"Dimana kau sembunyikan putraku?"
Veronica berbalik, berdiri pada samping meja tamu regulernya yang ia berikan anggukan dan senyuman tipis sebelum bertanya balik pada pria yang kini berada di hadapannya.
"Silakan duduk, Mister Mussolini. Selamat datang." ucap Veronica sopan dengan senyuman profesional yang tidak terlalu ramah juga bukan senyuman sinis.
"Saya tidak datang untuk makan, tapi bertanya padamu, dimana kau sembunyikan putraku, Arkada?!" Mussolini menegaskan tujuannya datang, menatap tajam dan lurus pada Veronica yang mengangguk perlahan.
"Mari, silakan duduk dulu." ajak Veronica sudah membukakan salah satu kursi untuk Mussolini duduki, memilih meja yang sedikit jauh dari para tamu regulernya duduk di area sofa.
Begitu Mussolini duduk, Veronica juga menghenyakkan tubuhnya pada kursi di seberang pria tua bertubuh besar juga terkenal sangat berkuasa seantero Amalfi.
"Saya tidak mengerti pertanyaan Anda, Mister Mussolini. Saya tidak mengenal Arkada, putra Anda ..."
"Omong kosong!" Mussolini bangkit berdiri, memaki Veronica dengan suara besar.
Keanu di balik meja bartender, memegangi lengan Selena yang tatapan matanya sudah menggelap melihat Veronica dibentak.
Di depan Mussolini, Veronica menantang tatapan pria tua itu, tersenyum tipis pada bibirnya, "Saya memang mengenal putra Anda, tapi bukan seperti yang Anda pikirkan." tutur Veronica dengan nada datar, kelopak matanya tidak berkedip mengunci pandangan pada Mussolini yang menopangkan kedua telapak tangannya ke atas meja, menatap Veronica.
"Arkada, putra Anda ...sebelumnya ia merusak motor sport milikku. Teman-temannya datang ke restoran kami ini, untuk mengacau dan membuat berantakan segalanya yang ada di sini. Selain itu ..."
Veronica menghentikan perkataannya sejenak ketika ia melihat Mussolini memberi kode pada anak buahnya untuk datang menghampiri mereka.
"Putra Anda menculikku dan hampir melecehkanku ..."
"Bawa dia!" Mussolini tidak mendengarkan perkataan Veronica, memberikan perintah pada anak buahnya untuk menangkap Veronica.
Veronica memberi kode larangan dengan telapak tangannya pada pelayan The Grill yang ingin membantunya agar tidak mendekat.
Tepat ketika Veronica berdiri sendiri, menolak dipegangi oleh dua orang pria bertubuh besar dan tegap, anak buah Alfred Mussolini, saat itu pula tiba-tiba semua lampu berkedip dan padam yang kemudian hidup kembali sedetik kemudian,.
Suasana restoran yang para tamu ramai berbisik-bisik penasaran akan apa yang terjadi pada Veronica sebelumnya, berubah menjadi hening.
Benar-benar hening! Sangat hening!
Jose, anak buah kepercayaan Felix dibawah Hvitserk, yang menyamar sebagai pekerja magang di The Grill, segera menahan napas dan menekan dadanya untuk menghindari pengaruh kekuatan Selena.
Ya, Selena berhasil lepas dari pegangan Keanu beberapa menit sebelumnya. Wanita muda itu langsung merentangkan kedua lengan dengan telapak tangannya terbuka lebar mengarah ke atas untuk mengendalikan energi melalui udara dalam ruangan restoran.
Semua orang berubah menjadi patung selama beberapa detik akibat dari pengaruh kekuatan Selena, kemudian kembali ke aktifitas mereka semula, ada yang makan, minum dan berbincang seolah tidak ada kejadian apapun dimana mereka sangat penasaran sebelumnya.
Selena meraih gelas berisi minuman di atas meja salah satu tamu, menyemprotkannya ke wajah Alfred Mussolini, "Ada urusan apa Anda datang kemari, Mister Mussolini?" tanyanya dengan nada sinis.
"Oh, ehm ...ti-tidak, tidak ada apa-apa ..." Alfred tergagap menanggapi pertanyaan Selena.
Alfred yang sangat menjaga penampilannya, bahkan tidak memiliki emosi sedikitpun, setelah disemprotkan segelas air oleh Selena yang juga membasahi pakaian pria pejabat itu.
"Kalau begitu, segera bawa anak buah Anda angkat kaki dari restoran kami!" tegas Selena seraya menatap tak berkedip ke bola mata Alfred yang wanita muda itu kunci dan buat tidak bisa mengerjap sedikitpun.
"Jika tidak, siapkan pemakaman mereka!" Selena memutar jemarinya ke arah dua orang anak buah Alfred yang berada pada masing-masing sisi Veronica.
Uhugkk ...uhugkk!!
Kedua anak buah Alfred terbatuk-batuk memuncratkan darah hitam keluar dari mulut dan hidung mereka juga mengalami mimisan.
"Selena ..."
Veronica bergegas berhambur memeluk tubuh adik perempuannya itu erat-erat, menciumi pipi, leher dan apapun yang bisa ia lakukan agar Selena berpikir tenang kembali.
"I love you, Selly! Love you so much!" bisik Veronica bertubi-tubi, terus memberikan ciuman ke pipi dan semakin mengeratkan lengannya memeluk tubuh Selena yang sedang berada di bawah pengaruh kekuatan gelapnya.
"Selly ...please, aku mohon ...akan banyak orang yang tak bersalah bisa tewas di sini."
Apa yang Veronica katakan memang benar karena beberapa tamu terlihat mulai mengalami mimisan dan terbatuk-batuk, termasuk Alfred Mussolini.
Keanu juga muncul untuk memberikan pelukan pada Selena dan Veronica. "Selena ..."
Keanu meraih telapak tangan Selena untuk ia genggam erat, menarik wajah istrinya itu yang dipeluk Veronica, kemudian melabuhkan bibir untuk memberikan ciuman.
Tubuh Selena berguncang, ia terbatuk di tengah-tengah ciumannya Keanu pada bibirnya, lalu mendorong pelan d**a suaminya itu dengan wajah merona malu.
"Kakak?!"
Selena langsung berputar untuk menghadap ke Veronica yang ia teliti cermat, "Kakak baik-baik aja?" tanyanya kuatir.
"Ya, aku baik-baik aja." Veronica membelai pelan wajah Selena, lalu hendak membawanya pergi ke ruangan kerjanya di lantai dua.
"Tunggu sebentar ..." Selena melepaskan lengan Veronica, ia mendekati Alfred yang sibuk membersihkan darah mimisan pada hidung dan melihat ke pakaiannya yang kotor bernoda juga basah.
"Ini pertama dan terakhir kalinya, Anda datang mengganggu kakakku, jangan pernah memunculkan wajah jelek Anda ke restoran kami lagi selamanya! Paham?"
Alfred Mussolini yang arogan dan tidak pernah peduli akan perkataan orang-orang yang ia anggap rendah, kini mengangguk patuh akan ucapan Selena.
Baru saja Alfred keluar dari restoran bersama dua orang anak buahnya, Felix tiba, langsung menghadang langkah pria tua itu dengan mobilnya menukik tajam, tepat di depan Alfred.
Alfred yang terkejut refleks melangkah mundur untuk menghindar dari tabrakan, padahal Felix memang membuatnya sengaja untuk mengganggu pria tua itu.
"Apa yang Anda lakukan di sini, Mister Mussolini?" Felix bertanya setelah ia menurunkan jendela pada sisi sampingnya.
Bibir Felix tersenyum menyeringai mengejek melihat penampilan Alfred yang terlihat berantakan.
"Oh, Mister Salvatore ..." Alfred buru-buru memasang wajah ramah palsunya menyapa Felix yang langsung memotong basa-basi pria tua itu.
"Putra Anda, Arkada ditemukan sedang bersenang-senang dengan wanita di hotel dan saya kuatir kalian akan membawanya berobat karena penyakit kelamin!"
Lidah Alfred yang biasanya lugas dan memiliki kuasa memutar-balikkan fakta atau mendebat orang lain, kini ia seakan seperti pesakitan yang ketahuan melakukan tindak kejahatan.
"Jangan pernah datang mengganggu wanitaku lagi!" Felix mengucapkan kalimatnya tegas, tetap duduk di dalam mobilnya, namun dianggukkan Alfred dengan mencondongkan sedikit tubuhnya maju seperti permintaan maaf ke depan Felix.
Felix menggoyangkan kepalanya, memberi kode pada kedua anak buah Alfred agar membawa bos mereka pergi dari area halaman parkir restoran The Grill.
Dalam ruangan kerja di lantai dua restoran, Veronica memberikan minuman teh yang ia racik sendiri untuk Selena.
"Jangan menyakiti siapapun, ingat itu, Selly." ucap Veronica lembut memanggil Selena dengan sebutan 'Selly'.
"Kita bukan pembunuh dan tidak dilahirkan untuk membunuh."
Selena mengerjapkan kelopak matanya yang berlinang dan telah mengalirkan butiran bening hangat membasahi wajah mungilnya, "Aku tidak ingin kakak disakiti. Aku juga tidak keberatan untuk menjadi pembunuh, asal kakak selamat dan tidak pergi meninggalkanku."
Veronica mengecup lembut pipi dan kening Selena, memberikan cangkir teh buatannya ke tangan adik perempuannya itu, "Kakak tak akan pergi kemana-mana." bisiknya pelan dengan seulas senyuman ditanggapi anggukan kepala Selena.
Di depan meja bartender, "Aku ingin bicara!" tegas Felix pada Keanu yang sedang menyeduh teh spesial milik Veronica untuk diberikan pada semua tamu restoran agar pengaruh kekuatan Selena tak membekas dalam diri mereka.