seperti biasanya. "Jika orang-orang di perusahaan suplier itu berulah, jangan lupa ajak aku untuk bersenang-senang membolongi batok kepalanya!" teriak Effren masih ingin menggoda satu-satunya adik lelakinya yang belum menikah. Felix menolehkan wajahnya memandang Effren, "Deristi akan mogok untuk ditunggangi jika kau berani mengotori tanganmu dengan senjata dan darah!" Begitu berada di luar ruangan kerja, Felix segera melakukan panggilan pada anak buahnya di restoran The Grill. "Bagaimana perkembangannya?" "Anda harus datang kemari untuk melihatnya, Bos. Ini ..." "Oke! Jika terjadi sesuatu, amankan Veronica!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD